NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Figuran

Transmigrasi Jadi Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Romantis / Harem / Tamat
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: anak rapuh

Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chp 5

Di sekolah

Silviana duduk di kantin dengan keempat teman nya. Siapa lagi kalau bukan Julian, Marco, Darian dan Darius.

"Jadi Arsen ke mana?" tanya Silviana. Sudah hampir bel berbunyi tapi lelaki itu tidak terlihat olehnya.

"Di suruh ke kantor sama bapaknya, nganterin berkas." Julian angkat bicara.

"Eh Sil, Ara umur berapa sih? Perasaan kecil banget." sambung Julian kepo.

Silviana diam. Dia tidak tahu tentang Ara dan tak ingin tahu. Karena rasa tak suka nya memang sudah muncul alami. sejak awal di tambah lagi tadi pagi-pagi sekali, sebelum berangkat sekolah ia mendapatkan ceramah panjang dari Pramudita. Mengatakan ini itu kepada nya. Dia harus menerima keberadaan Ara dan harus menjaga Ara.

"Ortu gue belum bilang, gue cuma tau namanya aja." jawab Silviana seadanya. Lagipula orang lemah seperti Ara tak akan masuk dalam list pertemanan nya. "Gue gak suka cewek lemah." lanjut nya.

"Dia adik lo Sil" ujar Darius. Silviana pun mengkerut tidak suka.

"Gue gak mau punya adik lemah kaya dia! Bisa nya cuma jadi beban!" decak Silviana.

"Sil bukan nya lo sendiri yang bilang kalo lo mau ngelindungin orang yang lemah di bawah lo? Tapi apa ini, kok Ara gak masuk dalam list perlindungan lo?" ucap Darian.

"Jangan-jangan lo udah lupain prinsip"ucap Darian

"Dia cuma orang asing tau gak! Masuk ke keluarga gue tiba-tiba padahal asal usul nya aja gak jelas!" Silviana memotong ucapan Darian.

"Lo kok jadi gini Sil?" tanya Darius. "Lagian apa salahnya Ara masuk ke keluarga lo?" sambung nya.

"Salah! Dari awal dia masuk aja udah salah! Papa sama mama gue lebih perhatian ke dia!" seru Silviana ingin menangis.

Marco menatap wajah Silviana. "Ngapain salahin Ara? Lo sendiri yang bilang kalau lo risih pas mama lo dandanin lo kaya cewek. Lo sendiri yang bilang kalau lo malu karena papa lo beliin boneka. Lo risih sama perhatian mereka, tapi pas mereka perhatian sama orang lain lo malah marah. Lo aneh Sil." Kalimat panjang lebar itu membuat Silviana sukses menangis. Beruntung meja mereka ada di pojok jadi tidak mencuri perhatian.

"Apa salahnya gue cemburu?!"ucap Silviana marah

"Gak ada salahnya lo cemburu Sil, itu normal. Tapi jangan salahkan Ara juga. Dia gak tau apa-apa di sini." ucap Arsen tiba tiba

"Ar-Arsen?!" kaget Silviana. la menghapus air matanya namun menatap Arsen dengan memelas berharap lelaki itu paham dengan isi hatinya.

"Yang Arsen bilang bener, lo boleh cemburu tapi jangan salahin Ara. Gue gak suka!" pungkas Darius

blak-blakkan.

Lelaki itu berdiri kemudian pergi meninggalkan teman-temannya. Silviana pun tergugu di tempat duduknya. Apa salahnya, kenapa tiba-tiba mereka berpusat kepada Ara? Apakah cewek lemah lebih menarik ketimbang cewek yang bisa beladiri?

"Masuk ke kelas Sul, udah mau bel." ajak Arsen menarik lengan Silviana.

Silviana menurut. Ia menatap tangannya yang di pegang oleh Arsen. Dia tersenyum, selama Arsen ada di sisinya Silviana tidak akan mempermasalahkan Ara. Ya, dia akan berusaha tidak mencari masalah dengan Ara.

Mansion Maheswari

Sudah lima bulan ini Ara homeschooling mengejar ketinggalan kelas nya. Para guru private yang Pramudita datangkan kerap memberikan pujian kepada Ara. Mereka selalu bilang, nona Ara sangat cepat tanggap dalam pelajaran, itu sangat menggemaskan!

Pujian-pujian itu membuat Pramudita dan Larasati merasa senang. Setelah ujian semester berakhir, Pramudita akan memasukkan Ara ke sekolah.

"Gimana suka?" tanya Larasati yang membongkar sebuah kotak berisi seragam bekas milik Silviana. Sebenarnya Ara ingin yang baru tapi demi menjaga kepolosan dirinya, ia menerima semua ini.

" Mama.." lirih Ara. Larasati mengangkat pandangan nya menatap sang putri. Sudut bibirnya berkedut melihat pemandangan di depannya. Seragam itu kebesaran di tubuh Ara, rok nya juga kebesaran kalo di pakai maka akan melorot.

"Nanti mama jahit ya," Larasati berhasil menahan tawanya. Dia ingin sekali sebenarnya tertawa tapi ia takut Ara akan menangis.

"Sini mama ukur pinggang kamu." Larasati mengambil alat ukur yang ada di lemari nya.

Ara membiarkan Larasati mengukur lingkar pinggang, bahu dan lebar punggung nya. "Mama bisa jahit?" tanya Ara.

Larasati mengangguk. "Tentu, mama kan seorang desainer sayang." Ia mencubit gemas hidung Ara. Larasati juga kembali memakaikan pakaian Ara. Gadis ini sangat kecil, tapi berkat perawatan nya selama 5 bulan ini tubuh Ara mulai menunjukkan perubahan yaitu menjadi lebih gembul. Tubuhnya tetap pendek, dokter mengatakan itu karena Ara sebelumnya mungkin makan tak secara terarah dan sehat membuat ia kekurangan gizi.

Hap!

"Papa! Ara kaget tau!"teriak Ara dengan melompat

Pramudita tertawa. "Sekarang Ara tambah berat ya," ucap nya sambil mencium kedua pipi Ara.

Ara tertawa riang. "Itu karena Ara rajin mamam!" Mendengar itu Pramudita semakin banyak menjatuhkan ciuman di wajah Ara. Larasati yang melihat hanya menggelengkan kepalanya.

"Mas udah dong, nanti bedak anak aku luntur!" tegur Larasati sambil berkacak pinggang memasang wajah galak.

"Lihat sayang ada monster ngamuk." tawa Pramudita. "Apa kamu bilang?!" ujar Larasati semakin galak

"Lari papa! Monster nya mau makan kita..!"

Mendengar itu Pramudita berlari dan Larasati mengejar. Ara yang ada di gendongan Pramudita memeluk leher Pramudita erat, dia juga tertawa.

"Awas ya kalian berdua akan mama gigit!"

Silviana yang baru pulang sekolah terdiam melihat itu. Dia tidak pernah-lebih tepatnya ia menolak di perlakukan seperti itu.

Silviana yang duduk di kursi taman rumahnya berlari saat melihat datang dari luar kota. Pria itu membawa paper bag besar yang artinya itu adalah oleh-oleh.

Namun senyum Silviana luntur saat melihat isinya. Itu adalah boneka beruang berwarna putih. "Papa kok beliin aku ini sih?!" Silviana dengan tidak ada rasa salahnya melempar boneka itu. "Aku gak suka!"

"Papa bisa gak jangan cium-cium Silviana!"

"Mama aku udah bilang, jangan beliin Silviana jepit rambut kekanakan gini!"

"Pa berapa kali aku bilang, berhenti cium Silviana!"

Kilasan masalalu itu muncul begitu saja di kepala Silviana. Benar, ini bukan salah Ara tapi dirinya sendiri. Mungkin ini hukuman nya dari Tuhan karena mengabaikan perhatian kedua orangtuanya di masa lalu. Menatap sekali lagi ke arah orang tuanya yang sedang tertawa bersama itu, Silviana melengos ke kamarnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

bersambunggggggggggg

1
Murni Dewita
👣
Wahyuningsih
q mampir thor
Kaia.therae𖤐𓆰✧
lanjut aja
Rus Mia
ya thor kalau pindah kabarin ya,,
Rus Mia
lanjut thor cerita bagus,,
semangat buat auto ya 💪💪💪
Ayu Aulia
malas bangat depanya sja suda kaya gini
anakkasian: gausa dibaca ka hehe
total 1 replies
anakkasian
bingung buat lanjutin ini apa ngga
Septiani Nana: lanjt
total 4 replies
anakkasian
gaiss jujur ya aku kek masi bingung gitu, aku nulis di noveltoon apa tempat lain soalnya noveltoon ga kaya dulu😭🙏🏻
meiji: hi author... senyamannya author aja kabarin kalo pindah ya thor 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!