Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 janji-janji manis di masa lalu
"Ratih, nanti malam aku jemput ya," ucap Dimas tersenyum riang menghampiri Ratih yang sedang membaca di perpustakaan kampus mereka.
Ratih menoleh pada Dimas dengan tatapan heran,"memangnya kamu mau ajak aku kemana Dim?" tanya Ratih sambil menutup buku yang sedang dia baca.
Dimas duduk di hadapan Ratih," nanti aku akan ajak kamu jalan-jalan," kata Dimas.
"Oh ya," binar wajah Ratih terlihat bahagia sekali.
"iya. Aku akan ajak kamu jalan-jalan nanti malam," Dimas mengulang perkataannya pada Ratih.
Ratih tersenyum pada Dimas sambil menganggukkan kepalanya.
Ratih mematut-matutkan dirinya di depan cermin sambil tersenyum sendiri, dia bahagia sekali karena akan berjalan-jalan dengan Dimas.
"Mau ke mana Rat, kok cantik banget malam ini?" tanya ibunya saat melintas di depan kamar putrinya itu.
"Dimas ngajak aku jalan-jalan Bu," ucap Ratih pada ibunya sambil tersenyum senang.
"Rat, kapan Dimas mau melamar kamu?" tanya Bu Dewi ibunya Ratih sambil berjalan masuk ke dalam kamar mendekati Ratih yang masih berdiri di depan kaca cermin.
Ratih tersenyum menatap Bu Dewi sambil berkata padanya," ibu tenang saja, Dimas pasti akan melamar aku dan menikahi aku nanti," wajah Ratih mendadak menjadi sumringah, dia sudah membayangkan hari indah itu akan segera dia alami nanti.
Bu Dewi tersenyum lembut dan berwibawa sambil mengusap rambut putri satu-satunya itu," ibu hanya berharap kalian bahagia nanti tidak kurang suatu apapun."
"Makasih Bu, aku akan selalu bahagia kalau aku selalu bersama dengan Dimas," Ratih memeluk ibunya hangat.
"Non Ratih, mas Dimas sudah datang sekarang sedang menunggu non Ratih di ruang tamu," tiba-tiba bibik muncul di depan pintu kamar Ratih yang memang sedang terbuka.
"Iya bik," Ratih melepaskan pelukannya dari Bu Dewi.
Ratih meraih tas pinggang kecilnya yang dia gantungkan di samping kaca cermin.
"Ibu, Ratih berangkat dulu ya," ucap Ratih pada ibunya yang kemudian melangkah keluar dari kamar di ikuti Bu Dewi di belakangnya.
"Ini tehnya mas Dimas," bibik meletakkan secangkir teh hangat di atas meja ruang tamu tempat Dimas duduk.
"Makasih bik," ucap Dimas ramah dan tersenyum pada bibik pembantu rumah tangga di rumah keluarga Ratih.
"Sama-sama mas Dimas," bibik kembali masuk ke dalam dan terlihat Ratih yang sudah berdiri di belakang bibik menyapa Dimas.
"Sudah tadi?" tanya Ratih menyapa Dimas dengan menyunggingkan senyumnya.
"Barusan," ucap Dimas.
"Teh nya di minum dulu Dim," ucap Ratih sambil duduk di kursi sofa di depan Dimas.
Dimas menjulurkan tangannya meraih cangkir yang berisi teh hangat itu dan kemudian menyeruputnya secara perlahan sampai habis.
"Mana ibu, aku mau pamitan," tanya Dimas pada Ratih.
"Sebentar aku panggilkan ya," Ratih beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke dalam ruang tengah menemui Bu Dewi yang tengah duduk menonton acara salah satu stasiun televisi.
"Bu, Dimas mau pamitan," ucap Ratih setelah berdiri di samping ibunya.
"Oh ya," Bu Ratih meletakan remote televisi yang ada di tangannya ke atas meja ruang tengah itu.
Kemudian Ratih dan ibunya berjalan bersama menuju ke ruang tamu menemui Dimas.
Dimas langsung berdiri ketika melihat Bu Dewi ibunya Ratih yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Bu. Saya ijin mau mengajak Ratih jalan-jalan," ucap Dimas dengan sopan pada Bu Dewi.
"Iya. Hati-hati di jalan," pesan Bu Ratih dengan bijak pada Dimas.
"Baik Bu. Kami jalan dulu," ucap Dimas sambil mengulurkan tangan kanannya menyalami tangan Bu Dewi dengan takzim.
"Bu, Ratih berangkat," pamit Ratih pada ibunya sambil mencium tangan Bu Dewi.
Kemudian mereka berdua pun pergi dengan mengendari sepeda motor punya Dimas.
Sepeda motor Dimas melaju di jalanan yang terang oleh sinar dari lampu-lampu kota. Malam makin syahdu menemani hati dua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
"Kita mau kemana sih Dim?" tanya Ratih saat mereka masih di jalan.
"Ke suatu tempat yang indah," ucap Dimas tersenyum dan tetap fokus menyetir motornya.
Dan tiba-tiba Dimas membelokkan motornya masuk ke halaman sebuah cafe yang terlihat sangat asri sekali di mana di halaman cafe itu banyak sekali pepohonan dan bunga beraneka ragam di tambah sinar lampu yang remang-remang menambah estetik suasana malam ini.
Dimas dan Ratih duduk di sebuah kursi kayu model jaman dulu yang terletak di bagian outdoor cafe itu.
"Dim, tempatnya bagus banget aku suka," ucap Ratih yang duduk berdampingan dengan Dimas sambil menikmati pemandangan di pelataran cafe.
"Ya. Aku tahu kamu pasti akan suka dengan tempat ini makanya aku mengajak kamu ke sini," Dimas menoleh pada Ratih dan mereka saling menatap untuk beberapa saat.
"Rat." Dimas memanggil Ratih dengan lembut.
"Ya Dim," sahut Ratih menoleh pada Dimas.
Perlahan Dimas meraih tangan Ratih dan menggenggamnya erat ," aku ingin melamar kamu," ucap Dimas menatap Ratih penuh harap.
Untuk sesaat Ratih terdiam menatap Dimas yang masih menggenggam tangannya itu.
"Bagaimana Rat? Kamu mau?" tanya Dimas cemas melihat Ratih yang belum menjawab pertanyaannya.
Ratih tersenyum pada Dimas sambil berkata padanya ," aku mau Dim."
"Terimakasih Rat," hati Dimas sangat lega perlahan dan penuh haru dia mencium tangan Ratih yang masih di genggamannya itu.
"Nanti akan aku persembahkan cincin paling mahal buat kamu. Cincin berlian bermata hijau yang sangat cantik," ucap Dimas.
"Dim, aku gak mau cincin yang mahal-mahal yang penting kamu selalu ada untukku itu sudah cukup," Ratih mengusap pipi Dimas lembut.
"Rat, sebagai calon suami aku harus bisa membahagiakan istri dan aku juga harus bisa memberikan yang terbaik buat istriku nanti," ucap Dimas penuh semangat.
Ratih tersenyum bahagia, ternyata selama ini dia tidak salah pilih karena Dimas sangat memperhatikan dan menyayangi dirinya.
"Emmm kalau begitu aku boleh dong minta sesuatu sama kamu," kata Ratih menatap Dimas manja.
"Tentu boleh, apapun yang kamu minta aku akan penuhi kalau itu bisa membuat kamu bahagia," kata Dimas.
"Kalau kita sudah menikah nanti, aku mau punya rumah sederhana dengan halamannya yang luas dan di halaman itu harus di tanami berbagai macam bunga-bunga yang warna warni," Ratih tersenyum sambil membayangkan rumah itu.
"Pasti sayang. Aku akan belikan rumah dan isinya sesuai keinginan kamu itu. Di rumah itu nanti kita akan bermain bersama anak-anak kita, mereka akan tertawa riang bersenda gurau dengan kita. Dan pastinya semua akan terasa indah," ucap Dimas yang membiarkan Ratih menyenderkan kepalanya dengan perlahan di pundak Dimas.
"Ya, aku dan kamu akan sangat bahagia melihat anak-anak kita nanti," ucap Ratih yang juga membiarkan Dimas meletakkan kepalanya dengan perlahan di atas kepala Ratih.
Malam semakin syahdu mengiringi mimpi-mimpi yang sedang di hayalkan oleh kedua insan yang sedang memadu janji itu.