Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Sepeninggal dua rekan sejawatnya, kini tinggallah Nindi dan Sandi di ruangan.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? Aku harap kamu tidak menyudutkan, apalagi sampai menyalahkan Vania karena telah menyembunyikan kebenaran tentang putri kandung kalian darimu. Sebagai sesama perempuan, aku yakin Vania punya alasan sendiri sampai memutuskan menyembunyikan semuanya darimu."
Sandi terdiam, mencerna semua perkataan saudara sepupunya tersebut.
"Mengandung seorang anak di luar ikatan pernikahan bukanlah hal yang mudah bagi seorang wanita berusia dua puluh tahun, terlebih jika keluarga turut menyudutkan. Vania masih sanggup menjaga kewarasannya hingga detik ini saja, sudah suatu kesyukuran karena belum tentu semua wanita sanggup melakukannya." Bukannya ingin menggurui saudara sepupunya itu, Nindi hanya ingin menyampaikan beberapa hal yang mungkin tidak disadari oleh Sandi.
Sandi menyandarkan tubuhnya dengan lemas pada sandaran sofa di ruangan tersebut.
"Menurutku, sebaiknya cari waktu yang tepat untuk membahas tentang semua ini dengan istrimu." Saran Nindi.
Sandi masih diam saja, entah saran Nindi masuk ke dalam pikirannya atau tidak, hanya pria itu yang tahu.
"Terima kasih banyak atas bantuan dan saranmu. Jika kau butuh sesuatu jangan sungkan untuk menghubungiku!." Tutur Sandi sebelum hendak berpamitan pada Nindi.
"Tidak perlu berterima kasih, kita ini saudara sepupu, sudah sepantasnya saling membantu." Nindi nampak tulus dan juga serius, tidak seperti biasa ketika mereka sedang bercanda gurau.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Sandi berpamitan dan Nindi mengangguk.
"Hati-hati, jangan ngebut nyetirnya!." Sandi hanya merespon pesan Nindi dengan anggukan kepala. Kini pria itu telah memutar handle pintu ruang praktik Nindi kemudian berlalu pergi.
Sandi melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Ya, jam segini Sesil pasti sudah pulang sekolah dengan dijemput oleh Omanya.
"Papah..." Sesil langsung berlari keluar saat mendengar suara mobil Sandi.
Sandi berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya, menyambut putrinya yang berlari ke arahnya.
Sandi menghujani pipi menggemaskan putrinya itu dengan kecupan sayang. Sebelumnya Sandi memang sudah sering memberi kecupan sayang pada bocah itu, tapi kali ini terlihat berbeda dan ibu menyadari itu.
"Tumben hari ini papah cepat pulang." Kata Sesil setelah berada di gendongan ayahnya.
"Papah kangen banget sama anak cantiknya papah, makanya pulang lebih awal." Balas Sandi di sela langkahnya memasuki pintu utama.
"Ada apa dengan anak ini?." Batin ibu ketika melihat keanehan pada sikap putranya. Selama ini Sandi memang menyayangi Sesil layaknya anak kandung sendiri, tapi menurut penilaian ibu hari ini sedikit berbeda.
Setelah menidurkan Sesil, Sandi di minta oleh ibu untuk menemuinya di gazebo yang berada di taman belakang.
"Ada apa denganmu? Mamah perhatikan hari ini sikapmu pada Sesil sedikit berbeda."
Deg.
Sandi tak menyangka jika ibu memperhatikan sikapnya.
Selama ini Sandi tidak pernah merahasiakan tentang apapun dari ibunya, kecuali kejadian di hotel lima tahun lalu.
"Mamah sudah mengenalmu sejak dari dalam kandungan. Sebagai seorang ibu, mamah bisa merasakan jika saat ini kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari mamah, Sandi." Tebak ibu. "Cerita sama mamah, mau itu hal baik ataupun buruk, mamah akan tetap setia mendengar ceritamu, anakku." Ucap ibu dengan penuh kelembutan. Sejatinya seorang ibu, mau mendengarkan keluh kesah buah hatinya. Hal itulah yang kini dilakukan oleh ibunya Sandi.
"Mah...." Sandi membawa diri ke dalam pelukan ibunya. Untuk pertama kalinya ibu melihat putranya itu menangis hingga terisak setelah tumbuh menjadi pria dewasa.
"Apa yang terjadi, nak?." Tanya ibu sambil mengusap lembut punggung putranya.
"Maafkan Sandi, mah....Sandi telah membuat kesalahan besar di masa lalu. Sandi pernah merusak anak gadis orang, hingga membuatnya mengandung dan melahirkan anaknya Sandi." Jantung ibu seperti dihantam batu besar setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari mulut putranya. Namun begitu, ibu tetap berusaha menjadi ibu yang bijak dengan tidak langsung menyalahkan putranya. Membiarkan Sandi kembali melanjutkan ceritanya.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?." Tanya ibu setelah Sandi mengaku telah menemukan wanita itu serta anaknya. "Apa kamu akan menceraikan istrimu dan menikahi wanita itu?." Tak nada marah dari pertanyaan ibu, wanita itu murni ingin tahu keputusan putranya.
"Sandi akan bertanggung jawab, dan Sandi tidak akan pernah menceraikan Vania, mah." Ibu tersenyum kecut mendengar jawaban putranya itu.
"Kamu tidak boleh egois, jika memang kamu ingin bertanggung jawab pada wanita itu maka kamu harus melepaskan Vania. Jangan karena statusnya yang merupakan single mom sebelum menikah dengan kamu, lalu kamu bisa mengabaikan perasaannya begitu saja. Ingat nak, Vania juga punya hati dan perasaan. Jika kamu ingin bertanggung jawab atas kesalahanmu di masa lalu, maka lepaskan Vania, biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri." Ibu mengatakan semua itu dengan berlinang air mata. Rasanya tak rela jika harus kehilangan Vania sebagai menantunya.
Sandi menyodorkan amplop besar berwarna putih lengkap dengan logo rumah sakit tempat ia melakukan tes DNA yang tertera di bagian depan amplop tersebut.
"Apa ini, Sandi?." Ibu nampak bingung.
"Mamah buka saja dulu, nanti juga mamah bakal tahu!."
Ibu lantas mengeluarkan kertas dari dalam amplop tersebut kemudian mulai membacanya.
"Apa maksud dari semua ini, Sandi?." Bukannya tak dapat memahami tulisan yang tercantum di kertas tersebut, tapi rasanya ibu seperti sedang bermimpi saja.
"Seperti yang tercantum di kertas itu, mah. Sesil adalah putri kandung Sandi. Cucu kandung mamah dan papah."
"Hiks....hiks....hiks ..." Hasil pemeriksaan DNA yang barusan dibacanya serta pengakuan langsung dari putranya, membuat tangis ibu pecah tak tertahankan. "Rupanya Sesil cucu kandung mamah, pantas saja sejak pertama kali bertemu dengannya mamah langsung jatuh hati padanya. Semua yang ada dalam diri Sesil mampu menenangkan hati mamah." Ucap ibu di sela Isak tangisnya
Setelah melihat ibu sedikit tenang, tangisnya mulai reda, Sandi pun berpesan pada ibunya.
"Untuk sementara waktu Sandi ingin mamah merahasiakan tentang hal ini dari Vania. Bersikaplah seperti biasa, jangan sampai Vania tahu jika Sandi telah mengetahui kebenaran tentang Sesil. Bukan apa-apa, mah, Sandi hanya ingin mencari waktu yang pas untuk membicarakan hal ini dengan Vania. Benar kata Nindi, selama ini Vania sudah banyak melewati kesulitan dalam hidupnya. Sandi khawatir jika membicarakan hal ini diwaktu yang kurang tepat justru membuat Vania merasa disudutkan." Sandi mencoba memberikan pengertian pada ibunya.
"Baiklah, untuk sementara waktu mamah akan merahasiakannya. Tapi mamah minta jangan terlalu lama menyembunyikan dari Vania jika kenyataannya kamu telah mengetahui tentang kebenaran Sesil!." Pinta ibu.
"Baik, mah. Sandi juga tidak ingin berlama-lama.
Di satu sisi ibu merasa kecewa karena putranya telah merusak masa depan anak gadis orang, tapi di sisi lain ibu bersyukur karena gadis itu ternyata adalah Vania, menantu pilihannya. Jalan takdir memang tak pernah bisa ditebak, namun siapapun yang ditakdirkan bersama pasti akan bersatu dengan cara yang sulit ditebak sekalipun.
up yang bnyak thor nanggung
Tolong buat mati aja la ibu Vania ini,gak ada ibu kandung gak ngotak kayak ibu Vania ini.bahkan germo aja masih mikir buat jerumusin anaknya.
bener2 jalang ibu Vania...
jujur liat pelaku bejat rasanya pantas dibalas ke anak kesayangan biar gila sekalian sekeluarga
Sandi harus tau ini,kalau Vania pernah di jual ayah tiri nya...
supaya gak berhubungan LG dgn vania ...apalagi minta uang lagi
Vania sdh d tebus 20 milyar
kenapa pada bodoh sih,Sandi juga ngapain ngasih cek sampai ber milyar...
Kalau kebanyakan uang mending di donasikan...
apa yang mau di takutkan dari seorang ibu lucknut.
mau ngancam soal Sesil,lah itu bapaknya sendiri itu si Sandi...
gak ngerti cara berpikirnya