NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Langit sore mulai berubah warna ketika Arsen berdiri di depan jendela ruang kerjanya.

Cahaya matahari yang hampir tenggelam memantul di kaca gedung-gedung tinggi, menciptakan kilau keemasan yang biasanya ia nikmati. Biasanya tapi, hari ini… tidak.

Pikirannya masih tertahan di satu hal yang sama.

Nama itu. “Nayra…” Ia menyebutnya pelan, seolah mencoba mengingat lebih banyak dari sekadar suara. Tapi tetap saja— Kosong.

Ketukan pintu terdengar.

Tok.

“Masuk.”

Raka masuk sambil membawa tablet di tangannya.

“Pak, saya sudah coba telusuri dari data hotel, CCTV, sampai daftar tamu tambahan,” jelasnya.

Arsen langsung menoleh. “Hasil?”

Raka menghela napas pendek. “Masih belum pasti.”

Arsen menyipitkan mata. “Belum pasti atau belum ketemu?”

“Belum bisa dipastikan,” jawab Raka hati-hati.

Arsen berjalan mendekat. “Jelaskan.”

Raka membuka data di tabletnya.

“Di malam itu ada beberapa wanita dengan nama Nayra. Tapi…” ia berhenti sebentar. “Sebagian besar datang dengan identitas tidak lengkap.”

Arsen mengernyit. “Maksudnya?”

“Beberapa pakai booking online tanpa detail lengkap. Ada juga yang datang sebagai tamu tambahan.”

Arsen menghela napas panjang. “Jadi?”

Raka menatapnya. “Kita punya beberapa kandidat… tapi tidak ada yang bisa dipastikan itu dia.”

Arsen terdiam.Tangannya mengepal pelan.

“CCTV?”

Raka menggeleng. “Sudut kamera di lantai itu tidak terlalu jelas. Dan wajahnya… tertutup sebagian.”

Arsen menutup mata sebentar.

Kesal.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa seperti kehilangan kendali.

“Pak…”

Arsen membuka mata.

“Kalau boleh jujur,” lanjut Raka, “ini seperti mencari satu orang di antara ratusan tanpa petunjuk jelas.”

Arsen menatapnya tajam. “Aku nggak butuh penjelasan.”

Raka mengangguk. “Baik.”

Hening beberapa detik.

“Teruskan,” ucap Arsen akhirnya.

Raka mengangguk lagi. “Siap.” Ia berbalik, tapi berhenti. “Pak… kalau boleh tanya?”

Arsen menatapnya. “Apa?”

“Kenapa sepenting ini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Arsen tidak langsung menjawab.

Ia sendiri… tidak punya jawaban yang benar-benar pasti.

Beberapa detik berlalu.

“Karena Aku mau,” ucapnya akhirnya singkat.

Raka tersenyum tipis. “Baik, Pak.”

🏡 Kos

Nayra duduk di depan meja belajar. Buku terbuka. Tapi lagi-lagi, tidak benar-benar dibaca. Tangannya memegang pulpen, tapi tidak bergerak.

“Na…” Suara Sinta dari belakang membuatnya menoleh.

“Iya?”

Sinta masuk sambil membawa dua gelas minuman. “Minum dulu,” katanya sambil menyerahkan satu gelas.

“Apaan?”

“Jus. Biar Kamu nggak lemes terus.”

Nayra menerimanya. “Makasih…” Ia meneguk sedikit.

Sinta duduk di sampingnya.

“Belajar?” tanyanya.

Nayra mengangguk pelan. “Harusnya.”

“Harusnya?”

“Aku nggak fokus…”

Sinta mengangguk mengerti. “Masih kepikiran?”

Nayra terdiam sebentar. Lalu mengangguk. “Iya…”

Sinta menatapnya.

“Yang mana? Kuliah atau…” ia melirik perut Nayra.

Nayra tersenyum tipis. “Dua-duanya.”

Sinta tertawa kecil. “Lengkap banget masalah lo.”

Nayra ikut tersenyum.Tapi hanya sebentar. “Sin…”

“Iya?”

“Menurut mu… aku egois nggak?”

Sinta langsung mengernyit. “Egois kenapa?”

“Karena aku mutusin buat… tetap mempertahankan ini.”

Sinta menatapnya serius. “Kenapa kamu mikir gitu?”

Nayra menunduk.

“Karena aku nggak mikirin orang lain. Keluarga… masa depan… semuanya.”

Sinta menghela napas. “Na,” ucapnya pelan. “Kamu mikirin semuanya. Justru terlalu banyak.”

Nayra menatapnya.

“Keputusan kamu itu berat. Dan itu bukan egois,” lanjut Sinta. “Itu tanggung jawab.”

Nayra terdiam.

“Kalau kamu milih jalan ini, ya kamu jalanin,” tambah Sinta.

Nayra menggenggam gelasnya. “Tapi aku takut gagal…”

Sinta langsung menjawab, “Semua orang juga takut gagal.”

“Aku sendirian, Sin.." Kalimat itu keluar begitu saja dan jujur.

Sinta langsung memegang tangannya. “kamu nggak sendirian.”

Nayra menatapnya.

Sinta tersenyum kecil. “Ada Aku.”

Nayra tersenyum. Lebih hangat.

Dan malam pun semakin larut. Lampu kamar sudah redup. Nayra berbaring di ranjang. Matanya menatap langit-langit. Pikirannya kembali berputar.

Ke masa depan.

Ke keluarga.

Ke… pria itu.

“Kenapa sih aku masih mikirin…” gumamnya pelan. Ia memejamkan mata. Wajah pria itu tidak jelas.Suaranya samar. Tapi keberadaannya… Nyata.

“Siapa kamu…” Ia berbisik. Dan seperti biasa—

Tidak ada jawaban.

🌆Di apartemen

Arsen duduk sendirian di ruangannya. Lampu hanya menyala sebagian. Di meja depannya, data masih terbuka. Nama-nama. Foto yang tidak jelas. Dan satu nama yang terus ia ulang.

“Nayra…”

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit-langit. “Kamu bikin repot…”

Tapi anehnya Arsen tidak berhenti mencarinya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Raka.

“Pak, ada satu petunjuk baru. Tapi belum pasti.”

Arsen langsung duduk tegak. Mengetik cepat.

“Kirim.”

Beberapa detik kemudian, file masuk.

Arsen membukanya. Sebuah data mahasiswa.

Nama: Nayra.

Kampus: Antakusuma

Arsen menyipitkan mata.

“Mahasiswi…” Ia bergumam pelan.

Raka menelepon.

Arsen langsung mengangkat.

“Pak, itu salah satu kemungkinan terkuat,” jelas Raka dari seberang.

“Kenapa?”

“Usia cocok. Lokasi juga tidak jauh dari hotel.”

Arsen terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Alamat?”

“Masih saya telusuri.”

Arsen menatap layar itu lama. Untuk pertama kalinya— Ada arah.

“Cepat,” ucapnya singkat.

“Siap, Pak.”

Telepon terputus.

Arsen masih menatap data itu.

“Nayra…”

Kali ini, bukan hanya nama. Tapi kemungkinan nyata. Dan tanpa ia sadari Jarak itu semakin pendek.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!