Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN ROMANTIS
"Jangan pergi Dante. A-ku mencintaimu," isak Mikha di punggung Dante. Memeluk erat pinggang laki-laki bertubuh atletis itu.
Tidak salah lagi, laki-laki itu adalah Dante. Mikha sudah sangat mengenal parfum yang selalu di pakai Dante. Aroma maskulin sandalwood dan citrus yang sudah sangat Mikhaela sukai.
"Jangan pulang dulu ke London.. Tunggu beberapa hari lagi seperti rencana mu. A-ku membutuhkan mu Dante", ucap Mikhaela dengan suara bergetar lirih.
"Semalam bukan aku menolak mu, aku hanya ingin sendiri dulu sambil berpikir. Tidak ada yang berubah. Tentang perasaan yang aku rasakan pada mu", ucap Mikhaela penuh perasaan.
Dante bisa merasakan pelukan tangan Mikha semakin kuat.
"Tadi aku ke makam Dion, memberitahu dia bahwa kini aku telah memiliki kamu. Dan bahagiaku itu kamu, Dante. Tolong jangan tinggalkan aku dulu", bisik Mikhaela.
Dante tertegun, perlahan berbalik dan menatap mata Mikha yang masih basah. Kecewa di wajahnya perlahan luntur melihat kesungguhan di mata wanita itu.
Namun sorot mata Dante masih menyisakan keraguan, tangannya masih memegang paspor erat-erat. "Mikha, aku tidak ingin menjadi pelarian atas rasa bersalah mu pada Dion. Sebaiknya kita berpisah dulu untuk sementara waktu!". ucapnya lirih, mencoba melepaskan pelukan Mikha.
Tepat saat Dante melangkah mundur untuk masuk ke area pemeriksaan, seorang petugas bandara yang sedang terburu-buru mendorong troli barang besar tidak sengaja menabrak Dante dari samping. Dante kehilangan keseimbangan, jatuh tersungkur, dan tas kecilnya terlempar hingga isinya berhamburan di lantai keramik bandara.
Mikha memekik kaget dan segera berlutut membantu Dante. Di antara tumpukan kertas dan barang yang berserakan, mata Mikha tertuju pada sebuah kotak beludru kecil berwarna merah yang terbuka. Di dalamnya, sebuah cincin berlian berkilau indah.
Dante tampak sangat malu. Ia segera meraih kotak itu, namun Mikha lebih dulu menyentuhnya.
"Dante... ini?" suara Mikha bergetar.
Dante menghela napas pasrah, luka lecet di tangannya tak ia hiraukan. Terdengar hembusan nafasnya. "Tadinya di hadapan Dion, aku ingin melamar mu di makam tadi. Sebagai tanda aku akan menjagamu menggantikannya. Tapi melihatmu dari kejauhan menangisinya begitu hebat, aku merasa aku tidak akan pernah bisa menang dari bayang-bayang Dion. Itu sebabnya aku memilih pergi. Sampai kau bisa bayang-bayang itu Mikhaela".
Suasana bandara yang bising seolah mendadak senyap. Mikha menggenggam tangan Dante yang lecet, lalu menatapnya dalam-dalam. "Jangan menang melawan bayangan, Dante. Menang lah bersamaku di dunia nyata. Karena aku sudah memiliki jawabannya".
Mikhaela menatap Dante dengan tatapan penuh cinta.
Dante terdiam sejenak. Meresapi setiap kata yang keluar dari bibir ranum Mikhaela. Laki-laki itu melepas kacamata hitam yang sejak tadi ia kenakan. Menatap lekat mata Mikhaela yang berkaca-kaca namun penuh keyakinan.
Perlahan Dante mengambil kotak beludru itu dari tangan Mikha. Di tengah kebisingan Bandara Soekarno-Hatta, di antara pengumuman keberangkatan dan langkah terburu-buru para calon penumpang, waktu seolah berhenti bagi mereka berdua.
Dante berlutut dengan satu kaki, mengabaikan rasa perih di tangannya yang lecet akibat insiden kecil tadi. Ia meraih jemari Mikha yang masih gemetar.
"Mikhaela," ucap Dante dengan suara berat namun lembut. "Aku tidak menjanjikan hidup yang sempurna tanpa bayang-bayang masa lalu. Tapi aku berjanji akan menjadi masa depan yang selalu menggenggam tanganmu, dalam duka maupun suka. Menikah lah dengan ku.."
Mendengar itu spontan tangan Mikha menutup mulutnya yang terbuka. Seraya menganggukkan kepalanya.
Dengan perlahan, Dante menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Mikha. Pas. Ternyata ukurannya sesuai dengan jari Mikhaela.
Mikha menitihkan airmata. Tapi kali ini bukan air mata karena sedih, melainkan karena rasa syukur karena bahagia.
"Aku mencintaimu, Dante. Jangan pernah pergi diam-diam begini. Kalau kau mau pergi dari jauh-jauh hari harus bilang dulu sama aku," bisik Mikha sambil menghambur ke pelukan pria itu. Membenamkan wajahnya di dada laki-laki itu.
Dante membalas pelukan itu dengan erat. Ia memutuskan untuk tidak masuk ke pintu keberangkatan. Tiket menuju London itu ia biarkan terselip di saku, menjadi saksi bisu bahwa cinta barunya telah menang atas keraguan.
Dante menggenggam erat jemari Mikhaela, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Ia membatalkan perjalanannya ke London saat itu juga. Sambil merangkul bahu Mikha, mereka berjalan perlahan meninggalkan hiruk-pikuk terminal keberangkatan menuju pintu keluar.
Sinar matahari sore menyambut mereka di pelataran bandara, memberikan kehangatan yang seolah memberkati awal baru hubungan mereka. Mikha menatap cincin berlian yang melingkar di jarinya, sesekali menyeka sisa air mata yang kini berubah menjadi binar kebahagiaan.
"Kita pulang?" tanya Dante lembut sambil membukakan pintu mobil untuk Mikha.
Mikha mengangguk pasti.
Di dalam mobil, suasana terasa begitu damai. Mikha menyandarkan kepalanya di bahu Dante, sementara Dante sesekali mengecup keningnya saat lampu merah.
Beban berat yang selama ini menghimpit dada Mikha karena kebohongan Tio dan Nania telah luruh sepenuhnya. Begitu pula salah paham dengan Dante telah selesai dengan baik, bahkan berakhir dengan lamaran romantis yang di berikan Dante padanya. Mikha tahu Dion di sana pasti tersenyum melihatnya menemukan pelabuhan yang tepat untuknya dan Revan putra mereka.
Mobil yang di kendarai Dante melaju menjauhi bandara, membawa mereka menuju masa depan yang lebih cerah, meninggalkan semua duka dan kesalahpahaman di belakang.
Sementara Rahmat di perintah Dante untuk membawa mobil Mikhaela.
"Jadi kapan kita menikah, hem?". Suara bariton Dante menguak kesunyian di dalam mobil. Sementara Mikha sejak keluar bandara tak henti menatap cincin berlian di balut emas putih yang melingkar di jari manisnya.
Mikha mendongakkan wajahnya. Sementara jari lentik tangannya memainkan kancing kemeja putih yang membalut tubuh Dante. "Menurut mu sebaiknya kapan? Aku siap kapanpun, Dante. Tapi bukankah kita harus meminta restu keluarga dulu?".
"Tidak ada masalah dengan keluarga ku. Mereka menerima semua keputusan ku. Apalagi aku hanya memiliki daddy saja. Ia pun sudah memiliki keluarga lain sejak mommy meninggal".
"Bagaimana dengan wanita lain. Hem... mungkin kekasih mu di London, atau di manapun yang aku tidak tahu", seloroh Mikhaela sambil mencubit pinggang kekasihnya itu. Sengaja ia lakukan sambil tertawa terbahak.
"Jangan menggodaku sayang. Atau kamu akan menerima hukuman ku. Sejak semalam kau membuatku susah. Sudah selayaknya kamu aku hukum", seru Dante menggenggam tangan Mikhaela.
Mikhaela melihat ke luar. "Kenapa ke sini, tidak langsung mengantar ku pulang?".
"Ada yang harus aku urus dulu di kamar ku. Setelah itu aku mengantar mu pulang", jawab Dante mengusap tengkuknya.
Mobil yang di kendarainya parkir di carport khusus di hotel Emerald. Dante mengulurkan tangannya pada Mikha. Keduanya bergenggaman tangan ketika memasuki lobby, menuju lift khusus menuju lantai atas.
...***...
To be continue
Kalian mau lanjutan kek apa nih, yang romantis dulu atau lanjut ke hukuman Tio Nania??
Komen ya