bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari Papa
Alessandra berjalan menyusuri koridor timur menuju taman belakang sekolah. Kakinya membawanya melewati gedung olahraga, melewati laboratorium biologi, hingga akhirnya tiba di sebuah bangku taman tersembunyi di balik rumpun bambu hias.
Tempat ini sepi. Hanya ada suara angin dan gemerisik daun.
Dia duduk. Menatap langit sore yang mulai jingga.
Lelah, pikirnya. Bukan lelah fisik tapi lelah mental. Lelah menghadapi kepura-puraan. Lelah menahan api di dadanya.
Jari kelingkingnya menyentuh cincin komunikasi. Permata kecil itu berdenyut hangat tanda masih terhubung dengan cincin Purnomo.
"Ale? Kamu kenapa?" Suara Purnomo terdengar jelas di kepalanya. "Saya merasakan getaran tidak biasa dari cincinmu. Ada masalah?"
Alessandra tidak menjawab langsung. Dia menatap daun bambu yang bergoyang tertiup angin, lalu menghela napas panjang.
"Papa..." suaranya pelan. Lembut. Tidak seperti saat di kelas tadi.
"Ale? Kamu nangis?"
"Tidak. Ale cuma... capek." Dia menggigit bibir bawahnya yeah kebiasaan kecil yang hanya dia tunjukkan saat bersama Purnomo. "Hari pertama Ale menyebalkan, Papa."
"sini cerita ke Papa."
Alessandra bersandar ke bangku. Matanya menatap langit.
"Keluarga Sunjaya menyebalkan. Papa tahu? Mereka punya anak angkat baru. Namanya Saskia. Dia pura-pura baik di depan orang, tapi Ale yakin dia ular berbisa."
"Bukti?"
"Ale lihat matanya. Ale sudah terlalu sering berhadapan dengan musuh untuk tidak mengenali tatapan manipulatif. Dan dia... dia pegang tangan Ale, Papa. Tanpa izin. Ale hampir membakarnya saat itu juga."
"Ale, sabar. Kamu sedang menyamar."
"Ale tahu, Papa. Tapi susah." Suaranya sedikit cemberut sebuah nada yang tidak pernah dia tunjukkan pada siapa pun kecuali Purnomo. "Apalagi si kembar. Raka dan Riko. Mereka berani gebrak meja Ale dan mau tampar Ale!"
"APA?!" Suara Purnomo meninggi, bahkan melalui cincin komunikasi pun terdengar gemanya. "Siapa yang berani? Papa suruh Kinan—"
"Sudah, Papa. Ale tampar balik duluan."
Hening sejenak.
"...Kamu tampar balik?"
"Iya. Lebih cepat dari tamparan dia. Papa tahu sendiri kan refleks Ale." Alessandra tersenyum kecil dengan bangga, meskipun hanya sebentar. "Tapi abis itu Ale jadi kesal. Mereka semua habis-habisan marahin Ale. Katanya Ale bikin Siska nangis, katanya Ale cari masalah, padahal Ale cuma duduk diam baca buku."
"Ale... apakah kamu perlu Papa datang ke sekolah?"
"Tidak. Ale bisa handle sendiri." Dia menggulung ujung roknya pelan, mainan jarinya sendiri dengan gestur manja yang kontras dengan penampilannya yang dingin. "Ale cuma ingin cerita. Papa kan selalu bilang, kalau Ale kesal, jangan dipendam."
"Iya, Papa selalu bilang begitu. Karena kalau dipendam, kamu bisa meledak dan membakar setengah kota."
"Papa lebay."
"Papa tidak lebay. Papa ingat saat kamu umur 15 dan marah sama rival bisnis Papa. Kamu bakar gudang penyimpanannya."
"Itu hanya gudang. Bukan setengah kota."
"Gudangnya seukuran stadion sepak bola, Ale."
Alessandra tertawa kecil. Tawa singkat, nyaris tidak terdengar. Tapi hangat.
"Papa..."
"Hm?"
"Terima kasih sudah mendengarkan."
"Ale, kamu tahu kan Papa selalu ada untukmu. Kapan pun. Di mana pun."
"Tahu." Dia menyentuh cincin di jarinya. "Ale sayang Papa."
"Papa juga sayang Ale. Sekarang, apakah kamu sudah makan siang?"
"Belum. Tadi ada gadis menyebalkan yang mengganggu waktu makan."
"Astaga, Ale. Kamu harus makan. Jangan biarkan orang lain mengganggu jadwal makammu."
"Iya, Papa. Nanti Ale beli."
"Janji?"
"Janji."
Mereka terdiam sejenak. Alessandra bisa mendengar suara Purnomo menarik napas dalam-dalam.
"Ale, satu pesan dari Papa."
"Iya?"
"Keluarga Sunjaya mungkin menyebalkan. Tapi ingat, kamu bukan Allegra asli. Kamu Alessandra. Kamu yang punya sepuluh bintang. Kamu yang memiliki kekuatan lebih dari siapa pun di Kaldora. Jadi jangan biarkan mereka merusak harimu."
"Iya, Papa."
"Bagus. Sekarang, Papa ada rapat dengan beberapa kepala perusahaan. Kalau ada apa-apa, hubungi Kinan atau langsung Papa."
"Baik, Papa. Hati-hati di jalan."
"Kamu juga. Pulang sekolah langsung dijemput Kinan, ya? Jangan jalan sendiri."
"Baik, Papa. Ale pamit."
"baik. Papa sayang kamu."
"Sayang Papa juga."
Hubungan terputus.
Alessandra menurunkan tangannya. Cincin di jari kelingking meredup, kembali menjadi perhiasan biasa.
Dia tersenyum kecil sebuah senyum tulus yang hanya muncul saat berbicara dengan Purnomo.
"Dasar Papa," gumamnya pelan. "Overprotektif."
Di balik rumpun bambu, sekitar 15 meter dari bangku Alessandra, sesosok bayangan berdiri membeku.
Pria muda itu bersembunyi di balik pohon rindang, punggung menempel di batang. Tangannya memegang buku catatan tapi matanya tidak membaca. Telinganya menangkap setiap kata yang diucapkan Alessandra beberapa saat lalu.
Dia tidak sengaja lewat. Dia memang mencari tempat sepi untuk membaca. Tapi begitu mendengar suara "Papa" yang lembut dan hangat sangat berbeda dengan suara dingin di kelas tadi—kakinya terpatri di tempat.
Itu suara yang sama, pikirnya. Tapi... lembut. Seperti orang yang berbeda.
Dia mengintip pelan dari balik pohon.
Alessandra sedang duduk di bangku, jari-jarinya bermain dengan ujung rok. Wajahnya yang tadi pagi dingin seperti patung kini terlihat lebih... manusia. Ada senyum tipis di sudut bibirnya. Ada kilatan hangat di mata coklat terangnya.
"Ale sayang Papa."
Dia mendengar itu. Jelas.
Ale. Bukan Vale. Bukan Al. Ale.
Siapa yang dia panggil? cermas pemuda itu. Bukannya keluarga Sunjaya tidak peduli padanya? Lalu siapa 'Papa' itu?
Dia ingin bertanya. Ingin mendekat.
Tapi saat dia melangkah satu kaki ke depan—
Alessandra berhenti tersenyum.
Wajahnya kembali datar dalam sekejap.
Matanya yang tadi hangat kini sedingin es, dan dengan gerakan yang tidak terburu-buru, dia menoleh tepat ke arah pohon tempat pemuda itu bersembunyi.
Bukan kebetulan.
Dia tahu.
Dari awal, dia sudah tahu ada yang mengintip.
Tapi... dia hanya merapikan kacamatanya. Jari telunjuk menyentuh ujung rimless glasses, mendorongnya sedikit ke atas. Lalu dia berdiri, mengambil bukunya, dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun.
Tidak menegur.
Tidak bertanya.
Tidak mengancam.
Seolah-olah dia tidak melihat siapa pun
Tapi itu pura-pura.
Pemuda itu tahu. Karena untuk sesaat, sebelum Alessandra berbalik, mata mereka bertemu. Dan di mata coklat terang itu, dia membaca satu pesan yang jelas:
"Aku tahu kau di sana. Aku memilih untuk tidak peduli hari ini. Tapi jangan coba-coba lagi."
Pemuda itu menghela napas, melepaskan napas yang sedari tadi dia tahan.
"Sial," bisiknya. "Dia mendengar semuanya."
Dia menatap kepergian Alessandra yang semakin menjauh. Seragam hitam-putih itu melangkah tegap, pita merah di rambutnya berkibar tipis ditiup angin.
Siapa sebenarnya Valeria Allegra?
Bukan sekadar gadis cupu yang dilupakan keluarganya.
Ada sesuatu yang jauh... lebih besar.
Dia membuka buku catatannya, dan mulai menulis.