Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 9
"Beneran kamu pindah kuliah disini lagi Cat?" tanya Syela senang.
Pagi ini Catherine membawa kabar gembira untuknya. Sepertinya sang sahabat akan kembali melanjutkan pendidikan diindonesia dengan alasan tak tega meninggalkan kakek dan neneknya yang sudah Sepuh. Dia ingin menjaga keduanya sekaligus menemani Syela agar tak merasa kesepian.
"Emang bisa, beasiswamu gimana?" tambah Syela bertanya serius.
"Aku udah urus masalah beasiswa disana, dan kurasa untuk biaya lanjut kuliah disini gajihku bekerja part time di Ausi cukup untuk sementara waktu, sampai aku menemukan pekerjaan disini" jawab Catherine menjelaskan.
Mata Syela berbinar mendengar ucapan sang sahabat akhirnya dia kembali punya teman bercerita, meluapkan isi hati dan jika dia sudah melahirkan nanti mereka akan kembali kuliah bersama.
"Yeayyyy, wah senangnya" teriak Syela girang membuat Catherine tersenyum senang.
"HPL nya udah dekat kan?" Catherine bertanya sembari mengelus perut Syela yang nampak besar sekali itu.
Syela menganggukkan kepala. "Emm, minggu minggu ini sih" jawabnya memastikan.
"Kamu beneran nggak berubah pikiran Sel, kamu nggak mau rawat dia aja?". Catherine sepertinya sedikit khawatir dengan nasib bayi sahabatnya itu.
Syela terdiam sejenak, sebenarnya dia ada rasa tak tega apalagi selama ini hanya bayi itu yang menguatkan dirinya untuk masih tetap hidup. Walaupun setelah lahir dia akan dibuang, tapi setidaknya hanya bayi itu yang selalu berasa disampingnya selama ini.
Tapi tidak, angan angannya kembali kemasa bahagia lebih besar dari pada kasih sayangnya pada bayi tanpa Ayah itu.
"Nggak Cet, aku serahin semua sama Papa nanti" jawabnya sedikit lemah tak yakin juga kedepannya akan seperti apa.
"Ya sudah lah terserah kamu" jawab Catherine menyerah membujuk sang sahabat.
****
"Emmm, huhhhh, huhhh" Syela merasakan sakit yang luar biasa dibagian perut bawah sampai belakang pinggangnya saat ini. Ngilu luar biasa dan mulai tanpa henti.
Sejak semalam memang Syela sudah merasakan sakitnya kontraksi tapi masih bisa ditahannya. Dan sepertinya sekarang dia benar benar akan segera melahirkan.
Tapi walaupun tau dia akan segera melahirkan kedua orang tuanya malah terlihat santai, tak ada kepanikan sama sekali.
"Ma, aku udah nggak tahan lagi......kayanya bayinya udah mau keluar...." teriak Syela dari atas kasurnya. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi ibu itu tengah berbaring disana sambil merasakan sakitnya kontraksi.
"To...., long bawa aku kerumah sakit Ma...." tambahnya memohon dengan suara meringis.
"Ngapain coba kerumah sakit segala, tunggu aja sebentar lagi Bidan datang, Papa udah panggil tadi" sang Papa yang menjawab dengan nada tak suka.
"Kerumah sakit biayanya mahal, aku tidak mau keluar uang banyak hanya untuk anak haram itu" tambahnya lagi kemudian berlalu dari kamar Syela.
Syela menangis bukan karena sakitnya kontraksi tapi ketidakpedulian sang Papa terhadapnya. Jika tidak suka dengan bayi yang dikandungnya, setidaknya Papanya bisa mengkhawatirkan keselamatannya kan. Walau bagaimanapun dia hanya seorang putri yang baru menginjak usia 20 tahun beberapa bulan lalu. Dia masih butuh dukungan juga perhatian dari keluarganya.
Syela terdiam mendapat sentuhan lembut dipipinya. Rupanya sang Mama menghapus air matanya, kemudian menggenggam tangannya. "Tahan sebentar lagi ya, Mama tau ini sakit tapi lebih baik melahirkan dirumah karena jika dirumah sakit banyak yang akan tau nanti, Papamu bisa malu" ujarnya yang tak membuat lega Syela sedikitpun.
Sedangkan Syela hanya bisa mengatur nafasnya, sebelah tangannya mencengkram kuat bantalnya. Dia tak bisa memikirkan perkataan apapun lagi, sungguh sakit ini menyiksanya.
"Ya Tuhan kenapa melahirkan sesakit ini" gumamnya dalam hati. Tubuhnya bagai tercabik, tulangnya bagai patah tak beraturan.
Hingga beberapa menit kemudian Bidan datang dengan dia Asistennya, membantu melakukan persalinan pada Syela. Tak perlu waktu lama dan kesusahan, karena memang Syela sudah pembukaan lengkap saat mereka datang. Sedangkan Mama Susi keluar tak berani melihat karena katanya takut darah.
Tiga kali mengejan saja bayi Syela akhirnya terlahir dengan selamat. Tangisannya menggema dikamar itu dengan alis yang sudah terlihat, hidung mancung, kulit merah dan pipi gembul itu membuatnya terlihat tampan walapun masih tertutupi bercak bercak darah.
"Selamat bayi anda Laki laki Nona" ujar sang Bidan menaruh bayi itu didada Syela yang sengaja dibuka.
Langkah skin to skin pada bayi oleh sang ibu menjadi kewajiban saat melahirkan. Dan saat itulah Syela yang masih mengatur napasnya melihat bayi mungilnya langsung.
Sang bayi terlihat menggerakkan pelan bibir imutnya, tangan kecilnya juga bergerak gerak lucu. Hanya bisa terbaring pasrah didadanya dengan gerakan gerakan kecil tak ayal membuat Syela tersenyum tipis amat tipis.
"Mahluk mungil ini bayiku?" tanyanya dalam hati.
Tak pernah dia bayangkan sebelumnya bisa memiliki bayi diusia semuda ini. Apalagi tanpa hadirnya sosok Ayah untuk bayi ini. Dan sekarang Bayi yang dulu hanya bergerak didalam perutnya sudah terpampang jelas dimatanya.
Tanpa sadar tangan Syela bergerak menyentuh pelan pipi sang Anak dengan jari telunjuknya. "Hey, bayi" ucapnya pelan.
"Bayinya saya bersihkan dulu ya Nona" sang Asisten Bidan mengambil Bayi Syela perlahan setelah meminta ijin yang dianggukinya. Sedangkan Bidan masih mengembalikan jalan lahir Syela seperti semula setelah mengeluarkan ari arinya.
Beberapa menit kemudian keduanya berganti tugas si Bidan memberikan suntikan juga beberapa tes pada Bayi. Syela dibantu Asisten Bidan untuk membersihkan diri juga memakai perlengkapan setelah melahirkan untuk ibu.
Dibantu untuk kembali berbaring dikasur yang sudah dibersihkan dari bekas persalinan Syela kembali dengan bantal tinggi sebagai penyangga agar bisa mengASIhi bayinya.
"Ibu silahkan coba di ASIhi bayinya yah" pintar Ibu Bidan memberikan bayi yang sudah di bedong itu pada Syela.
Gadis, ahhh bukan lagi tapi wanita karena setelah melahirkan dia dipaksa jadi dewasa. Wanita itu menerima Bayinya tapi malah diam saja mengernyit heran
Ibu Bidan pun tersenyum tipis, dia paham apa yang dipikirkan Syela. Wajar saja ibu muda ini memang terlalu muda menurutnya untuk bisa punya bayi. Ibu Bidan pun mengajarkan caranya yang benar mengASIhi bayi Syela dengan lemah lembut.
Karena untuk pertama kali memang Bayi harus merasakan ASI ibunya walau belum ada tanda tanda ASI akan keluar lancar. Tindakan itu bisa untuk jadi pemancing dan momen sakral Ibu dan Bayi.
Syela sedikit merasa aneh saat sebagian kecil dari tubuhnya menjadi sumber air kehidupan untuk seorang manusia. Ada rasa menggelitik juga sedikit sakit saat Bayinya mulai menyedot.
Saat itupun Syela memperhatikan wajah bayinya dengan seksama, hidung itu, mata itu, bibir mungil yang bergerak lucu, pipi yang merah merona. Kali ini lebih bersih dan jelas lagi.
Lama memperhatikan sampai ia lupa dengan rasa didadanya, Syela menyematkan satu kata dalam hatinya.
"Ganteng banget bayinya bu" ucap salah satu Asisten Bidan ikut memperhatikan bayi Syela yang setengah payah menyusu itu.
Syela beralih lalu tersenyum "iya" jawabnya memang itu yang dipikirkannya dari tadi.
"Kaya blasteran deh ya, biasanya bayi tulen indo nggak secakep ini" terang Asisten Bidan lagi.
"Hush, Dimana mana bayi itu cakep dan cantik, mau ortunya bule kek, indo kek, negara lain pun tetap sama, namanyanya juga bayi pasti lucu" rapat Ibu Bidan membuat sang Asisten nyengir kuda sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Oke semuanya sudah selesai ya Ibu, anaknya sudah saya Vaksin, disini juga sudah ada beberapa obat untuk Ibu dan pelancar ASI" jelas Ibu Bidan meletakkan beberapa obat diatas nakas.
"Usahakan anaknya meminum ASI dulu aja ya, walaupun kurang lancar ASInya, karena bayi masih belum merasa lapar saat baru dilahirkan begini, kalau lewat 24 jam Ibu merasa bayi sangat lapar dan ASI Ibu kurang sekali baru boleh dikasih sufor" tambahnya lagi.
Setelah memberi beberapa wejangan lagi Ibu Bidan beserta dua Asistennya pun keluar dari kamar Syela meninggalkan Ibu dan anak itu berdua saja.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya