NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Bukan Sekadar Tembok

Minggu yang kutunggu‑tunggu itu datang berjalan jauh lebih cepat daripada yang pernah kuduga.

Sejak percakapan telepon dengan Mama yang memintaku membawa Aldo berkunjung ke rumah, rasanya waktu seolah berlari dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya. Hatiku terus‑menerus berayun di antara dua perasaan yang saling bertolak belakang: di satu sisi ada kegembiraan yang meluap‑luap karena Mama ternyata bersedia membuka hati dan menerima Aldo, namun di sisi lain terselip rasa cemas yang tak kunjung hilang—karena ada Papa. Papa, sosok kepala keluarga yang sulit sekali ditebak wataknya. Ia bisa bersikap sangat ramah dan bersahabat pada tamu yang dianggapnya pantas, namun bisa berubah menjadi sedingin es dan serunai pisau jika ia merasa tamu itu belum layak masuk ke dalam lingkaran kehidupannya.

Dan kenyataan yang tak bisa kupungkiri: Aldo adalah adik kandung dari Reza, mantan kekasihku yang pernah menyakitiku. Itu fakta yang nyata, yang selalu ada di belakang pikiranku, dan yang mungkin menjadi hal terberat yang harus dihadapi Aldo hari ini.

***

Pagi itu, aku sudah bangun dan berdiri tegak sejak pukul enam pagi tepat.

Bukan karena aku tidak bisa tidur—sebenarnya aku sudah hampir tiga malam berturut‑turut tidak memejamkan mata nyenyak karena pikiran yang terus berkelana. Namun pagi ini aku bangun lebih awal karena ingin membantu Mama menyiapkan segala sesuatu agar semuanya berjalan sempurna. Mama sendiri sudah berbelanja ke pasar sejak kemarin sore, dan pagi ini beliau sibuk sekali di dapur dibantu oleh Dinda, adik perempuanku. Aroma masakan yang kuat mulai menguar ke seluruh penjuru rumah: rendang daging yang dimasak perlahan agar empuk dan berbumbu pekat, gulai kambing kesukaan Papa, serta sambal goreng ati yang pedas gurih—semua hidangan istimewa yang biasanya hanya disajikan saat ada acara keluarga besar atau tamu yang sangat dihormati.

“Tari, tolong belikan es kelapa muda di warung di ujung jalan ya,” seru Mama dari balik asap dapur, suaranya terdengar riuh namun bahagia. “Beli yang cukup banyak, jangan sedikit‑sedikit. Papa paling suka minum itu saat makan hidangan bersantan.”

“Baik, Ma. Segera aku belikan,” jawabku sambil meraih tas kecil.

Aku berjalan keluar rumah melewati halaman sempit yang indah, tempat bunga‑bunga melati milik Mama mulai mekar sempurna. Udara pagi masih terasa segar dan sejuk, sisa‑sisa hujan yang turun deras semalam masih menempel di helai‑helai daun, membuatnya berkilauan bagaikan dihiasi butiran permata saat tersentuh sinar matahari pagi.

Di ujung jalan itu berdiri sebuah warung kecil yang sudah ada sejak aku masih kecil, dikelola oleh seorang nenek tua yang ramah dan selalu tersenyum. Ia tampak senang melihatku datang.

“Wah, Mbak Tari, kok belinya sebanyak ini? Ada acara istimewa di rumah ya?” tanyanya sambil menuangkan air kelapa ke dalam kantong plastik bersih.

“Iya, Bu. Ada tamu yang mau berkunjung ke rumah,” jawabku sopan.

“Tamu spesial, ya?” godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Aku tersenyum malu hingga pipiku terasa panas. “Iya, Bu. Bisa dibilang begitu.”

Nenek itu tertawa renyah. “Kalau begitu semoga segalanya berjalan lancar dan baik‑baik saja ya, Nak.”

“Terima kasih banyak, Bu.”

Aku berjalan pulang sambil membawa dua kantong berisi minuman, berusaha sekuat tenaga menenangkan detak jantungku yang berdegup tak beraturan. Segala bayangan pertemuan nanti terus berputar di kepalaku.

***

Tepat pukul dua siang, telepon genggamku berdering. Nama Aldo tertera jelas di layar.

“Halo, Aldo…”

“Tari, aku sudah berangkat dan sedang di jalan. Tapi macetnya lumayan parah di beberapa titik. Mungkin baru bisa sampai sekitar pukul setengah empat nanti,” terdengar suaranya yang tenang namun sedikit terganggu oleh suara kendaraan di latar belakang.

“Hati‑hati ya berkendaranya, jangan terburu‑buru,” pesanku.

“Dan… kamu jangan terlalu khawatir ya. Aku yakin semuanya akan berjalan baik,” hiburnya dari kejauhan.

“Aku tidak khawatir kok,” jawabku berusaha meyakinkan, padahal suaraku terdengar agak bergetar.

“Kamu sedang khawatir, Tari. Aku bisa mendengarnya jelas dari nada bicaramu,” katanya lembut namun yakin.

Aku menghela napas panjang. “Ya… jujur saja aku khawatir. Papa itu… orangnya sungguh sulit sekali ditebak perasaannya.”

“Tenanglah. Aku saja sudah berani menghadapi Ibuku yang keras kepala itu, berarti Papamu takkan jauh lebih menakutkan, kan?” candanya ringan.

“Kamu belum tahu betapa tegasnya Papa, Aldo. Nanti baru kamu rasakan sendiri,” sahutku sambil tersenyum tipis.

“Nanti aku akan tahu. Dan percayalah, aku sudah bertekad sekuat tenaga agar Papa menyukaiku,” jawabnya mantap.

“Aldo…”

“Iya?”

“Terima kasih ya… sudah bersedia datang ke rumahku hari ini.”

“Justru inilah saat yang sudah lama kutunggu, Tari. Kesempatan untuk bertemu dan berkenalan dengan keluargamu. Tak perlu berterima kasih,” jawabnya hangat.

“Hati‑hati terus di jalan ya.”

“Siap, Bu Guru.” Sambungan telepon terputus.

Aku berdiri diam di teras rumah, menatap ke arah jalan raya yang mulai padat, membayangkan Aldo yang sedang duduk di balik kemudi mobilnya—wajahnya yang serius, kemeja putih yang pasti sudah disetrika rapi sejak pagi tadi, serta segala kegugupan yang mungkin juga ia rasakan namun berusaha disembunyikan demi aku.

***

Pukul tiga lewat empat puluh lima menit, sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap berhenti perlahan tepat di depan pagar rumah kami.

Aku segera berlari kecil menyambutnya. Aldo turun dari kendaraan dengan penampilan yang sangat rapi: mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna biru tua bermotif parang yang anggun—sopan dan resmi, namun tetap berkesan santai dan tidak kaku. Dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dan sepatu pantofel yang berkilau bersih. Kacamata bingkai tipisnya masih setia bertengger di pangkal hidungnya, sementara rambutnya disisir rapi ke belakang, meski beberapa helai tetap jatuh menutupi dahinya—entah karena tertiup angin, atau mungkin karena ia diam‑diam merasa gugup.

“Wah…,” gumamku tak bisa menutupi kekaguman, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Rapi sekali penampilanmu ini. Seolah‑olah mau datang melamar saja.”

Aldo tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. “Jangan bercanda begitu, Tari. Jantungku sudah berdegup kencang sejak tadi pagi, jangan ditambah lagi.”

“Tenang saja. Keluargaku ini manusia biasa, tidak ada yang menggigit kok,” hiburku sambil membuka lebar pintu pagar.

“Termasuk Papamu yang terkenal tegas itu?” tanyanya hati‑hati.

Aku terkikih pelan. “Papa juga tidak menggigit. Cuma… kata‑katanya kadang terdengar keras dan tajam, itu saja.”

Aldo menghela napas panjang seolah mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dirinya. “Ya ampun… Doakan aku selamat ya menghadapi semuanya ini.”

“Ayo masuklah duluan.”

Ia berjalan beriringan denganku menuju beranda rumah. Matanya berkeliling memandangi halaman yang penuh tanaman. “Ternyata rumahmu terasa begitu asri dan nyaman ya,” komentarnya. “Dan bunga melati di sini wanginya semerbak sekali, tercium sampai ke jalan.”

“Itu semua hasil rawatan Mama. Mama sangat menyukai bunga melati karena wanginya lembut dan tidak menyengat hidung,” jelasku.

Aldo mengangguk mengerti. Sesekali aku melirik ke samping; langkahnya tampak mantap, namun napasnya berhembus masuk dan keluar agak cepat—tanda jelas bahwa ia pun sebenarnya sama gugupnya denganku.

“Tari…” panggilnya tepat sebelum kami melangkah masuk ke ruang tamu.

“Iya?”

“Terima kasih… sudah mengundangku ke sini. Berarti banyak bagiku.”

Aku tersenyum tulus. “Terima kasih juga sudah bersedia datang, Aldo.”

Ia membalas senyumku—senyum yang melembutkan seluruh ketegangan di wajahnya. Kemudian ia mengulurkan tangan, membuka lebar pintu rumah, dan melangkah masuk bersamaku.

***

Di dalam ruang tamu yang luas dan sejuk, Papa, Mama, serta kedua adikku sudah duduk menunggu.

Papa duduk di kursi utama yang terbuat dari kayu jati kokoh berukiran khas Jawa—kursi peninggalan kakek yang sudah berpuluhan tahun usianya. Ia mengenakan kemeja putih bersih lengan panjang, rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis disisir rapi ke belakang. Di pergelangan tangan kirinya, tak pernah lepas jam tangan tua berwarna perak peninggalan kakek, benda yang selalu ia pakai setiap hari tanpa terkecuali.

Di sampingnya duduk Mama, mengenakan kebaya lengan panjang berwarna krem lembut dipadukan kain batik bermotif halus. Rambutnya yang juga mulai beruban sedikit di bagian pelipis disanggul rapi dengan tusuk konde kayu tua. Mata Mama yang hangat dan teduh langsung tertuju pada Aldo begitu kami muncul di ambang pintu.

Dinda, adik perempuanku yang masih berseragam sekolah menengah atas, duduk di sebelah Mama. Matanya menyipit tajam seolah sedang mengamati dan menilai sosok Aldo dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Ia mengenakan gamis panjang berwarna merah muda lembut dengan rambut panjangnya diikat pita lucu berbentuk kupu‑kupu.

Sedangkan Rangga, adik laki‑lakiku yang masih duduk di bangku SMP, duduk bersandar malas di ujung sofa dengan mata setengah terpejam, seolah‑olah ia lebih tertarik untuk melanjutkan tidur siang daripada menyambut tamu baru.

“Pa, Ma…” sapaku membuka suasana, berusaha menjaga agar suaraku tetap stabil meski tanganku diam‑diam gemetar. “Ini Aldo… Aldo Pratama.”

Aldo segera menundukkan kepalanya dengan sopan, kedua tangannya dilipat rapi di depan perut—gerakan penghormatan tradisional yang sudah jarang sekali dilakukan oleh anak muda zaman sekarang.

“Selamat sore, Bapak. Selamat sore, Ibu. Mohon maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Bapak dan Ibu,” ucapnya dengan nada bicara yang jelas dan rendah hati.

Papa mengamati Aldo dengan saksama, meneliti segala gerak‑geriknya tanpa melepas pandang. Matanya yang tajam bergerak dari wajah, ke pakaian, ke sepatu yang bersih, hingga ke jemari tangan Aldo yang polos tanpa perhiasan.

“Silakan duduk, Nak Aldo,” kata Papa akhirnya, suaranya berat dan dalam—suara orang yang terbiasa didengarkan dan dipatuhi banyak orang.

Aldo duduk di kursi anyaman bambu yang disediakan tepat di hadapan Papa. Aku duduk di sebelahnya, sesekali menyentuh lengannya pelan—tanda dukungan diam‑diam agar ia tetap tenang.

“Jadi… Aldo,” Papa memulai percakapan dengan nada menilai, “kamu adalah adik kandung dari Reza, bukan?”

“Benar sekali, Bapak,” jawab Aldo tenang.

“Keluargamu berasal dari mana sebenarnya? Asli orang mana?”

“Kami asli keturunan Bandung, Bapak. Namun sekarang orang tua menetap di kawasan Ciputat, sedangkan saya sendiri tinggal di Jakarta karena tuntutan pekerjaan.”

“Pekerjaanmu apa, kalau boleh tahu?”

“Saya bekerja sebagai psikolog dengan spesialisasi forensik, Bapak. Namun sebagian besar waktu saya sekarang habis untuk mengajar di salah satu universitas negeri di Jakarta.”

Papa sedikit mengangkat alisnya, tampak tertarik. “Psikolog forensik? Bidang yang sering membantu kepolisian dalam mengungkap kejahatan itu, bukan?”

“Iya benar, Bapak. Kadang saya juga diminta menjadi tenaga ahli konsultan dalam kasus‑kasus tertentu yang memerlukan analisis perilaku.”

Papa mengangguk perlahan. Aku sempat bingung—apakah anggukan itu tanda persetujuan, atau sekadar basa‑basi saja. Papa memang sulit sekali dibaca perasaannya, berbeda dengan Mama yang selalu terlihat apa adanya.

“Saya mendengar kabar dari sana‑sini,” lanjut Papa perlahan, menatap tajam ke arah Aldo, “bahwa kamu berani menentang pendapat ibumu sendiri demi membela anak perempuan saya.”

Aldo terdiam sejenak, seolah memilah setiap kata agar tidak salah bicara.

“Sebenarnya saya tidak bermaksud menentang atau melawan begitu saja, Bapak,” jawabnya akhirnya dengan tenang namun tegas. “Saya hanya berusaha menjelaskan kenyataan yang sesungguhnya. Menjelaskan bahwa Tari bukanlah orang yang dicurigai oleh Ibu saya. Menjelaskan bahwa niat saya mendekati Tari adalah niat yang serius dan bertanggung jawab. Dan satu hal lagi… saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun—bahkan keluarga kandung saya sekalipun—menghina atau merendahkan orang yang saya sayangi.”

Keheningan mendadak menyelimuti ruang tamu. Aku bisa mendengar dengan jelas bunyi jarum jam dinding yang berdetak lambat: tik… tik… tik… persis seperti detak jantungku yang berpacu cepat.

Papa menatap Aldo dalam‑dalam, cukup lama hingga aku hampir tidak sanggup menahan rasa tegang itu. Namun tiba‑tiba, sudut bibir Papa tersenyum.

Senyuman yang jarang sekali tampak. Senyum yang hangat, yang membuat kerutan di wajahnya terlihat lebih dalam namun lebih ramah, dan matanya berbinar lembut seperti cahaya matahari sore.

“Kamu ternyata berbeda jauh dari kakakmu, Nak Aldo,” kata Papa pelan namun tegas. “Reza… dia anak yang santun dan manis bicara. Tapi dia lemah. Dia tidak pernah berani mengambil sikap tegas, apalagi berani membela pendapatnya sendiri berhadapan dengan orang tuanya.” Papa menghela napas panjang. “Tapi kamu… kamu memiliki keberanian yang kupandang tinggi. Dan hal itu sangat penting. Sebab jika kamu benar‑benar serius mendekati anakku, kamu haruslah orang yang berani memegang prinsip.”

“Pa…” potongku kaget mendengar pengakuan itu.

Papa mengangkat tangan kanannya sedikit, memberi isyarat agar aku diam sejenak. “Biarkan Papa bicara dulu, Tari.” Aku pun terdiam.

Papa kembali menatap Aldo. “Nak Aldo… saya memang belum lama mengenalmu. Saya hanya tahu kamu adik dari mantan kekasih anak saya. Namun dari cara bicaramu, dari caramu memandang lawan bicara, dari cara kamu duduk dan bersikap… saya bisa melihat dengan jelas bahwa kamu adalah orang yang teguh. Kamu tahu betul apa yang kamu inginkan dalam hidupmu.”

“Terima kasih banyak atas penilaian Bapak,” jawab Aldo sambil menundukkan kepala tanda hormat.

“Namun…” nada suara Papa berubah menjadi lebih serius dan berat, “saya punya satu syarat mutlak.”

Aku menahan napas, menanti dengan cemas.

“Apapun yang terjadi di kemudian hari… jangan pernah sakiti hati anak perempuan saya. Jangan membuatnya menangis karena kesalahanmu. Jangan biarkan ia menderita sendirian. Sebab jika sampai kamu berani melakukan hal‑hal buruk itu padanya…” sorot mata Papa kembali berubah tajam dan dingin menusuk, “…ketahuilah bahwa saya tidak akan tinggal diam. Saya mungkin sudah mulai menua, tapi saya masih memiliki banyak kenalan dan sahabat yang sanggup membuat hidup seseorang menjadi sengsara jika berani berbuat jahat pada keluarga saya.”

Aldo terdiam beberapa saat, meresapi makna ancaman yang sesungguhnya berisi kasih sayang itu. Lalu perlahan ia berdiri tegak menghadap Papa, dan menundukkan kepalanya jauh lebih dalam daripada sebelumnya.

“Saya berjanji di hadapan Bapak,” ucapnya dengan suara yang tegas, jelas, dan tak tergoyahkan. “Saya berjanji tidak akan pernah menyakiti hati Tari dengan sengaja. Saya akan berusaha sebaik mungkin menjaga, menghormati, dan menyayanginya seumur hidup saya. Dan jika kelak saya gagal menepati janji ini… saya sendiri yang akan datang menghadap Bapak untuk meminta pertanggungjawaban.”

Papa mengangguk pelan—gerakan sederhana namun penuh makna persetujuan.

“Baiklah… saya percaya padamu, Nak.”

Saat itulah Mama yang sedari tadi diam mengamati ikut bersuara lembut, memecah ketegangan. “Aldo… kamu suka masakan rendang, kan? Tari pernah bilang kalau kamu sangat menyukainya.”

Aldo tersenyum lega, ketegangan di wajahnya perlahan hilang berganti kehangatan. “Iya, Ibu. Rendang adalah salah satu masakan yang paling saya sukai.”

“Syukurlah. Ibu sudah memasakkan rendang daging khusus untukmu hari ini. Sudah lama dimasak agar bumbunya meresap sempurna. Tari, tolong dampingi Aldo beristirahat sebentar ya. Nanti kita makan malam bersama sebentar lagi.”

Mama berdiri diikuti Papa yang ikut bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga di belakang, meninggalkan aku, Aldo, serta kedua adikku berdua di ruang tamu.

Dinda yang sedari tadi diam mengamati, kini berjalan mendekat dengan langkah kecil namun penuh selidik. Matanya masih menyipit, seolah mencari celah kelemahan pada diri Aldo.

“Kamu serius kan dengan Kakakku?” tanyanya langsung tanpa basa‑basi.

“Dinda!” tegurku cepat, tak percaya dengan keberanian adikku itu.

Aldo malah tertawa kecil mendengar pertanyaan polos namun tajam itu. “Sangat serius, Dinda.”

“Kalau serius… buktinya apa?” desaknya lagi.

Aldo mengerutkan dahinya sebentar sambil berpikir. “Bukti nyata? Aku datang jauh‑jauh ke sini, menghadapi Papamu yang terkenal tegas itu, dan berani berjanji akan menjaga serta menyayangi Kakakmu sebaik‑baiknya. Apakah itu belum cukup jadi bukti?”

Dinda menatapnya lama, lalu perlahan mengangguk puas. “Cukup… Tapi ingat ya. Kalau kamu berbohong atau menyakiti hatinya, aku juga punya banyak teman yang bisa membuat hidupmu jadi tidak tenang.”

“Dinda!” seruku hampir berteriak tak percaya.

Aldo tertawa renyah. “Ternyata keluargamu ini jauh lebih menakutkan daripada keluargaku ya, Tari.”

“Itu karena kami semua sangat menyayangi Kakakku,” jawab Dinda dengan nada bangga, lalu berbalik berjalan santai menuju dapur untuk membantu Mama.

Kini giliran Rangga yang sedari tadi bersandar malas di sofa. Ia duduk tegak, matanya yang berbinar penuh rasa ingin tahu menatap Aldo lekat‑lekat.

“Kak Aldo…” panggilnya.

“Panggil Aldo saja, Rangga. Kata ‘Kak’ atau ‘Om’ itu membuatku merasa sudah tua sekali,” jawab Aldo sambil tersenyum ramah.

“Baik… Aldo. Kamu suka main permainan di ponsel atau komputer?” tanyanya antusias.

“Aku suka. Dulu sering sekali main Mobile Legends saat masih kuliah tingkat akhir, sekadar melepas penat. Tapi sekarang jarang sekali karena pekerjaan menyita waktu,” jawab Aldo jujur.

“Wah… kalau dulu kamu sampai mencapai peringkat berapa?”

“Pernah sampai tingkat Mythic.”

Mata Rangga membelalak lebar takjub. “Benarkah? Sungguh?”

Aldo mengangguk santai. “Sungguh. Tapi kan sudah lama tidak dimainkan, pasti sekarang peringkatnya sudah turun jauh.”

“Wah… hebat sekali! Nanti boleh tidak kita main bersama‑sama?”

“Rangga!” seru Mama dari kejauhan. “Jangan banyak bertanya hal‑hal aneh. Nanti saja kalau sudah selesai makan.”

“Aku hanya bertanya saja, Ma,” gumam Rangga cemberut.

“Boleh saja kita main bersama nanti,” jawab Aldo sopan membuat wajah Rangga berseri‑seri gembira.

Aku menatap Aldo takjub. “Kamu benar‑benar suka main permainan itu?”

“Dulu sangat suka. Waktu sedang mengerjakan tesis S2, itu satu‑satunya cara ampuh menghilangkan stres,” jawabnya sambil menghela napas seolah teringat masa sulit itu. “Tesis… itulah musuh terbesar bagi mahasiswa, kan?”

Aku tertawa kecil. Aldo ikut tersenyum, dan perlahan namun pasti, segala sisa ketegangan yang semula menguasai ruangan itu mencair sepenuhnya.

***

Sekitar satu jam kemudian, kami semua berkumpul di ruang makan.

Meja kayu jati panjang yang lega itu kini penuh terisi hidangan lezat buatan Mama: rendang daging, gulai kambing, tumisan kangkung segar, sambal terasi yang pedas menggugah selera, tempe goreng renyah, tahu isi hangat, sayuran lalapan, serta sambal goreng ati yang menjadi kebanggaan beliau. Aroma masakan yang kaya rempah bercampur dengan wangi bunga dupa yang selalu menyala di sudut ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.

Papa duduk di ujung meja seperti kebiasaannya. Di sebelahnya ada Mama, lalu aku duduk berhadapan dengan Mama. Aldo duduk di sebelahku, diapit oleh Dinda yang sesekali masih melirik curiga namun sudah mulai mau mengobrol, serta Rangga yang tak henti‑hentinya melontarkan pertanyaan.

“Kak… eh Aldo,” panggil Rangga sambil mengunyah daging dengan lahap.

“Iya?”

“Kalau jadi psikolog forensik itu… kamu pernah melihat jenazah asli tidak?”

“RANGGA!” hampir saja Mama menjatuhkan sendoknya karena kaget.

Aldo malah tertawa santai. “Pernah sesekali. Tapi itu bukan kegiatan utama dalam pekerjaanku sehari‑hari. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk menganalisis data, laporan, dan pola perilaku manusia.”

“Seram tidak rasanya melihat hal‑hal seperti itu?”

“Tergantung situasinya,” jawab Aldo dengan tenang. “Kalau jenazah yang sudah membusuk dan rusak parah, tentu saja terasa menyeramkan dan menyedihkan. Tapi kalau masih utuh dan baru saja terjadi… tidak terlalu menakutkan kok.”

“RANGGA! CUKUP!” seru Mama tegas sambil meletakkan sendoknya agak keras ke meja. “Makan saja dulu, jangan banyak bicara hal yang tidak perlu.”

Rangga mengerucutkan bibirnya. “Aku kan hanya penasaran saja, Ma.”

“Penasaran boleh, tapi nanti saja waktunya. Sekarang makanlah dengan sopan.”

Aldo menatapku sambil tersenyum geli. Aku hanya mengangkat bahu seolah berkata: “Sudah kubilang kan, keluargaku ini memang keras kepala dan penuh rasa ingin tahu.”

Papa yang sedari tadi makan dengan tenang, kini berbicara lagi. “Aldo… ceritakanlah sedikit soal pekerjaanmu itu. Kenapa kamu justru memilih bidang psikologi forensik? Kebanyakan orang yang tertarik dengan dunia kejahatan biasanya memilih ilmu hukum, bukan psikologi.”

Aldo meletakkan sendok dan garpu‑nya sejenak, lalu mulai bercerita dengan tenang dan runtut—tentang ketertarikannya pada cara berpikir manusia sejak masih kecil, tentang kejadian menyedihkan saat teman sekelasnya dulu melakukan tindakan nekat karena dibully, keputusannya mendalami ilmu psikologi, bagaimana ia kemudian menemukan minat besar pada bidang forensik, serta pengalaman‑pengalaman berharga saat membantu kepolisian mengungkap motif di balik berbagai kasus sulit.

Papa mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk mengerti, sesekali bertanya hal‑hal rinci yang menunjukkan betapa seriusnya ia menilai sosok Aldo.

“Pernahkah kamu menangani kasus pembunuhan yang nyata?” tanya Papa di tengah percakapan.

“Pernah, Bapak. Namun sebagian besar kasus yang kutangani justru berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga dan perlakuan buruk pada anak‑anak yang tidak berdaya,” jawab Aldo dengan nada berubah sendu.

“Itu pekerjaan yang sangat berat, Nak. Kau harus memiliki ketabahan hati yang luar biasa,” komentar Papa dengan nada kagum.

“Memang tidak selalu mudah, Bapak. Kadang saya pun ikut merasa sedih dan sakit hati, terutama jika korban yang kami bantu adalah anak‑anak kecil yang tidak bersalah,” jawab Aldo jujur.

Mama yang mendengar hal itu, matanya berkaca‑kaca terharu. “Kasihan sekali… betapa tega ada manusia yang berani menyakiti anak‑anak kecil ya…”

“Memang begitu kenyataannya, Ibu. Dan tugas saya serta rekan‑rekan lainnya adalah berusaha semampu kami agar mereka mendapatkan keadilan yang seharusnya,” jawab Aldo lembut.

Papa menghela napas panjang. “Dulu saat saya masih aktif bekerja sebagai pengacara, saya pun sering menangani kasus‑kasus serupa. Banyak juga yang berkaitan dengan kekerasan yang terjadi di dalam rumah sendiri.”

Papa menatap Aldo dengan pandangan yang berbeda—bukan lagi pandangan seorang calon mertua yang sedang menguji, melainkan pandangan sesama orang yang berjuang demi kebenaran dan keadilan.

“Kerjamu sangat mulia dan berguna bagi banyak orang, Nak Aldo. Teruskanlah pekerjaan itu,” ucapnya tulus.

“Terima kasih banyak, Bapak.”

Tanpa diminta, Mama segera menyendokkan potongan daging rendang yang besar ke dalam piring Aldo. “Makanlah yang banyak, Nak. Kelihatannya kau kurus sekali, belum cukup makan sepertinya.”

Aldo tersenyum berterima kasih. “Terima kasih ya, Ibu. Masakannya sungguh enak sekali.”

Aku menatap Mama dengan hati yang lega—tatapan Mama begitu hangat dan penuh kasih, jauh berbeda dibandingkan saat beliau berbicara tentang Reza dulu. Aku tahu, Mama sungguh mulai menerima Aldo sepenuh hati, sama seperti aku.

***

Setelah makan malam selesai, hal yang tak terduga terjadi: Aldo tidak langsung duduk diam lagi, melainkan segera bangkit dan ikut membantu Mama serta Dinda membereskan piring‑piring kotor di meja makan.

Aku sempat terkejut melihatnya. Biasanya tamu yang datang ke rumah kami hanya duduk menunggu di ruang tamu setelah makan, bahkan Reza yang sudah lama berpacaran denganku pun tak pernah sekalipun menawarkan bantuan.

“Jangan, Nak Aldo, tidak usah repot‑repot,” tolak Mama lembut sambil berusaha mengambil piring dari tangan Aldo. “Kamu kan tamu, biar kami saja yang membereskan semuanya.”

“Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, Ibu. Saya sudah biasa membantu Ibu saya sendiri di rumah, jadi sudah terbiasa,” jawab Aldo santai sambil tetap membawa tumpukan piring ke dapur.

Mama menoleh sekilas ke arahku, dan aku bisa melihat sorot mata beliau yang penuh kebanggaan.

“Ya sudah kalau begitu, kalau kamu memang bersedia. Tapi jangan sampai terlalu melelahkan ya,” kata Mama akhirnya.

Sementara Mama dan Aldo sibuk di dapur, aku duduk kembali di ruang tamu bersama Papa dan Rangga. Dinda sudah naik ke kamar tidurnya, katanya masih ada pekerjaan sekolah yang harus diselesaikan.

“Tari…” panggil Papa pelan.

“Iya, Pa?”

“Aldo… dia anak yang sangat baik dan sopan.”

Aku menatap Papa dengan harap‑harap cemas. “Papa yakin begitu?”

“Papa sudah lama hidup dan sudah melihat banyak sekali macam orang seumur hidupku ini, Nak. Orang yang hatinya baik dan jujur selalu terlihat jelas dari sorot matanya. Dan Aldo… matanya jujur sekali, tidak ada kepura‑puraan,” jelas Papa tenang.

Aku tersenyum lega. “Terima kasih ya, Pa…”

“Tapi ingat selalu pesan Papa ini: jangan terburu‑buru mengambil keputusan akhir. Kenali dia lebih dalam lagi seiring berjalannya waktu. Jangan sampai kau terluka lagi oleh siapa pun,” pesannya mengingatkan.

“Aku ingat selalu, Pa.”

Papa mengangguk puas, lalu beranjak menuju ruang kerjanya di belakang rumah.

Rangga yang sedari tadi diam bermain dengan jarinya, kini mendekat dan berbisik pelan. “Kak… Aldo itu keren sekali lho.”

“Keren kenapa, hah?” tanyaku sambil tersenyum geli.

“Dia berani berhadapan sama Papa yang galak itu tanpa takut sedikit pun. Lagian dia jago main permainan juga,” jawabnya antusias.

Aku tertawa kecil. “Rangga… jangan menilai kebaikan seseorang hanya dari pandai main permainan saja.”

“Tapi itu hal yang penting lho, Kak!” bantahnya polos.

“Tidak juga.”

“Iya penting.”

“Rangga…”

“Yang benar saja, Kak. Aldo itu keren dan asik.”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat kekanak‑kanakan adikku itu.

***

Tepat pukul delapan malam, Aldo berpamitan untuk pulang.

Mama dan Papa mengantarnya sampai ke depan pintu rumah. Mama bahkan memeluk Aldo seeratnya—pelukan hangat seperti yang biasa beliau berikan pada anak kandungnya sendiri.

“Sering‑seringlah berkunjung ke sini lagi ya, Nak Aldo,” kata Mama dengan nada sayang. “Nanti Ibu akan masakkan rendang yang lebih banyak lagi untukmu.”

Aldo tersenyum bahagia. “Siap, Ibu. Terima kasih banyak atas segala kebaikan dan hidangan lezat hari ini.”

Papa menjabat tangan Aldo dengan kuat dan lama—jabat tangan yang penuh makna persetujuan dan kepercayaan. “Jagalah anak saya dengan baik, Nak.”

“Saya berjanji akan selalu menjaganya, Bapak.”

Aldo kemudian menoleh menatapku. Di matanya yang teduh itu, aku melihat ketenangan dan kebahagiaan yang sama dengan apa yang kurasakan.

“Aku pulang dulu ya, Tari.”

“Iya. Hati‑hati di jalan ya.”

“Besok pagi boleh aku menjemputmu?” tanyanya pelan.

“Jam berapa kira‑kira?”

“Sepuluh pagi boleh?”

“Boleh sekali.”

Aldo tersenyum lebar—senyum yang mampu membuatku lupa sejenak bahwa masih ada banyak hal yang harus kami hadapi ke depannya, masih banyak rintangan yang mungkin akan datang menghadang.

Ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan melaju perlahan menjauh dari halaman rumahku. Aku berdiri diam di teras menatap kendaraannya hingga benar‑benar hilang di tikungan jalan, ditemani Mama yang berdiri di sebelahku dengan tangan bertumpu di pinggang.

“Nak…” kata Mama lembut sambil mengelus bahuku. “Bawa lagi anak itu ke rumah minggu depan ya. Mama ingin memasakkan hidangan yang lebih istimewa lagi.”

Aku menoleh ke arah Mama sambil tersenyum bahagia. “Baiklah, Ma. Terima kasih banyak ya…”

Mama mengangguk bahagia lalu masuk kembali ke dalam rumah. Aku masih berdiri sejenak di teras, menatap langit malam Jakarta yang jarang sekali tampak cerah berbinar. Namun malam ini langitnya bersih, bertabur bintang‑bintang yang indah—seolah‑olah seluruh alam semesta pun ikut merayakan kebahagiaanku.

Di dalam dadaku, ada perasaan yang semakin lama semakin nyata, semakin kuat, dan semakin sulit untuk disangkal lagi.

Itulah cinta.

Cinta yang tumbuh perlahan tanpa aku sadari. Cinta yang hadir tanpa diundang, namun terasa begitu pas dan benar adanya. Cinta yang meski terasa sulit di awal karena berbagai rintangan dan larangan, ternyata justru tumbuh makin kokoh.

Aku tersenyum sendiri di dalam keheningan malam.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sama sekali tidak merasa takut untuk mengakuinya—bahwa aku sungguh‑sungguh mencintai Aldo, sepenuh hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!