Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
"Selamat datang, Nak Fahri."
"Siang, Pak Fahri."
"Hallo, Pak.
"Hai, Om Fahri datang..."
Beberapa orang berpakaian seragam rumah sakit berwarna biru muda menyapa Fahri yang baru saja tiba. Bella mengerutkan kening, di taman yang begitu luas itu nampak beberapa pasien yang menyibukkan diri dengan aktivitas masing-masing.
Ada ibu-ibu yang asik menyulam, ada gadis remaja yang fokus melukis, ada juga beberapa anak kecil yang bermain kegirangan.
"Om Fahri, tante cantik ini siapa?" tanya Fara, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan sebo rajut di kepala, menutupi rambutnya yang sudah tidak ada.
"Tanya sendiri coba!" jawab Fahri sambil berjongkok dan mengusap kepala Fara dengan sayang.
"Tante, tante siapanya Om Fahri?" tanya Fara dengan suaranya yang lembut, membuat hati Bella terenyuh.
Bella ikut berjongkok di sebelah Fahri dan meraih tangan mungil itu. "Coba tebak, kira-kira tante siapanya Om Fahri?" Bella balik bertanya dengan suara tak kalah lembut.
"Pacar...?" jawab Fara menerka-nerka dengan mata mengecil.
"Hehe... Salah," Bella tertawa karena jawaban Fara masih kurang tepat.
"Adik...?" terka Fara lagi dengan kening mengernyit.
"No no, masih salah." kata Bella dengan telunjuk bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Istri...?" Fara kembali menebak sambil menekan-nekan pelipis dahinya dengan telunjuk.
"Ya, kamu benar. Tante istrinya Om Fahri." angguk Bella mengiyakan.
Wajah lugu yang tadinya begitu polos, sekarang merajuk dengan pipi menggembung dan kedua tangan terlipat di dada. "Bohong," sanggahnya.
Melihat reaksi Fara, kening Bella mengernyit membentuk lapisan tipis, dia melirik ke arah Fahri sambil menggerakkan alisnya.
"Tante gak bohong, bohong itu dosa jadi tidak boleh." Bella kembali menatap Fara dan berusaha meyakinkannya.
"Tapi waktu itu Om Fahri bilang tidak mau menikah, kenapa hari ini punya istri?" Fara mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang menganggu di benaknya.
Tiga tahun lalu, Fahri memang pernah mengatakan kalau dia tidak mau menikah. Waktu itu Fara meminta Fahri menikahi ibunya, Fara ingin Fahri menjadi ayah sambungnya tapi Fahri menolak dengan halus.
Tidak disangka anak sekecil itu masih mengingat semua ucapannya, padahal waktu itu umurnya baru empat tahun.
"Sayang, ini yang namanya jodoh. Nanti kalau sudah besar, kamu akan mengerti." timpal Fahri mencoba memberi penjelasan.
Fara terdiam sejenak, sepertinya dia sedang menelaah kata-kata Fahri barusan.
Disaat yang sama, seorang perawat datang menghampiri ketiganya. Obrolan mereka terputus, Fara harus kembali ke kamar untuk makan, minum obat dan istirahat siang.
Sepeninggal Fara, Fahri mengajak Bella duduk di kursi taman. Bella mengedarkan pandangan ke setiap sisi taman yang kini sudah kosong. Para pasien yang tadi memenuhi pekarangan, sudah kembali ke ruangan masing-masing.
"Kenapa mengajakku ke sini?" tanya Bella penasaran.
Huft...
Fahri menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kasar. Dengan tatapan kosong, dia merebahkan kepalanya ke pundak Bella.
Pelan-pelan, Fahri mulai bercerita. Rumah sakit itu miliknya, dia yang membangun dengan hasil jerih payahnya sendiri, hasil keringatnya menguras tenaga pagi, siang dan malam. Karena kegigihannya, rumah sakit khusus kanker itu berdiri kokoh sampai detik ini, Fahri ingin membantu pasien kanker dari kalangan bawah.
"Kenapa sampai kepikiran membangun rumah sakit ini?" tanya Bella mencari tau.
"Demi almarhum papa," lirih Fahri, tatapannya menggelap.
Singkat cerita, dulu kedua orang tua Fahri kawin lari karena tidak mendapat restu dari kakek Ahmad. Ayah Fahri hanya seorang karyawan biasa di perusahaan yang mereka kelola saat ini, sedangkan ibunya merupakan satu-satunya pewaris Ahmad Invest Internasional.
Ibu Fahri jatuh cinta pada karyawannya sendiri, kakek Ahmad menentang hubungan tersebut sehingga ibu Fahri memilih kabur dari rumah dan membangun rumah tangga bersama sang ayah.
Perjalanan mereka dimulai dari nol, hidup sederhana dengan kemampuan seadanya. Mereka hidup bahagia hingga Fahri dan kakaknya terlahir ke dunia ini.
Namun ditengah perjuangan sang ayah yang membanting tulang sebagai kepala keluarga, penyakit itu datang menggerogoti tubuhnya, kesehatannya mulai terganggu, akan tetapi dia malah menyembunyikan semua itu dari istrinya.
Sampai pada akhirnya, ibu Fahri mengetahui itu semua. Tapi sudah terlambat, tidak ada cara lagi untuk menyembuhkannya, sel kanker itu sudah menyebar ke seluruh tubuh. Ayah Fahri akhirnya berpulang menghadap sang pencipta.
Mendengar cerita Fahri, tak terasa air mata Bella menggenang, dia tidak tau sama sekali. Selama ini Fahri maupun kakek Ahmad tidak pernah menceritakan itu padanya.
"Sayang, maaf. Aku tidak bermaksud..." Bella mengusap lengan Fahri yang masih bersandar di pundaknya.
"Untuk apa minta maaf? Aku yang ingin menceritakan semua perjalanan hidupku padamu." tutur Fahri dengan suara serak, bagaimanapun dia ingin Bella tau betapa keras hidup yang dijalaninya di masa lampau.
Fahri melanjutkan ceritanya.
Tidak lama setelah ayahnya meninggal, ibunya drop dan mulai sakit-sakitan. Satu tahun berlalu, sang ibu ikut menyusul ke surga. Fahri dan kakaknya benar-benar terpuruk, waktu itu keduanya masih kecil dan belum mengerti cara melanjutkan hidup. Sempat keduanya luntang lantung di jalan sebelum akhirnya ditemukan oleh kakek Ahmad.
Pada akhirnya orang tua itu membawa mereka berdua pulang ke rumah, merawat dan membesarkan mereka dengan kasih sayang berlimpah.
Meskipun begitu, Fahri sempat menyimpan dendam yang merusak hati dan jiwanya. Dia tumbuh menjadi anak pembangkang, lebih sering keluyuran seperti anak liar daripada mengikuti kemauan kakek Ahmad. Fahri sama sekali tidak tertarik menjadi pemimpin Ahmad Invest Internasional.
Di luar sana, Fahri terjerumus. Dia masuk ke dunia hitam, darah baginya merupakan makanan sehari-hari. Dari yang awalnya hanya seorang bawahan, kemudian berhasil menduduki tempat tertinggi sebagai ketua klan.
Dia memegang puncak kekuasaan, bisnisnya menyebar dimana-mana. Tidak hanya legal, dia juga mendirikan beberapa bisnis ilegal. Tapi tak seorangpun mengenalnya, dia berhasil menyembunyikan identitasnya.
Sampai pada akhirnya, kakek Ahmad menderita beberapa penyakit komplikasi. Dokter sudah memvonis umurnya tidak akan lama. Fahri menyerah dan melepas beberapa bisnis ilegal miliknya.
Sedangkan bisnis legal yang dia bangun masih berjalan hingga detik ini, semua dikelola oleh orang-orang kepercayaannya. Satu diantaranya rumah sakit khusus kanker yang mereka datangi saat ini.
Ini salah satu bentuk kepedulian Fahri terhadap penderita kanker yang berasal dari kalangan bawah. Dia tidak ingin mereka semua memiliki nasib seperti ayahnya, terpaksa menyembunyikan penyakit karena keterbatasan biaya.
"Cukup, jangan diteruskan lagi!" Bella mendekap erat Fahri di dadanya, air matanya ikut jatuh merasakan tubuh Fahri yang berguncang.
Sebelum menikah dengan Bella, Fahri tidak pernah berpikir akan jatuh cinta. Sebab itulah dia membuat kesepakatan dalam bentuk perjanjian. Dia takut jatuh cinta, dia takut ditinggalkan seperti yang terjadi sebelumnya. Kepergian kedua orang tuanya menjadi pukulan berat dalam hidupnya, dia benar-benar trauma.
itu belom hamil yaa 🤭🤣
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡