Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 10
Beberapa jam kemudian.
Syela masih menimang nimang bayinya, membiarkan manusia mungil itu tertidur dipelukannya karena siapa tau mungkin ini yang terakhir kalinya.
Pintu kamar terbuka menampakkan Handoko dan sang Istri dibelakangnya, keduanya mendekat ke arah Syela.
"Lancar kan nggak perlu kerumah sakit segala" ucap Sang Papa.
Syela hanya terdiam sambil terus memandangi wajah bayi yang tertidur pulas dipelukannya. "Papa sudah mau ambil dia?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
Tak langsung menjawab Handoko bertukar pandang dengan sang istri. "Rawat dulu dia beberapa hari dirumah ini, Papa masih mencari tempat untuk dia" jawabnya.
Syela langsung cepat mendongak menatap sang Papa tak terbaca. "Kenapa?" tanyanya terkejut. Pikirnya sang Papa akan langsung menyingkirkan bayi itu dari kehidupan mereka.
"Sudah jangan banyak tanya, kalau Papa bilang rawat yah rawat saja dulu, dasar keras kepala" jawab sang Papa kesal melangkah pergi tanpa basa basi atau memegang cucu pertamanya itu.
"Ma" sebut Syela menatap sang Mama.
Susi tersenyum tipis mendekat lalu duduk dipinggir kasur Syela menatap sang putri dan bayinya. Tangannya terulur mengelus lembut pipi cucu tak diharapkan keluargan itu. "Ikuti aja kata Papamu, tapi maaf Mama nggak bisa bantu urus dia, Mama sudah lupa gimana caranya mengasuh bayi" terangnya.
Syela sejenak terdiam menatap dalam pada sang Mama yang masih fokus pada bayinya. Entah kenapa dipikirannya saat ini terlintas, sang Mama sepertinya berubah terlihat baik dengan kata kata menenangkan tapi terselip rasa menyakitkan didalamnya. Atau memang dari dulu tapi dia baru sadar. Bahkan sepertinya sikap sang Mama sedikit berbeda dari para Ibu teman temannya dulu.
"Susi cepat" teriak Handoko dari luar memanggil istrinya.
"Iya sebentar" jawab Susi. "Papa dan Mama mau keluar dulu ada pesta rekan bisnis Papa, kamu dirumah baik baik jaga anakmu" terangnya kemudian juga berlalu pergi.
Setelah kepergian kedua orang tuanya Syela tertawa miris. Mendapati perlakuan yang masih sama membuatnya berpikir sepertinya tidak akan ada perubahan seperti awal angan angannya. Tapi kenapa, apa karena bayi ini masih ada disini.
Harusnya anak ini cepat cepat saja di....., Syela terdiam tak melanjutkan isi pikirannya. Mata dan bibir mungil itu tiba tiba bergerak gerak disusul tubuh dan tangisnya yang mulai terdengar.
"Hush, hush, kenapa kenapa, haus ya hmmm??" ucap Syela berusaha menenangkan bayinya, lalu bersiap mengASIhinya. Sedikit susah pada awalnya karena memang ASI Syela belum begitu lancar. Tapi sudah terlihat memiliki sifat kesabaran putranya ini, setelah sang Ibu terus mencoba mengASIhi sembari menepuk pahanya lembut ia pun mulai tenang.
"Hmmmm.... Hmmmmmm. Hmmmmmm" Syela bersenandung lembut untuk kembali menidurkan bayinya.
Setelah tenang dan benar benar nyenyak tidurnya, Syela meletakkan bayi itu keatas kasur tempat disampinya.
Ya, lihat lah karena memang mengira sang Papa akan langsung membawa bayi itu setelah lahir. Syela tak menyiapkan apapun untuk anak itu, bahkan pakaian dan perlengkapan lainnya hanya ada beberapa itupun hadiah dari Catherine juga Ibu Bidan tadi siang.
Lama Syela memandang wajah tenang bayi itu, hingga tak sadar dia tersenyum lembut amat manis seperti senyuman tulus seorang Ibu pada anaknya. Jika dilihat lihat bayinya memang tampan untuk ukuran bayi, hidung mancung itu terlihat istimewa sekali. Dan juga sepertinya tak ada kemiripan diantara mereka berdua.
"Hey bayi kenapa kau tampan sekali" ucap Syela menyentuh pipi putranya perlahan. Rasa gemas dan sedikit saya, iya sedikit muncul didalam dirinya.
Tiba tiba saja wajahnya berubah sendu "Apa kamu mirip Ayahmu ya?" tambahnya lagi masih memperhatikan sang Putra hingga diapun ikut tertidur disamping sambil memeluknya.
*****
"Ini pesananannya Ibu muda" ucap Catherine meletakkan beberapa paper bag besar keatas nakas Syela.
"Terima kasih" jawab Syela memeriksanya. Sesaat fokus nya tersita pada pakaian, sepatu dan perlengkapan bayi yang lucu lucu itu semuanya hampir berwarna biru dan hijau.
"Wah ganteng banget deh ponakan onty ini" Catherine sudah duduk disamping putra sahabatnya itu yang tengah terlelap ditengah kasur sang Ibu.
"Jangan berisik dia baru aja tidur" terang Syela mengingatkan.
Sedang Catherine hanya mengangguk kecil terus memandangi bayi mungil itu.
"Ini lengkap semua kan sesuai pesananku" tanya Syela menghitung barang barang Putranya yang dibawakan Catherine tadi.
"Iya Nyonya" jawab Catherine asal.
Memang Syela memberinya amanat untuk membeli perlengkapan bayi sesuai keinginannya, untungnya ada sedikit tabungan yang bisa ia pakai untuk membeli itu semua. Karena jika minta kepada Papanya dia tak berani.
"Maaf yah aku nggak bisa dateng nemenin kamu lahiran Sel" Catherine menyesal.
"Iya, aku tau, nggak Papa kok" jawab Syela tulus. "Kan kamu sibuk ngurus buat lanjut kuliah disini" tambahnya.
"Iya, ternyata nggak segampang yang aku pikir".
"Oia terus terus gimana nasib ini anak Sel, apa kata Papamu?" tanya Catherine penasaran karena sudah dia hari bayi ini masih bersama Ibunya.
Syela yang sudah merapikan sedikit barang barang Putranya kembali ikut duduk dikasur bersama keduanya. "Kata Papa aku disuruh rawat dia dulu untuk beberapa hari ini, Papa masih cari tempat yang tepat untuk dia" ucapnya sembari menatap sang Putra.
"Rawat aja sih Sel dia kasian loh, jangan dibawa kemana mana, Om pasti ngerti kok".
Syela terdiam sejenak bingung juga harus bagaimana karena lama kelamaan terus memandang anak ini jujur saja rasa sayangnya mendadak muncul dan semakin berkembang saja. "Tapi aku nggak bisa kembali ke masa mudaku yang bahagia nanti, terus gimana caranya aku ngadepin semua orang termasuk Miko?" ucap Syela.
"Sekarang aja Papa sama Mama sikapnya masih dingin sama aku" tambahnya lagi.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya