NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Wajah Asli Pengkhianat

Serangan di Grand Aurora mengubah segalanya.

Tidak hanya bagi Valdarez.

Tidak hanya bagi Victor.

Tetapi bagi seluruh dunia bawah kota.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...

Perang besar kembali terjadi.

Dan semua orang mengetahuinya.

Koran-koran menulis tentang ledakan.

Media membicarakan kekerasan yang meningkat.

Polisi mulai bergerak lebih aktif.

Dan di balik semua itu...

Kelompok-kelompok kriminal mulai memilih pihak.

Sebagian tetap setia kepada Valdarez.

Sebagian mulai mendekati Victor.

Dan sebagian lagi memilih bersembunyi.

Menunggu siapa yang akan menang.

Namun bagi Kael...

Ada masalah yang jauh lebih penting.

Seseorang telah membocorkan informasi.

Karena hanya sedikit orang yang tahu jadwal keamanan Grand Aurora malam itu.

Terlalu sedikit.

Dan Victor berhasil menyerang dengan presisi yang hampir sempurna.

Artinya...

Ada pengkhianat.

Pagi setelah serangan.

Rumah persembunyian terasa lebih dingin dari biasanya.

Tidak ada tawa.

Tidak ada candaan Ravian.

Tidak ada percakapan santai.

Semua orang memahami situasi.

Dan semua orang mulai saling mencurigai.

Kael berdiri di ujung meja rapat.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Seseorang memberi informasi kepada Victor."

ucapnya.

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada yang bisa membantah.

"Dari sekarang."

lanjut Kael.

"Semua akses informasi dibatasi."

"Semua komunikasi diperiksa."

"Dan tidak ada seorang pun yang dikecualikan."

Kalimat terakhir itu membuat beberapa orang menegang.

Karena artinya jelas.

Bahkan orang-orang lama pun masuk dalam daftar pemeriksaan.

Termasuk Ravian.

Termasuk Darius.

Termasuk Elena.

Dan bahkan Arda sendiri.

Hari itu dipenuhi pemeriksaan.

Laporan-laporan lama dibuka kembali.

Riwayat komunikasi diperiksa.

Pertemuan-pertemuan sebelumnya dianalisis.

Dan semakin banyak yang mereka telusuri...

Semakin muncul pola aneh.

Seseorang selalu mengetahui rencana mereka.

Selalu selangkah lebih dulu.

Selalu berada di dekat sumber informasi.

Namun nama orang itu belum terlihat.

Belum.

Menjelang malam.

Arda berada di ruang arsip bersama Ravian.

Tumpukan dokumen memenuhi meja.

Keduanya sudah bekerja selama berjam-jam.

Namun belum menemukan apa pun.

"Kalau aku pengkhianat."

gumam Ravian.

"Aku pasti sudah kabur sekarang."

Arda memutar mata.

"Itu alasan yang buruk."

"Aku tahu."

Ravian menyandarkan tubuh ke kursi.

Kemudian menghela napas.

"Aku benci bagian ini."

"Bagian apa?"

"Mencurigai orang sendiri."

Arda terdiam.

Karena ia setuju.

Musuh di luar jauh lebih mudah dihadapi.

Setidaknya kau tahu siapa mereka.

Namun musuh di dalam...

Itu berbeda.

Mereka tersenyum bersamamu.

Mereka duduk bersamamu.

Mereka makan bersamamu.

Dan suatu hari...

Mereka menusukmu dari belakang.

Sementara itu.

Di ruang kerja Kael.

Darius baru saja menyerahkan hasil pemeriksaan terakhir.

Kael membaca dokumen tersebut.

Satu halaman.

Dua halaman.

Tiga halaman.

Kemudian ia berhenti.

Tatapannya membeku pada satu nama.

Nama yang sangat ia kenal.

Nama yang sudah bertahun-tahun berada di sisi mereka.

Kael perlahan menutup map itu.

Namun ekspresinya berubah.

Sangat berubah.

Karena untuk pertama kalinya...

Ia berharap hasil laporan itu salah.

Satu jam kemudian.

Semua anggota senior dipanggil ke ruang rapat.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alasan.

Hanya perintah untuk hadir.

Dan itu membuat suasana semakin tegang.

Arda masuk bersama Elena.

Ravian sudah lebih dulu berada di sana.

Darius berdiri di dekat jendela.

Dan Kael berada di ujung meja.

Wajahnya sangat dingin.

Terlalu dingin.

"Apakah ada kabar?"

tanya Ravian.

Kael mengangguk.

"Kami menemukan sesuatu."

Ruangan langsung hening.

Kemudian Kael melempar sebuah map ke tengah meja.

"Selama enam bulan terakhir."

ucapnya.

"Seseorang telah mengirim informasi keluar."

Tidak ada yang berbicara.

Karena semua sedang menunggu nama.

Nama itu.

Nama pengkhianat.

Kael membuka halaman terakhir.

Tatapannya perlahan beralih ke salah satu orang di ruangan.

Dan untuk sesaat...

Arda merasa jantungnya berhenti.

Karena ekspresi Kael bukan ekspresi marah.

Bukan juga ekspresi kecewa.

Melainkan ekspresi seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu.

"Sebenarnya aku berharap ini tidak benar."

ucap Kael pelan.

Keheningan menjadi semakin berat.

Kemudian ia menyebut nama itu.

"Marco."

Ruangan membeku.

Pria yang berdiri dekat pintu langsung menegang.

Marco.

Salah satu anggota senior Valdarez.

Sudah bekerja bersama mereka selama lebih dari sepuluh tahun.

Salah satu orang yang paling dipercaya.

"Bullshit."

ucap Marco.

Suaranya terdengar keras.

Terlalu keras.

"Itu tidak mungkin."

Kael tidak menjawab.

Hanya meletakkan beberapa lembar bukti di atas meja.

Transfer uang.

Pesan terenkripsi.

Lokasi pertemuan.

Dan rekaman komunikasi.

Satu bukti mungkin bisa dipalsukan.

Dua bukti mungkin kebetulan.

Namun semua ini...

Tidak bisa dijelaskan.

Marco memandang dokumen-dokumen itu.

Wajahnya berubah pucat.

Untuk pertama kalinya...

Tidak ada bantahan.

"Tolong jelaskan."

ucap Ravian pelan.

Karena bahkan sekarang...

Ia masih berharap ada penjelasan lain.

Marco tertawa.

Pelan.

Aneh.

Dan semakin lama semakin keras.

Sampai akhirnya ia berhenti.

Kemudian mengangkat kepala.

"Penjelasan?"

Senyum pahit muncul di wajahnya.

"Kalian benar-benar ingin tahu?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena semua sudah mengetahui jawabannya.

Namun tetap ingin mendengarnya.

"Aku lelah."ucap Marco.

"Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk keluarga ini."

"Sepuluh tahun."

"Aku kehilangan teman."

"Aku kehilangan keluarga."

"Aku kehilangan hidupku."

Tatapannya berubah.

Menjadi lebih gelap.

Lebih penuh amarah.

"Dan untuk apa?"

Tidak ada yang menjawab.

Karena pertanyaan itu tidak ditujukan kepada mereka.

Itu ditujukan kepada dunia.

Kepada takdir.

Kepada semua keputusan yang pernah ia buat.

"Victor memberiku pilihan."

lanjut Marco.

"Pilihan yang tidak pernah diberikan siapa pun."

Arda mengepalkan tangan.

"Jadi kau menjual kami."

Marco menatapnya.

Beberapa detik.

Kemudian tersenyum tipis.

"Tidak."

Senyum itu membuat suasana menjadi semakin dingin.

"Aku menjual masa depan kalian."

Kalimat itu menghantam ruangan seperti ledakan.

Namun sebelum siapa pun sempat bereaksi...

Lampu mendadak padam.

SELURUH RUANGAN GELAP.

Suara alarm langsung berbunyi.

BEEP!

BEEP!

BEEP!

Para penjaga berteriak dari luar.

Langkah kaki terdengar di koridor.

Dan tepat sebelum kegelapan menelan semuanya...

Sebuah suara menggema dari pengeras suara gedung.

Suara yang sudah dikenali semua orang.

Suara Victor.

"Permainan yang menarik."

Jantung Arda langsung berdetak keras.

Karena hanya ada satu alasan Victor melakukan ini.

Satu alasan.

Satu tujuan.

Ia sudah berada sangat dekat.

Lebih dekat daripada yang mereka kira.

Dan malam itu...

Perang memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!