NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Suami Kontrakku Pria Desa Mempesona

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Pernikahan Kilat / Nikah Kontrak
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: Whidie Arista

Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.

Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?

Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!

“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Kedatangan Paman dan Bibi

Keesokan harinya, Asep tengah sibuk menyiapkan sarapan di dapur saat Ziya terbangun.

“Udah bangun Neng,” sapanya dengan wajah full senyum.

Hem, sahut Ziya hanya berupa gumaman sambil berjalan menuju pintu keluar.

“Neng mau saya anter lagi ke WC-nya?” canda Asep, sedang Ziya hanya mendelik sebagai tanggapan.

Asep tertawa sambil menggelengkan kepalanya, melihat reaksi Ziya. Taklama kemudian Ziya telah kembali.

“Gila Sep, airnya dingin banget kaya air Es,” keluh Ziya.

“Disini kalau pagi-pagi emang begitu Neng, yaudah atuh cuci muka dulu ajah mandinya nanti siang,” saran Asep.

“Tapi dari kemaren gue belum mandi Sep, badan gue bau asem,” keluh Ziya sambil mencium aroma tubuhnya sendiri.

“Emh kalau gitu biar saya panaskan air buat Neng mandi, sok atuh duduk dulu sambil nunggu airnya panas,” ucapnya sambil mengisi panci dengan air lalu memanaskannya di atas kompor.

“Oke, lu lagi masak apaan Sep?” tanya Ziya ingin tahu.

“Cuma bala-bala sama Nasi goreng, soalnya bahan masakan di rumah lagi pada abis, gak papa kan, Neng?”

“Ya gak papa, gue gak pilih-pilih makanan ko orangnya,” ucapan Ziya membuat senyuman terbit di wajah pria berusia 26 tahun tersebut.

“Sep sejak kapan lu tinggal sendirian di rumah ini?” tanya Ziya.

“Sejak Emak sama Abah meninggal atuh Neng, dulu sih ada Paman dan Bibi yang ikut tinggal disini tapi semenjak mereka punya rumah sendiri tinggal saya seorang disini. Pasti Neng sedikit-sedikit tahu tentang saya dari Abah kan.”

Ziya mengangguk pelan, Ya tentu saja dia tahu, Mang Wawan pernah cerita kalau Asep ditinggalkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil karena mereka bercerai, dan kini masing-masing dari mereka sudah berkeluarga.

“Banyak barang-barang antik ya disini,” komentar Ziya sambil memandang sekitar.

“Iya Neng, saya gak mau ganti perabotannya karena terlalu banyak kenangan tentang Abah dan Emak, biarin aja tetap seadanya begini,” ujar Asep dengan mata berbinar.

“Oh airnya udah panas tuh, sini biar gue bawa.”

“Jangan Neng panas, biar saya aja, Neng tunggu aja disana,” ujarnya.

“Ok kalau gitu,” Ziya menurut saja dengan perkataan Asep dan membiarkan Pria itu membawa air panasnya hingga ke kamar mandi.

Selepas mandi mereka pun sarapan bersama di meja makan kayu ala kadarnya yang ada di dapur.

“Sampurasun!” ucap seseorang dari luar rumah.

“Rampes!” jawab Asep.

“Apaan Sep?” tanya Ziya bingung.

“Sampurasun itu ucapan salam khas orang sunda atuh Neng, dan Rampes itu jawabannya,” jelas Asep, Ziya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanggapan.

“Sebentar saya lihat dulu ke depan,” Asep bangkit dan berjalan ke pintu depan untuk melihat siapa tamu yang datang berkunjung pagi-pagi begini.

“Aeh Mamang, Bibi, sugan teh saha, di lebet atuh Mang, Bi,” (Eh Mamang sama Bibi, kirain siapa masuk atuh Mang, Bi,) Asep mempersilahkan keduanya untuk masuk lantas duduk di ruang tengah.

“Kemana Istri kamu Sep?” Bibi bertanya.

“Ada Bi, sebentar saya panggilkan,” Asep kembali ke dapur untuk memanggil Ziya.

“Neng udah makannya, itu ada Bibi sama Mamang saya, mau ketemu Neng.”

“Udah ko, ayo.” Ziya pun masuk ke ruang tamu dan berkenalan dengan mereka berdua.

“Wah ini Istri kamu Sep, mani gelis pisan atuh,” puji Bi Isah.

Ziya tersenyum malu, kemudian menyalami keduanya.

“Saya gak nyangka lo tiba-tiba Asep telpon dan bilang mau nikah sama Neng,” ucap Si Bibi.

“Iya awalnya kita gak percaya kita kira bohong, taunya bener,” tambah Mang Rahmat.

“Dulu saya sering main ke rumah Pak Arman pas Neng masih kecil,” cerita Mang Rahmat antusias.

“Oh ya, tapi maaf Mang aku gak inget wajah Mamang,” tanggap Ziya.

“Ya jelas atuh Neng gak bakal inget, kayanya waktu itu Neng masih kecil banget, umur dua tahunan kayanya.”

Ziya hanya mengangguk sebagai tanggapan. Setelah cukup lama berbincang-bincang akhirnya Mang Rahmat dan Bi Isah pun berpamitan, mereka tidak tinggal di kampung ini karena Bi Isah orang kampung sebelah.

“Neng saya mau ke kebon dulu, Neng gak papa saya tinggal sendiri?”

“Ya gak papa lah, emang kenapa. Gue bukan anak kecil kali,” sahutnya.

“Oh ya udah, kebunnya gak jau dari sini ko, kalau ada apa-apa Neng panggil aja, jalan aja lurus kesanah nah saya kerja di ujung sana.”

“Iya berisik, sana pergi,” usir Ziya.

Selepas kepergian Asep, Ziya kembali ke kamarnya rebahan sambil membuka ponselnya. Deretan pesan WA dari teman dan juga pacarnya Regan masuk secara beruntun, pasalnya sejak kemarin malam Ziya mematikan daya ponselnya, karena dia tak sanggup bicara dengan mereka.

‘Sayang,’ pesan dari Regan yang pertama Ziya buka.

‘Ko kamu gak dateng kita nungguin kamu loh,' Pesan kedua yang masuk.

Sebenarnya waktu itu Ziya bukan ingin lari dari rumah, dia ingin pergi Camping dengan teman-teman dan pacarnya, namun orang tuanya tak mengijinkan alhasil dia pun pergi secara diam-diam.

Detik berikutnya Ponselnya pun berdering, tanda telpon masuk. Walau enggan Ziya terpaksa mengangkatnya.

“Ha-halo.” Tut...tut... Tiba-tiba koneksinya terputus.

“Lah ko malah mati?” Ziya melihat layar ponselnya, ternyata jaringannya cuma ada satu.

“Ck, sinyalnya cuma ada satu lagi,” keluh Ziya, tak lama kemudian suara Regan kembali terdengar

“Eh di angkat, di angkat,” Suara Regan dan yang lain terdengar ramai disana, membuat perasaan Ziya berubah tak karuan.

“Sayang, kamu kemana aja sih, dua hari loh kamu gak bisa di hubungin?”

“Maaf Re, tiba-tiba Papah ngirim aku keluar negeri,” dusta Ziya.

“Apa, keluar negri? Ko bisa?” teriaknya.

“Kamu tahu lah Re gimana kerasnya Papah aku, dia tahu kamu ngajak aku Camping dia gak izinin aku pergi dan aku malah dikirim keluar negeri.”

“Yah sayang,” terdengar helaan nafas kekecewaan dari Regan.

“Berapa lama kamu disana?”

“Tiga bulanan kayanya.”

“Hah, tiga bulan? Ko lama banget sih Yang?”

“Iya, soalnya aku sambil belajar bisnis dari sepupu aku Re, gak papa ya, untuk sementara kita LDR-an, setelah ini aku janji Papah gak akan nentang hubungan kita lagi,” ucap Ziya.

“Ya udah gak papa kalau gitu, aku kangen kamu Sayang.”

“Aku juga Re," Tut...tut...tut... Suara sambungan telpon terputus kembali terdengar.

“Yang halo, aku gak bisa denger suara kamu!” Suara Regan masih terdengar.

“Aku bisa denger suara kamu ko,” sahut Ziya.

“Halo Ziya halo!”

Tut. Sambunganan pun terputus.

“Cih, jaringannya jelek banget sih,” keluh Ziya, dia melempar ponselnya ke tempat tidur.

Dia berdecak pelan, entah bagaimana reaksi Regan jika tahu kalau sebenarnya Ziya berbohong soal pergi keluar Negeri, apa lagi jika dia tahu kalau ternyata Ziya sudah menikah dengan Pria Desa bernama Asep.

1
Hardware Solution
Wkwkwkk
Arin
Perempuan kan gitu..... Kalau yang di rayu gak mempan. Gantian dia yang marah🤣🤣🤣. Gantian yang laki kalang kabut😁😁😁😁
Arin: Tapi kalau aku gak mempan. Makin aku diam karena marah, suami juga diam cuek gak ada rayu-rayunya😁😁😁😁. Paling dia ajak keluar, jalan, makan atau belanja🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Susi Akbarini
lanjutttt..
❤❤😍💪💪
Susi Akbarini
Aa Asep..

jgn lama2 marahnyaa.

🤣🤣😄❤❤😍💪💪💪
Arin
Siap-siap dirumah buat rayu Asep Ziya..
Pasti taulah dirayu pakai apa biar Asep luluh🤭🤭🤭🤭
juwita
biar sarah sm si regan ngerasain dinginnya penjara Ziya. coba pikir klo seandainya Bpk km g bertindak udh pasti si regan nyelakain km bahkan bisa" km di perkosaan sm dia
Arin
Beneran Ziya maafin Regan dan Sarah? Kalau suatu saat mereka masih berulah lagi bagaimana?
sitanggang
jelek kali ceritanya kek gini🤣🤣🤣
Whidie Arista 🦋: Kamu yang gak ngerti perbedaan mengkritik dan menghujat. Keritik "Membangun" Menghujat "Merendahkan" paham? aku biasanya gak pernah ngerespon orang2 tukang hujat, hanya saja aku liat kamu banyak menghujat orang lain dan mereka mendiamkan kamu, aku mencoba untuk saling mengingatkan kak, bahwa cara kamu berkomentar di cerita orang itu salah. Aku bukan merasa cerita aku udah bagus enggak, aku sadar aku banyak ke kurangan hanya saja komentar yang kakak tulis itu jatohnya menghujat bukan mengkritik 🙏
total 5 replies
Susi Akbarini
kira2 siapa ya yg kasih tau ayah xiya kalo ziya diculik...

❤❤❤😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
penyesalanmu tiada berguna re...
mkanya jadi org jgn mokondo...
❤❤❤😍😍😍💪💪💪
Susi Akbarini
widiiihhh..
akhiranya Aseplah pangeran ber pick up itu yg menyelamatkan ziyaaa..

❤❤❤😍😍😍💪💪💪
juwita
ieu beda pangeran na. lain tina kuda putih tp. tina pickup putih🤣🤣🤣
Whidie Arista 🦋: 🤣🤣🤣✌️
total 1 replies
Arin
Semoga Ziya cepat bisa tertolong
juwita
asep tlpn Bpk Ziya biar si regan sm si sarah kena tangkap.
Susi Akbarini
mkasi ya thoooorrr ...
double up hari ini..


❤❤😍😍😍💪
Whidie Arista 🦋: masama Kak❤️
total 1 replies
Susi Akbarini
siapa ya yg akan nolongin ziyaaa

❤❤❤😍💪
Susi Akbarini
waduhhhh.

tegang bangett..
ini..
❤❤😍💪💪💪
Susi Akbarini: 🤣🤣😄😄😍😍
total 2 replies
sitanggang
goblok ziya ternyata, tinggal teriak🤦
Susi Akbarini
ayo sepppp..
buruan datangggggg..
❤❤❤😍😍😍💪💪1
Susi Akbarini
aduhhhh ziyaaaa..
mumpung diperhatikan banyak orang..
gigit tangan regan.

teriak penculik3..
biar regan digebukin orqng se SPBU ..
🤣😄😄😍😍❤💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!