Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAMPIR BABY BLUES
Urusan Lingga beres, entah siapa yang mengusir dia, setidaknya pagi ini Tania melihat ke arah pagar sudah tidak ada lelaki itu. Tak bisa membayangkan kalau dia masih berada di sini, Tania mungkin akan menyiramnya pakai air. Dirinya semalaman sudah begadang, karena si baby rewel, mungkin Kavya beradaptasi dengan minum ASI langsung, makanya rewel. Pelekatan belum sempurna tapi lapar, sungguh pengalaman pertama bagi Tania dan ini sangat berat. Bahkan ia menggendong sembari mencari tutorial menyusui di youtube. Pantas saja, sebagai new mom banyak yang mengalami baby blues, merawat bayi tak semudah yang dibayangkan. Apalagi seperti Tania yang hidup sendiri.
Kavya baru berhenti menangis saat Tania menghangatkan ASIP dan diberikan melalui pipet, setelah itu Kavya disendawakan dan langsung tidur pulas. Barulah Tania ikut tidur, bangun-bangun sudah jam 8 pagi, dan perut Tania lapar. Niatnya ingin masak, tapi saat dia bergerak, Kavya ikut bangun. Terpaksa, Tania order makanan, sekalian banyak juga.
Ia kemudian memandikan Kavya, badannya kecil dan dia sangat hati-hati, takut tercebur karena badan Kavya licin setelah dipakaikan sabun.
Urusan mandi yang menguras konsentrasi selesai, giliran memakaian baju, kembali ada drama karena tiba-tiba Kavya poop dan terkena handuk serta perlak. Tania langsung mewek, badannya luruh, terduduk ke lantai. Di tambah Kavya langsung menangis histeris, mungkin tak nyaman dengan badannya yang kotor.
"Siapa yang mau bantu aku," ucap Tania frustasi. Tania rasanya tidak sanggup harus memandikan lagi, ia hanya melihat saja Kavya menangis sampai wajah dan badannya memerah, melamun dalam beberapa waktu hingga ia tersadar dan langsung mengambil tisu basah, dibersihkan dulu, sambil menangis, baru ia membawa ke kamar mandi, terpaksa disiram pakai air dingin, meski pelan. Tania tak sanggup harus mendidihkan air lagi, butuh berapa aktivitas panjang, dan Kavya sudah terlanjur menangis.
"Maaf ya, Nak. Mama bodoh sekali," ucap Tania sembari mengusap badan kecil Tania dengan handuk baru, perlak kotor langsung ditarik dan diletakkan ke keranjang cucian khusus Kavya, buru-buru ia memasang diapers agar kalau poop lagi segera ditampung dalam diapers. Mungkin karena capek menangis, Kavya tidur, Tania tak segera memakaikan baju, ia ikut berbaring dan mengamati bayi itu. Air mata masih menetes di sudut matanya.
"Maaf, mama belum sepenuhnya siap atas kondisi ini. Sabar ya, kita belajar sama-sama, mama belajar via youtube, kamu belajar sama akan kelemotan mama kamu," setelah puas mengamati dan mengelus pipi Baby K, Tania segera memakaian skincare bayi dan baju. Tepat setelah itu, orderan datang. Ia langsung meletakkan Kavya di box, dan buru-buru mengambil orderan makanan. Jangan tanya penampilan Tania, rambut panjangnya hanya dijapit asal, kaosnya masih basah karena cipratan air usai memandikan Kavya, belum lagi wajah polos dan kusutnya akibat tidak tidur semalam. Mungkin orang yang melihat Tania sekarang mengira dia hanya orang gila tapi tak keliling kompleks saja.
Belum terdengar tangisan, Tania langsung membuka makanan, dan makan secara cepat dan lahap. Ia menyendokkan makan dengan menangis, rasanya ia tak bisa menikmati nikmatnya bubur ayam, dengan berbagai sate-satean, rasanya langsung menuju ke lambung, baru hari pertama secapek ini. Ia memotret wajahnya dengan penampilan awut-awutan dan menutup sebagian matanya. Mengunggah ke statusnya.
Yang pacaran please jaga batasan, yang rugi tuh perempuan. Fix no debat.
Status itu langsung dikomentari oleh Salman. Butuh bantuan?
Tania mengerutkan dahi, "Bantuan dalam hal apa ini?" gumamnya. Ia pun membalas pesan dokter itu.
Bantuan apa ya Pak Dokter, saya tidak mau merepotkan siapa pun. Jawab Tania tegas.
Di rumah sakit menawarkan bidan care home, membantu ibu newborn untuk beradaptasi dalam merawat bayi. Kelihatan kamu sudah stress begitu, tadi malam juga terdengar tangisan Baby K. Kalau mau nanti aku uruskan.
Tania langsung menangis, sungguh rezeki Baby Kavya datang cepat waktu, tangisannya mengantarkan ada bantuan, meski ia tahu pasti ada biaya yang harus dikeluarkan..Ah Tania tak masalah, daripada mentalnya hancur dan Baby K kenapa-kenapa.
Aku mau dokter. Aku mau.
Oke. Jawab Salman.
Tania langsung masuk ke kamarnya, melihat si baby yang sudah bergerak mulutnya, sebelum ia menangis, Tania mengambil dan mencari posisi nyaman agar bisa menyusui si Baby K. Benar saja, kalau ibunya tenang, pelekatan benar, Baby K pun menyusu dengan benar.
"Sabar ya, Dek. Menyusu yang banyak, nanti mama juga makan yang banyak," ujar Tania sembari mencium tangan Baby K.
Solusi dari Salman membuat Tania tenang, setidaknya ia ada yang bantu setelah ini. Dokter ganteng itu telah menawarkan yang tak perlu dipertimbangkan, dan percaya bahwa bidan yang akan dikirim pasti terlatih dan jujur. Tania juga memilih paket newborn hingga sore, sehingga dia bisa menyambi dengan jualannya.
Mulai besok, pukul 6 pagi, bidannya akan bertugas. Nanti beliau akan membawa aturan dari RS untuk bidan home care dan terkait pembayarannya. Semoga cocok ya, Tania. Begitu chat Salman saat Tania menggendong Baby K dengan makan siang.
Siap Pak Dokter, terimakasih.
Tania melihat sang putri, katanya kalau bayi perempuan minumnya tak seberapa, tapi Baby K begitu kuat menyusu, mulut Tania mengunyah, Baby K menyusu, mantab sekali.
Untuk hari ini, Tania tak cek dagangan sama sekali. Ia sudah setting toko onlinenya untuk estimasi pengiriman maksimal 3 hari. Dia tidak boleh egois, karena si bayi juga butuh perhatian lebih.
Tania sudah tidak sabar menyambut bidan home care, ada harapan dan doa agar dia cocok dengan bidan tersebut, terlebih bu bidannya tidak cerewet dan judes. Sampai malam, Baby K tak begitu rewel, mungkin karena perasaan Tania sedikit tenang, sehingga jam 8 malam, Baby K sudah pulas tidur. Tania baru bisa cek toko online sekaligus makan dengan tenang, ia hanya menyiapkan tak sampai packing orderan. Badannya pun sudah terasa lelah.
Setelah mencuci piring, dan gosok gigi tiba-tiba ada panggilan telepon. "Pak Yovi?" gumam Tania, ingin mengabaikan tapi takut ada yang penting, sampai menelepon juga.
"Iya, Pak!" Tania akhirnya menerima panggilan itu.
"Besok saya kirimkan ART buat bantu kamu, soal biaya gak usah dipikirkan, saya sudah diskusi dengan istri juga, karena saya yakin, bayi itu adalah darah daging Lingga, anggap saya ART ini sebagai tanggung jawab Lingga, tapi saya tidak bilang pada adik saya, karena kasusnya masih bergulir. Mohon diterima, karena saya bisa membayangkan kamu serepot apa, apalagi malam saat saya jemput Lingga, tangisan bayi kamu begitu intens. Hampir saja Lingga naik pagar untuk membantu kamu, detik itu juga saya sadar bahwa ikatan batin bayi kamu dan Lingga tertaut kuat."
"Bapak," Tania tak kuasa menahan tangis, ia tak tahu harus bilang, mau mengiyakan tapi nanti akan berbuntut panjang.
"Mohon diterima ya, gak usah dipikirkan gaji ART tersebut!" ujar Yovi sebelum mengakhiri panggilan. Tania langsung menatap sang putri.
"Mama memang salah, tapi kehadiranmu diiringi rezeki tak terduga, Nak!" ucapnya dengan mengusap air matanya.
buat calista jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan untuk merangkak pun ga bisa thor,,, buat pak dokter carikan jodoh yg lain yg lbh baik dri tania toh ibunya pak dokter jg udh menjauh dri tania kasian klo harus dipaksakan berjodoh dgn pak dokter... sekian terima gajih
GO go Tania semangat