Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Gelang Manik-Manik, Proyek Sains Aksara, dan Lampu Hijau Calon Ipar
Setelah puas menghabiskan sore dengan tawa yang membuncah di wahana permainan, ketiganya melangkah santai menuju area pintu keluar taman wisata untuk bersiap pulang. Namun, langkah kaki mereka mendadak terhenti di depan sebuah toko suvenir dan mainan estetis yang berada di pinggir lorong jalan.
Atensi Aiswa langsung tersedot sepenuhnya pada deretan gelang manik-manik warna-warni buatan tangan yang terpajang rapi di sana.
Sifat kekanak-kanakan Aiswa mendadak kumat. Dengan mata berbinar, ia mengambil sebuah gelang manik-manik bernuansa pastel, lalu berjongkok di depan Zianna.
"Zianna, coba kamu pakai ini deh, Sayang," ujar Aiswa lembut sambil memasangkan gelang tersebut ke pergelangan tangan mungil Zianna.
Zianna merentangkan tangannya, menatap gelang itu dengan takjub.
"Wah, Tante Guru! Bagus banget! Zianna suka!" seru gadis kecil itu kegirangan, melompat-lompat kecil.
Melihat respons antusias Zianna, Aiswa pun ikut bersemangat. Keduanya malah asyik memilih-milih manik-manik yang senada untuk dipakai sebagai gelang kembaran.
Di tengah keasyikan itu, jemari Aiswa tidak sengaja menyentuh sebuah gelang manik-manik dengan desain minimalis bertali hitam sederhana, namun entah mengapa terlihat sangat cocok untuk laki-laki.
Sebuah ide jahil nan usil mendadak terlintas di benak Aiswa. Ia melirik ke belakang, menatap Devan yang sejak tadi hanya berdiri bersandar di tiang toko sambil menyilangkan dada, bertindak sebagai pengawal setia yang mengawasi mereka.
"Pak, sini deh sebentar," panggil Aiswa, melambaikan tangannya dengan senyum misterius.
Devan menegakkan tubuh jangkungnya, lalu melangkah mendekat ke arah Aiswa.
"Kenapa? Sudah selesai pilih gelangnya?" tanya Devan datar.
Pria itu langsung meraba saku jasnya, mengeluarkan dompet kulit mewahnya dan hendak menarik beberapa lembar uang untuk membayar.
Namun, sebelum jemari Devan sempat membuka dompet, tangannya mendadak ditarik paksa oleh Aiswa, sementara Zianna dengan cekatan memegang jemari papanya yang lain. Dengan gerakan kompak yang super cepat, Aiswa dan Zianna memakaikan gelang manik-manik pilihan mereka ke pergelangan tangan kokoh Devan.
Tubuh Devan seketika mematung. Sang CEO Argian Group tertegun menetap pergelangan tangannya sendiri. Sebuah gelang mainan murah seharga beberapa puluh ribu rupiah kini melingkar manis di kulitnya.
Sepanjang hidupnya, pria perfeksionis ini tidak pernah sudi memakai aksesoris apa pun di tubuhnya kecuali jam tangan bermerek internasional senilai miliaran. Tapi sore ini, dua perempuan di hadapannya ini dengan berani merusak estetikanya.
"Bagus, Papa! Jangan dilepas ya! Ini gelang dari Zianna dan Tante Guru," ucap Zianna dengan nada tegas yang meniru gaya bicara papanya sendiri jika sedang memberi perintah.
Aiswa yang awalnya sempat waswas menanti reaksi Devan, kini tidak bisa menahan tawa begitu melihat wajah sang CEO yang terlihat ingin protes keras namun terpaksa tertahan demi sang anak. Bahu Aiswa berguncang, ia terkikik geli melihat pemandangan langka tersebut.
Aiswa segera menggandeng tangan Zianna, bersiap berjalan mendahului. Namun sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah Devan dengan kerlingan mata jenaka.
"Bayar, Pak!" selorohnya santai.
Setelah melayangkan perintah itu, Aiswa dan Zianna langsung berlalu pergi sambil berlari-lari kecil dengan riang, meninggalkan Devan yang masih mematung sendirian di depan meja kasir.
Namun, bukannya marah karena dikerjai, Devan justru menatap datar gelang manik-manik di tangannya, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat hangat terukir di bibirnya.
Setelah menyelesaikan pembayaran, pria itu segera melangkah lebar, mengekor di belakang dua wanita berbeda umur tersebut yang berjalan mendahuluinya.
Devan mendengus geli dalam hati, jika dilihat-lihat, situasinya saat ini benar-benar seperti seorang ayah yang sedang menjaga dua bocah toddler yang sedang aktif-aktifnya.
***
Beberapa puluh menit kemudian, mobil mewah Devan akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis milik Aiswa.
Namun, Zianna rupanya tidak mau langsung pulang. Bocah itu bersikeras ingin ikut masuk ke dalam pekarangan rumah untuk mengantarkan "Tante Guru"-nya sampai ke depan pintu.
Begitu mereka melangkah masuk melewati pagar, pemandangan di pekarangan rumah langsung menyambut mereka.
Di sana, terlihat Aksara, adik bungsu Aiswa tengah sibuk merakit tumpukan bahan daur ulang di atas meja kayu. Remaja laki-laki itu sedang berusaha keras menyelesaikan tugas sekolahnya yaitu membuat alat eksperimen sains pembangkit listrik sederhana dari tenaga air untuk menyalakan sebuah lampu bohlam kecil.
Aksara terlihat sangat frustrasi. Wajahnya ditekuk, rambutnya sudah berantakan karena berulang kali ia jambak sendiri akibat stres.
Dia sudah mengikuti semua instruksi di buku panduan dengan benar, memutar baling-baling airnya, tetapi sialnya, lampu kecil itu tetap mati total, tidak mau menyala sama sekali. Tugas yang sudah ia kerjakan hampir seminggu itu terancam gagal lagi.
Aiswa yang baru datang bersama Devan dan Zianna langsung melangkah mendekat sambil menyapa.
"Belum nyala juga, Dek?" tanya Aiswa, menatap iba sekaligus ingin tertawa melihat komuk kusut adiknya.
"Belum, Kak! Nggak tahu nih, padahal semua kabelnya udah aku sambungin bener-bener, tapi tetep aja mogok," gerutu Aksara kesal, fokusnya masih tertuju pada alatnya.
"Wah, lagi buat apa ini, Om? Keren banget!" Celetuk sebuah suara cempreng anak kecil yang mendadak nongol dari balik pinggang Aiswa.
Aksara tersentak kaget. Ia langsung mendongak.
"Eh, siapa ini, Kak?" tanyanya heran dengan kening berkerut.
Matanya beralih menatap anak kecil asing yang menggemaskan, lalu pandangannya bergeser ke atas, menatap sosok pria jangkung berjas mewah yang berdiri tegak di samping kakaknya. Aksara baru sadar sepenuhnya kalau kakaknya pulang tidak sendirian, melainkan membawa satu paket keluarga.
"Oh, kenalin, ini Pak Devan. Dan ini putrinya, namanya Zianna," kenal Aiswa, menjabarkan status mereka dengan singkat agar tidak memicu kesalahpahaman.
"Halo, Zianna. Halo, Pak Devan... salam kenal, ya," ucap Aksara seketika merubah sikapnya menjadi ramah dan sangat sopan.
Ia lalu kembali menatap Zianna dan menjawab pertanyaan bocah itu.
"Oh, ini Abang lagi bikin pembangkit listrik tenaga air sederhana, Zianna."
Aksara terkekeh pelan, lalu menambahkan.
"Eh, tapi kamu panggilnya 'Abang' aja ya, jangan panggil 'Om'. Berasa tua banget kedengarannya di telinga abang."
Zianna langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah.
"Nggak boleh dong, Om! Kan Tante Guru itu kakaknya Om. Nah, Tante Guru kan sebentar lagi bakal jadi mamanya Zianna, jadi panggil adiknya Mama itu harus 'Om', supaya tetap sopan dan teratur!" jelas Zianna panjang lebar dengan nada super meyakinkan.
Blam!
Pernyataan polos namun bermakna bom atom dari Zianna sukses membuat Aksara syok setengah mati.
Remaja itu terpelongo di tempat, mulutnya sedikit terbuka saat ia menatap Aiswa dengan pandangan penuh tanya, menuntut penjelasan atas konspirasi besar yang baru saja ia dengar.
Melihat situasi itu, Devan perlahan mencondongkan tubuhnya ke arah Aiswa, lalu berbisik sangat pelan di dekat telinga gadis itu.
"Sepertinya kamu harus segera mengatakan perihal hubungan kita ini pada keluargamu, Aiswa. Supaya ke depannya... saya tidak perlu sering-sering melihat ekspresi kaget yang berlebihan seperti adikmu ini."
Mendengar bisikan posesif itu, bukannya memberikan anggukan setuju, Aiswa justru melayangkan tatapan mata yang sangat tajam dan menusuk ke arah Devan.
Nih duda bener-bener pinter banget nyari kesempatan dalam kesempitan! batin Aiswa gemas.
Namun, Devan sama sekali tidak memusingkan tatapan maut dari Aiswa. Pria itu justru melangkah maju, mendekati meja kerja Aksara. Selama beberapa menit, Devan diam mematikan fokusnya, mengamati dengan saksama rangkaian kabel dan posisi dinamo serta baling-baling air buatan Aksara.
Sebagai lulusan teknik dari universitas ternama luar negeri dan seorang pebisnis perfeksionis, Devan tentu langsung bisa melihat titik buta dari kesalahan sang calon adik ipar.
"Kamu keliru meletakkan posisi kutub positif dan negatif pada sambungan dinamonya," ucap Devan dengan suara baritonnya yang tenang.
"Dan perputaran baling-baling air ini tidak akan menghasilkan daya yang cukup jika sudut kemiringan sendok daur ulangnya terlalu datar."
Tanpa menunggu jawaban Aksara yang masih melongo, Devan dengan cekatan menggulung sedikit lengan kemejanya. Jemari tangannya yang panjang bergerak lincah memutus satu bagian kabel, merubah posisinya, lalu sedikit menekuk sudut baling-baling plastik buatan Aksara. Setelah selesai, Devan menuangkan air dari botol ke atas baling-baling tersebut untuk memicunya berputar.
Pet!
Detik itu juga, lampu bohlam kecil yang seminggu ini mati total, mendadak menyala terang benderang di hadapan mereka semua. Alat eksperimen sains Aksara resmi berhasil!
"Wih!!! Keren banget, Abang!!! Nyala loh lampunya! Gila, gila!" Aksara seketika heboh kegirangan.
Saking senangnya karena tugas seminggunya selesai dalam waktu dua menit, remaja itu sampai melompat-lompat heboh di pekarangan. Zianna yang melihat kehebohan itu pun tidak mau kalah, ia ikut melompat-lompat kecil sambil bertepuk tangan ceria.
Di sisi lain, Aiswa justru dibuat terpelongo mematung di tempatnya. Kepalanya mendadak kosong. Kenapa... kenapa situasi di depannya bisa menjadi seakrab ini? Oke, kalau untuk urusan Zianna yang mudah dekat dengan siapa saja, Aiswa masih bisa maklum.
Tapi Aksara? Adik bungsunya yang satu ini adalah tipe remaja super cuek, dingin, dan biasanya sangat sulit serta butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan orang baru.
Setelah menyelesaikan selebrasi hebohnya, Aksara dengan wajah penuh binar kekaguman langsung menghampiri Devan. Remaja itu menjabat tangan Devan dengan erat, menggoyang-goyangkannya layaknya sepasang taruna yang sedang bersalaman resmi.
"Terima kasih banyak, Bang! Atas bantuannya yang super jenius tadi!" Ucap Aksara dengan nada kesenangan yang luar biasa.
Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap Devan dari atas sampai bawah, lalu menambahkan kalimat yang sukses membuat jantung Aiswa rasanya mau copot dari tempatnya.
"Dan... selamat ya, Bang. Mulai hari ini, Abang resmi saya nyatakan lulus dengan nilai sempurna untuk jadi calon abang ipar saya!"
Mendengar ucapan blak-blakan dari sang adik, Aiswa dibuat melotot dan terpelongo untuk kesekian kalinya hari ini. Apa-apaan ini?! Kenapa ujung-ujungnya obrolan mereka malah belok ke arah pelaminan?!
Aiswa benar-benar merasa heran dan tidak habis pikir. Aditya, yang sudah bertahun-tahun pacaran dengannya dan berulang kali datang bertamu ke rumah saja membutuhkan perjuangan berdarah-darah dan sangat sulit untuk bisa mendapatkan hati Aksara yang super cuek itu. Lah, sedangkan Devan? Pria ini baru muncul beberapa menit di pekarangan rumah mereka, dan Aksara sudah dengan sukarela memberikan lampu hijau selebar-lebarnya!
Aiswa menatap Devan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya.
Sebenernya apa sih yang spesial dari jenis manusia macam Devan Argian ini sampai pesonanya bisa mematikan begini? batin Aiswa merana.
Mendapat dukungan penuh dari sang calon adik ipar, Devan menatap Aiswa dalam-dalam.
Sepasang matanya memancarkan binar geli sekaligus kepuasan yang mutlak. Pria itu melangkah satu kali lagi, mengikis jarak di antara mereka, lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Aiswa.
"Adik kandung kamu saja sudah memanggil saya 'Abang'," bisik Devan dengan suara rendah yang begitu seksi, mengulas sebuah senyuman misterius yang sulit diartikan di bibirnya.
"Lalu kamu... sampai kapan mau terus-menerus memanggil calon suamimu sendiri dengan sebutan 'Bapak'?"
Devan menjeda kalimatnya, membiarkan embusan napas hangatnya menerpa permukaan kulit pipi Aiswa yang mendadak meremang.
"Bisa kamu ubah panggilannya sekarang? Panggil... 'Sayang', misalnya?"
Dan detik itu juga, rasanya seluruh urat di kepala Aiswa berdenyut-denyut kencang kembali. Efek pusingnya pasca-menangis mendadak kambuh lagi.
Aiswa rasanya benar-benar ingin menghilang saja dari muka bumi saat ini juga demi menyelamatkan kesehatan mentalnya dari kegilaan seorang Devan Argian.