Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Puncak Gunung Tidar memiliki satu sisi yang curam. Tebing vertikal yang jatuh langsung ke lembah berkabut seribu meter di bawahnya. Angin di sana tidak berhembus; ia menerjang.
Si Tua berdiri di tepi tebing itu. Jubahnya berkibar liar, tapi kakinya kokoh seperti akar pohon tua.
Raka berdiri tiga langkah di belakangnya. Napasnya tertahan. Bukan karena lelah lari, tapi karena insting dasarnya berteriak: Jauh dari sini.
"Lihat ke bawah," perintah Si Tua.
Raka melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah.
Dia mengintip ke tepi. Kabut putih tebal menyembunyikan dasar jurang. Tapi angin yang naik dari bawah membawa suara desisan kosong. Suara kehampaan.
Perut Raka mual. Jantungnya memacu lebih cepat dari saat dia lari sepuluh putaran.
[!] Deteksi fisiologis: Adrenalin meningkat 200%.
[!] Risiko jatuh akibat vertigo: Tinggi.
[!] Saran: Mundur selangkah.
Raka mengabaikan saran itu. Dia tahu ini bukan latihan fisik. Ini ujian mental.
"Ketakutan itu bahan bakar," kata Si Tua tanpa menoleh. Suaranya terbawa angin, terdengar jelas di telinga Raka. "Tapi jika kau membiarkannya membakar mesinmu, kau akan hancur. Kau harus belajar menyalakannya, bukan dimatikannya."
Raka mengepalkan tangan. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Berdiri di sini," lanjut Si Tua. "Sampai napasmu kembali teratur. Sampai kau bisa mendengar angin tanpa gemetar."
Si Tua berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Raka sendirian di tepi jurang.
"Jangan jatuh," tambah Si Tua santai, seolah sedang memberi nasihat cuaca. "Kalau kamu jatuh, aku bilang ke orang kampung kamu kabur bawa uang kas. Reputasiku rusak."
Raka tidak menjawab. Matanya terpaku pada kabut di bawah.
Satu jam berlalu.
Kaki Raka kram. Otot betisnya berkedut-kedut menahan tegangan. Pikirannya berputar. Bayangan jatuh. Tulang patah. Darah. Kegelapan.
[!] Probabilitas pingsan: 15%.
[!] Deteksi pola pikir obsesif pada skenario kematian.
"Diam," desis Raka pada dirinya sendiri.
Dia mencoba mengatur napas. Tarik. Buang. Tarik. Buang.
Tapi setiap kali dia menutup mata, bayangan jurang itu semakin dekat. Seolah-olah gravitasi menariknya lebih kuat.
Di balik batu besar beberapa meter di belakangnya, Laras duduk memeluk lutut. Wajahnya pucat. Tangannya menggenggam erat ujung bajunya sampai buku-buku jarinya memutih.
Dia tidak menonton Raka. Dia menonton reaksi tubuh Raka. Bahu yang menegang. Kepala yang sedikit miring ke depan. Cara Raka berdiri kaku, seolah takut bergerak sedikit saja akan mengirimnya terbang.
Laras menghela napas panjang. Napas yang gemetar.
Dia benci melihat ini.
Bukan karena dia takut Raka jatuh. Dia tahu Si Tua tidak akan membiarkan muridnya mati bodoh.
Dia benci melihat Raka berubah.
Raka yang dulu, meski lemah, selalu punya kata-kata. Selalu punya alasan. Selalu punya api kecil di matanya yang menantang keadaan.
Sekarang? Raka hanya diam. Menderita dalam sunyi. Menelan rasa sakitnya sendiri tanpa bersuara.
Laras berdiri. Kakinya berat. Dia berjalan mendekati Raka. Langkahnya pelan, agar tidak mengganggu konsentrasi pria itu.
Dia berhenti di samping Raka. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
Raka tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada kabut.
"Aku nggak suka lihat latihan ini," kata Laras tiba-tiba. Suaranya datar. Tidak ada nada menasihati. Hanya pernyataan fakta.
Raka tetap diam.
"Kamu makin susah diajak ngomong," tambah Laras. Dia menatap profil Raka yang keras. "Dulu kamu selalu berdebat. Sekarang kamu cuma diam."
Raka akhirnya menoleh. Matanya lelah. Ada lingkaran hitam di bawahnya.
"Apa yang mau kau katakan, Laras?"
Laras menatapnya. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada kata-kata keluar. Dia ingin bilang berhenti. Dia ingin bilang ini gila. Tapi dia tahu itu tidak akan membantu.
Jadi dia hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa," katanya pelan. "Coba tarik napas lagi."
Raka menatapnya sebentar. Lalu kembali menatap jurang.
Dia menarik napas. Dalam-dalam. Udara dingin masuk ke paru-parunya, membakar dada.
Dia membuangnya perlahan.
Sekali lagi.
Dan sekali lagi.
Perlahan-lahan, gemetar di kakinya mulai reda. Detak jantungnya yang liar mulai menemukan ritme baru. Bukan ritme panik. Tapi ritme kewaspadaan.
Dia masih takut. Jurang itu masih menakutkan.
Tapi dia tidak lagi dikuasai olehnya.
[!] Deteksi detak jantung: Stabil.
[!] Status: Fokus.
Raka membuka mata. Dunia terlihat lebih jelas. Lebih tajam.
Si Tua muncul dari balik pepohonan. Dia tersenyum tipis. Senyum yang jarang terlihat.
"Cukup," katanya.
Raka mundur selangkah. Kakinya lemas, tapi dia tidak jatuh.
"Malam ini, istirahat," kata Si Tua. "Besok, kita mulai belajar cara jatuh tanpa mati."
Raka mengangguk. Dia berbalik, berjalan menjauhi tepi jurang. Tubuhnya ringan, meski pikirannya masih berat.
Laras menunggu di samping batu. Di tangannya, ada botol air kayu.
Saat Raka mendekat, Laras menyodorkan botol itu.
Raka mengambilnya. Tangannya masih sedikit gemetar. Botol terlepas dari genggamannya, jatuh ke tanah. Air tumpah sebagian.
Hening.
Laras melihat botol itu. Melihat air yang tumpah.
Dia tidak marah. Tidak mengeluh.
Dia hanya menghela napas. Pelan.
Lalu dia membungkuk, mengambil botol itu. Membuka tutupnya. Menyodorkannya lagi ke Raka.
"Minum," katanya.
Satu kata. Singkat. Padat.
Raka menatap Laras. Gadis itu tidak tersenyum. Wajahnya lelah. Tapi matanya tenang.
Raka menerima botol itu. Minum. Airnya dingin. Menyegarkan tenggorokannya yang kering.
Tidak ada kata-kata terima kasih. Tidak ada sentuhan bahu. Tidak ada sandaran kepala.
Hanya dua orang yang bertahan hidup, berbagi air di puncak gunung yang dingin.
Dan itu sudah cukup.
Raka menatap ke arah gubuk mereka di kejauhan. Asap tipis mengepul dari cerobongnya.
Dia masih takut. Masih ragu. Masih penuh luka.
Tapi untuk malam ini, dia bisa tidur.
Bersambung.