NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Malam merambat semakin larut di area proyek. Abraham yang kelelahan langsung masuk ke mess setelah menuntaskan pekerjaan di tower setinggi 42 meter tadi sore.

Tulangnya terasa pegal, dan matanya sudah sangat berat.

Tanpa menyalakan lampu utama—hanya lampu tidur yang temaram—ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa mengganti seragam teknisinya.

Ia begitu merindukan Prita, namun rasa kantuk yang hebat segera menyeretnya ke alam bawah sadar.

Di tengah keheningan mess yang gelap, sebuah bayangan menyelinap masuk. Diana, dengan langkah yang sangat pelan dan terencana, membuka pintu kamar yang tidak terkunci rapat.

Ia menatap Abraham yang tertidur pulas dengan kebencian dan ambisi yang bercampur aduk.

Tanpa suara, Diana masuk dan naik ke atas tempat tidur, lalu perlahan menarik selimut.

Ia memposisikan dirinya di samping Abraham, memeluk lengan kekar laki-laki itu seolah-olah ia adalah sang istri yang sah.

Kemudian ia menutup pintunya, Ham yang kelelahan tidak menyadarinya sama sekali.

Dalam tidurnya yang dalam, ia hanya merasakan kehangatan yang ia kira adalah bantal atau sisa aroma Prita yang masih tertinggal di sprei.

Jam empat pagi, suasana mess masih sangat sunyi. Namun, sebuah taksi berhenti di depan gerbang.

Prita sudah sampai di depan mess dengan mata yang berbinar bahagia meski tubuhnya letih setelah perjalanan bus malam.

Ia menjinjing kantong plastik berisi daster batik dan oleh-oleh untuk suaminya.

"Mas Ham, aku pulang!" bisik Prita dengan riang di depan pintu.

Ia ingin memberikan kejutan terbaik subuh ini.

Prita membuka pintu, Namun, pemandangan yang menyambutnya di bawah lampu remang-remang itu seperti petir yang menyambar di pagi buta.

Prita membuka pintu dan terdiam melihat suaminya dan Diana berpelukan erat di bawah selimut yang sama.

Kantong belanjaan di tangannya jatuh ke lantai. Dadanya sesak, jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Mas!!" jerit Prita dengan suara yang pecah oleh tangis.

Ham membuka matanya dengan sentakan hebat. Ia kebingungan, kepalanya masih berat. Namun, saat ia menoleh ke samping, ia terkejut melihat Diana ada di pelukannya dengan pakaian yang berantakan.

"Prita?! Ini, tidak seperti yang kamu lihat! Prita!" teriak Abraham panik, segera mendorong Diana menjauh hingga wanita itu terjatuh dari ranjang.

Prita menatap suaminya dengan tatapan yang hancur.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Ia melihat jam di dinding, lalu menatap Abraham dengan tawa miris yang menyakitkan.

"Ini yang kamu katakan tidak bisa cuti?" tanya Prita dengan suara bergetar.

"Demi ini kamu menyuruhku ke Jogja sendirian? Supaya kamu bisa membawa wanita ini ke tempat tidur kita?"

Dengan tangan yang gemetar hebat, Prita menaruh sisa uang tiga juta yang diberikan Abraham kemarin dan tas berisi oleh-oleh untuk suaminya di atas meja makan kecil tempat mereka biasanya makan rawon bersama.

"Maaf, seharusnya aku sadar diri," ucap Prita pendek. Kalimat itu terdengar seperti vonis mati bagi Abraham.

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Prita langsung keluar dari mess, berlari menembus kabut subuh yang dingin.

Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah, ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pengkhianatan yang paling menjijikkan ini.

Darah Abraham mendidih. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya berganti dengan amarah yang meledak-ledak.

Ia melihat Diana yang masih duduk di tepi ranjang dengan senyum sinis yang seolah mengejek kehancuran rumah tangganya.

Tanpa pikir panjang, Abraham menerjang. Ia mencengkeram kerah baju Diana dan menyudutkannya ke dinding.

Tangannya yang kasar, yang biasa memanjat tower tinggi, kini melingkar di leher wanita itu.

Ham kembali ke mess dan mencekik Diana dengan tatapan mata yang gelap.

"Keluar! Apa yang kau lakukan di sini, iblis?!" bentak Abraham parau.

"Kamu menghancurkan hidupku!"

Diana terbatuk, wajahnya memerah karena sulit bernapas, namun matanya tetap memancarkan kepuasan.

Keributan itu memecah kesunyian subuh di mess. Deddy yang terbangun karena teriakan Prita tadi, langsung mendobrak pintu kamar yang terbuka setengah.

"Bram! Lepaskan! Kamu bisa masuk penjara, Bram!" teriak Deddy melerai dengan sekuat tenaga, menarik tubuh kekar Abraham agar menjauh dari Diana.

Abraham terengah-engah, tubuhnya bergetar hebat.

Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar—tempat Prita baru saja pergi.

"Prita, Ded. Prita salah paham! Dia melihat wanita ini di kasurku!" suara Abraham pecah, nyaris menangis karena frustrasi.

Deddy melihat tas oleh-oleh dan sisa uang yang tergeletak di meja, lalu melihat Diana yang sedang merapikan pakaiannya dengan wajah tanpa dosa.

Deddy segera paham bahwa ini adalah jebakan yang sangat rapi.

"Jemput istrimu dan biarkan aku yang mengantar wanita ini," ucap Deddy tegas sambil menunjuk ke arah jalan raya.

"Cepat, Bram! Dia sedang hamil, jangan biarkan dia pergi dalam keadaan kalut seperti itu. Kejar sebelum dia makin jauh!"

Abraham tersentak sadar. Tanpa sempat memakai sepatu dengan benar, ia menyambar kunci motornya dan berlari keluar.

Sementara itu, di jalan raya yang masih remang, Prita berlari dan naik ke angkutan umum yang kebetulan lewat

Ia duduk di pojok paling belakang, memeluk tasnya erat-erat sambil terisak hebat.

Dadanya terasa sesak, bayangan Abraham memeluk Diana terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

"Kenapa, Mas. Kenapa harus saat ada anak ini di perutku?" bisik Prita lirih, air matanya membasahi daster batik baru yang sebenarnya ingin ia tunjukkan sebagai kejutan untuk suaminya.

Di tengah isak tangis yang menyesakkan dada, Prita turun dari angkutan umum di pusat Kota Malang.

Ia tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya karena ia tahu papanya hanya akan berkata,

"Sudah Papa bilang, jangan menikah dengannya." Dengan sisa tenaga dan pikiran yang kacau, Prita memutuskan untuk menyewa kamar kos di Kota Malang, sebuah kamar kecil yang tersembunyi agar tidak ada yang bisa menemukannya, termasuk Abraham.

Langkah pertamanya setelah mengunci pintu kamar kos adalah merogoh tasnya.

Dengan tangan bergetar, ia mematikan ponselnya.

Prita ingin memutus semua sinyal, semua suara, dan semua kenangan tentang mess dan pengkhianatan subuh tadi.

Ia meringkuk di atas kasur lantai yang dingin, memeluk perutnya sendiri sambil berbisik maaf pada janin yang belum tahu apa-apa itu.

Sementara itu, di jalanan Malang yang mulai ramai, Abraham memacu motornya seperti orang kesetanan.

Ia mendatangi terminal, stasiun, hingga pangkalan angkutan umum, namun sosok Prita tak kunjung terlihat.

Frustrasi dan ketakutan mulai menggerogoti kewarasannya.

Dalam kepanikan yang memuncak, Ham menghubungi Prames, kakak Prita.

Ia berharap istrinya itu lari ke tempat sang kakak.

"Halo, Mbak Prames. Prita ada di sana? Tolong, Mbak. Prita salah paham, ada fitnah besar di mess," suara Abraham parau, nyaris menangis di pinggir jalan.

Namun, Prames yang mendengar suara panik adik iparnya justru merasa ada yang tidak beres.

Alih-alih membantu Abraham, Prames memberitahukan kejadian ini kepada Papa Baskoro, ayah mereka yang sejak awal memang tidak pernah merestui hubungan adiknya dengan pria yang dianggapnya tidak mapan dan bermasalah itu.

Di kediamannya yang megah, Papa Baskoro yang sedang menyesap kopi pagi langsung meletakkan cangkirnya dengan kasar hingga isinya tumpah ke meja.

"Apa kamu bilang, Prames? Laki-laki itu berani menyakiti Prita lagi sampai dia kabur?" suara Papa Baskoro menggelegar, penuh amarah yang tertahan selama bertahun-tahun.

"Iya, Pa. Abraham menelepon sambil menangis mencari Prita. Sepertinya ada masalah besar dengan wanita lain," lapor Prames dengan wajah cemas.

Papa Baskoro berdiri, rahangnya mengeras. Ambisinya untuk memisahkan Prita dari Abraham kini menemukan alasan yang paling sah.

"Cari Prita sampai ketemu! Dan beri tahu laki-laki itu, jika sampai seujung rambut Prita terluka karena ulahnya, dia tidak akan pernah melihat wajah istrinya lagi seumur hidup!"

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!