Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Hati
Lia sudah berenang di kolam VVIP yang besar dan, tentu saja, sepi. Hanya ada beberapa gelintir orang yang terlihat berenang di kolam yang sama. Lia memutuskan duduk di tepi kolam untuk beristirahat sebentar. Dia baru ingat kalau semalam dia demam dan sepertinya demamnya cukup menguras energinya.
"Seharusnya aku habiskan saja semua tadi," gumam Lia sambil mengelus perutnya.
"Sepertinya Nona Muda Damaris kelaparan setelah berolahraga," sebuah suara mengejutkan Lia.
Seorang pria mengenakan celana renang ketat dan kemeja yang tak dikancingkan —yang sengaja memperlihatkan dada dan otot perutnya— berjalan menghampiri Lia yang duduk di tepi kolam. Lia mengenal wajah itu. Wajah dalam foto di atas meja kerja Ren waktu itu.
"Arka. Arka Barra Aditama," kata pria itu sambil berjongkok di samping Lia dan mengulurkan tangannya. Lia menatap uluran tangan pria itu, ragu-ragu bagaimana harus mengambil sikap.
"Sepertinya, saya tidak melihat Tuan Muda Damaris disini," kata pria itu sambil menurunkan uluran tangannya yang tak bersambut.
"Anda... teman suami saya?" tanya Lia, hati-hati, berusaha sekuat tenaga tidak memanggil Ren dengan sebutan "Tuan Muda" di depan orang lain. Arka tersenyum.
"Suami? Saya kira Tuan Muda tak akan menikah seumur hidupnya," kata Arka sambil duduk di samping Lia dan ikut mencelupkan kaki ke kolam.
"Atau... begitu yang pernah dia katakan pada saya," lanjut Arka dengan nada berbisik. Lia tersenyum.
"Terkadang... kita tak bisa menebak arah hati manusia," kata Lia. Arka tersenyum mendengarnya.
"Bisa saja kemarin dia bilang tidak akan menikah seumur hidup lalu sekarang dia menemukan belahan jiwanya dan semua berubah?" lanjut Lia.
"Atau... bisa saja... dia pernah begitu mencintai seseorang... lalu pada akhirnya... begitu membencinya," kata Arka sambil menatap kolam renang yang kini sepi. Lia terdiam, mencoba mencerna maksud kalimat Arka.
Sedetik kemudian Arka berdiri, melepas kemejanya dan melemparnya sembarangan ke kursi di belakangnya.
"Sayang sekali Tuan Muda tidak ikut serta," kata Arka sambil melakukan pemanasan.
"Dia suka sekali berenang," lanjutnya sebelum melompat ke kolam renang.
Lia menatap Arka yang berenang menjauhinya. Lia dapat menangkap kilatan aneh di mata Arka setiap kali dia membicarakan tentang Ren.
'Mungkinkah... apa yang selama ini aku pikirkan itu... benar?'
***
Ren berjalan mondar-mandir di kamar. Setelah mendapat ide untuk bertanya ke meja resepsionis, kini hati Ren merasa gelisah. Perkiraannya bahwa Arka menginap di hotel yang sama ternyata benar.
"Aku harus menemuinya dan menjelaskan semuanya," gumam Ren.
"Tapi bagaimana aku menghubunginya?" tanya Ren, panik sendiri.
"Mungkin aku bisa ke kamarnya? Tapi, bagaimana kalau orang-orang Ayah melihat ku?"
Ren menyerah dan duduk di sofa ruang tamu sambil mengacak rambutnya yang tadi sudah disisir rapi.
"Cekrek," pintu kamar dibuka. Lia sudah kembali dari berenang.
Rambutnya yang masih basah di biarkan terurai begitu saja, memberi kesan segar di wajahnya. Lia menatap Ren yang juga menatapnya. Lia dapat melihat Ren sedang kacau, terbukti dari penampilannya yang tak serapi saat Lia akan pergi ke kolam renang tadi. Lia penasaran. Tapi, Lia ingat poin kontrak mereka: tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Lia berjalan perlahan menuju bedroom sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Oh ya. Saya bertemu teman Tuan Muda tadi di kolam," kata Lia, berusaha terdengar natural.
"Teman?" tanya Ren dingin. Lia mengangguk sambil berjalan mendekati Ren.
"Kalo nggak salah... namanya... Arka. Ya. Arka Barra Aditama. Nama yang bagus dan mudah diingat," kata Lia. Mata Ren sedikit membulat. Lia dapat menangkap perubahan mimik Ren.
"Dia menanyakan Tuan Muda. Saya bilang Anda sedang beristirahat di kamar," lanjut Lia sambil berpura-pura sibuk mengeringkan rambutnya.
"Dia tidak mengatakan apapun?" tanya Ren, datar.
"Mmm... Tidak ada yang penting. Kami hanya mengobrol ringan sebelum akhirnya dia berenang dan saya kembali kesini," kata Lia, masih sambil sibuk dengan rambut basahnya.
Ren menatap pintu kamarnya seolah ingin segera berlari menuju kolam dan menemui Arka. Lia menatap Ren. Lia bahkan dapat merasakan keinginan Ren untuk keluar dari kamarnya dan menemui Arka.
"Eh? Sepertinya gelang saya tertinggal di kolam. Atau jatuh di sekitar sini?" kata Lia sambil tiba-tiba berlutut di depan sofa dan mengintip ke kolongnya, membuat Ren menoleh ke arahnya.
"Gelang?" tanya Ren.
"Yang saya pakai semalam. Tuan tidak melihatnya?" tanya Lia sambil menegakkan kembali badannya. Ren menggelengkan kepalanya, ragu-ragu apakah dia mengingat gelang yang dipakai Lia.
"Mungkin tertinggal di kolam. Room service belum lama pergi dan tidak menemukan apapun disini," kata Ren.
"Eh? Benarkah? Tuan mau menemani saya ke kolam? Akan lebih cepat mencarinya kalau kita berdua," kata Lia dengan wajah panik.
Ren mengerjapkan kedua matanya. Dia tidak menyangka kebetulan seperti ini benar-benar ada.
"Cepat, Tuan! Itu gelang dari Mama saya," kata Lia yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
Ren segera beranjak dari sofa dan menyusul Lia yang sudah setengah berlari menuju kolam. Lia tidak bisa menanyakan apa yang ingin dia tanyakan pada Ren. Itu jelas melanggar kontrak. Tapi, dengan mempertemukan Ren dan Arka, Lia akan mendapat jawaban dari semua pertanyaannya.
Kolam sudah sangat sepi. Tak ada satupun orang disana. Lia berpura-pura mencari gelangnya di tempat dia duduk bersama Arka tadi. Lia tak melihat siapapun, bahkan Arka. Lia mulai berpikir bahwa Arka sudah pergi ketika sebuah suara menengurnya.
"Melupakan sesuatu?" tanya Arka yang baru saja keluar dari ruang ganti. Lia tersenyum lalu berteriak.
"Tuan, saya akan mencari di ruang ganti!" kata Lia lalu berlalu menuju ruang ganti wanita.
Mata Arka membulat ketika melihat Ren berhenti berlari di belakang Lia. Ren terpaku. Waktu terasa berhenti di kolam VVIP. Arka dan Ren saling tatap untuk waktu yang terasa begitu lama. Lia bersembunyi di balik dinding ruang ganti wanita, tak jauh dari tempat Arka berdiri.
"Kamu... kemana saja selama ini?" tanya Ren setelah diam yang cukup lama. Suaranya sedikit bergetar.
"Mengembara," jawab Arka singkat. Ren berjalan mendekat ke arah Arka.
"Kamu tau selama ini aku mencarimu, kan?" tanya Ren masih sambil berjalan ke arah Arka.
"Untuk apa?"
"Aku nggak bisa tanpa kamu,"
"Tapi kamu akhirnya menikah!"
"Aku tak punya pilihan,"
"Kamu punya. Kamu cuma nggak berani memilihnya, Ren,"
"Tapi... jika aku memilihnya, aku mungkin juga akan kehilangan kamu," kata Ren.
Suaranya bergetar, begitu rapuh. Jauh dari kesan dingin yang selama ini Lia dengar.
"Kalau akhirnya akan sama saja, bukankah akan lebih membahagiakan jika kamu bisa memilih pilihanmu sendiri?" tanya Arka membuat Ren terdiam.
"Aku hanya tak ingin menyakitimu," kata Ren akhirnya.
"Kamu hanya tak ingin menyakiti dirimu sendiri," kata Arka. Ren tertegun mendengar kata-kata Arka. Rasa perih seketika menghantam hatinya.
"Kamu hanya tak ingin terluka lagi seperti dua belas tahun yang lalu," lanjut Arka.
"Kamu bilang kamu hanya mempercayaiku tapi sebenarnya kamu tak mempercayai siapapun," tutup Arka.
Ren terdiam. Entah mengapa, kata-kata Arka terdengar seperti suatu fakta yang tak terbantahkan. Arka berjalan keluar dari kolam. Dia berhenti tepat di samping Ren.
"Dan selamat atas pernikahanmu dengan wanita PILIHANmu sendiri," kata Arka lalu melangkah pergi.
Ren mematung. Dirinya benar-benar tak bisa menjelaskan pilihannya. Padahal selama ini dia pikir, Arka lah yang paling memahami dirinya.
Lia masih berdiri di balik dinding ruang ganti wanita. Dia meraba dada sebelah kirinya. Jantungnya berpacu seiring semua pertanyaannya tentang Ren dan Arka terjawab.
'Serumit ini perkara hati Tuan Muda Damaris,'
***