Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Kantor Polisi
Beberapa saat setelah proses tilang selesai, situasi tidak berhenti sampai di situ. Ge masih berdiri santai di samping mobil, tapi wajah polisi di depannya sudah berubah serius.
“Kamu ikut kami,” kata salah satu polisi tegas.
Ge mengangkat alis. “Hah? Tilang doang kan, Pak?”
Polisi itu menggeleng. “Kamu di bawah umur. Mengemudi ugal-ugalan. Melawan petugas. Ini bukan pelanggaran ringan.”
Senyum Ge langsung memudar. “…Serius, Pak?” tanyanya.
“Masuk mobil!” perintah polisi.
Ge melirik ke arah rumah Johan sekali lagi. Kevin masih di sana, bahkan sempat melambaikan tangan dengan senyum mengejek.
Ge mendecak pelan. “Sial banget…”
Beberapa waktu kemudian, Ge sudah duduk di dalam kantor polisi. Suasananya dingin dan kaku. Sangat berbeda dengan kehidupannya yang santai selama ini. Dia duduk di bangku besi, tangan di lutut, menatap lurus ke depan.
“Gara-gara gorengan…” gumamnya pelan.
Seorang polisi lewat, meliriknya. “Masih bisa bercanda ya kamu.”
Ge nyengir tipis. “Kalau nggak bercanda, nangis saya, Pak.”
Tak lama, pintu sel kecil itu dibuka. “Masuk.”
Ge berdiri. “Wah, upgrade tempat ya…”
“Cepat!” bentak polisi.
Ge akhirnya masuk ke dalam sel. Pintu besi langsung ditutup.
KLEK!
Suara itu menggema. Ge menatap sekeliling. Ruang sempit. Dinding dingin. Tidak nyaman sama sekali. Dia menghela napas panjang. Lalu duduk di lantai.
“Anjir… hidup gue cepet banget berubah,” katanya pelan. “Dari kasur empuk ke lantai dingin dalam semalam.”
Dia menyandarkan kepala ke dinding. Beberapa detik diam.
“Bapak…” gumamnya. “Lu kalau gue keluar, gue sumpahin makan gorengan lima kilo…”
Di sisi lain, langkah kaki tergesa terdengar di koridor kantor polisi. Arif berjalan cepat, wajahnya serius. Di belakangnya, Zara ikut menyusul dengan wajah cemas.
“Di mana dia?” tanya Zara.
Arif menoleh ke petugas. “Anak yang ditahan tadi, Ge. Saya wali hukumnya.”
Petugas itu mengangguk. “Sebentar.”
Zara tidak bisa diam. “Ya ampun… ini anak kenapa sih…”
Beberapa detik kemudian, petugas membuka pintu sel. “Keluar,” katanya.
Ge yang sedang duduk langsung menoleh. “Wah… VIP visit?”
Dia berdiri. Begitu keluar, matanya langsung menangkap dua sosok.
“Om Arif… Zara…”
Zara langsung melangkah cepat mendekat. Wajahnya jelas campuran antara lega dan kesal.
“Lu gila ya?!” katanya langsung.
Ge menggaruk kepala. “Hehe… dikit.”
“DIKIT KATANYA?!” Zara hampir meledak. “Lu ngebut, kabur dari polisi, terus masuk ke rumah orang sembarangan?!”
Ge mengangkat tangan. “Semua itu ada plot twist-nya, sumpah.”
Zara menatapnya tajam. “Lu bisa kenapa-kenapa tau nggak?!”
Ge terdiam sebentar. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung bercanda.
“…Maaf,” katanya pelan.
Zara sedikit kaget mendengar itu. Arif yang sejak tadi diam langsung bicara dengan petugas. Suaranya tenang tapi tegas. Beberapa dokumen ditunjukkan. Nada bicara profesional. Setelah beberapa menit diskusi, petugas akhirnya mengangguk.
“Baik. Untuk kali ini, kami lepaskan dengan peringatan,” katanya.
Ge langsung nyengir. “Mantap, Om. Koneksi kuat.”
Arif melirik tajam. “Ini bukan hal yang bisa kamu banggakan.”
Ge langsung diam. Beberapa saat kemudian, semuanya selesai. Ge resmi keluar.
Begitu benar-benar bebas dari area sel, Zara yang sejak tadi berdiri di dekatnya tiba-tiba melangkah maju. Tanpa aba-aba dia memeluk Ge.
Ge langsung kaku. “…Hah?” katanya refleks.
Zara memeluknya cukup erat. Napasnya sedikit cepat. “Lu bikin panik tau nggak…” ujarnya pelan.
Beberapa detik Ge tidak bergerak. Tangannya menggantung canggung di udara.
“Eh… ini… kita lagi di kantor polisi loh…” bisiknya pelan.
Zara langsung tersadar. Dia buru-buru melepaskan pelukan itu. Wajahnya langsung memerah.
“Astaga!” katanya cepat. “Refleks!”
Ge masih berdiri kaku. Otaknya seperti lag.
“Oh… iya… refleks…” ulangnya pelan.
Suasana tiba-tiba jadi canggung. Arif yang melihat itu hanya menghela napas kecil, tapi tidak berkomentar.
Ge menggaruk pipinya. “Lu tadi… panik banget ya?”
Zara memalingkan wajah. “Nggak juga.”
“Peluk segala…” tambah Ge, nyengir sedikit.
Zara langsung menoleh tajam. “LU JANGAN GEER!”
Ge langsung ketawa kecil. “Oke, oke…”
Tapi senyum itu beda. Lebih lembut. Beberapa detik mereka saling diam.
Arif akhirnya menyela, “Kita pulang.”
Ge langsung angkat tangan. “Siap, bos.”
Zara masih belum sepenuhnya tenang. Dia melirik Ge sebentar. Cowok itu masih terlihat santai seperti biasa. Tapi entah kenapa sekarang terasa berbeda.
Sementara Ge sendiri, berjalan santai di samping mereka. Tapi dalam hati dia berucap, 'Anjir… Tadi dia meluk gue… Dari wajahnya sih cemas banget...'
Dia menatap ke depan, berusaha tetap biasa saja. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.