Di mata dunia, pernikahan hanyalah sebuah formalitas saja.
Hingga suatu hari, seorang pria misterius yang selalu mengenakan topeng - yang dikenal sebagai asisten biasa - menikahi seorang wanita yang dijadikan alat penebus hutang.
Mereka tidak ada yang mencurigai apapun... hingga segalanya perlahan mulai berubah.
Ketika sang kakak menghilang secara tiba-tiba, sang adik perempuan dipaksa menggantikan posisinya sebagai istri.
Keputusan itu disetujui tanpa ragu oleh keluarga demi menebus hutang mereka.
Tidak ada seorangpun yang peduli dengan perasaannya... atau bahkan menanyakan keadannya.
Namun, mereka tidak pernah menyadari satu hal penting - adik perempuan mereka sebenarnya telah mati sejak berada di dalam gudang yang pengap karena dianggap telah mencoreng nama keluarga.
Kini, di dalam tubuh yang lemah dan penuh luka, telah tergantikan oleh jiwa lain.
Jika penasaran, ayo ikuti kisah mereka hingga akhir.
Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Tuk...
Tendangan di kursinya belumlah berhenti.
Satu kali.
Dua kali.
Hingga yang ketiga kalinya, kursi itu terus berderet dan ritmenya sengaja dibuat mengganggu.
Violet memejamkan matanya sejenak. Napasnya ditarik perlahan, lalu dihembuskan dengan tenang.
Ia membuka matanya perlahan, namun kali ini sorot matanya berubah - kali ini lebih dingin dan lebih tajam.
Kursi kembali di dorong. Hingga akhirnya, Violet berbicara dalam pikirannya.
"Aerin..."
"Iya, Vio?" jawab suara ceria Aerin seperti biasa.
"Kali ini... jangan berlebihan."
"Heh? Jadi gak boleh seru-seruan?" nada Aerin terdengar kecewa.
"Jangan menyakiti. Cukup... peringatkan."
"Hei" suara seorang laki-laki terdengar dibelakangnya ketika ia berbicara pada Aerin.
"Lo tuli apa atau pura-pura nggak denger?"
Violet mengabaikan itu dan tetap berbicara pada Aerin.
"Hmmm..." Aerin berpikir sejenak, lalu suaranya berubah nakal.
"Baiklah~ Aerin akn lakukan secara 'halus' kali ini."
Senyum tipis terukir di wajah Violet.
Gedebug!
Tendangan kali ini lebih keras.
Violet tetap diam.
Namun, semua siswa terkikik mendengar dan melihatnya.
Sedangkan kini, Aerin telah bersiap di sampingnya untuk membalas perbuatan siswa laki-laki itu.
" Kau berani mengganggu nonaku, maka kali ini, izinkan aku, Aerin, membalas perbuatanmu itu."
"Heh... jangan diem dong," ucap laki-laki yang bernama Revan itu sambil terus menendang-nendang kursi Violet.
Ketika hendak menendang lagi, kali ini, kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan.
Kakinya yang dipakai untuk menendang, langsung terasa kaku.
"Eh... apa ini?!" Revan sambil mencoba menggerakkan kakinya.
"Ishhh..." Kakinya terus ia gerakkan namun hasilnya tetap nihil.
Namun, pada saat percobaan terakhir, kakinya tiba-tiba tergerak dan -
BRUK!
Ia terjatuh dari kursi.
Semua siswa terkejut. Dan langsung menatap Revan.
Begitu juga dengan Guru Yan, yang langsung membalikkan badannya.
" Revan! Jika kau terus menjahili siswa baru, lebih baik kamu keluar dari kelas saya!" ucap tegas Guru Yan.
Revan pun langsung berdiri dan membenarkan posisi kursinya dengan wajah yang merah padam menahan rasa malu.
Sedangkan yang berbuat seperti itu, tengah terkikik geli ketika ia berhasil mempermalukan orang yang menggangu nona nya.
KRIIINGGG!
Bel istirahat berbunyi.
"Baiklah. Jangan lupa kerjaan tugas yang saya minta, minggu depan kumpulkan."
Setelah mengucapkan itu, Guru Yan pun membereskan bukunya dan berjalan keluar meninggalkan kelas.
Para siswa siswi pun semuanya bersiap untuk pergi ke kantin. Begitu juga dengan Violet.
Ketika hendak berdiri dari kursinya, tiba-tiba Revan sudah berdiri di sampingnya dan menahannya.
"Heh... gue bakal balas perbuatan lo, setelah lo mempermalukan gue di depan murid-murid kelas," ucap Revan sambil masih menahan kursi Violet dengan mencondongkan badannya.
Sedangkan Violet, ia melirik ke arah tangan Revan sebelum akhirnya, ia menatap tajam Revan.
" Sudah?" Violet pun perlahan berdiri dan menyingkirkan tangan Revan yang menahan kursinya.
"Seharusnya, lo sadar. Gue dari tadi duduk di depan lo. Bagaimana bisa gue buat lo terjatuh dari kursi?" ucap Violet sambil menatap tajam Revan.
Sedangkan yang ditatap, mulai merasa dingin. Namun, ia menghiraukan itu.
"P-pokoknya, semua itu salah lo. Dan gue bakal balas perbuatan lo. Ingat itu," jawab Revan sambil mendorong bahu Violet dan berjalan meninggalkan kelas.
Violet pun menghela napas panjang. "Baru hari pertama, udah gini aja. Gimana dengan hari yang lain." gumamnya.
Violet mengedikan bahunya, seolah mengabaikan itu semua. Akhirnya, ia pun berjalan menuju kantin.
Selama melewati lorong sekolah, banyak yang menatap sinis padanya. Namun, ia mengabaikan itu.
"Vio, aku gemas sekali pada mereka, rasanya ingin sekali mencolok mata mereka yang menatap sinis padamu," ucap Aerin dalam pikirannya.
"Sudahlah, hiraukan saja mereka, Aerin. Selama mereka tidak menggangguku, itu tidak menjadi masalah bagiku," jawab Violet.
"Kau selalu saja seperti itu," balas Aerin yang akhirnya terdiam.
Akhirnya, Violet pun sampai di kantin, berjalan menuju bar untuk memesan. Setelah selesai, ia pun mencari tempat yang kosong, dan gotcha, dipojok kanan ada meja kosong.
Violet pun berjalan ke arah sana, lalu menyimpan makanannya di atas meja.
Perlahan, ia memakan makanannya itu. Namun tak berselang lama dan tanpa ia sadari, dari arah belakang muncul teman kakaknya, mereka berdiri di belakang Violet dengan sebuah botol air. Dan
Byuurrr!
Violet yang sedang makan pun terkejut.
Air yang menetes dari rambutnya, perlahan jatuh ke meja.
Violet terdiam.
Sebelum akhirnya, ia membalikkan badannya dan melihat siapa pelakunya.
Seketika ingatan Violet asli langsung masuk ke dalam otaknya.
"Jadi, mereka yang selalu membully Violet asli?" gumam dalam hati.
Violet pun menatap tajam mereka.
"Wah wah wah, rupanya murid yang selalu mencari perhatian guru tengah marah nih," ejek Grace.
"Uuh... takutnya..." balas Riany.
"Hahaha... ayo... marahlah," ucap Frenda dengan bicara yang dilembut-lembutkan sambil mengusap pipi Violet.
Violet pun menutup matanya, menahan emosi.
"Sepertinya, dia gak berani melawan nih," ucap Frenda dengan senyum yang dibuat-buat.
Violet pun mendongakkan kepalanya, menatap Frenda, Riany dan Grace dengan tajam.
Mereka merasakan perasaan dingin, tetapi mereka hiraukan.
" Mau melawan, ayo, lawanlah, hahaha..." ucap Riany.
"Sepertinya dia cuma mau menakut-nakuti nih. Bagaimana jika aku mencoba untuk menamparnya? Apakah dia akan membalas, atau tidak?" ucap Grace dengan tangan yang mulai bergerak.
Belum sempat tangannya menyentuh pipinya yang hanya tinggal beberapa centi, tangannya langsung dipegang oleh Violet.
"Mau bermain tangan? Baik, kalau begitu, biar aku buktikan bagaimana bermain tangan yang benar," ucap Violet dengan senyum yang ditarik ke atas sedikit.
Tangan Grace ditarik ke depan, kemudian dalam satu gerakan cepat -
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi Grace hingga kepalanya menoleh ke samping.
Semua orang terkejut, karena selama ini, Violet hanya berani berdiam diri, tanpa berniat untuk melawan sama sekali.
" Kurang aja!" ucap Riany yang mencoba menjambak rambut Violet.
Belum sempat menyentuh rambutnya, tangannya langsung dipegang oleh Violet dan kemudian memutarkannya ke belakang.
"Ahhh!"
Violet langsung mendorong Riany ke arah meja.
Frenda yang melihat teman-temannya kesakitan, langsung berniat menghajarnya.
Belum sempat mendekat, kaki Violet telah lebih dulu menendang perut Frenda.
" Akhhh!"
Tubuh Frenda terdorong hingga meja terbalik.
Mereka semua yang di kantin menatap tak percaya dengan balasan Violet.
Violet mendekati Frenda, lalu ia meremas rambut Frenda hingga wajahnya langsung mendongak.
"Dengarkan baik-baik. Aku, bukanlah, Violet, yang dulu. Yang hanya diam ketika ditindas. Bilang pada Agnesia, aku akan membocorkan rahasia dia pada semua orang."
Setelah mengucapkan itu, Violet langsung menghempaskan rambut Frenda, dan berjalan menuju toilet.
"Gila... Apa dia Violet yang kita kenal?"
"Sejak kapan dia bisa bela diri?"
" Yang dulu selalu diam ketika dibully?"
Ucap mereka dengan berbisik, yang seolah masih tidak percaya pada apa yang baru saja mereka lihat.
Frenda, Grace dan Riany langsung pergi meninggalkan kantin. Mereka harus menahan rasa malu setelah kalah dari Violet.
Namun dalam hati mereka berbicara, "Awas saja kau, Violet. Berani-beraninya membuat kita malu. Tunggu saja, aku akan membuat kau hidup segan mati pun tak mau."
...... T****o Be Continued ......