Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 Misi Baru
Riani terus menunjuk menu, hingga total ada 11 menu makanan dan minuman yang ia pilih.
Alneo hanya bisa meneguk ludah diam-diam, menghitung kasar totalnya di dalam kepala.
Pelayan yang mencatat pesanan tersenyum profesional. "Baik, Nona. Pesanannya cukup banyak ya. Namun, sebelum saya proses ke dapur, saya ingin mengonfirmasi kembali. Di restoran kami, semua harga yang tertera di menu belum termasuk pajak restoran PB1 sebesar 10% dan service charge sebesar 5%. Jadi, total tagihan akan ditambah 15% dari harga subtotal. Apakah tidak apa-apa, Tuan?"
Mendengar kata pajak dan service charge, mata Riani langsung membulat.
Ia buru-buru menarik lengan baju Alneo. "Eh? Kak... ada pajaknya lagi? Ditambah 15%? Bukannya harga di menu tadi sudah mahal banget? Kak, kayaknya kita batalin sebagian deh, aku nggak tahu kalau makan di sini ada pajak tambahannya..." bisik Riani panik.
Alneo menepuk punggung tangan adiknya untuk menenangkan.
Ia menatap pelayan itu dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa, susun saja sesuai pesanan adik saya. Tolong diproses."
"Baik, terima kasih banyak atas pengertiannya, Tuan dan Nona. Harap menunggu ya," ucap pelayan itu membungkuk hormat lalu melangkah kembali ke arah dapur.
Begitu pelayan pergi, Riani langsung protes berbisik, "Kakak ih! Kok tetap dipesan semua? 15% dari total makanan kita itu bisa buat beli makan kita beberapa bulan tahu!"
"Sudahlah, sesekali kita menikmati makanan mahal, lagian ini impian kamu bukan? Datang ke tempat yang tidak pernyataan di kunjungi. Kamu tidak usah memikirkan masalah pajak restoran itu, biar Kakak yang..."
Trankkk!
Kalimat Alneo terputus seketika.
Ada Bunyi nampan aluminium yang dihantamkan keras-keras ke lantai. Seluruh ruangan mendadak hening.
"Heh! Dasar pelayan kurang ajar! Makanya kalau jalan pake mata! Kamu malah menabrak anak saya! Apa matamu buta, hah?!"
Suara teriakan dan amarah itu berasal dari kursi nomor 14, tak jauh dari tempat mereka duduk.
Seorang wanita paruh baya bermantel bulu berdiri dengan wajah merah padam, menunjuk-nunjuk seorang pelayan muda yang sudah gemetaran di lantai dengan tumpahan jus di seragamnya.
Di samping wanita itu, seorang anak remaja laki-laki sedang membersihkan noda kecil di bajunya dengan tisu sambil memasang wajah jijik.
"Maaf, Nyonya... saya benar-benar tidak sengaja, tadi..." pelayan itu terbata-bata, ketakutan.
"Halah, alasan! Sini biar kucongkel matamu sekalian, biar tahu rasanya jadi orang buta!" teriak wanita itu lagi tanpa peduli dengan tatapan dari pengunjung lain.
Riani refleks mencengkeram lengan Alneo. "Kak... itu kenapa? Kasihan pelayannya..." bisiknya ketakutan melihat keributan tersebut.
Alneo tidak menjawab, matanya menyipit tajam menatap ke arah meja nomor 14.
Alneo memperhatikan situasi di meja nomor 14 dengan saksama.
Ia melihat keangkuhan wanita bermantel bulu tersebut.
[Ting]
[Misi Baru]
[Menyelamatkan yang lemah]
[Status Misi Sedang berlangsung]
"Ah, kebetulan sekali ada misi," gumam Alnei dalam hati.
"Kak, kita diam saja? Pelayan itu sampai menangis," bisik Riani, matanya berkaca-kaca karena iba.
"Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana," kata Alneo pelan namun tegas. Ia melepaskan tangan Riani dari lengannya.
"Tapi Kak..."
Sebelum Riani menyelesaikan kalimatnya, Alneo sudah berdiri dan melangkah lebar menuju pusat keributan.
...⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️⛹️♂️...