seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kegagalan pertama
Ruangan Orion Hall mendadak dipenuhi suara bisikan.
Semua mata tertuju pada Alya yang masih berlutut di lantai setelah kapsul simulasinya mati secara tiba-tiba. Lampu biru di dalam tabung A-17 berkedip tidak stabil, sementara alarm kecil terus berbunyi pelan.
Profesor Elena segera memeriksa panel hologram di sisi kapsul.
“Matikan sistemnya,” katanya tegas.
Seorang staf buru-buru menjalankan perintah.
Beberapa detik kemudian alarm berhenti.
Namun suasana ruangan tetap tegang.
“Alya!” Hana berlutut di sampingnya. “Kamu tidak apa-apa?”
Alya memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
“Aku… aku tidak tahu…”
Napasnya belum stabil.
Yang terus terbayang di pikirannya hanyalah satu hal.
Wajah ayahnya.
Bagaimana mungkin sistem AI akademi menampilkan wajah ayahnya?
Padahal simulasi itu seharusnya hanya tes biasa.
“Apa dia pingsan?”
“Kenapa kapsulnya error?”
“Bukankah sistem Zenith tidak pernah rusak?”
Bisik-bisik siswa mulai terdengar di mana-mana.
Alya menunduk semakin gugup.
Ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.
Profesor Elena akhirnya menatap Alya langsung.
“Apa yang kamu lihat di dalam simulasi?”
Alya ragu sesaat.
“Simulasi kota… lalu tes pilihan…”
“Itu normal.”
“Tapi setelah itu sistem berubah.”
“Elaborasi.”
Alya menelan ludah.
“Aku melihat wajah ayahku.”
Beberapa staf saling berpandangan bingung.
Profesor Elena menyipitkan mata sedikit.
“Wajah ayahmu?”
Alya mengangguk pelan.
“Lalu sistem langsung error.”
Elena tampak berpikir serius.
Namun sebelum ia sempat berkata sesuatu, salah satu staf mendekat sambil membawa layar hologram kecil.
“Profesor… data subjek A-17 tidak bisa dibaca.”
“Apa maksudmu?”
“Sistem gagal menyelesaikan analisis neural.”
Ekspresi Elena berubah.
“Itu tidak mungkin.”
“Namun data ini…” staf itu terlihat gugup. “Sinkronisasinya kacau.”
Alya tidak mengerti pembicaraan mereka.
Namun jelas ada sesuatu yang salah.
Tiba-tiba suara AI utama terdengar di seluruh ruangan.
Penilaian subjek A-17 dinyatakan gagal.
Ruangan langsung sunyi.
Gagal.
Kata itu terasa seperti menghantam dada Alya.
Ia membeku.
“Gagal?” bisiknya pelan.
Beberapa siswa langsung mulai berbisik lagi.
“Serius?”
“Baru hari pertama sudah gagal.”
“Anak beasiswa ternyata tidak sehebat itu.”
Alya menunduk cepat.
Panas mulai terasa di matanya.
Ia tahu dirinya tidak sepintar siswa lain di sini.
Namun mendengar kata gagal di depan semua orang tetap terasa menyakitkan.
Hana langsung berdiri.
“Dia tidak gagal! Sistemnya yang error!”
Namun suara Hana tenggelam di antara bisikan siswa lain.
Profesor Elena mengangkat tangan meminta semua orang diam.
“Penilaian akan dilanjutkan tanpa subjek A-17.”
Nada suaranya datar dan formal.
“Subjek A-17 diwajibkan menjalani evaluasi ulang nanti malam.”
Alya menggenggam kedua tangannya erat.
Ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun kata-kata terasa tertahan di tenggorokan.
“Silakan kembali ke posisi masing-masing,” lanjut Elena.
Para siswa mulai kembali ke kapsul mereka.
Sementara Alya berdiri perlahan dengan perasaan kacau.
Saat itulah ia melihat Reno masih berdiri di ujung ruangan.
Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dari Alya.
Tidak seperti siswa lain, Reno tidak terlihat mengejek atau heran.
Ia justru tampak… khawatir.
Namun ketika Alya hendak mendekat, Reno langsung berbalik pergi keluar ruangan.
“Aneh…” gumam Alya.
“Ayo duduk dulu,” kata Hana pelan sambil menggandeng lengannya.
Mereka duduk di kursi belakang Orion Hall sementara tes siswa lain berlanjut.
Alya masih merasa pusing.
Suara-suara simulasi tadi seolah masih terngiang di kepalanya.
Dan wajah ayahnya terus muncul dalam pikirannya.
“Alya,” Hana memanggil pelan.
“Hm?”
“Kamu yakin itu benar-benar wajah ayahmu?”
Alya mengangguk perlahan.
“Aku tidak mungkin salah lihat.”
“Tapi kenapa bisa muncul?”
“Itu yang membuatku takut.”
Hana terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, gadis itu terlihat benar-benar serius.
“Mungkin sistem membaca memori bawah sadarmu,” katanya pelan.
“Bisa begitu?”
“Aku tidak tahu…”
Alya menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Rasa malu mulai menguasainya.
Hari pertama di Zenith.
Dan ia sudah gagal dalam tes pertama.
Bagaimana kalau pihak akademi berpikir ia tidak layak berada di sini?
Bagaimana kalau beasiswanya dicabut?
Pikiran itu membuat dadanya semakin sesak.
Tak lama kemudian simulasi akhirnya selesai.
Para siswa keluar dari kapsul sambil membicarakan hasil mereka masing-masing.
“Nilai logikaku tinggi.”
“Aku masuk kategori adaptasi elit!”
“Ranking sementaraku nomor tiga puluh.”
Alya semakin merasa kecil mendengar semuanya.
Ia diam-diam mencoba melihat datanya sendiri di gelang digital.
Namun hanya muncul tulisan:
DATA TIDAK TERSEDIA.
Alya menghela napas pelan.
“Kamu mau ke kantin?” tanya Hana hati-hati.
“Aku tidak lapar.”
“Kamu harus makan.”
“Aku cuma ingin sendiri sebentar.”
Hana tampak ragu.
Namun akhirnya ia mengangguk pelan.
“Kalau butuh apa-apa, hubungi aku.”
“Terima kasih.”
Setelah Hana pergi, Alya berjalan sendirian keluar dari Orion Hall.
Langit siang Zenith terlihat cerah.
Namun suasana hatinya terasa sangat berat.
Beberapa siswa yang lewat masih meliriknya sambil berbisik kecil.
“Dia yang gagal tadi.”
“Sistem AI sampai error gara-gara dia.”
“Memalukan…”
Alya mempercepat langkah.
Ia berusaha tidak peduli, tetapi setiap bisikan terasa menusuk.
Tanpa sadar, Alya berjalan terlalu jauh dari area utama akademi.
Keramaian mulai berkurang.
Gedung-gedung tinggi berganti lorong-lorong sepi dengan lampu putih redup.
Alya baru sadar ketika gelang digitalnya berbunyi.
Peringatan.
Anda mendekati area terbatas.
Alya berhenti.
Ia melihat papan kecil di dinding.
Lorong Barat.
Jantungnya langsung berdegup.
Lorong yang disebut dalam pesan misterius.
Tempat yang diperingatkan Reno.
Suasana di sana jauh lebih sunyi dibanding bagian akademi lain.
Lampu di langit-langit berkedip pelan.
Tidak ada siswa lain.
Entah kenapa, Alya merasa tempat itu berbeda.
Dingin.
Sepi.
Dan menyeramkan.
Ia seharusnya pergi.
Namun rasa penasaran mulai muncul.
“Kenapa area ini dibatasi…?”
Alya melangkah sedikit lebih jauh.
Tiba-tiba—
“Aku bilang jangan sendirian.”
Suara dingin itu membuat Alya tersentak.
Ia cepat menoleh.
Reno berdiri di belakangnya.
Seragam hitamnya bergerak pelan tertiup angin dari ventilasi lorong.
Tatapannya tajam seperti biasa.
“Kamu mengikutiku?” tanya Alya spontan.
“Tidak.”
“Lalu kenapa selalu muncul tiba-tiba?”
Reno tidak langsung menjawab.
Ia malah melihat ke arah Lorong Barat beberapa detik sebelum kembali menatap Alya.
“Kamu tidak seharusnya berada di sini.”
“Aku cuma lewat.”
“Lorong ini bukan tempat untuk siswa baru.”
Nada suaranya tenang, tetapi serius.
Alya menggigit bibir.
“Kamu tahu sesuatu, kan?”
Reno diam.
“Kamu tahu kenapa sistem AI error waktu tes.”
Tetap diam.
“Kamu juga tahu kenapa wajah ayahku muncul.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Reno berubah sedikit.
Tatapannya menjadi lebih gelap.
“Ayahmu siapa?” tanyanya pelan.
Alya mengernyit.
“Kamu tidak tahu?”
“Aku ingin mendengar langsung darimu.”
“Ayahku Arman Rahman.”
Mata Reno langsung membesar tipis.
Sangat tipis sampai hampir tidak terlihat.
Namun Alya menyadarinya.
“Kamu mengenalnya,” kata Alya cepat.
Reno memalingkan wajah sesaat.
“Itu nama yang seharusnya tidak disebut sembarangan di tempat ini.”
Ucapan itu membuat bulu kuduk Alya meremang.
“Apa maksudmu?”
Namun sebelum Reno menjawab, alarm gelang digital mereka tiba-tiba berbunyi bersamaan.
Peringatan keamanan.
Area Lorong Barat akan ditutup dalam 60 detik.
Reno langsung terlihat serius.
“Kita harus pergi.”
“Apa?”
“Sekarang.”
Sebelum Alya sempat bertanya lagi, lampu lorong mendadak berubah merah.
Dan dari kejauhan terdengar suara langkah mekanis mendekat.