Masih ingat aku akan kejadian itu, yang membuatku kapok dan berjanji untuk selalu mendengar perkataan orang yang lebih tua.
Saat itu aku bersama satu orang temanku, Jampang namanya. Kami berencana untuk pergi ke salah satu gunung untuk mendaki. Karena kami sendiri adalah seorang backpacker dan suka traveling.
"Jaka, kayaknya kalau kita lanjut sekarang. Waktunya enggak cukup, soalnya sebentar lagi masuk maghrib. Seenggaknya kita istirahat atau bermalam dulu lah di dekat pemukiman"saran Jampang.
"Betul juga apa kata mu. Dengar-dengar dari abang di warung tadi, di daerah ini ada perkampungan warga. Kita bisa nginap sebentar di situ!"aku menyetujui omongan Jampang.
Setelah, kurang lebih 100 meter berjalan kaki. Akhirnya perkampungan yang di tuju itu pun terlihat. Nama kampung itu Desa Sukoharjo, tampak dari plang putih itu.
Saat memasuki perkampungan, tampak seorang ibu memaksa anaknya masuk ke dalam rumah. Pikirku mungkin sudah mau maghrib.
Dari kejauhan tampak plang kayu bertuliskan rumah kepala desa. Aku dan Jampang segera menuju ke sana.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum, pak!"ucapku.
Kriett...
Seketika muncul seorang laki-laki tua yang mengenakan baju lurik serta sarung. Ia sepertinya terkejut melihat kami. Sepertinya itu pak kades.
"Waalaikum salam. Ya? Kalian berdua ini siapa, ya?"tanya nya.
"Maaf pak, mengganggu sebelumnya. Saya Jampang dan ini teman saya Jaka. Kami anak-anak pendaki gunung pak. Kami mau minta izin dengan bapak, untuk menginap semalaman di sini. Jika bapak mengizinkan. Pasalnya sekarang sudah hampir gelap, kata orang pamali kalau malam-malam mendaki".
"Oh begitu ya, boleh saja. Asalkan kalian harus patuh sama pantangan disini. Sehabis isya ke atas, jangan pernah keluar dari rumah. Ataupun kalau kalian mendengar ketukan jendela, jangan pernah pedulikan"ujar pak Kades mengingatkan.
"Memangnya, zaman sekarang masih ada yang begituan?"ceplosku.
Jampang langsung menyikutku, tampak dari raut wajah Pak Kades tersinggung karena ucapanku.
"Jak! Mulutmu itu!"tegur Jampang.
"Semoga saja kamu mematuhi ucapan saya tadi"kata Pak Kades.
Pak Kades langsung memanggil salah seorang, namanya Pak Suwardi.
"Pak, anak-anak ini saya titipkan di rumah bapak. Mereka mau menginap semalaman di sini"ujar Pak Kades.
"Iya pak, mari nak ikut saya ke rumah!"ajak Pak Suwardi.
"Pak kalau gitu kami pamit, Assalamualaikum!"pamit Jampang.
"Waalaikum salam!"sahut Pak Kades.
Aku mengikuti Pak Suwardi duluan, sedangkan Jampang berada di belakang.
"Mari masuk, nak!"ucap Pak Suwardi ramah.
"Oh, iya pak. Makasih banyak!"ucapku.
Saat memasuki rumah, suasananya begitu persis dengan kampung halamanku.
"Itu ada kamar kosong, bekas kamar anak saya yang merantau. Kalian pakai saja yang itu!"ujar Pak Suwardi sambil menunjuk arah yang di maksud.
"Oh, iya pak!"kataku.
"Sehabis beres-beres, kalian ikut saya ya ke musholla. Shalat maghrib sekalian mengaji, kita balik lagi ke rumah sehabis isya".
"Iya pak!"kataku dan Jampang serempak.
Aku dan Jampang memasuki kamar, meletakkan tas dan langsung berbaring di tikar.
"Jak, mulutmu itu enggak bisa di jaga ya? Malu aku loh tadi sama pak kades!"tegur Jampang.
"Yee, aku kan bilangnya terus terang aja. Lagian zaman modern kayak gini masa masih ada begituan?"kataku mengelak.
"Ya walaupun kamu enggak percaya, setidaknya hargai juga lah. Aku tahu kamu ceplas ceplos, tapi tahu tempat juga lah!"ujar Jampang sebal.
"Iya! Iya! Kan udah masalahnya udah lewat, enggak usah di bahas lagi"pupusku.
"Terserah kamu lah!"pungkas Jampang.
Setelah berbenah, benar saja Pak Suwardi mengajak aku dan Jampang ke musholla. Aku benar-benar heran, kenapa tidak ada orang yang beraktivitas sehabis maghrib, Selain ke mushalla?. Ingin sekali aku bertanya, namun karena gengsi aku putuskan untuk tetap diam.
Sehabis Isya, kami langsung pulang ke rumah. Pak Suwardi langsung mengunci pintunya rapat-rapat. Dan kami di suruh masuk ke kamar untuk istirahat.
Bosan menghantuiku sejak dari tadi, aku melihat di jam tanganku sekarang pukul 11 malam, ingin sekali aku merokok. Sedangkan Jampang sudah terlelap.
"Pang! Mau merokok di luar enggak?"ajakku sembari mengguncang tubuh Jampang.
"Hah? Kamu lupa ya? Kan udah di bilang enggak boleh ke luar. Aku ngantuk mau tidur!"tolak Jampang dengan mata yang masih tertutup.
"Ah! Enggak asik lah!".
Akhirnya aku sendiri yang keluar kamar, tampak lampu sudah di matikan oleh Pak Suwardi.
Aku jalan mengendap-endap, aku buka slot pintu itu perlahan. Dan aku pun duduk di kursi depan.
Aku menghisap batang rokokku, sembari menghembuskannya. Suasananya sangat sunyi, di tambah suara jangkrik khas perkampungan yang terdengar. Bahkan, lampu yang menerangi saja hanya ada satu yang dihidupkan.
Disaat aku melihat keadaan sekitar, aku melihat seorang perempuan yang tengah berjalan cepat dengan mengenakan baju putih.
"Loh? Malam-malam begini kok ada perempuan? Apa dia baru pulang kerja?"kataku heran.
Perempuan itu berhenti dan sadar akan keberadaanku, aku langsung menghampirinya.
"Mas kok jam segini masih di luar?"tanya nya ramah.
"Iya mbak, saya suntuk di kamar. Mbak sendiri baru pulang kerja? Malam banget?".
"Iya, saya baru pulang kerja. Makannya saya jalan cepat-cepat".
Aku melihat kakinya, rupanya masih menapak. Wajahnya juga ayu khas orang Indonesia.
"Mau saya antar ke rumah? Enggak baik loh, perempuan malam-malam jalan sendirian"tawarku.
"Enggak usah mas, saya bisa sendiri!"tolaknya halus.
"Nama mbak siapa?"tanyaku penasaran.
"Ratih, saya pamit ya mas!"ucapnya.
"Ah iya hati-hati! Saya awasi dari sini saja ya!"ucapku.
Dia hanya tersenyum lantas langsung pergi. Ketika sedang memandangnya tiba-tiba binatang kecil langsung masuk ke mataku. Aku refleks langsung menggosok mataku.
"Aduh..duh!"rintihku.
Ketika binatang kecil itu sudah keluar, aku langsung memeriksa keberadaan Ratih. Namun nihil.
"Kayaknya Ratih sudah masuk ke rumah!".
Aku pun membuang puntung rokokku ke tanah, lalu menginjaknya. Dan kembali masuk ke dalam rumah.
Rasa kantuk akhirnya melandaku, aku tidur disebelah Jampang yang sudah pulas tidurnya.
Saat aku memejamkan mata, terdengar suara ketukan di jendela. Awalnya aku tidak hiraukan, namun lama kelamaan bunyi itu semakin keras.
Aku terbangun, ku lihat ke arah jampang. Yang masih pulas tidurnya tanpa ada rasa terganggu dari suara itu.
"Malam-malam begini kenapa ada yang ngetok-ngetok sih? Kurang kerjaan!"gerutuku yang sudah mengantuk.
Seketika aku langsung melihat ke arah jendela. Mataku membelalak ada sebuah bayangan yang mencoba untuk masuk ke dalam kamar. Di jendela itu sendiri ada bercak darah yang begitu banyak.
Aku langsung memeluk Jampang,
"Pang! Bangun! Itu ada setan!!"kataku sembari membangunkan Jampang.
Namun Jampang tidak kunjung bangun, tapi di saat aku memeluk Jampang ada terasa aneh. Bau busuk dan anyir menusuk hidungku.
Aku langsung mendangak, rupanya yang aku peluk bukanlah Jampang. Melainkan seorang perempuan yang sangat menyeramkan, dengan mulut yang menganga lebar dan juga baju yang penuh darah.
"Aakkhhh!!!"pekikku.
Aku pun merasakan sesuatu yang aneh di tanganku, saat aku lihat rupanya ada banyak belatung yang menggerayangi. Aku langsung menepis belatung-belatung itu.
Tanpa di sadari aku langsung tak sadarkan diri.
Di pagi harinya, aku terbangun. Aku melihat ke arah sekitar warga sudah banyak mengitariku. Tampak wajah Jampang begitu khawatir.
"Kenapa?"tanyaku keheranan.
"Alhamdulillah kamu sadar, kamu sudah 2 hari tidak sadarkan diri"ucap Pak Suwardi.
"Hah? 2 hari? Gimana ceritanya pak? Kan saya sama Jampang baru semalam ke sini?"tanyaku semakin heran.
Seketika mereka bingung melihat ke arahku,
"Jak, kita 2 hari yang lalu ke sini. Kamu tiba-tiba di temukan warga di daerah kuburan. Kamu ngapain ke situ?"tanya Jampang semakin khawatir.
"Ke kuburan gimana,Pang? Aku di rumah ini aja kok. Kuburan aja aku enggak tahu dimana?"kataku jujur.
"Kamu pasti bertemu dengan Ratih?"duga Pak Kades.
"Bapak kok tahu?".
"Coba kamu ceritakan, apa yang terjadi sama kamu"pinta Pak Kades.
Aku menceritakan semua yang aku lalui tadi malam ke Pak Kades. Pak Kades pun mengangguk paham, begitu juga Pak Suwardi.
"Oh, makannya kalau orang tua kasih nasihat. Dengarin! Jangan mau seenaknya saja!"tegur Pak Kades.
Aku tertunduk malu dan menyesali atas perbuatanku,
"Maaf pak, saya bikin repot di sini. Omong-omong Ratih itu siapa, pak? Terus siapa hantu yang mengetuk jendela?".
"Jadi begini, dulu ada perawan desa namanya Ratih dia meninggal karena bersekutu dengan setan. Dia memakai susuk. Karena pada saat itu Ratih tidak mendapatkan tumbal, makannya dia sendiri yang jadi tumbalnya. Kalau soal setan pengetuk jendela itu, itu hanya penunggu lama di sini. Rata-rata penduduk di sini masih percaya dengan syirik. Makannya itu setiap sehabis maghrib sampai isya, warga yang muslim khusyuk beribadah. Tujuannya sendiri semoga Gusti Allah melindungi kita dari bujuk rayuan setan"terang Pak Kades.
Semenjak saat itu, aku pun langsung memperbaiki diriku untuk memperbanyak mendekati diri ke Yang Maha Kuasa serta menuruti nasihat orang tua.