Jeni seorang gadis berkulit putih, berperawakan tinggi, langsing tengah menatap dirinya di cermin besar yang berada di kamar apartemennya.
" Apa karena badanku kurus hingga tak ada laki-laki yang tertarik padaku?", batinnya.
Di usianya yang menginjak 24 tahun sudah sewajarnya dia mempunyai kekasih, banyak teman-temannya bahkan sudah menikah.
Pagi-pagi sekali saat sampai di kantor, Jeni di kejutkan dengan hadiah coklat berbentuk hati dan buket bunga mawar merah yang sangat cantik di atas meja kerjanya, Jeni melihat keadaan sekitar, tidak nampak ada orang yang berlalu lalang.
Ada secarik kertas terselip di antara bunga mawar, karena penasaran, Jeni membaca tulisan di kertas itu,
_____________________________________
~~~Happy valentine day~~~
Kutunggu jam 9 malam di lobi hotel
Pemuja rahasia
_____________________________________
Jeni yang bekerja sebagai manager di sebuah hotel bintang lima, memang baru kali ini mendapatkan hadiah dari seseorang, apalagi ini dari pemuja rahasia.
" Siapa orang yang menjadi pemuja rahasiaku?", batinnya.
Jeni bingung harus bersikap bagaimana, antara senang, penasaran dan sedikit takut jika ternyata ini hanya kerjaan orang iseng.
Perasaan nya berkecamuk, akan menuruti pesan itu atau mengabaikannya. Setelah cukup lama berpikir Jeni memutuskan untuk tidak datang seperti keinginan si pemuja rahasia dalam pesan di secarik kertas itu.
Tapi hatinya berkata lain, dia ingin mengetahui siapa yang sudah menjadi pemuja rahasianya. antara pikiran dan hati yang tidak sesuai, dan akhirnya, Jeni memutuskan untuk pergi ke lobi hotel, tepat jam 9 dia duduk di kursi yang berada di lobi.
" Nona Jeni apa anda sedang menunggu seseorang?", tanya salah satu resepsionis hotel yang melihatnya gelisah menengok ke kanan kiri berulangkali.
" Aku.... hanya ingin duduk disini saja", ucap Jenis sedikit berbohong, karena dia takut jika ternyata dia hanya dikerjai oleh orang yang iseng.
Pandangannya fokus pada pintu masuk hotel ketika tiba-tiba ada seorang pria tampan mengenakan tuksedo masuk ke dalam hotel dengan membawa setangkai bunga mawar merah di tangan kanannya, dia menatap Jeni beberapa detik, kemudian berlalu menuju resepsionis dan masuk ke dalam hotel.
" Bukan orang itu ternyata", batin Jeni.
Tak lama kemudian datang lagi seorang pria paruh baya membawa bingkisan di dalam paper bag coklat juga menatapnya beberapa menit, tapi dia juga berlaku dan masuk ke dalam lift hotel.
" Untung dia tidak menghampiriku, masa iya pemuja rahasiaku seorang Om Om", gumam Jeni lirih.
Setelah satu jam lamanya Jeni menunggu si pemuja rahasia di lobi, tapi tak ada seorangpun yang menghampirinya. Akhirnya Jeni memutuskan untuk kembali ke apartemennya yang berada di seberang jalan.
Jeni berjalan santai menyeberangi jalan raya yang tidak begitu padat, mungkin karena sudah malam, makanya jalanan sepi.
Dilihatnya sebuah baliho besar di pinggir jalan dengan gambar model tampan menggenggam botol parfum dari salah satu brand ternama. Dibacanya tulisan besar di samping model itu.
~VALENTINE'S DAY SPECIAL GIFT~
" Seandainya saja pemuja rahasiaku setampan itu, kalaupun saat ini aku tertabrak mobil dan luka parah pun aku rela, asal dia tiba-tiba muncul dan menyelamatkanku", gumam Jeni asal ceplos, tanpa berpikir terlebih dahulu.
BRAAAAAKKKK....!!!!
Jeni merasa sesuatu menghantam tubuhnya dengan sangat keras, membuatnya melayang di udara untuk beberapa detik dan bruk...
tubuh Jeni terhempas dan darah segar keluar dari tubuhnya mengalir di aspal jalan.
Aaaaaaaa.......!!!
Terdengar suara seseorang menjerit, ada beberapa orang berlari dan mengerumuninya,
pandangan Jeni kabur dan lama-lama menghilang. Jeni sudah tak sadarkan diri.
***
Saat tersadar Jeni mencium bau khas obat-obatan, pelan-pelan Jeni membuka matanya, betapa terkejutnya Jeni ketika melihat seorang pria yang sangat tampan tengah menatapnya lekat.
" Apa aku sudah berada di surga?, bagaimana bisa ada malaikat tampan sedang memperhatikan ku", batin Jeni sambil terus membuka dan menutup matanya berulang kali, memastikan jika sosok dihadapannya bukanlah fatamorgana.
" Apa kau sudah sadar?, kau bisa melihatku?", tanya pria tampan dengan suara baritonnya.
Jeni mengangguk pelan.
" Apa yang kau rasakan saat ini?, sebentar biar aku panggil dokter", pria itu berlalu dan beberapa menit kemudian seorang dokter muda datang bersamanya.
" Dia sudah sadar maka semuanya akan segera membaik, karena operasi patah tulang kaki dan punggungnya sudah berhasil di lakukan", ucap sang dokter.
" Nona anda sangat beruntung karena kondisi anda berangsur membaik, meski sudah seminggu anda tidak sadarkan diri dan tunangan Anda ini selalu menjaga anda siang dan malam tanpa merasa lelah", ucap dokter itu sebelum dia pergi.
Jeni menatap pria tampan itu dengan seksama, " Tunangan ?", tanya Jeni.
" Maaf aku yang sudah menabrakmu, saat dokter meminta persetujuan dari pihak keluarga karena harus segera melakukan tindakan terhadapmu, aku mengaku sebagai tunangan mu, agar kau secepatnya mendapat penanganan, karena aku tidak mengenalmu atau keluargamu, ponselmu juga hancur saat kejadian. Sekali lagi aku mohon maaf sudah bertindak ceroboh dan melukaimu", suara bariton itu kembali menggema.
" Aku berjanji akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi padamu nona Jeni".
Sorot mata sayu dan hangat pria itu membuat Jeni merasa nyaman berada di dekatnya. Jeni teringat kata-kata yang diucapkannya sebelum kecelakaan yang terjadi malam itu, Jeni merasa betapa bodohnya dirinya sampai mengucapkan kalimat seperti itu.
" Maaf Tuan, semua ini juga salahku karena kurang berhati-hati", ucap Jeni lirih.
" Jika dia orang yang menabrakku, dan tidak mengenalku, berarti dia bukan pemuja rahasia yang mengirimkan bunga dan coklat itu. Lalu siapa sebenarnya pemuja rahasia itu?, apa mungkin benar itu hanya kerjaan orang iseng?", batin Jeni.
" Entahlah, aku sudah tidak peduli dengan pemuja rahasia itu, sudah ada pria tampan yang ada di hadapanku, dia yang mendadak menjadi tunanganku dan dengan setia merawatku, aku tidak akan pernah bertemu dengan pria tampan ini jika malam itu aku tidak menunggu si pemuja rahasia hingga aku harus pulang larut", ucap Jeni dalam hatinya.
" Terima kasih pemuja rahasia ", gumam Jeni dalam hati.