NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Keinginan untuk melarikan diri biasanya datang lebih cepat daripada keberanian untuk benar-benar melakukannya. Mahesa menatap kain lap di tangannya, merasakan serat katunnya yang kasar bergesekan dengan telapak tangannya yang mendadak lembap. Di hadapannya, Felysha masih berdiri mematung, menanti sebuah pengakuan atau setidaknya sebuah sapaan yang lebih hangat daripada sekadar tatapan kosong seorang barista kepada pelanggannya. Namun, Mahesa justru memilih untuk menunduk, memfokuskan seluruh sisa konsentrasinya pada noda susu yang sebenarnya sudah hilang dari permukaan kayu konter tersebut.

Jemari Mahesa bergerak secara mekanis. Ia melipat kain lap itu menjadi empat bagian yang sempurna, meletakkannya dengan presisi di samping mesin espresso, lalu menarik napas panjang yang ia usahakan tidak terdengar oleh rungu gadis di depannya. Aroma kopi yang dipanggang gelap memenuhi rongga parunya, namun alih-alih menenangkan, aroma itu justru terasa seperti beban yang menghimpit ulu hatinya. Ia bisa merasakan tatapan Felysha yang jernih, menuntut penjelasan atas kebetulan yang tidak masuk akal ini.

Mahesa mengangkat kepalanya perlahan. Ia tidak menatap tepat di mata Felysha. Pandangannya jatuh pada kerah syal wol biru milik gadis itu yang sedikit miring.

"Pesanannya tadi, satu café au lait?" Mahesa membuka suara.

Suaranya tidak lagi rendah dan hangat seperti saat di bawah lampu taman tempo hari. Kali ini, ia menggunakan nada yang datar, kaku, dan sedikit sengau—nada bicara yang biasa ia gunakan saat melayani turis-turis yang tersesat di gang ini. Ia bahkan mengganti aksen Indonesianya dengan intonasi yang lebih formal, seolah-olah ia sedang menjaga jarak aman sejauh ribuan kilometer.

Felysha sedikit tersentak. Ia memajukan posisinya, jemarinya meremas pinggiran tas sketsa yang ia pangku. "Mahesa, ini... ini benar-benar kamu, kan? Pria yang malam itu di taman?"

Mahesa tidak menjawab. Ia berbalik, membelakangi Felysha untuk mengambil sebuah cangkir keramik biru tua dari rak kayu yang berada di atas kepalanya. Ia meletakkan cangkir itu di bawah group head mesin espresso dengan bunyi denting keramik yang tajam. Tangannya meraih portafilter, mengetuk sisa bubuk kopi lama ke dalam wadah pembuangan dengan bunyi tok-tok yang ritmis. Ia sengaja menciptakan kebisingan mekanis untuk menutupi detak jantungnya yang mulai tidak beraturan.

Ia memasukkan bubuk kopi baru ke dalam penggiling. Suara deru mesin penggiling kopi yang kencang segera memenuhi ruangan yang sempit itu, memberikan alasan bagi Mahesa untuk tidak perlu merespons pertanyaan Felysha selama beberapa detik yang berharga. Ia memperhatikan butiran cokelat halus yang jatuh ke dalam wadah logam, aromanya menguar kuat, pahit dan asam secara bersamaan.

Setelah bubuk kopi terkumpul, Mahesa mengambil tamper logam yang berat. Ia menekan bubuk kopi itu dengan tumpuan bahunya, memastikan permukaannya rata dan padat sempurna. Ia melakukan setiap gerakan dengan ketelitian seorang ahli, seolah-olah hidupnya bergantung pada kualitas espresso yang akan ia hasilkan kali ini.

"Mahesa?" Felysha mencoba lagi, kali ini suaranya sedikit lebih tinggi, menembus sisa suara mesin penggiling yang melambat.

Mahesa memasangkan portafilter ke mesin espresso. Ia menekan tombol ekstraksi. Cairan hitam kental mulai mengalir perlahan, menyerupai sirup cokelat tua yang jatuh ke dalam cangkir biru. Ia tidak menoleh saat berbicara.

"Di sini, nama saya hanya nama di kartu identitas karyawan, Mademoiselle," jawab Mahesa dalam bahasa Prancis yang sangat fasih, tanpa cela.

Ia kemudian beralih ke pipa uap. Ia mengambil pitcher logam berisi susu dingin dari kulkas bawah, lalu memposisikan ujung pipa ke dalam susu. Bunyi desisan uap yang melengking segera mendominasi atmosfer kedai. Mahesa memperhatikan pusaran susu di dalam wadah logam itu, membiarkan busanya terbentuk halus selembut beludru. Panas dari uap merambat ke telapak tangannya melalui dinding logam pitcher, memberikan sensasi panas yang menyadarkannya bahwa ia tidak sedang bermimpi.

Felysha terdiam mendengarkan jawaban Mahesa yang menggunakan bahasa Prancis. Ia mengerutkan kening, tampak bingung dengan perubahan sikap pria yang beberapa hari lalu begitu perhatian membantunya menyisir gang-gang gelap.

"Kenapa kamu bicara bahasa Prancis? Kita kan sama-sama dari Jakarta," bisik Felysha, kali ini suaranya terdengar lebih kecewa daripada penasaran.

Mahesa mematikan uap susu. Ia mengetuk wadah logam itu ke meja untuk memecah gelembung udara, lalu mulai menuangkan susu panas itu ke dalam cangkir berisi espresso. Ia menggerakkan pergelangan tangannya dengan lincah, menciptakan pola tulip yang rumit di permukaan kopi. Setelah selesai, ia meletakkan cangkir itu di atas tatakan kayu, lalu mendorongnya perlahan ke arah Felysha.

"Enam Euro," ucap Mahesa, kembali menggunakan bahasa Prancis.

Tepat saat itu, bel di atas pintu berdenting nyaring. Dua orang turis Amerika dengan ransel besar dan kamera yang menggantung di leher masuk ke dalam kedai. Mereka membawa aroma udara dingin dari luar dan suara berisik dari percakapan yang keras. Mahesa seketika menegakkan punggungnya. Senyum profesional yang tampak sangat terlatih segera muncul di wajahnya.

"Good afternoon! Welcome to L'Art du Café. Please, take a seat wherever you like," sapa Mahesa dalam bahasa Inggris dengan aksen yang sangat netral, nyaris menyerupai penduduk lokal yang sudah bertahun-tahun tinggal di Paris.

Kedua turis itu tertawa ramah, memilih meja di tengah ruangan dan mulai menanyakan berbagai jenis biji kopi yang tersedia di rak belakang. Mahesa melayani mereka dengan sangat lincah. Ia menjelaskan perbedaan antara biji kopi Ethiopia dan Sumatra dengan detail teknis yang mengagumkan, sesekali menyelipkan candaan ringan dalam bahasa Inggris yang membuat kedua turis itu merasa nyaman.

Felysha memperhatikan pemandangan itu dari kursinya di depan konter. Ia merasa seperti sedang melihat orang asing. Pria di balik konter itu bukanlah Mahesa yang menemaninya mencari dompet di bawah temaram lampu taman. Pria ini adalah barista profesional yang tampak begitu menyatu dengan kesibukan Paris. Mahesa seolah-olah sedang menunjukkan bahwa ia memiliki banyak wajah, dan wajah yang Felysha temui di malam itu hanyalah salah satu topeng yang kebetulan sedang ia pakai.

Mahesa kembali ke depan Felysha setelah mencatat pesanan kedua turis tadi. Ia mengambil botol air mineral, mulai mengisi gelas-gelas kecil di belakang konter dengan gerakan yang sangat efisien. Ia tidak memberikan ruang bagi Felysha untuk masuk kembali ke dalam percakapan pribadi.

"Mahesa, kamu beneran mau pura-pura nggak kenal aku?" Felysha bertanya dalam bahasa Indonesia, suaranya pelan agar tidak terdengar oleh turis di belakangnya.

Mahesa berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia meletakkan botol air itu di meja bawah. Ia menatap Felysha, namun pandangannya terasa sangat jauh, seolah ada dinding kaca tebal yang memisahkan mereka berdua.

"Di kota ini, orang asing adalah orang asing, Mademoiselle," jawab Mahesa, kali ini kembali ke bahasa Prancis dengan nada yang sangat sopan namun dingin. "Saya hanya menjalankan tugas saya untuk membuatkan kopi yang enak bagi setiap pelanggan yang datang. Silakan nikmati kopi Anda sebelum mendingin."

Ia kemudian berpaling, mulai menyiapkan pesanan turis tadi. Bunyi denting sendok, desisan uap, dan percakapan dalam bahasa Inggris memenuhi ruangan, menciptakan kebisingan yang mengisolasi Felysha di sudut konter. Felysha meraih cangkir kopinya, merasakan panas keramik di telapak tangannya. Ia menyesap kopi itu sedikit. Rasanya memang luar biasa enak—pahit yang pas dengan sentuhan manis alami dari susu yang dipanaskan dengan benar. Namun, kopi itu tidak mampu menghangatkan rasa dingin yang mulai merayap di dadanya.

Felysha memperhatikan bagaimana Mahesa bergerak di balik konter. Setiap gerakan tangannya, cara ia memiringkan kepala saat mendengarkan pesanan, hingga cara ia menyeka keringat tipis di keningnya—semuanya terlihat sangat teratur. Ia mulai meragukan ingatannya sendiri. Apakah benar pria ini yang memberinya saputangan putih tempo hari? Ataukah ia hanya sangat mirip dengan seseorang yang ia harapkan bisa ia temui lagi?

"Is there anything else, Mademoiselle?" Mahesa bertanya tiba-tiba, menatap Felysha karena gadis itu terus memandanginya.

Felysha menggeleng pelan. Ia meraba tas sketsanya, mengambil koin Euro dan meletakkannya di atas meja konter. Ia tidak menunggu kembalian. Ia meraih tasnya, menyampirkannya ke bahu, dan berdiri dari kursi tinggi tersebut.

"Terima kasih buat kopinya, Barista," ucap Felysha dalam bahasa Prancis, memberikan penekanan pada kata 'Barista' seolah-olah sedang menerima tantangan dari tembok yang dibangun Mahesa.

Mahesa hanya memberikan anggukan kecil yang sangat formal. Ia tidak menatap Felysha saat gadis itu berjalan menuju pintu. Bel di atas pintu berdenting kembali saat Felysha keluar, membawa kembali kesunyian di antara Mahesa dan sisa-sisa aroma kopi yang mulai mendingin.

Begitu pintu tertutup, Mahesa melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan sekuat tenaga. Bahunya merosot seketika. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas konter kayu, menunduk hingga helaian rambutnya menutupi matanya. Ia merasakan tangannya yang tadi memegang portafilter kini bergetar hebat.

Ia melirik ke arah cangkir kosong yang ditinggalkan Felysha. Ada bekas samar bibir gadis itu di tepian keramik biru. Mahesa segera mengambil cangkir itu, membawanya ke wastafel belakang tirai, dan membasuhnya dengan air mengalir berkali-kali seolah-olah ia sedang mencoba menghapus jejak kehadiran Felysha dari sana.

"Kenapa dia harus datang ke sini?" bisiknya dalam bahasa Indonesia, suaranya pecah di tengah bunyi air yang mengucur deras.

Mahesa mematikan keran air. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang basah. Ia tahu penyamarannya sore ini sangat tipis. Ia tahu Felysha tidak sebodoh itu untuk percaya pada aksen Prancisnya yang dipaksakan kaku. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Di dunia yang ia jalani bersama Pierre, identitas adalah aset yang paling berbahaya jika terbongkar. Dan Felysha Anindhita adalah ancaman paling cantik yang pernah ia temui di Paris—seorang gadis yang membawa kembali nuraninya yang seharusnya sudah lama ia matikan.

Ia kembali ke depan konter saat salah satu turis memanggilnya untuk menambah pesanan kue. Mahesa kembali memakai topengnya. Ia kembali tersenyum. Ia kembali menjadi barista Paris yang ramah. Namun di dalam saku celananya, tangannya meremas saputangan putih yang tadi dikembalikan Felysha—kain yang kini terasa jauh lebih berat daripada seluruh peralatan mesin kopi di kedai ini.

Kesunyian sore itu perlahan mulai memudar saat lebih banyak orang masuk ke kedai, namun bagi Mahesa, gema suara Felysha yang memanggil namanya masih terus berputar di kepalanya, menuntut sebuah jawaban yang ia sendiri tidak tahu apakah ia sanggup memberikannya. Di tengah hiruk-pikuk kedai kopi di ujung gang ini, Mahesa menyadari satu hal: ia baru saja memulai sebuah permainan peran yang mungkin akan menghancurkan dirinya sendiri jauh sebelum musim gugur berakhir.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!