Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|09| Mahesa Hospital
-Penthouse Devara Mahesa, lantai 98. Skyline city.
Pagi hari, pukul 06.00. Bahkan mentari belum terbit dengan sempurna. Secercah cahaya masuk kedalam sela-sela tirai yang belum Aruna buka. Gadis itu sudah siap dengan pakaian santai, sehabis mandi, rutinitas yang jarang Aruna lakukan dipagi hari. Hal tersebut sengaja Ia lakukan untuk menutupi kesedihan kemarin. Namun saat Aruna melihat pantulan dirinya dicermin, mata Aruna kembali berkaca, bekas tangan Devara masih ada, Aruna menyentuhnya perlahan, dan masih terasa perih, sama seperti perasaannya saat ini.
Aruna keluar kamar menuju dapur, Meri sudah datang dan sedang menyiapkan sarapan. Aruna hanya duduk sambil memandangi Meri.
Telepon yang ada disaku Meri bergetar, Ia langsung mengangkatnya, raut wajahnya berubah seketika, lalu memandang Aruna yang sedang diam duduk di kursi.
"Bu, Pak Devara menelpon kalau Ibu disuruh siap-siap jam 7 berangkat, den Andre yang akan jemput" ujar Meri menyampaikan pesan Devara.
Aruna mengangguk malas, lalu pergi kedalam kamarnya. "Andre yang jemput..?, emang dia kemana..?. Pantesan sepi dari tadi malem, jangan-jangan dia nginep di rumah cewek itu" gumam Aruna.
Beberapa menit berlalu, Aruna sudah siap, Ia menuruni lift menuju lobby dan langsung bertemu dengan Andre. Aruna memasuki mobil dengan Andre disampingnya.
"Jangan tanya apapun ya Bu, ingat..." Mata Andre melirik ke arah cctv dashcam. Sebelum Aruna bertanya Andre sudah mengingatkan terlebih dahulu, hal tersebut membuat Aruna semakin kesal.
"Oiya, ini saya ada roti lebihan sarapan tadi. Ibu udah jarang banget sarapan, inget kesehatan lho bu" Ujar Andre sambil memberikan roti-nya kepada Aruna.
'Kenapa Andre bisa tau kalau aku jarang sarapan, apa dia segitunya peduli sama aku...?' -batin Aruna.
Aruna menerima roti dari Andre, tidak memakannya hanya ditaruh dipangkuannya saja, sampai tibalah mereka ditempat tujuan. Saat Aruna keluar dari mobil saat itulah Devara juga keluar dari mobil porsche miliknya.
'Mobil itukan...Elula?' -batin Aruna.
Devara melangkah dengan gagah, sambil menaikkan lengan kemeja-nya sampai batas siku. Penampilannya sangat rapi, namun saat berjalan didekat Aruna, ada aroma campuran parfum Devara dan parfum lain. Sudut bibir Aruna terangkat, tapi tidak sampai mata. Hanya sebuah seringai kecut yang menunjukkan betapa muaknya Aruna dengan situasi ini.
Langkah Aruna terhenti, matanya menatap tajam di sebuah bangunan yang ternyata adalah rumah sakit, 'Mahesa Hospital' . Menebak-nebak apa yang Devara lakukan di rumah sakit miliknya itu. Aruna masih belum tersadar satu hal, langkahnya kembali melambat saat tiba di ruangan yang dari luar terdengar suara 'beep' suara yang sama persis seperti alat yang dikenakan ayahnya.
Devara berhenti didepan salah satu ruangan, Ia membalikkan badan, tangannya sudah dimasukan kedalam saku celananya. Tatapannya mengarah kepada Andre. Andre mengangguk pelan. "Bu, didalam sana Tuan Wijaya sedang koma, setelah operasi seminggu yang lalu beliau belum sadar, biaya full sudah kita lunasi" Ujar Andre pelan, namun menusuk dada Aruna dengan keras. Ucapan itu meruntuhkan dinding pertahanan Aruna. Aruna segera membuka knock pintu ruangan Ayahnya itu. Namun segera dicegah oleh Andre.
"Maaf bu, sesuai kesepakatan, gak boleh masuk" Ujar Andre lirih, hati-hati, suaranya seperti takut menyakiti hati Aruna, tapi yang didengar Aruna malah sebuah kalimat yang ingin membunuhnya saat itu juga. 'kesepakatan' yang bahkan Aruna tidak tau sejak awal.
Aruna ingin berteriak saat itu juga saat melihat ayahnya yang terbaring diatas kasur itu, selang dan alat medis terpasang ditubuhnya yang mulai mengurus, Air mata Aruna mengalir deras. Jemarinya hanya bisa memegangi kaca diluar pintu, tak bisa menggenggam erat tangan sang Ayah di masa-masa sulit beliau.
Aruna memukuli kaca itu dengan tangannya yang gemetar. namun tenaganya nampak tak ada, sudah habis untuk melawan semua penderitaan yang terjadi dalam hidupnya sekarang. Isakan tangisan yang sudah tidak berarti lagi bagi mereka.
"Kesepakatan apa..?, bahkan aku gak tau" Bisik Aruna, suaranya nyaris hilang ditelan isak tangis.
Andre hanya menunduk, tidak berani menatap Aruna yang terlihat sangat hancur, Ia merasa seperti algojo yang sedang menahan tawanan. Sementara Devara yang berdiri diam beberapa langkah dibelakang mulai maju mendekat.
Aroma parfum asing makin tercium mencekik paru-paru Aruna bercampur aroma karbol rumah sakit. "Masuk kedalam ruangan itu tidak ada didalam kontrak Run" suara Devara rendah, datar tanpa empati.
Sudut bibir Aruna kembali terangkat miring, senyum penuh kejijik-an yang Ia lemparkan tepat didepan wajah pria itu. "Dia Ayahku, satu-satunya harta yang aku miliki!"
Devara diam sejenak, menatap arloji-nya sekilas. "Waktu habis, kembali ke mobil" Ujar Devara, berlalu meninggalkan Aruna.
Andre menyentuh bahu Aruna, namun segera Aruna tepis dengan kasar, Aruna kembali menempelkan tangannya dikaca, memberikan senyuman perpisahan. 'Pah, Doa'in Aruna ya biar bisa tetap hidup supaya bisa jenguk papah terus' -batin Aruna.
Aruna mengekor dengan langkah pelan, kakinya terasa lemas tak berdaya, Ia tersenyum getir saat teringat ucapan Devara kemarin sore "Simpan air matamu untuk besok Run" ternyata ini yang Devara maksut.
"Andre, mampir kantor dulu. Ada meeting dadakan" Ujar Devara, tak menengok sama sekali cuma mengucapkan perintah itu kepada Andre dan memasuki mobil porsche miliknya.
Andre dan Aruna menaiki mobil berbeda, Aruna mengerutkan alisnya. "Antar saya pulang dulu Ndre.." suruh Aruna.
"Maaf bu, client udah nungguin dari 10 menit yang lalu dan gak bisa ditunda. Ibu tunggu di lobby kantor gak lama kok, saya nanti keluar duluan setelah selesai" jelas Andre.
Sesampainya dikantor, sesuai perjanjian awal. Aruna menunggu di lobby kantor. Namun pandangannya kali ini ternodai dengan kedatangan seorang perempuan yang memanggil nama Devara dengan sangat lembut dan centil.
"Devara sayang" langkah Alana semakin cepat, mengejar Devara.
Devara menengok keasal suara, wajahnya tetap datar tanpa senyuman. Alana mencium pipinya persis seperti apa yang Aruna lihat di cctv dashcam waktu itu. Kali ini Aruna melihat dengan rasa jijik dan mual, tidak seperti kemarin.
"Jas kamu ketinggalan di apartemen" ujar Alana kemudian.
Devara mengambil jas itu, "Thanks Al" ucap Devara dan langsung berjalan cepat menuju lift.
"Bu, nanti 10 menit saya kembali kesini" Ujar Andre dari arah belakang setelah mengambil barang dari dalam mobil, Andre tidak sadar jika disana ada Alana yang sedang menatap dirinya saat sedang berbicara dengan Aruna.
Barang yang Andre bawa terjatuh tanpa sengaja karena tangannya gemetar, dua wanita yang ada didepannya menatap bingung. Alana berjalan mendekati Andre, matanya terus menatap tajam kearah Aruna.
"Ibu..?, siapa yang kamu panggil dengan sebutan ibu Ndre..?" Pertanyaan Alana membuat wajah Andre pucat.
Beberapa detik setelah itu tiba-tiba, suara derap langkah sepatu satpam mendekati mereka. "Maaf, jika tidak ada appointment mohon tunggu diluar"
Satpam menatap Aruna, bukan Alana, bukan Andre.
Karena dimata semua orang, cuma Aruna yang tidak punya nama digedung megah ini.