NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:65.2k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tasbih Kayu Zaitun Dari Yerusalem

Zunaira merasakan dadanya mendadak terasa dingin, ia mencoba tetap tenang dan merapikan tumpukan buku di pelukannya.

"Misi apa Mbak?" tanya Zunaira.

"Apalagi kalau bukan menyatukan dua kekuatan pesantren besar? Gus Azlan lulusan Mesir dan Ning Syifa lulusan Maroko. Bukankah itu seperti pasangan yang turun dari langit?" Halimah mengatakannya tanpa maksud menyakiti namun setiap katanya terasa seperti jarum halus yang menusuk ulu hati Zunaira.

Zunaira hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan untuk menutupi retakan di dalamnya.

"Nggih Mbak, mereka memang sangat serasi dan sudah sewajarnya Gus Azlan mendapatkan yang terbaik." ucap Zunaira.

Zunaira segera berpamitan dengan alasan harus mengecek stok beras di gudang.

Ia butuh tempat untuk bernapas, namun takdir seolah ingin mengujinya lebih jauh.

Saat ia melewati koridor samping menuju dapur ia melihat Gus Azlan keluar dari ruang tamu untuk menjemput sesuatu, langkah Azlan terhenti saat melihat Zunaira.

Tatapan Azlan nampak lelah dan ada sorot kecemasan yang lebih besar daripada saat ia sakit kemarin.

Ia ingin mendekat dan ingin mengatakan sesuatu namun di belakangnya Kyai Mansur memanggil namanya dengan suara menggelegar.

"Azlan! Sini Nak, Syifa ingin melihat perpustakaan barumu. Katanya ada beberapa kitab langka dari Kairo yang dia cari." seru Kyai Mansur.

Azlan menatap Zunaira sejenak yaitu sebuah tatapan yang seolah meminta maaf sebelum akhirnya ia berbalik dan menjawab panggilan pamannya.

Zunaira mempercepat langkahnya, ia masuk ke dalam gudang yang sepi, bersandar pada tumpukan karung beras dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.

"Sadarlah Zunaira." bisiknya pada diri sendiri.

"Kemarin itu hanya mimpi siang bolong, kamu hanya ustadzah pengabdi dan jangan pernah bermimpi menjadi bagian dari permadani indah mereka." seru Zunaira mengingatkan dirinya sendiri.

Malam harinya suasana di ndalem terasa sangat formal, jamuan makan malam besar diadakan.

Semua ustadzah senior diminta membantu menyajikan makanan termasuk Zunaira. Ini adalah protokol tetap jika ada tamu kehormatan.

Zunaira bergerak dengan cekatan dan menundukkan pandangan saat melewati ruang makan utama.

Di sana ia melihat Azlan duduk berseberangan dengan Ning Syifa.

Ning Syifa tampak sangat percaya diri, ia berbicara tentang metode pengajaran di Maroko dengan bahasa Arab yang fasih.

Azlan mendengarkan dengan sopan meski sesekali matanya justru mengedar ke arah pintu dapur dan mencari sosok yang sejak siang tidak bisa ia temui.

"Gus Azlan, saya dengar kurikulum baru di sini sedang disusun, saya punya beberapa referensi dari Universitas Al-Qarawiyyin yang mungkin bisa kita diskusikan besok." ujar Ning Syifa dengan suara merdu yang terdengar hingga ke telinga Zunaira di balik tirai.

"Terima kasih Ning, kebetulan saya sudah menyusunnya bersama salah satu ustadzah senior di sini dan beliau sangat paham kondisi lapangan." jawab Azlan datar.

Kyai Mansur tertawa.

"Ah Azlan, kalau ada Syifa di sini kamu tidak perlu repot-repot minta bantuan ustadzah karena Syifa ini sudah khatam banyak kitab besar dan dia bisa jadi partner yang jauh lebih sepadan untukmu, bukankah begitu Salamah?" seru Kyai Mansur dengan sombongnya membangga-banggakan sang anak.

Ummi Salamah hanya tersenyum diplomatis dan ia melirik ke arah Zunaira yang sedang meletakkan mangkuk buah di ujung meja.

Ummi tahu ada sesuatu yang tidak beres, ia bisa melihat betapa kaku dan pucatnya wajah Zunaira.

Zunaira segera mundur ke belakang setelah tugasnya selesai, ia tidak tahan lagi. Baginya ruangan itu penuh dengan oksigen yang menyesakkan, ia memutuskan untuk pergi ke masjid yaitu tempat di mana ia selalu menemukan ketenangan sejati.

Di masjid yang mulai sepi setelah shalat Isya Zunaira bersimpuh di pojok belakang, tempat favoritnya.

Ia tidak mengaji tapi ia hanya menangis dalam diam, rasa rendah diri yang selama ini ia tekan muncul kembali dengan kekuatan berlipat ganda.

Ia merasa seperti debu di bawah sepatu mewah Ning Syifa.

Tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang mendekat, langkah yang sangat ia kenali.

Zunaira segera menghapus air matanya dengan ujung kerudung dan pura-pura membuka mushaf.

"Zunaira." panggil orang tersebut.

Suara itu lembut, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan. Zunaira tidak menoleh.

"Gus Azlan... sedang ada tamu di ndalem, kenapa Gus malah ke sini?" tanya Zunaira, suaranya masih sedikit serak.

Azlan duduk di dekat pilar dan memberikan jarak yang cukup jauh namun tetap bisa berbicara dengan jelas.

"Tamu itu urusan paman saya, urusan saya ada di sini." ucap Gus Azlan.

"Jangan begitu Gus, Ning Syifa adalah tamu yang mulia. Beliau sangat cerdas, sangat cantik dan... sangat sepadan dengan Gus pasti pesantren akan sangat bangga jika..." ucap Zunaira terputus karena Gus Azlan sudah menyela terlebih dahulu.

"Jika apa Zunaira?" potong Azlan cepat.

"Jika saya menikahi pilihan paman saya hanya demi prestise?" ujar Gus Azlan.

Zunaira terdiam dan ia tidak berani menjawab.

"Dengarkan saya baik-baik." Azlan merendahkan suaranya, namun setiap kata terasa seperti sumpah.

"Saya tidak mencari partner diskusi yang hanya pintar bicara tentang kitab, saya mencari seseorang yang hatinya sudah tertambat pada pesantren ini yaitu seseorang yang ketulusannya tidak bisa dibeli dengan gelar manapun, saya sudah katakan pada Ummi, bahwa hati saya tidak bisa dipaksa." ucap Gus Azlan.

Zunaira akhirnya menoleh sedikit dan menatap Azlan dengan mata yang masih kemerahan.

"Tapi Gus, saya ini siapa? Saya tidak punya keluarga, saya tidak punya nama besar. Paman Gus pasti akan sangat kecewa dan seluruh keluarga besar akan mempertanyakan keputusan Gus." tutur Zunaira.

Azlan menatap lurus ke depan ke arah mihrab masjid.

"Perjuangan itu selalu punya harga Zunaira dan saya siap membayarnya, yang saya butuhkan sekarang adalah keyakinanmu. Jika kamu terus mendorong saya ke arah Ning Syifa karena rasa rendah dirimu maka sayalah yang akan kalah sebelum berperang." ucap Gus Azlan.

Zunaira terkesiap, ia menyadari bahwa ketakutannya justru menjadi beban bagi Azlan.

Pria ini sedang mencoba mempertahankannya di tengah gempuran ekspektasi keluarga besar sementara ia sendiri sibuk meragukan dirinya sendiri.

"Maafkan saya Gus." bisik Zunaira.

"Jangan minta maaf. Berdoalah, berdoalah agar Allah melembutkan hati Paman Mansur dan memberikan kesembuhan total bagi Abah karena hanya restu Abah yang paling saya butuhkan untuk melangkah ke tahap selanjutnya." ujar gus Azlan.

Ia kemudian bangkit berdiri, sebelum pergi ia meletakkan sebuah bungkusan kecil di atas sajadah di samping Zunaira.

"Itu tasbih kayu zaitun dari Yerusalem, saya membelinya saat perjalanan pulang dari Kairo. Gunakan itu untuk mengingat Allah dan ingatlah bahwa ada seseorang yang juga sedang berjuang untukmu lewat jalur langit." tutur Gus Azlan.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...BANYAK CERITA LAINNYA DISANA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Lala_Syalala: yukkk mampir baca kak🙏😊😊
total 1 replies
Rahma Inayah
Alhamdulillah dr awal bc tnp ada tabung bab Thor .
tiara
Alhamdulillah sudah baca dari awal sampai akhir ceritanya
Supryatin 123
Alhamdulillah saya sudah baca sampai akhir cerita semoga ada bonchapnya thorr lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
Alhamdulillah sudah baca awal sampai akhir
Nengsih Irawati
Alhamdulillah sudah baca dari awal hingga akhir,,, ceritanya saya suka meskipun tidak tau keadaan pondok dalam kehidupan nyata karena saya belum pernah mondok di pesantren,,,, makasih atas ceritanya 🥰 semangat
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
semoga menjadi umroh yg mabrur aamiin
Rahma Inayah
hanya Allah tempat kita memintah dan mohon pertolongan Krn tujan Zu utk ibadah maka Allah mengangkat segala sakit yg km raskan sehingga km bisa khusyuk beribadah .Zu ibarat perisai Al Anwar istilah kata klu Zu GK GK ada SM dgn kaki hilang sebelah mka akan ssh berjaln
Nurgusnawati Nunung
bagus.
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor. ceritanya bagus. semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
lanjut Thor
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah... akhirnya bebas.. lepas.. hehehe
Supryatin 123
semoga ibadah umrohnya berjalan lancar.semoga mereka selalu dalam lindunganNYA amiinn🤲🤲 lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️❤️
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Nengsih Irawati
lanjut 🥰
Rahma Inayah
dokter pribadi yg posesif dan jg penaybr dan penyayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!