NovelToon NovelToon
Di Balik Tirai Luka

Di Balik Tirai Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: wyzy

Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6. Panggung Sandiwara

Matahari pagi menyapa dengan kejam, memaksa Alya untuk kembali menghadapi realita yang ingin ia hindari. Tubuhnya terasa sedikit lebih bertenaga setelah tidur di ranjang yang empuk dan menghabiskan bubur pemberian Arka semalam, namun kecemasan di dadanya justru kian berdenyut kencang. Hari ini adalah jamuan makan malam keluarga besar Dirgantara. Sebuah acara yang menurut Arka harus menjadi panggung sandiwara paling sempurna dalam hidup mereka.

Sejak pukul sepuluh pagi, Nyonya Ratna sudah mengirimkan dua orang penata rias dan seorang perancang busana ke kamar Alya. Mereka bekerja dalam diam, namun tatapan mereka penuh selidik, seolah sedang mendandani sebuah boneka pajangan yang tidak memiliki nyawa.

"Pastikan lehernya tertutup rapat. Aku tidak mau ada noda atau kesan tidak rapi di sana," suara Nyonya Ratna bergema dari arah pintu. Wanita itu masuk dengan gaun brokat ungu tua yang membuatnya tampak seperti ratu yang angkuh.

"Baik, Nyonya Besar," jawab sang perias patuh.

Alya hanya menatap pantulan dirinya di cermin. Ia dipakaikan gaun high-neck berbahan beludru biru dongker yang elegan namun terasa berat. Warna gelap itu membuat kulitnya yang pucat tampak semakin kontras. Rambutnya disanggul modern, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tirus.

"Ingat pesan Arka, Alya," Nyonya Ratna mendekat, berdiri di belakang Alya hingga bayangan mereka bertumpuk di cermin. "Di depan keluarga besar, kau adalah menantu kesayangan. Kau adalah putri dari rekan bisnis yang terhormat. Jangan tunjukkan wajah melankolismu itu. Jika kau melakukan kesalahan sedikit saja yang membuat nama baik keluarga Dirgantara tercoreng, kau tahu apa yang akan terjadi pada ibumu."

Alya menelan ludah. "Saya mengerti, Nyonya."

"Panggil aku Ibu jika di depan mereka," koreksi Ratna dengan senyum palsu yang mengerikan. "Latihlah kebohongan itu di kepalamu sekarang juga."

Pukul tujuh malam, mansion Dirgantara berubah menjadi lautan cahaya. Mobil-mobil mewah berderet di halaman depan. Orang-orang dengan pakaian bernilai ratusan juta rupiah berjalan masuk dengan senyum penuh basa-basi. Ini adalah kasta tertinggi masyarakat, tempat di mana reputasi lebih berharga daripada nyawa.

Arka muncul di kamar tepat sebelum mereka harus turun. Pria itu tampak sangat tampan, sekaligus sangat berbahaya. Ia mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam dengan dasi senada. Saat melihat Alya, langkahnya terhenti sejenak. Matanya menyusuri sosok Alya dari atas ke bawah.

"Kau tampak... pantas," ucap Arka dingin. Kalimat itu adalah pujian tertinggi yang mungkin keluar dari mulutnya, namun nadanya tetap penuh penghinaan.

Arka mengulurkan lengannya. "Ayo. Tunjukkan pada dunia betapa bahagianya kau menjadi Nyonya Dirgantara."

Alya menyambut lengan itu dengan tangan gemetar. Saat jari-jarinya menyentuh kain jas Arka, ia bisa merasakan otot lengan pria itu yang mengeras. Mereka berjalan menuruni tangga besar bersama-sama, seperti pasangan paling serasi yang pernah ada di sampul majalah lifestyle.

Di bawah, kerumunan orang mulai bertepuk tangan kecil dan memberikan pujian.

"Wah, Arka! Istrimu cantik sekali. Benar-benar pilihan yang tepat," ujar seorang pria paruh baya, paman Arka, yang merupakan salah satu pemegang saham di perusahaan.

"Terima kasih, Paman. Alya adalah permata yang baru saja kutemukan," jawab Arka dengan suara bariton yang hangat. Ia bahkan mengusap punggung tangan Alya dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang tampak sangat mesra namun bagi Alya terasa seperti ancaman yang dingin.

Alya dipaksa tersenyum. Bibirnya terasa kaku. "Selamat malam, Paman. Terima kasih atas kehadirannya."

Sepanjang malam, Alya merasa seperti berjalan di atas tali tipis. Ia harus menjawab pertanyaan tentang bagaimana mereka bertemu, rencana bulan madu mereka, hingga pertanyaan sensitif tentang momongan. Arka selalu menjawab dengan cerdas, terkadang menyisipkan candaan yang membuat orang tertawa, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat jatuh cinta.

Namun, di tengah kemeriahan itu, Sisil muncul.

Wanita itu tidak seharusnya ada di jamuan keluarga inti, namun kedekatannya dengan Nyonya Ratna membuatnya memiliki "tiket masuk". Sisil mengenakan gaun merah yang sangat mencolok, seolah ingin menyaingi sang tuan rumah.

"Selamat malam, Pengantin Baru," Sisil mendekat dengan gelas sampanye di tangannya. Matanya berkilat penuh rencana jahat.

Arka mengerutkan kening. "Sisil? Aku tidak tahu kau akan datang."

"Tentu saja aku datang, Sayang. Nyonya Ratna yang mengundangku," Sisil tersenyum manis pada Arka, lalu melirik Alya. "Oh, Alya. Kau tampak cantik dengan biru itu. Tapi, bukankah biru adalah warna kesedihan? Cocok sekali denganmu."

Beberapa anggota keluarga yang berdiri di dekat mereka mulai berbisik. Mereka tahu sejarah antara Arka dan Sisil.

"Sisil, jangan mulai," bisik Arka tajam.

"Aku tidak memulai apa-apa, Arka. Aku hanya ingin memberikan hadiah kecil untuk pernikahan kalian," Sisil mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil dari tasnya. "Aku menemukannya saat membereskan beberapa berkas lama di kantor ayahmu, Arka. Tentang transaksi terakhir yang dilakukan Tuan Prasetyo sebelum kebangkrutannya."

Wajah Alya memucat. Ia tahu apapun yang ada di dalam amplop itu pasti tidak baik.

"Bukan di sini, Sisil," Arka mencoba merebut amplop itu, namun Sisil menghindar dengan lincah.

"Kenapa? Semua orang di sini harus tahu betapa beruntungnya Arka memiliki istri yang ayahnya begitu... 'dermawan' pada dirinya sendiri menggunakan uang orang lain," suara Sisil cukup keras untuk menarik perhatian lebih banyak orang.

Nyonya Ratna mendekat, bukannya menghentikan, ia justru memprovokasi. "Apa itu, Sisil? Jika itu berkaitan dengan bisnis keluarga, sebaiknya kita buka saja. Kita semua keluarga di sini, tidak ada rahasia."

Alya merasa dunianya mulai bergoyang. Ia menatap Arka, memohon melalui matanya agar pria itu melakukan sesuatu. Namun Arka hanya diam, rahangnya mengeras. Amarah di matanya kembali tersulut saat melihat amplop itu.

Sisil membuka amplop tersebut dan mengeluarkan selembar dokumen. "Ini adalah bukti bahwa Tuan Prasetyo menggunakan dana darurat perusahaan Arka untuk membeli rumah mewah atas nama Alya, tepat satu bulan sebelum Arka mengambil alih perusahaan yang bangkrut itu. Jadi, Alya... kau tidak hanya menikmati uang curian itu, tapi kau tinggal di atas penderitaan keluarga Arka selama ini."

Suasana mendadak hening. Tatapan kagum dari para tamu berubah menjadi tatapan menghina dan jijik.

"Jadi dia benar-benar anak pencuri?" bisik seorang wanita di pojok ruangan.

"Pantas saja Arka selalu terlihat terpaksa," sahut yang lain.

Alya menggeleng kuat. "Itu tidak benar... aku tidak tahu apa-apa tentang rumah itu. Ayah bilang itu tabungannya..."

"Tabungan dari hasil merampok?" potong Sisil sinis.

Alya menatap Arka. "Arka, tolong... aku benar-benar tidak tahu."

Arka menatap dokumen itu, lalu menatap Alya. Kilatan kasihan yang sempat muncul semalam benar-benar mati. Yang ada hanyalah Arka yang dipenuhi dendam. Ia merasa dipermalukan di depan seluruh keluarganya. Ia merasa bahwa kelembutannya semalam adalah sebuah kesalahan fatal.

"Jadi, kau menikmatinya?" tanya Arka dengan suara yang sangat rendah namun terdengar seperti guntur di telinga Alya.

"Arka, aku bersumpah..."

"Cukup!" bentak Arka. Ia tidak peduli lagi pada sandiwara itu. Ia merenggut lengan Alya dengan kasar, membuat gelas yang dipegang Alya jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai—persis seperti hatinya.

"Minta maaf pada semua orang di sini karena kau telah mengotori nama keluarga Dirgantara!" perintah Arka.

"Tapi aku tidak salah, Arka!" Alya berteriak, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah.

"MINTA MAAF!"

Alya melihat sekeliling. Ratusan mata menatapnya dengan kebencian. Nyonya Ratna tersenyum kemenangan, dan Sisil tampak sangat puas. Tidak ada seorang pun yang membelanya. Tidak juga suaminya.

Alya berlutut di tengah pecahan kaca dan tatapan hina. Dengan suara yang tercekik isak tangis, ia berucap, "Maaf... maafkan saya."

Arka tidak membantunya berdiri. Ia justru berbalik dan berkata pada para tamu, "Maaf atas ketidaknyamanan ini. Istriku sedang tidak sehat. Acara makan malam tetap dilanjutkan tanpa kami."

Arka menyeret Alya naik ke lantai atas. Begitu pintu kamar tertutup, Arka menghempaskan Alya ke lantai.

"Kau membuatku tampak seperti orang bodoh, Alya! Kau dan ayahmu benar-benar iblis!" Arka menendang lampu hias di dekatnya hingga hancur.

Alya hanya bisa meringkuk, menangis sesenggukan. "Bunuh saja aku, Arka... Jika aku begitu menjijikkan bagimu, bunuh saja aku sekarang."

Arka mendekat, mencengkeram rahang Alya hingga gadis itu merintih. "Mati itu terlalu mudah. Kau akan tetap hidup, dan kau akan membayar setiap detik malu yang kurasakan malam ini. Mulai besok, jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini. Kau adalah tawanan, bukan istri."

Arka keluar dan mengunci pintu kamar dari luar. Alya bersimpuh di balik pintu, memukul-mukul kayu jati yang kokoh itu dengan tangan kosong hingga memar. Di luar, suara musik pesta kembali terdengar, kontras dengan jeritan pilu seorang wanita yang baru saja kehilangan sisa harga dirinya di bawah kaki pria yang ia harap bisa menjadi pelindungnya.

Malam itu, Alya menyadari satu hal: di rumah ini, kebenaran tidak pernah memiliki suara. Hanya benci yang berkuasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!