Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dylan Mercer dan Laporan Per Jam
Minggu kedua kuliah.
Florence mulai menyesuaikan diri. Bangun pukul enam. Sarapan di ujung meja, Lucifer di ujung lainnya. Kopi hitam untuk Lucifer, roti dan susu untuk Florence. Tak ada obrolan panjang. Hanya “Jam delapan” dari Florence, dan anggukan singkat dari Lucifer.
Pukul 7.45, mobil hitam selalu berhenti di depan mansion. Tepat pukul delapan, Florence diantar ke gerbang Columbia. Pukul empat sore, Lucifer sudah berdiri di tempat yang sama. Selalu. Seperti jarum jam yang tak bisa berhenti. Padahal rapatnya dengan kartel, perang wilayah melawan keluarga Russo, pencucian uang di Cayman... semua ia serahkan pada Marco. Kecuali yang butuh pelatuk. Itu masih ia tarik sendiri.
Dunia Lucifer menyusut menjadi dua titik: mansion dan gerbang Columbia. Dan di antara keduanya, nama itu mulai muncul berulang di laporan Vulture.
Dylan Mercer.
Senin. Sebelum kelas dimulai, Dylan meletakkan cangkir di meja Florence. “Americano. Tanpa gula. Kayak kamu. Manisnya alami.” Gombal basi yang mengambang di udara, lalu menguap tanpa jawaban. Florence membiarkannya dingin. Ia menyesap kopi dari tumblernya sendiri—hadiah diam-diam dari mansion yang tak pernah ia bicarakan.
Selasa. Saat Florence beranjak ke toilet, Dylan menyelipkan selembar kertas di antara halaman Jane Eyre-nya. “Mau belajar bareng di perpustakaan? Aku jago Wuthering Heights.” Ia kembali, membaca satu baris, lalu meremas kertas itu pelan. Tanpa suara, ia merobeknya menjadi serpihan dan menjatuhkannya ke tempat sampah. Tak ada laporan pada Lucifer. Tak perlu.
Rabu. Dylan menunggunya di gerbang. “Aku bisa antar pulang. Rumahku arah Upper East Side juga.”
Florence berhenti. Menatap Dylan. Lalu melirik seberang jalan. Empat SUV hitam. Kaca gelap. Ia tahu Vulture bersembunyi di salah satunya. Tahu Lucifer mungkin... tidak, pasti sudah menerima laporan.
“Tidak perlu,” jawab Florence. Dingin. Lalu ia masuk ke mobil hitam yang pintunya sudah dibuka Marco. Meninggalkan Dylan dengan senyum yang membeku.
Di dalam mobil, Lucifer membisu. Ia hanya memperhatikan Florence duduk, memperhatikan jarak tiga meter yang membentang kaku di antara mereka. Sementara di genggamannya, ponsel bergetar tanpa henti. Setiap notifikasi dari Vulture masuk mengetuk layar seperti ketukan tak sabar di pintu kesabarannya.
09.00: Subjek didekati DM. Memberi kopi. Subjek menolak.
11.30: DM menyelipkan catatan. Subjek membuang. Isi: ajakan belajar.
16.02: DM menawarkan antar pulang. Subjek menolak. Masuk mobil Tim A.
Setiap pesan. Setiap jam. Setiap kali nama Dylan Mercer muncul, napas Lucifer tertahan di tenggorokan. Tangannya mengepal di atas paha, menahan amarahnya yang nyaris tumpah. Tapi ia tetap diam. Karena satu kesempatan itu. Karena bisik Florence yang masih menggema: “Jangan rusak lagi.”
Hingga Kamis.
Pukul 13.00, Florence duduk sendirian di perpustakaan. Atau ia kira begitu. Vulture duduk dua meja darinya, menyamar jadi mahasiswa botak berkacamata, berpura-pura membaca The Economist.
Dylan datang. Duduk di hadapannya tanpa permisi. Senyumnya pongah, terbiasa menang. Anak senator. Segala yang ia kehendaki selalu tunduk.
“Florence, kan? Nama yang cantik. Kayak pemiliknya.”
Florence tak mendongak. Ia biarkan mata itu tenggelam lagi pada Anna Karenina.
“Aku serius soal belajar bareng,” lanjutnya. Ia menggeser ponsel ke meja, layar menyala. “Ini nomorku. Kalau kamu butuh apa-apa. Catatan. Teman. Atau... teman kencan.”
Ucapan itu merambat ke telinga Vulture. Sedetik kemudian, merayap masuk ke ponsel Lucifer.
Saat itu Lucifer berada di gudang pelabuhan. Debat dengan Russo menggantung di udara. Di sudut ruangan, seorang pengkhianat berlutut, menanti kakinya dipatahkan. Tapi genggaman Lucifer terhenti. Ponselnya bergetar. Satu pesan dari Vulture menyambar kesadarannya, membekukan udara di sekitarnya.
DM ajak Subjek kencan. Subjek belum respon.
Waktu membeku. Suara di ruangan padam. Russo terdiam. Seluruh anak buah menahan napas.
Karena Lucifer Azrael, Raja Neraka, menghancurkan Ponsel di genggamannya. Kaca berderak, serpihan menusuk kulit. Darah merembes. Ia tak menghiraukannya.
Ia bangkit. “Bubarkan.”
“T-tapi Tuan, urusan pengiriman—”
“Seret pengkhianat itu ke basement. Remukkan kedua kakinya. Kirim rekaman itu pada ayahnya. Aku pergi.”
Ia melangkah keluar. Masuk kendaraan. “Columbia. Sekarang.”
Pukul 13.20. Perpustakaan Columbia.
Florence akhirnya mendongak. Kelopaknya berat, garis bawah matanya gelap oleh malam yang tak pernah benar-benar ia tidur. Pupilnya berhenti pada Dylan tanpa cahaya, tanpa emosi—seolah menatap debu di meja. Lelahnya bukan di wajah, tapi di cara ia bahkan malas mengusirnya.
“Aku tidak tertarik,” ujarnya. Pelan. Tegas. “Tolong pergi.”
Dylan tak mundur. “Ayolah. Satu kopi saja. Aku tidak menggigit. Kecuali kau minta.”
Ia tertawa ringan. Jemari itu merayap, nyaris menyentuh punggung tangan Florence yang terbaring pasrah di meja.
Tepat saat itu, pintu perpustakaan terbuka.
Tanpa suara keras. Tanpa bentakan. Hanya dorongan pelan yang membiarkan hawa dingin merayap masuk bersama sosok berkemeja hitam. Tak ada pengawal. Tak ada jas. Hanya dia. Dan sepasang mata biru es itu masuk terakhir, dinginnya menembus tulang, membuat napas di ruangan menggantung setengah jadi, membuat jari yang nyaris menyentuh Florence menggantung di udara tanpa berani jatuh.
Lucifer melangkah. Perlahan. Menyusuri celah rak buku. Sol kulitnya meredam di karpet, tak menimbulkan suara. Namun setiap mahasiswa yang dilewatinya menunduk sendiri. Naluri. Seperti rusa yang mencium bau serigala.
Florence melihatnya. Napasnya terhenti setengah jalan. Kenapa dia datang? Sekarang?
Dylan belum menyadari. Ia masih tersenyum puas. Ujung jarinya merayap mendekati punggung tangan Florence.
Satu jengkal lagi.
“Tangan.”
Suara itu jatuh rendah. Tak menggelegar. Namun seluruh ruangan mendadak bisu. Rak buku, meja, bahkan debu di udara seakan ikut membeku.
Dylan menoleh. “Maaf, bro, gue lagi ngobrol sama—”
Ia bertemu pandang. Kalimatnya patah di kerongkongan. Senyumnya runtuh. Karena yang menatapnya bukan manusia. Itu tatapan seseorang yang sudah menyiapkan liang lahatmu di kepalanya.
Lucifer tak menatap wajah Dylan. Pandangannya mengunci pada jari itu. Jari yang satu jengkal lagi dari Florence.
“Jika ujung itu menyentuh kulitnya,” gumamnya. Pelan. Hampir berbisik. Hanya Dylan dan Florence yang mendengar. “Aku penggal di tempat. Sekarang. Lalu aku paksa kau menelan potongannya sendiri sebelum darahmu habis di lantai ini.”
Semua orang di sana tahu siapa yang berdiri di hadapan mereka. Lucifer Azrael. Sosok mafia berdarah dingin yang namanya cukup disebut untuk membuat kota terdiam.
Sunyi. Total.
Dylan memucat. Ia menarik tangannya secepat kilat. Kursinya jatuh saat ia berdiri refleks. “O-okey, okey. Santai, bro. Aku cuma—”
“Keluar,” potong Lucifer. Masih pelan. Tapi perintah itu tak bisa dibantah. “Dan kalau kau menyebut namanya lagi, menatapnya lagi, memimpikannya lagi... aku cari ayahmu. Senator Mercer. Kita bicarakan bagaimana rasanya punya anak tanpa jari.”
Dylan lari. Hampir terjatuh. Meninggalkan ponselnya di meja. Tak kembali lagi.
Lucifer tak mengejar. Ia hanya terpaku di sana. Pandangannya mengunci pada Florence. Napasnya berat, tertahan seperti hendak pecah. Rahangnya menegang hingga uratnya menonjol. Ia merusak semuanya. Ia masuk, mengancam, mencoreng janji di depan Florence. Di tengah kampus.
Florence menatap balik. Tak ada gentar. Tak ada kelegaan. Hanya sorot yang menguliti. Ia membaca Lucifer seperti naskah usang yang halamannya terkoyak.
“Kau...” bisiknya. Suara itu pecah, getarannya bukan untuk Dylan. Untuk pria di hadapannya. “...kau berjanji.”
Satu kalimat. Tipis. Tapi menusuk lebih dalam dari logam panas.
Lucifer memejam. Sial. Ia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Jarak tiga meter yang tadi ia runtuhkan, ia bangun kembali dengan tangannya sendiri.
“Aku... antar kau pulang,” katanya. Suaranya habis. Kalah. “Sekarang. Kalau kau mau.”
Florence berdiri. Mengambil tasnya. Mengambil Anna Karenina. Ia berjalan melewati Lucifer. Tak bicara. Tak menatap. Tapi saat di pintu, ia berhenti.
Ia mengambil ponsel Dylan yang tertinggal di meja. Ia letakkan di hadapan Lucifer. Tak ke tangannya. Ke meja di sebelahnya.
“Jangan,” kata Florence. Pelan. “Kalau kau menyentuhnya... kesempatan ini hilang. Sungguh hilang.”
Lalu ia pergi. Keluar perpustakaan. Masuk mobil. Meninggalkan Lucifer sendirian di antara rak buku dan mahasiswa yang berpura-pura tak melihat.
Lucifer menatap ponsel Dylan. Lalu menatap telapaknya sendiri. Masih basah oleh darah dari ponsel yang ia hancurkan tadi. Darah yang hampir menenggelamkan segalanya.
Ia mengambil Ponsel itu. Tak diremukkan. Diselipkan ke dalam tas Florence, diam-diam nanti. Biar Florence yang mengembalikan. Bukan dia. Biar Florence yang memegang kendali.
Satu kesempatan itu retak hari ini. Belum hancur. Karena Florence memilih bersuara, bukan melarikan diri. Memilih satu kata “Jangan”, bukan kalimat “Aku benci kamu”.
Dan Lucifer belajar. Perlahan. Menjaga bukan berarti mengurung. Menyayangi bukan berarti memiliki. Cemburu bisa merobohkan apa yang ia bangun dengan darah dan waktu.
Ia keluar. Masuk kendaraan. Florence sudah duduk di dalam. Jarak tiga meter itu masih terentang. Tapi hari ini, jarak itu terasa jurang.
Dan dia yang harus merentangkan jembatan. Dari awal lagi.