"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesadaran Yang Terperangkap—Langkah Yang Masih Ragu
Tiga hari kemudian.
RSUD Kabupaten, kamar Melati nomor 3.
Bau antiseptik bercampur obat. Suara monitor detak jantung berdetak pelan, tut... tut... tut… tanpa irama tapi terdengar teratur.
Amira terbaring di ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya sudah teratur. Sesekali jarinya bergerak sedikit, seperti mencari sesuatu dalam tidur, sementara selang infus menancap di punggung tangan kirinya.
Di samping ranjang, Nolan duduk di kursi plastik. Jemarinya sibuk dengan laptop di pangkuannya. Sesekali ia melirik, memperhatikan Amira.
Di dekat jendela, Taya tampak sibuk dengan panggilan telepon, berbicara pelan, sesekali melirik ke arah Nolan kemudian beralih menatap Amira.
Pintu diketuk pelan, lalu terbuka. Dokter Wibowo masuk, membawa map rekam medis. Usianya mungkin empat puluhan dan memiliki wajah yang tenang.
“Selamat pagi, Mas Nolan.”
Nolan berdiri cepat meletakkan laptopnya di meja sebelahnya, kemudian menyambut sang Dokter. “Pagi, Dok.”
Dokter Wibowo mendekat ke ranjang, mengecek infus, lalu melihat monitor, terakhir ia menulis sesuatu di map.
“Secara fisik, Mbak Amira sudah stabil. Tidak ada cedera. Tanda vital juga normal. Pasien ini cuma dehidrasi dan kelelahan berat waktu masuk.”
Nolan mengangguk lega, tapi alisnya masih bertaut. “Tapi Dok... sudah tiga hari. Kenapa belum sadar juga?”
Dokter Wibowo menutup map, menghela napas dalam, kemudian menatap Nolan. Nada bicaranya tampak hati-hati, tapi jelas. “Ini yang mau saya sampaikan, Mas. Hasil pemeriksaan fisik dan laboratoriumnya bagus. Tidak ada trauma di kepala, tidak ada stroke, tidak ada apa-apa.”
Dokter Wibowo menjeda, seolah sedang memilih kata yang ia harapkan bisa lebih mudah dimengerti lawan bicaranya. “Kondisi Mbak Amira sekarang lebih ke syok psikis. Istilahnya… disosiatif. Tubuh menolak sadar karena otaknya sedang melindungi diri dari sesuatu yang sangat menekan.”
Nolan menelan ludah, tangannya reflek mengepal. “Maksud Dokter... apa itu semacam koma?”
“Bukan koma, Mas. Koma itu tidak respons sama sekali. Sedangkan Mbak Amira masih bergerak, respons nyeri juga ada meski kecil. Ini lebih tepatnya kondisi stupor karena trauma. Dia tidur, tapi tidur yang dalam sekali. Pikirannya belum siap kembali.”
Ruangan itu kembali hening. Hanya suara tut... tut... dari monitor yang masih tak berubah.
“Terus... saya harus gimana, Dok? Apa yang bisa kita lakukan biar dia bangun?”
Dokter Wibowo tersenyum tipis, senyum yang menenangkan.
“Yang bisa Mas lakukan sekarang hanya menemani, mengajak bicara. Coba ceritakan hal-hal yang dia suka. Suara orang terdekat itu terapi paling baik. Jangan dipaksa bangun. Otaknya butuh waktu untuk merasa aman.”
Dokter Wibowo kembali menjeda, kali ini sedikit lebih lama seraya memperhatikan lagi pasiennya. “Obat penenang sudah kami hentikan sejak kemarin. Sekarang tinggal tunggu Mbak Amira sendiri yang memutuskan untuk kembali.”
Nolan mengangguk pelan. Bukan karena mengerti, tapi ia hanya sedang berusaha menebak dan mengingat kembali penyebab trauma yang dialami Amira.
Dokter Wibowo menepuk pundak Nolan, memberi kepercayaan. “Orang yang mengalami syok seperti ini, ibaratnya lari maraton tanpa henti di dalam kepalanya. Ada rasa lelah yang tidak akan kita mengerti. Itulah sebabnya pasien membutuhkan kehadiran orang-orang terdekatnya.”
Nolan tersenyum kecut. “Siap, Dok. Terimakasih.”
Dokter Wibowo mengangguk, lalu pamit keluar. Pintu menutup pelan.
🍂🍂🍂🍂🍂
Di depan sekolah Dasar, tempat Ciara—putri pertama Rita bersekolah. Bel pulang baru saja berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar gerbang, dijemput orang tua masing-masing. Ada yang naik motor, ada yang dijemput mobil.
Ciara, dengan tas ransel pink bergambar kelinci, berjalan pelan sambil menunduk. Rambutnya dikepang dua. Dari jauh dia sudah melihat dua sosok yang berdiri saling berhadapan di seberang jalan. Tapi dua orang dewasa itu tidak saling bicara seperti orang tua lain. Jarak di antara mereka pun terlihat sangat kaku, seperti ada tembok tak kasat mata.
“Bapak!” seru polos Ciara.
Raka melangkah duluan. “Ciara, sayang. Bapak pulang.”
Namun baru dua langkah, Rita sudah berdiri di depannya, menghalangi dengan tatapan matanya yang tajam disertai dagu terangkat. “Berhenti di situ, Raka,” ucap Rita pelan, tapi tegas. Cukup untuk membuat beberapa orang tua lain menoleh.
Raka berhenti, menahan napas sesaat. “Rit, aku cuma mau ketemu Ciara. Dia anakku juga.”
“Anakmu?” Rita tertawa pendek, pahit. “Kamu baru ingat dia anakmu sekarang? Setelah semua yang kamu lakukan?”
Raka memucat seolah tertampar kenyataan dan masa lalu. Dia melirik ke arah Ciara yang sudah sudah berdiri tak jauh darinya, memeluk tasnya erat, menatap bingung pada kedua orang tuanya.
“Rit, tolong. Jangan di sini, jangan di depan Ciara. Kita bisa bicarakan ini dengan baik… kan?”
“Baik-baik?” Mata Rita berkaca-kaca, tapi marahnya lebih dominan. “Kamu ngomong baik-baik setelah kamu hancurin hidup sahabatku? Setelah kamu hampir bikin dia mati di jalan raya kemarin dan… sebelumnya?” Pedih rasanya untuk menerima kenyataan.
Rita menjeda untuk sekedar mengatur detak jantungnya yang kembali terpacu. “Kamu masih punya muka buat bilang… baik-baik?” tuntutnya.
Raka tertunduk dengan tangan terkepal. Rasa bersalah menindih dadanya sampai sesak. Kemudian dia angkat wajah lagi. Sorot matanya seolah memohon. “Aku tahu, Aku bejat. Aku juga sampah. Aku nggak akan minta maaf karena maaf nggak cukup. Tapi Rit, dengerin aku sekali ini aja.”
Raka mendekat selangkah. Tapi Rita justru mundur selangkah, tetap menjaga jarak antara Raka dan Ciara.
“Ikutlah aku ke jepang, kita mulai semua dari awal. Kita harus pergi, tak ada pilihan, Rit. Mumpung Loretta belum curiga kalau aku mau lepas dari dia.”
Nama Loretta membuat rahang Rita mengeras. “Jadi kamu mau membawa kami kabur karena kamu takut sama Loretta? Setelah semua yang kamu perbuat, kamu masih mau mengatur hidpu kami?”
“Bukan untuk mengatur, Rit. Aku mohon. Ini satu-satunya cara lepas dari dia. Selama ini aku kerja buat dia, aku tahu dia kayak apa. Kalau dia tahu aku membelot, kalau dia tahu aku mau bawa kalian pergi... dia bakal hancurin kita. Dia bakal pakai Ciara buat nenekan kamu. Kamu mau itu?”
Kalimat terakhir cukup membuat Rita goyah. Dia menoleh ke Ciara, putrinya yang berdiri menatap bergantian pada kedua orang tuanya. Matanya besarnya penuh tanya namun juga takut.
Raka melihat celah itu. Suaranya melunak. Hampir bergetar. Ia menghampiri putrinya, memeluknya dengan lembut lalu membopongnya.
“Aku janji, Rit. Demi Allah, demi Ciara dan Diki. Begitu kita sampai Jepang, aku bakal kerja apa aja. Aku bakal jadi bapak yang bener. Aku nggak akan sentuh alkohol lagi. Nggak akan selingkuh. Nggak akan nyakitin kamu lagi. Kasih aku kesempatan terakhir buat nebus dosa. Ke kamu, ke Ciara... ke Amira.”
Rita diam. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh satu tetes. Dia benci Raka, benci setengah mati. Tapi dia lebih takut Loretta. Dan lebih takut lagi kalau anak-anaknya akan terkena imbasnya juga.
Di bopongan Raka, Ciara berbisik, “Ibu...?”
Suara kecil itu memecah dua orang dewasa yang hancur di dalam.
Rita menghapus air matanya kasar. Dia menatap Raka, sedikit lama. Ia menemukan sorot mata seorang pria yang putus asa, ada tulus, tapi juga ada takut. Entah mana yang asli.
“Kalau kamu bohong lagi, kalau kamu nyakitin kami lagi...” Suara Rita bergetar. “Aku sumpah, aku sendiri yang akan menghabisi kamu.”
Raka mengangguk, pelan. “Aku ngerti.”
Rita akhirnya melunak, mencoba memberikan lagi sesuatu yang disebut kepercayaan. “Antar Ciara pulang, setelah itu kita bicara. Bukan di sini.”
Raka mengangguk lagi. Kali ini ada lega samar di matanya. Dia berjalan melewati Rita, menuju ke mobilnya. Dari sana, sudah ada Bu Siti yang menatap trenyuh penuh rasa bersalah pada cucu dan juga menantunya.
Rita tetap berdiri. Tangannya dingin. Dia tidak tahu, beberapa puluh meter dari sana, sedan hitam baru saja melewati sekolah. Perlahan. Tanpa mereka sadari.
...🍂🍂🍂bersambung🍂🍂🍂...
sayang banget buat dilewatkan.
yg konsisten donk ah😅
jangan sedih yaa🫣🤣🤣
kita baik,kita cantik kita berhak bahagia
tiap hari... ucapkan lah itu pada diri sendiri 🥹🥹🥹
Dar suami yg bodoh dan plin plan
Dar mertua yg bejad dan jahat.
Thor bantu amira🥹🥹
nah eluuu...suka di celap celup sama berondong juga😅
lebih eneg an mana?
asalh jgn punya kepribadian ganda aja ya.
supaya bisa melupakan kejadian yg menyakitkan itu
sakit buat Amira,tapi lebih sakit buat rita🥹🥹
sayang banget seseru ini yg like cuman dikit..
btw aku aja susah bgt Lo ngasih like
NT kenapa yaaa?
btw lagi ngomongin pinjol
eh iklan yg keluar pinjol🤣🤣🫣
bangun dan semangat
tapi mending tau diawal bukan, seenggaknya bisa berdamai dengan kenyataan 🥹🥹