Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
"Apa maksudmu? Kau ingin memfitnahku lagi? Kau bisa mengatakan semuanya pada ibumu. Katakan padanya kalau aku penyusup yang datang ke rumahmu!"
Neysa meledak, suaranya penuh emosi. Hatinya mendidih, tapi ia tahu ia tak bisa menunjukkan kelemahannya pada lelaki itu.
Darren, bukannya menjawab, malah menyeringai lebar. Tawanya terdengar ringan, tapi sorot matanya tajam dan penuh teka-teki. Dengan langkah percaya diri, ia mendekat. Tanpa aba-aba, ia memegang kedua pipi Neysa, menahannya agar tidak bisa berpaling.
"Lepaskan!"
Neysa memprotes, matanya membara. Tapi bibirnya yang merah itu mengerucut—sesuatu yang selalu berhasil memancing godaan Darren.
Ia tak menjawab, hanya membiarkan jemarinya menelusuri kulit halus pipi Neysa sebelum tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan erat. Darren memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya pada pinggang Neysa dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan.
"Darren, kau gila! Lepaskan aku!" Neysa memberontak, tubuhnya tegang.
"Dengar baik-baik, Neysa." Suaranya rendah, nyaris berbisik di telinganya. "Aku tidak peduli kenapa kau masuk ke keluarga Barnes. Selama kau tidak membahayakan kami, aku tidak akan mengusikmu. Tapi kalau kau macam-macam..." Ia menundukkan dagunya di bahu Neysa. "Aku sendiri yang akan menghabisimu."
Kata-kata itu seperti ancaman, tapi ada nada posesif yang sulit diabaikan.
Dan sebelum Neysa sempat bereaksi, Darren mengecup pipinya dengan cepat. Sekilas, tapi cukup untuk membuat Neysa menoleh dengan wajah merah padam.
"Kau!" Neysa mengangkat tangannya, hendak menampar lelaki itu, tapi Darren lebih sigap. Ia menangkap pergelangan tangan Neysa dengan mudah, cengkeramannya kokoh tapi tidak menyakitkan.
"Jangan gegabah, Sayang. Aku akan mengatur semuanya. Kita akan menikah," ujar Darren dengan nada tenang, seolah ia sepenuhnya mengendalikan situasi. Matanya turun ke perut Neysa. "Aku akan pastikan anakku ada di sana, di rahimmu."
"Kau gila! Jangan harap itu terjadi!" timpalnya, menepis tangan Darren dengan sekuat tenaga, menjauh beberapa langkah.
Darren hanya tertawa kecil, sorot matanya menyimpan banyak misteri. "Harapan apa yang tak bisa kucapai? Membuatmu di sini saja mudah bagiku. Apalagi... hanya sekadar membuat anak." Ucapannya terdengar santai, tapi setiap kata membawa beban yang menghantam Neysa.
"Aku bukan pelacur, Darren!"
Darren mendekat lagi, tapi kali ini tidak terlalu agresif. "Kalau aku menganggapmu pelacur, Neysa, sudah lama aku membawamu ke tempat tidur," katanya datar, namun ada ketulusan aneh yang tersirat.
Neysa membisu. Darren benar. Selama ini, meski sering mengancam dan memprovokasi, Darren tak pernah benar-benar memaksanya.
Sebelum Neysa bisa berpikir lebih jauh, Darren sudah melangkah pergi, meninggalkan ruangan dengan aura mendominasi.
Neysa menatap pintu yang baru saja ditutup, perasaan campur aduk berputar di dadanya. Ia berbalik ke arah cermin, menatap bayangannya sendiri. Jemarinya perlahan menyentuh perutnya, lalu beralih ke pipinya—tempat di mana bibir Darren tadi menyentuhnya.
"Apa yang dia rencanakan sebenarnya?" gumamnya, sebelum menggeleng kuat, berusaha menepis pikiran aneh yang mulai menghantui.
****
Ruangan itu terperangkap dalam keheningan yang pekat. Hanya ada dua sosok di dalamnya: seorang wanita berpakaian pelayan yang tampak sempurna, dan seorang pria berbalut jas formal yang tak mampu melepaskan pandangannya dari wanita itu.
Pria itu, Darren, menatap dengan intens. Setiap kata yang keluar dari mulut pelayan itu mencoba ia cerna dalam-dalam, meskipun hatinya mulai merasakan kegelisahan.
Sejak pertama kali Neysa muncul, ada yang tidak beres. Sesuatu yang berbeda. Dia bukan seperti pelayan-pelayan lain yang biasa, yang tersembunyi di balik bayang-bayang keputusasaan. Neysa tampak lebih... terawat. Seperti sebuah misteri yang belum terpecahkan.
"Apa kamu sudah memastikannya? Bagaimana dia bisa lolos?" tanya Darren, suaranya tegas, namun ada ketegangan yang tak bisa disembunyikan.
Kepala pelayan itu hanya bisa menunduk, tampak takut. "Saat itu, saya belum menjabat sebagai kepala pelayan, Tuan. Nyonya Gie yang memegang kendali, dan saya tidak banyak tahu alasan kenapa tiba-tiba Nyonya Neysa dimasukkan ke dalam daftar."
Darren mengangguk pelan, ekspresi wajahnya datar, tapi pikirannya terus berputar. Ia tak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa ini adalah keberuntungan untuk Neysa. Dengan perginya Nyonya Gie, posisi Neysa di rumah Barnes seharusnya lebih aman. Tapi... ada sesuatu yang terasa janggal.
“Kenapa dia harus menunggu sampai kontraknya habis?” gumam Darren, suaranya nyaris tak terdengar, seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
Ia mengusap dagunya, tatapan matanya mengarah ke langit-langit, mencoba merangkai kepingan-kepingan misteri yang berputar di benaknya. Ada sesuatu yang tidak beres, tapi apa?
“Arlo,” panggil Darren, nada suaranya tegas, penuh otoritas.
Lelaki muda yang dipanggil segera mengangkat kepala. “Saya di sini, Tuan!” jawabnya sigap.
“Kamu pernah bilang, putri keluarga Kenneth kabur dari rumah, kan? Sejak kapan itu terjadi?” Darren bertanya, pandangannya tajam. Ingatannya kembali pada ucapan ibunya, tentang keluarga Kenneth yang sedang berada di ujung kehancuran.
“Ya, benar, Tuan,” jawab Arlo cepat. “Putri mereka, yang perempuan itu. Dia terkenal manja, banyak gosip yang bilang dia sudah meninggal. Tapi sampai sekarang mayatnya belum ditemukan.”
Sebuah senyuman tipis, dingin, terukir di wajah Darren. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, seolah menyusun rencana besar dalam pikirannya. Jika benar Neysa adalah putri keluarga Kenneth, maka ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan. Keluarga itu hampir bangkrut. Jika ia memainkannya dengan cermat, Neysa bisa menjadi kartu as yang menyelamatkan segalanya.
***
Sementara itu, di kamar lain, Neysa duduk sendirian di atas ranjang, lututnya ditarik hingga menyentuh dadanya. Ia memandang jauh ke luar jendela, tempat di mana langit cerah bersatu dengan pepohonan hijau.
Indah, seharusnya menenangkan... tapi bagi Neysa, pemandangan itu justru terasa menakutkan, seolah dunia luar menyimpan ribuan ancaman yang siap menghancurkannya kapan saja.
Di tangannya, ia menggenggam sebuah kalung. Jemarinya yang halus mencengkeram liontin itu erat, seakan-akan benda kecil itu adalah satu-satunya tempat ia bisa mencurahkan semua perasaan. Pada liontin itu, terukir satu kata: LAWRENCE.
Neysa menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca. Nama itu adalah harapan terakhirnya, pengingat akan seseorang yang pernah berjanji untuk melindunginya. Tapi, di sudut hatinya, ia tahu... tidak ada jaminan bahwa janji itu masih berlaku.
"Ayah, apa kamu masih mecariku di luar sana?"
B e r s a m b u n g ....
Siapa Lawrence? Apa latar belakangnya. Tunggu episode berikutnya. Makasih (^^)