Gelap yang masih menguasai cakrawala menambah halang kedua mataku yang berusaha menerawang jauh ke ujung pandangan.
Tak peduli sedingin apapun suhu yang menyebar dipagi buta, aku terus melangkah walau tanpa alas kaki yang melindungi penongkat tubuhku yang lunglai karena sendu.
Embun yang turun membasahi daun pun turut membasahi rambutku hingga terasa sejuk diatas akal yang seakan terus bergejolak.
Ingatanku melayang jauh menembus masa 4 tahun silam, saat dunia bermaksud mendewasakanku.
~~
(flashback 4 tahun silam)
Aku masih mengingat jelas hari itu, saat aku melangkah pulang dengan ceria dan membawa buku rapot yang bertuliskan angka-angka yang sangat fantastis bagi siswa cerdas sepertiku. Aku pun turut membawa pulang selebaran yang sengaja ku pinta dari seorang alumni, yang berkuliah di Universitas yang menjadi tempat impianku untuk mengenyam pendidikan ditingkat selanjutnya.
"Bu, aku ingin Kuliah di Universitas Brawijaya Malang. Aku sudah berkonsultasi dengan Wali Kelas dan Guru Pembimbing Konseling, mereka bilang nilaiku sangat baik dan memenuhi syarat. Aku memiliki kesempatan lebih besar dibanding teman-temanku, dengan nilaiku ini." Aku membuka buku rapot dan memperlihatkan sederet angka yang membuatku bangga dan percaya diri. Akupun turut memberi selebaran yang kubawa.
"Nisa, Ibu punya kabar yang lebih penting dari ini," ucap ibu seraya menggeser letak duduknya dan duduk sangat dekat di sebelahku. Aku pun menjadi bingung. Bukankan selama ini pendidikanku adalah yang terpenting bagi mereka, lalu sekarang apa lagi yang menjadi lebih penting dari ini?
"Nisa, ada yang melamarmu. Ayah dan Ibu sudah menerima lamaran itu, karena ini adalah lamaran pertamamu. Jika kami menolaknya, kami takut akan menjadi pamali untukmu dan kamu akan menjadi perawan tua," tutur ibu membuatku tak bisa berkata-kata.
"Iya Nak, Ayah sama Ibumu sudah menerimanya. Jadi dalam waktu dekat kau akan bertunangan dengan pemuda itu. Setelah itu kau bisa meminta persetujuannya terlebih dahulu untuk melanjutkan kuliahmu di luar kota. Karna ketika kedua keluarga sudah menyatu, maka setiap keputusan harus dibicarakan bersama." Ayah membuka kacamatanya dan mendekati tubuhku yang seketika lemas dalam posisi duduk yang tak berubah. Mataku berkaca-kaca melihat kedua orangtuaku melakukan semua ini tanpa persetujuanku.
"Aku gak mau tunangan! Aku mau kuliah!" Aku beranjak dari dudukku menuju kamar dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan mereka, meninggalkan buku rapot yang membuatku bangga, meninggalkan selebaran yang menjadi secuil rencana dari impianku.
Sejak saat itu hari-hariku dipenuhi rasa sesak yang menyakitkan. Tak memberiku ruang untuk bernafas lega, apalagi memberiku kesempatan untuk memilih jalan hidupku sendiri.
Sekuat apapun aku bertahan melawan kehendak mereka yang menjadi ancaman, pada akhirnya akulah yang tetap harus mengalah. Kekalahanku memaksaku untuk mengucap perpisahan pada kekasih yang kucintai. Kekasih yang telah menemani 3 tahunku di putih abu-abu. Kami berpisah di atas kebahagiaan orang lain yang membunuh jiwaku.
Sehari setelah pengumuman kelulusan, kedua pihak keluarga saling bertemu dalam acara sakral pertunangan yang aku sebut pertunangan paksa.
Prosesi tukar cincin berlangsung lancar namun aku harus menguatkan batin dan menahan genangan air mata yang telah menunggu untuk mengalir dari pelupuk mataku. Semua terlihat bahagia, kecuali aku yang terus-menerus tersenyum paslu menutupi kepahitan hatiku sendiri.
#1 Tahun kemudian
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Putri Zafariyah binti bapak Muldoko Umar dengan seperangkat alat solat dan emas seberat 10 gram dibayar tunai," ucap lelaki berjas hitam itu dengan satu tarikan nafas. Ia adalah Mas Agung yang melamarku 1 tahun lalu.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah," jawab semua saksi secara serempak. Aku yang kini berada di dalam ruang kamarku, tak bisa menahan tangis antara rasa haru karna telah dihalalkannya aku dan hilangnya kebebasanku sebagai remaja 19 tahun yang seharusnya bisa menjalani kehidupan dengan perjuangan meraih cita-cita. Bukan mengurus rumah tangga.
"Alhamdulillah...." Penghulu mengucap syukur dan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang diaminkan oleh seluruh saksi termasuk mempelai pria.
Tiba pada saatnya aku keluar memamerkan Kebaya putih panjang yang kupilih untuk kukenakan saat acara akad berlangsung. Mahkota Siger berdiri kokoh di atas kepalaku yang berbalut hijab putih senada. Untaian kuncup melati menjuntai menambah anggun serta ayu diriku.
Semua keluarga beserta para tamu undangan yang hadir terpukau ketika aku melangkah maju menuju kursi pengantin disisi suamiku. Aku mencium tangannya dengan berlinang air mata.
Hari-hari yang kujalani sebagai istri dari seorang lelaki dewasa yang terpaut 10 tahun dariku, membuatku kewalahan. Aku belum belajar banyak hal, bahkan mungkin kedewasaanku belum cukup untuk menyamai kedewasaannya. Sering kali kami terjebak cekcok namun dia selalu mengalah.
Aku yang terjebak dengan amarah akan masa laluku, membuatku sulit menerima dirinya. Tapi dia selalu bersabar. Mendinginkan hatinya sendiri yang telah terbakar dengan semua perilakuku. Ia selalu bertutur baik dan berusaha untuk menenangkanku saat aku mendengar ucapan-ucapan buruk orang lain yang memfitnahku. Lambat-laun, aku pun berusaha mengikhlaskan masa remajaku yang hilang begitu saja. Dan berusaha untuk menerima dan mencintainya dengan tulus, Insya Allah.
2 tahun pernikahan, aku dan Mas Agung belum juga dikaruniai keturunan. Bahkan kami selalu mendapat cibiran dan pertanyaan yang terkesan sengaja menyakiti hati kami. Ia berusaha sabar dan menyabarkanku dalam menghadapi manusia-manusia berlidah pisau itu. Aku yang begitu lemah tak bisa menahan tangis saat satu-persatu dari mereka menghakimiku sebagai wanita mandul, terutama ibu mertuaku.
"Haid lagi?" tanya Mama, ibu dari suamiku. Beliau memergokiku saat aku kembali dari warung dekat rumah untuk membeli pembalut.
"Iya ma." Aku menjawab singkat dan segera menuju kamar mandi untuk mengganti pembalutku yang rembes. Di dalam kamar mandi hatiku merasa sedih ketika setiap bulan selalu dihujani oleh pertanyaan yang sama oleh ibu mertuku. Belum lagi saat ada orang lain yang sengaja mencibirku. Padahal seorang wanita menjadi istri bukanlah sebagai mesin pencetak anak, walau hakikatnya semua itu memang benar. Namun jika Tuhan belum menghendaki, apakah kami para wanita yang bersalah??
Aku keluar dari kamar mandi dan akan menuju kamar. Namun tiba-tiba langkahku terhenti saat aku tak sengaja mendengar pembicaraan Ibu mertuaku dengan Mas Agung di ruang tengah.
"Gung, gimana istri kamu itu. Sudah 2 tahun belum hamil juga," ucap Mama ketus pada Mas Agung.
"Mungkin Allah belum mengijinkan ma. Mama yang sabar aja. Pasti nanti mama juga punya cucu kok." Mas Agung berusaha santai dengan ucapan Mamanya. Ia telah terbiasa dengan sikap mama yang selalu mengeluhkan keadaanku akhir-akhir ini.
"Kamu nikah lagi aja Gung. Kan gak ada salahnya. Jangan-jangan Istri kamu mandul, gak bisa kasih anak. Ceraikan saja dia." Ucapan mama membuat Mas Agung yang sibuk dengan laptopnya seketika berhenti dan membelalak ke arah wanita paruh baya di hadapannya. Begitupun aku yang terkejut dan tak bisa menahan linangan air mataku yang sedari tadi mencuri tahu pembicaraan mereka dibalik tembok pembatas antara dapur dan ruang tengah.
"Astaghfirullah. Mama! jangan bilang seperti itu. Sampai kapanpun Agung akan selalu setia sama Nisa. Dia datang kerumah kita sendiri, jadi jangan pernah semena-mena sama Nisa. Dia mungkin tidak rela meninggalkan keluarganya, ibunya, ayahnya, tapi dia datang dengan suka cita kerumah kita. Melayani Agung, melayani Mama, bahkan dia yang mengurus semua pekerjaan rumah karena mama yang selalu menyuruhnya melakukan itu tanpa belas kasihan." Mas Agung yang ku kenal sangat berbakti dan menjaga ucapannya terutama pada sang Mama, hari ini dia murka karena istri yang dibawanya secara paksa derendahkan dan dilecehkan martabatnya.
Aku tak tahan melihat pertengkaran Ibu dan Anak itu karna diriku. Aku segera berlari ke arah mas Agung dan menenangkannya. "Mas, sudah sudah. Mungkin mama gak berniat ngomong seperti itu. Istighfar mas. Istighfar." Aku menggengam tangan kanan mas Agung yang mengepal erat, dan kuusap dada bidangnya untuk berusaha meredam amarahnya yang membara. Mendengar perkataanku yang sambil terisak, ia ber-istighfar dan segera melingkarkan lengan kirinya pada tubuhku yang bergetar.
"Gak berniat apa? Memang aku menyuruh Agung untuk menikah lagi, dari pada harus menafkahi istri mandul seperti kamu. Dasar wanita tidak berguna!" Mama melangkah gusar dan meninggalkan kami dengan penuh amarah. Mas Agung mengeratkan pelukannya padaku yang terhujam oleh kata-kata mama, ibu mertuaku. Tangisku terdengar semakin kacau dengan perasaan sakit yang begitu menusuk hati.
"Sayang, maafin mama ya. Kita pasti bisa lewatin ini semua. Mas yakin begitu saatnya, Allah pasti akan mempercayakan kita untuk memiliki keturunan," ucap Mas Agung seraya mengecup kepalaku yang selalu tertutup hijab. Aku hanya mengangguk pelan karna bibirku terus bergetar menahan tangis.
Sejak saat itu, aku dan mas Agung semakin gencar mendatangi dokter spesialis untuk mengikuti Promil. Setelah 6 bulan mengikuti Program Kehamilan, akhirnya usaha kami membuahkan hasil. Aku hamil.
"Mas, mas, aku hamil." Aku berlari dari kamar mandi menuju kamar hendak menemui Mas Agung yang baru selesai menunaikan solat subuh.
"Alhamdulillah sayang, akhirnya Allah mendengar doa dan usaha kita. Semoga kamu selalu sehat sampai persalinan nanti," ujar Mas Agung dengan senyum mengembang dan air mata yang mulai berlinang. Kami berdua pun larut dalam keharuan akan rasa bahagia karna telah lama menanti hadirnya buah hati.
Aku selalu menjaga kandunganku agar tetap sehat. Bahkan, Mas Agung selalu rutin berkonsultasi dengan temannya yang merupakan seorang dokter kandungan, hanya untuk menanyakan makanan apa yang boleh dan tidak boleh aku konsumsi.
Namun Mama, tetap tak terlihat bahagia sedikitpun. Sejak pertengkarannya dengan Mas Agung, mama selalu mengacuhkanku. Bahkan tak peduli pada diriku yang sedang mengandung. Ia tetap menyuruhku melakukan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuannya sedikitpun. Tentu saja Mas Agung tidak tau semua itu, dan mama mengamcamku jika aku berani mengadu padanya. Dengan terpaksa dan rasa ingin menghormati Mama, aku tahan semua keluh kesahku. Kupendam dalam hatiku yang begitu rapuh, setidaknya saat aku memejamkan mata, aku dapat mengistirahatkan fisik dan batinku yang terus meronta.
"Nisa, Agung mana?" tanya mama padaku yang sedang merebahkan diri karena merasa tidak nyaman di bagian perutku.
"Mas Agung baru aja berangkat ma, kan tadi udah pamit sama mama." Aku mengangkat badanku dan memposisikan tubuhku dalam keadaan duduk.
"Iya tau, Mama cuma nanyak," ucapnya ketus. "Tuh bersihin halaman belakang. Tadi malem hujan sama angin, jadi banyak daun yang jatuh." Mama menunjuk Arah belakang rumah.
"Tapi kan licin ma, Nisa takut jatuh. Apalagi perut Nisa gak nyaman ma." Aku memelas padanya berharap Mama akan mengampuniku kali ini.
"Alah, kamu banyak alasan. Mantu kok malesnya minta ampun. Kalo hamil ya banyakin gerak, jangan kerjanya tidur terus. Sana cepetan bersihin!" Mama menarik selimut yang menutup tubuhku dan menyuruhku segera beranjak dengan suara tingginya.
"Iya ma," ucapku lirih seraya menjatuhkan dengan pelan kedua kakiku yang menjulur di kasur.
Aku melangkah dengan gontai dan berhati-hati. Pandanganku menyisir seluruh sisi halaman belakang yang penuh dengan dedaunan yang rontok akibat angin dan hujan lebat semalam.
Aku mengambil sapu dan membuka alas kakiku supaya jari-jari kakiku bisa mencengkram tanah dan menghindarkanku dari kejadian yang tidak aku inginkan.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapku saat akan memulai membersihkan halaman.
Aku melangkah dengan penuh kehati-hatian. Aku menyapukan ujung sapu lidi pada tanah yang basah dan berlendir. Sesekali aku berjongkok mencabut rumput liar yang tumbuh dengan jarang. Tiba-tiba...
"Aaahhh..." Aku memekik tajam ketika tubuhku terjungkal saat aku tak sengaja menginjak tanah yang licin. Punggungku membentur batu pembatas, dan membuatku terduduk dengan posisi kaki menjulur dan menegang. Tiba-tiba aku merasakan basah di area selangkangku. "Darah?" Cairan merah mulai nampak keluar dan mengotori daster putih yang ku kenakan. Perasaan khawatir dan tegang bercampur dengan asumsi buruk lainnya, aku merasa sangat takut. Takut yang terlalu hingga akhirnya membuatku tak sadarkan diri.
"Bunda... Bunda... ha ha ha ha." Seorang bocah laki-laki memakai kemeja putih dengan jeans hitam selutut berlari di hadapanku. Tatapan cerianya terus menyorot ke arahku. Ia nampak sedang menggenggam buku bergambar ditangan kanannya. Tawanya menarikku untuk segera mengejar arah larinya. Hingga aku mengejar sejauh yang ku bisa, aku tak menemukan dirinya. Dia hilang, dibalik kabut putih yang tak terjangkau.
"Anakku..." Aku terjaga dan tiba-tiba aku telah berada di dalam ruang rumah sakit. Ternyata yang kualami barusan hanyalah mimpi, tapi siapa bocah itu? "Ahkk..." Aku meringis merasakan sakit di sekitar selangkang dan perutku yang terasa sangat tidak nyaman. Aku melihat kedua orangtuaku menungguiku di samping ranjang tempatku berbaring. "Bu, bagaimana keadaan kandunganku? Apa dokter mengatakan sesuatu? Lalu, Mana mas Agung?"
Mendengar rentetan pertanyaan yang ku lontarkan, Ibuku tak kunjung memberi jawaban. Beliau terisak untuk sesaat dan membelai kepalaku yang tertutup hijab dengan rapat. "Nisa, yang sabar ya Nak. Mungkin sekarang masih belum saatnya. Allah lebih sayang pada anakmu."
Deg !
"Apa maksudnya?" Aku menatap lekat kedua mata ibu yang basah dan memerah.
"Nisa, dokter sudah melakukan kuret. Ini janinmu yang meninggal nak?" Ayah menyodorkan gulungan kain putih kecil yang telah terbentuk layaknya jasad manusia dewasa. Aku membuka ikatan yang mengokohkan kain tersebut. Aku melihat jasad anakku. Jemariku membelai tubuh kecilnya yang terasa sangat lunak. Aku menyentuh kedua tangan kecilnya dan kaki mungil yang telah terbentuk sempurna. Aku merebahkahnya di kedua telapak tanganku. Kuangkat jasad mungil buah hatiku sehingga sejajar dengan wajahku. Aku dapat melihat dengan jelas wajah mungilnya yang begitu polos dan seperti sedang tertidur lelap. Ku dekatkan tubuhnya ke wajahku dan aku mulai menciumi jasad mungil anakku. Tangisku pun pecah saat aku mencium aroma tubuhnya yang tak bisa aku hirup lagi untuk selamanya.
Aku menangis histeris sembari terus menciumi tubuh mungil yang telah tak bernyawa itu. Aku menyesal, mengingat usaha kami mendapatkan buah hati bukanlah hal mudah. Aku masih tak percaya dan tak ingin percaya bahwa janin yang sudah 7 bulan bersemayam dalam rahimku kini harus tiada bahkan sebelum ia mengenal dunia.
Sejak hari itu, hari dimana aku kehilangan bayi yang masih dalam kandunganku, Mas Agung berubah drartis. Ia menjadi sangat pendiam dan dingin terhadapku. Bahkan ia seakan tuli mendengar penjelasanku. Aku tau kesedihannya, kekecewaannya, dan semua pengharapan yang telah ia angankan . Tapi aku juga merasa terpukul dan kehilangan. Bahkan diantara semua yang merasa sakit, akulah yang paling tersakiti. Karena aku yang mengandungnya.
Tak terasa hari berganti minggu, minggu beganti bulan, dan telah 5 bulan berlalu kejadiaan malang yang menimpa diriku. Bahkan rasa sakit akan kehilangan janinku masih sangat membekas, tapi Mas Agung malah memilih menaburkan butiran-butiran garam hingga luka hatiku pun kembali menganga. Ia memilih memutus kesetiaannya, membagi perhatiannya pada wanita yang ia nikahi tanpa sepengetahuanku, dan menjadikannya harapan terbesar untuk memberikan keturunan padanya. Aku hancur !
Meskipun rasa ikhlas aku paksa untuk membingkai hatiku yang terkoyak, tetap saja rasanya begitu menyakitkan. Apa salah diri ini, sehingga dunia tak menyediakan kebahagiaan untukku.
Karena kehadiran Mas Agung di masa lalu, aku telah mengorbankan segalanya, masa remajaku, cita-citaku semua pupus karenanya. Sekarang aku tak lagi berarti untuknya, tak lagi menjadi prioritasnya. Karena baginya, aku hanyalah wanita yang tidak berguna.
"Ahhh...." Ingatanku yang terus berputar akan masa lalu terhenti, ketika kakiku yang terus berjalan tanpa alas tak sengaja menginjak sebuah pecahan kaca, hingga membuat aku tersadar kini aku telah berada di ujung tebing.
Aku menatap jauh ujung lautan yang menyatu dengan gelapnya cakrawala yang menampakkan sedikit semburat oranye di ufuk timur. Suara deburan ombak bergemuruh karena menghantam dinding tebing dengan sangat ganas, hingga sesekali tubuhku basah dibuatnya.
Aku mengangkat tangan kananku yang sedari tadi menggenggam sebuah potret hitam putih janinku saat ia masih bersemayam dalam rahimku. Ku buka satu-persatu lembaran potretnya yang telah tersusun rapi saat ia masih berusia 1 bulan hingga 7 bulan. Aku melihat perkembangannya mulai dari sebuah embrio hingga menjadi bayi mungil yang telah tumbuh sempurna. Aku tak kuasa menahan linangan air mataku melihat pertumbuhannya dalam potret itu.
"Sayang, maafkan Bunda yang sudah lalai menjagamu. Seandainya itu semua tidak terjadi, sekarang kau pasti telah membuka matamu dan melihat seperti apa dunia ini, melihat bunda dan Ayah. Tapi ternyata itu semua tak terjadi. Bunda selalu mendoakanmu tapi sekarang Bunda sudah benar-benar tidak kuat, nak. Sejak kau pergi, Ayahmu juga pergi. Jadi sekarang, izinkan Bunda menemuimu. Izinkan bunda menemanimu disana." Aku mengecup potret hitam putih yang ku genggam erat di tanganku. Aku melangkah semakin mendekati ujung hingga setengah telapak kakiku tak menapak tebing. Ku ringankan beban tubuhku dan ...
Byur !
Aku menjatuhkan diriku ke dalam laut yang ganas. Biarlah laut menenggelamkanku, menghanyutkan seluruh penderitaanku, meluruhkan seluruh rasa sakit yang telah meradang di hatiku. Biarkan aku menghilang dari dunia yang tak menginginkanku. Kini saatnya aku mengibarkan bendera putih untuk semesta. Untuk menyatakan bahwa aku menyerah, menyerah pada dunia yang terlalu keras memperlakukanku.
Kini aku akan pergi, meskipun dengan cara yang salah, aku hanya ingin memeluk anakku yang telah menungguku untuk mendekap tubuh mungilnya.
-TAMAT-