"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.
Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,
"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."
Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.
Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,
Namun siapa sangka? Di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga busuk
"Kakek," batinnya mendengar langkah dari belakang.
Menoleh sekilas pada pria tua yang tengah berjalan mendekat. Meski begitu, Elang tetap memasang raut datar seakan tak tau apapun,
Semuanya dilakukan demi melancarkan sandiwara.
Terlebih lagi pria tua itu datang mengajak paman serta sepupunya.
"Sepertinya kakek memaksa mereka," benak Elang berhasil menebak.
Mendapati raut malas yang tersemat di wajah mereka,
"Kenapa kamu sendirian di sini?" sapa Surya tersenyum penuh kehangatan, menyapa cucu sulungnya yang telah lama tak ditemui.
"Gapapa, aku cuma mau ngambil minum sambil menikmati pesta."
"Pft!" Rangga terkekeh, mendengar ucapan yang berhasil menggelitik perutnya.
Seperti lelucon dia tak henti tertawa sampai mengundang perhatian Surya.
"Untung saja dia ga nabrak tamu yang lain," ucap Rangga bergumam lirih disusul senyum tengil di wajah ayahnya.
"Rangga, sapa kakakmu." tegur Surya tanpa menoleh, merasa tak enak hati sebab tingkah cucunya.
"Cepat," bisik Lembang menyenggol siku putranya sebagai isyarat agar lekas mematuhi perintah.
"Hhh," Rangga mendengus kesal.
Dengan terpaksa melangkah maju sambil memasang senyum sepat. "Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu kak?"
"Padahal aku lebih tua darinya. Kenapa harus aku yang memanggil kakak? Cuma karena ayahnya anak pertama, bukan berarti aku yang harus di bawah." batin Rangga menatap geram,
Menatap remeh, telapak kanannya terulur ke depan, sedikit menjaga jarak ke arah lain, seakan sengaja mempermalukan Elang yang bernotaben buta.
"Rangga, apa yang kamu lakukan? Ga perlu bersalaman." Lembang membela, bersikap sok pahlawan.
"Kalian kan bukan orang asing, lagi pula Elang pasti kesulitan buat menjabat tanganmu."
"Oh iya, maaf---aku lupa." lugasnya menurunkan tangan dengan senyum tengil,
Semua mata yang tadinya sibuk kini kembali memandang ke satu arah. Mempertontonkan kekurangan Elang,
"Rangga," Surya memanggil lirih sebagai peringatan agar cucunya berhenti bersikap kekanak-kanakkan.
"..." sejenak Elang terdiam melihat raut puas di wajah mereka lalu mengamati reaksi orang di sekitar.
Tentu saja reaksi semacam ini sudah diperkirakan, terlebih lagi sikap paman dan sepupunya, sebab dari dulu tabiat mereka tak pernah berubah.
"Maaf ya, aku ga bisa salaman." celetuk Elang memasang raut polos,
Menunduk lirih seperti merasa bersalah. Jemarinya mengepal cepat guna menggosok telapak yang tak gatal,
"Sebenarnya kulitku jadi sering gatal dan terasa perih---"
"Mungkin karena lama tinggal di luar negeri, kulitku jadi sensitif terhadap benda kotor."
"Jadi aku ga bisa menjabat tanganmu, takutnya nanti malah memperparah alergiku."
DUK!
Kalimat itu berhasil memperkeruh keadaan, menusuk harga diri seseorang.
"Kamu---" Rangga terbata, giginya menggertak kuat dibuat kesal.
Lembang yang menyadari kemarahan putranya berusaha mengalihkan pembicaran, takut jika pria itu lepas kendali dan mengacaukan suasana pesta.
"Jadi begitu...semoga alergimu membaik." sanggahnya langsung menarik lengan Rangga ke belakang.
"Oh ya, kemana pria yang menuntunmu tadi? Kenapa tidak kelihatan."
"Mereka merasa tidak nyaman di keramaian, jadi aku menyuruhnya untuk menunggu di luar." ucap Elang menjelaskan dengan santai, berusaha mengikuti alur permainan.
Menahan suara tawa dalam hatinya, puas menikmati raut kesal di wajah Rangga. "Hh, Mudah sekali memprovokasinya."
"Apa mereka temanmu?"
"Mereka orang yang kusewa untuk menjemput Elang," lugas Surya menengahi,
Membuat Lembang terkejut sebab dipikir pria tua itu juga tidak tahu tentang kepulangan cucunya.
"Jadi ayah tahu?" tercengang,
"Tentu saja, aku yang memberitahu Elang soal pesta ini. Kamu pasti sibuk mengurusi persiapan pesta jadi biar aku saja yang mengundangnya."
"Hahaha...itu benar." tertawa canggung, merasa tertohok oleh ucapan tersebut.
Bukan lupa tapi memang sengaja, seakan telah mengasingkan ponakannya jauh di luar sana.
Sejenak dia berpikir tidak akan pernah bertemu lagi dengan Elang, namun menyadari kalau masih ada ayahnya yang tak bisa melupakan cucu kesayangannya.
Walau semua bisnis sudah diambil alih oleh Lembang, dia tak lebih dari kaki tangan. Sebab posisi Surya tetaplah sebagai pimpinan perusahaan yang sah secara hukum sampai dia memutuskan hak warisnya pada seseorang,
"Oh iya, ini istri Rangga." celetuk Lembang kembali mengalihkan perhatian, menghampiri menantunya yang berada cukup jauh dan menuntun ke tengah ruang.
Wanita yang sedang sibuk mengurus putri kecilnya sempat bingung karena diseret, meski begitu dia tetap tersenyum menuruti sembari menggandeng tangan mungil di sampingnya.
"Kenapa aku harus berurusan dengan pria buta ini?" ejek Dewi dalam hati merasa jijik.
"Adikmu sudah menikah dan punya seorang putri. Beri salam pada pamanmu," pinta Lembang merendahkan suara.
Anak kecil yang tak tahu apa-apa itu hanya mengangguk menuruti, dengan langkah kecil mendekat.
"Halo, paman." panggilnya menatap polos, tangan mungilnya maju bersiap menjabat.
"Hai, salam kenal." sahut Elang tersenyum ramah.
"Kenapa paman tidak menjabat tanganku?" bertanya dengan raut polos,
"Sayang, dengar ya. Lain kali ga usah berjabat tangan, karena pamanmu tidak bisa melihat." seru wanita yang menarik mundur pundak anaknya,
Meski terdengar halus, penjelasan itu memang sengaja menyinggung hati Elang. Sepertinya mereka mendapat menantu dengan tabiat serupa,
"Salam kenal kak. Aku Dewi istri Rangga," sapanya tersenyum palsu.
"Salam kenal," menyahuti singkat.
"Apa kakak datang sendiri? Atau datang dengan istri kakak?" Mengangkat kedua alis,
"Apa yang kamu tanyakan? Kakak 10 tahun menghabiskan waktu di luar negeri untuk ngobatin matanya, mana punya waktu buat nyari calon istri." cibir Rangga sok bertingkah sebagai pembela,
Istrinya pun menganga seolah menyesali pertanyaannya. "Maaf kak, aku baru tahu soal itu."
"Hhh!" Elang mendengus takjub, merasa terhibur dengan sandiwara yang sedang mereka lakukan.
Sepertinya memang tepat keputusannya datang dan menilai satu persatu wajah asli mereka.
"Siapa bilang aku datang sendiri?" seru Elang seraya melirik ke arah lain. Memastikan gadis yang masih berdiri di tempat tadi,
Di sana Nila juga mendengar semua perbincangan yang terjadi. Wajahnya tampak serius mengamati mereka dari samping,
Tapi tak pernah menyangka kalau nantinya akan terseret ke dalam drama keluarga kaya tersebut.
Perlahan Elang mengangkat tongkat panjangnya lalu melangkah, mendatangi seseorang yang tak jauh dari tempat mereka.
"Dia mau kemana?" pikir Nila mengernyit, menatap pria yang berjalan semakin mendekat.
Belum menyadari sesuatu, hingga pria itu berhenti tepat di depannya sambil tersenyum lebar. "Ini dia calon istriku."