Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Opa Hendy
"Kamu jemput Rhea, Dave?" Suara opanya mengalihkan perhatian Dave yang sedang memeluk ketiga keponakannya yang menghambur padanya tadi.
"Iya, opa." Dave tau setelah melihat kejadian ini Opanya ngga akan melewatkan kesempatan emasnya.
Tapi mungkin memang ini sudah jalannya jadian dengan Rhea. Semesta mempermudahkannya.
Opa tersenyum sangat lebar. Cucunya ternyata diam diam...., batinnya senang.
"Apa kabar, opa?" Edwin mengulurkan tangannya ketika laki laki tua yang masih nampak kuat itu mendekat.
"Baik, Win." mungkin saking senangnya melihat progres cucunya, Opa Hendy sampai mengguncangkan jabat tangannya dengan Edwin. Bahkan Opa Hendy menepuk nepuk bahu Edwin berulang kali.
Rhea kemudian mengulurkan tangannya pada Opa Hendy begitu jabat tangan Edwin dan Opa Hendy terurai.
"Opa." Rhea tersenyum sopan, tapi menurutnya senyum opanya mengandung sesuatu.
"Nanti pulangnya sama Dave juga, kan?"
Rhea yang tidak menyangka akan ditanya begitu jadi tertegun. Tapi jawaban dari Dave membuatnya yakin kalo sandiwaranya akan berlanjut.
"Iya, dong, Opa." Dave melepas pelukan ketiga keponakan cantiknya.
"Sama Miss Rhea, ya." Dave belum siap kalo Rhea diinterogasi. Dia takut kebohongan mereka terbongkar.
Rhea tersenyum. Dia juga mau cepat cepat pergi.
"Ayo, kita ke kelas."
"Iya, Miss." Untungnya ketiga bocil cantik itu menurut. Melihatnya membuat perasaan Rhea nyaman. Harapannya, semoga nanti dia bisa mendapatkan anak anak seperti ini nanti. Wajahnya cantik dan sikapnya juga manis.
"Rhea, nanti malam dinner di rumah opa, ya," ucap Opa Hendy sebelum Rhea melangkah pergi dengan tiga cicit kerabatnya.
Rhea terpaksa mengangguk, karena Edwin masih mengawasinya.
"Ya, opa."
Hendy tersenyum makin lebar mendengarnya.
"Kapan resepsinya, opa?" timbrung Edwin mencoba berlapang dada.
"Secepatnya, ya, Dave."
Dave tersenyum. Jawabannya tadi sama seperti jawaban opanya sekarang. Dia melirik Rhea yang terus melangkah.
Kalo begini kita bakalan bisa beneran nikah, batinnya dengan kedut tipis di kedua sudut bibirnya.
"Ditunggu undangannya, opa."
Hendy kini tertawa berderai.
"Oke."
*
*
*
Opa Hendy sekarang satu mobil dengan Dave. Supirnya disuruh pulang. Dia akan menginterogasi cucunya lebih intensif sekarang.
Baru beberapa hari yang lalu menolak, kenapa sekarang sudah mau langsung dinikahkan aja?
"Dave, kamu mengejutkan opa," ucap Hendy setelah Dave melajukan mobilnya.
Dave tersenyum kalem.
"Ternyata kamu memikirkan keinginan opa, ya." Senyum Opa Hendy masih belum pudar.
Dave masih tersenyum kalem. Kalo dia jujur soal hubungannya dengan Rhea, opanya bakal shock ngga, ya? Apalagi kalo tau pertemuan pertama mereka dimana dan apa yang sudah dia lakukan.
Dave ngga yakin mau membongkar aibnya dan bicara dengan jujur tentang itu. Keselamatan jantung opanya yang jadi prioritasnya sekarang.
"Tapi kamu benar benar serius, kan?" Walaupun senang, tetap saja Opa Hendy sedikit meragukan keseriusan Dave. Karena perubahannya terlalu cepat.
"Kalo opa serius, aku juga serius,' jawab Dave santai.
Opa Hendy menghembuskan nafas perlahan agar bisa terap sabar menghadapi ketengilan cucunya. Dia jadi ingat putranya Aiden juga begitu. Tapi kali ini Opa Hendy tidak akan membiarkan Dave salah langkah seperti Aiden dulu.
Dadanya bergetar mengingat tragisnya nasib putranya.
"Opa maunya kamu yang serius, tapi sudahlah, ngga apa apa. Opa tau kamu sudah sangat dewasa. Opa ingin tau pendapat Rhea tentang kamu."
Dave menahan tawanya. Dia yakin Rhea ngga akan menceritakan kekurangajarannya dulu.
"Ya, opa." Dengan begini Rhea ngga akan bisa menolaknya lagi. Lagi pula Rhea juga mau mau aja kalo diajak skin to skin denganya. dengannya. Ngga mungkin Rhea ngga menyukainya.
Oke kalo soal harum parfum kesayangannya tapi ngga disuka gadis itu. Dia sudah menggantinya. Egonya sudah dia turunkan agar gadis itu merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Dave yakin sekali kalo Rhea pura pura menolaknya.
"Nanti opa akan tanya siapa orang tua Rhea. Kalo masih sahabat Puspa, pasti dia baik."
Dave agak ragu mau cerita soal keluarga dan masalah Rhea pada opanya. Terutama soal perjodohan gadis itu. Dave ngga yakin kali ini opanya akan menyerah.
"Yang penting malam ini kita dinner bareng, ya."
"Dimama dinnernya, opa?"
Kalo Tante Puspa tau, mungkin ngga akan setuju, batinnya. Karena Rhea sedang dicari pengawal papanya.
"Dimana baiknya menurut kamu?"
"Di restoran favorit opa aja. Tapi restorannya kita full booking, jadi ngga ada tamu selain kita."
"Kenapa kita ngga ke ruang privat aja?" Kening Opa Hendy berkerut mendengar saran Dave.yang menurutnya agak berlebihan.
"Ngga apa apa, kan, kalo kali ini Opa mengistinewakan aku?"
Tawa Opa Hendy tersembur begitu saja.
"Oke. Opa turuti keinginanmu."
"Sip, Opa." Hati Dave lega, dengan restoran yang sudah dibooking, ngga akan ada tamu lain selain mereka yang akan makan dan ngobrol di sana.
Rhea akan aman, batinnya. Biarlah opanya mendengar dari tantenya, yang penting makan malam mereka nanti tidak akan terganggu oleh pengawal pengawal papanya Rhea.
Hening beberapa jenak.
"Kamu pernah kenal Rhea sebelumnya?"
Dave agak terkesiap juga mendengar pertanyaan opanya
Jujur?
Engga?
Jujur?
"Dave?" teguran Opanya memutus keragu raguan Dave.
"Kenapa opa nanya begtu?"
"Siapa tau aja," tawa opanya berderai.
Dave hanya tersenyum. Belum siap untuk jujur. Kalo opanya tau perbuatannya, pipinya bakal dikemplang kiri kanan.
Tapi Dave jadi kepikiran juga soal teman Rhea.
Siapa, ya?
Dia butuh foto yang dimilikinya untuk dia hapus. Dave yakin pasti sebentar lagi foto foto itu akan tersebar. Hanya nunggu waktu saja.
*
*
*
Opa Hendy merasa perlu menjelaskan kegagalan niatnya menjodohkan Dave dengan Talisha pada Her -temannya. Jadi dia pun menelponnya setelah Dave mengantarkannya pulang ke rumah.
"Her..... Aku mau minta maaf." Ucapan ini sudah belasan kali dia ucapkan setiap kali gagal menjodohkan Rhea dengan cucu cucu kenalannya.
Yang terdengar hanya tawa Heri Sapta. Tawa yang mungkin menyiratkan kekecewaan.
"Soal perjodohan, kan?"
"Iya."
"Sudahlah, lupakan saja. Cucuku juga tidak terlalu memikirkannya. Mungkin dia juga sudah punya pilihan lain."
Hendy menghela nafas panjang.
"Syukurlah kalo begitu."
"Jadi.... Apakah Dave sudah bertemu jodohnya?" tanya Heri Sapta pelan.
"Masih aku carikan." Hendy tidak jadi berterus terang. Dia merasa agak kurang etis untuk mengatakan kalo Dave sudah memilih gadis lain. Lagi pula dia harus bertemu dengan Puspa dulu untuk tau siapa orang tua Rhea.
"Oke, oke. Semoga berhasil."
"Harapan yang sama untuk cucumu, ya. Salam buat Talisha."
"Akan aku sampaikan."
tinggal minta sama Dave biar Dave yang memproduksi 🤣🤣🤣