"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
[Weekend]
Kaisar masih berbaring di kamarnya setelah bangun tidur. Merasa malas sekaligus masih merasa sedikit sakit pada bagian luka di wajah yang belum sepenuhnya sembuh.
Meski sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, tetapi luka memar di wajah tidak benar-benar hilang dalam waktu yang singkat. Namun, setidaknya wajah tampan Kaisar perlahan kembali hampir seratus persen.
Tring!
Ponselnya berbunyi, tanda pesan baru untuknya.
Dengan malas Kaisar meraih ponselnya itu, membaca pesan baru yang ternyata dari Nana.
[Sayang, hari ini mau jalan ke mana?]
Membaca pesan dari kekasih yang selalu membuatnya merasa bersemangat, kini tidak terasa lagi. Entah mengapa, pesan dari Nana seolah tidak membangkitkan gairahnya untuk segera pergi membawa gadis itu ke tempat yang indah.
Kaisar mengabaikan pesan dari Nana tanpa berniat membalas. Ia benar-benar tak ingin pergi hari ini setelah ajakannya saat itu ditolak oleh Raline.
Terlebih, hari ini ia tahu bahwa Raline akan pergi bersama Faiz. Hatinya semakin tak tenang, membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan di luar nanti.
"Shit!" umpatnya sembari bangkit dan duduk.
"Kenapa gue jadi kayak gini sih? Yang Raline bilang kan bener. Kenapa gue jadi kayak cemburu karena dia mau jalan sa Faiz? Dia juga berhak punya hubungan sama cowok lain, tapi kenapa gue ngerasa cemburu?"
Kaisar mengacak rambutnya sendiri, ia tampak frustasi karena memikirkan hubungan Raline dan Faiz. Rasa tak rela akan hubungan keduanya kembali menyeruak. Ia tak tahu mengapa perasannya jadi seperti ini.
Kaisar berdiri lalu berjalan mondar-mandir, terlihat tengah berpikir. Seolah-olah sesuatu yang ia pikirkan adalah masalah yang besar, sehingga harus memikirkan jalan keluarnya dengan keras.
"Gak bisa!" ucapnya tegas. "Gue gak bisa cuma diem di sini sambil mikirin Raline sama Faiz. Gue harus tau mereka jadi pergi apa nggak. Raline berpenampilan manis atau nggak. Mereka mau ke mana dan ngapain aja. Gue harus ta..."
"Argh, Shit!!!"
Kaisar kembali mengumpat, merasa dirinya benar-benar gila karena ingin tahu semua tentang mereka, padahal selama ini Raline juga tak pernah ikut campur dalam urusannya dengan Nana.
"Kenapa, kenapa, kenapa?!"
Ia berteriak sendiri dengan tangan memukuli kepalanya, seolah berusaha menyingkirkan segala hal tentang mereka.
Di saat ia hampir gila karena memikirkan Raline dan Faiz, tiba-tiba saja ponselnya berdering. membuat Kaisar melirik ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon dirinya.
"Mama?" gumamnya saat membaca nama kontak ibunya di layar ponsel.
Tanpa menunggu lama, ia mengambil ponsel itu dan menerima panggilan dari sang ibu, yang selalu marah jika telepon darinya diabaikan.
"Ya, Ma?" ucap Kaisar, nada suaranya dibuat senormal mungkin meski dalam hati ia tengah menggerutu.
"Kai, kamu di rumah?" tanya Bu Esta.
"Iya, emangnya kenapa, Ma?"
"Sore ini Om Leon dan Tante Selly akan datang dan menginap di rumah kita, mereka menanyakan kamu dan ingin ketemu kamu setelah tiga tahun mereka di Inggris. Katanya kangen ponakan kesayangan mereka."
"Jadi, malam ini kamu harus menginap di sini. Biar kamu bisa temani mereka makan malam dan ngobrol-ngobrol," lanjutnya. "Sekaligus kamu bisa belajar dari Om Leon tentang bagaimana menjalani peran sebagai penerus Papa kamu di perusahaan nanti."
Kaisar membuang napas kasar mendengar penjelasan ibunya. Ada rasa malas untuk pulang karena ia akan dituntut untuk menjadi seseorang yang tegas dan tenang di hadapan adik dari ibunya itu.
Watak Om Leon persis Bu Esta, yang selalu menuntut Kaisar menjadi orang yang sempurna dalam hal-hal penting, termasuk sebagai calon pemimpin masa depan di perusahaan keluarga mereka.
Kaisar selalu merasa keberatan karena itu tidak membuatnya bebas. Namun, saat ini ia hanya bisa menuruti tuntutan ibunya karena sadar betul ia tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan.
"Kai, kamu masih di sana?" suara Bu Esta kembali terdengar, menunggu jawaban dari putranya.
Kaisar tersadar dari lamunan singkat. "Eh, iya, iya, Ma. Aku masih di sini kok," jawabnya sedikit gugup.
"Jadi bagaimana, kamu mau akan pulang malam ini, kan?"
"Iya, aku pasti pulang kok," jawab Kaisar mantap.
"Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya. Mama mau siapkan kamar untuk mereka."
"Iya, Ma."
Panggilan diakhiri. Kaisar melemparkan ponselnya ke kasur.
"Gak penting banget."
Ia berbalik dan keluar dari kamar. Ia sempat berdiri mematung di ujung tangga, menatap ke arah pintu kamar Raline seolah menunggu gadis itu keluar dari kamarnya dengan penampilan yang manis untuk bertemu Faiz, sebelum akhirnya ia turun ke lantai satu.
Saat Kaisar akan pergi ke dapur untuk berpura-pura mengambil minum, tiba-tiba saja pintu kamar Raline terbuka, sehingga membuat Kaisar menghentikan langkahnya tepat saat gadis itu keluar.
Di luar dugaan, Raline yang ia bayangkan akan berpenampilan manis hari ini justru berpenampilan simple seperti biasa, seperti tak akan pergi kemana pun.
Kaisar tertegun melihat Raline. Bukankah seharusnya gadis itu pergi dengan Faiz sekarang?
"Lin, lo kok..."
Raline menoleh. "Kenapa?" tanyanya datar.
"Bukannya hari ini lo mau jalan sama Faiz?" tanya Kaisar. "Kenapa belum siap-siap?"
"Umm..."
Raline menggaruk tengkuknya, terlihat berusaha mencari alasan.
"Gak jadi pergi," jawabnya. "Gue batalin karena tiba-tiba males pergi. Faiz juga katanya ada rencana lain hari ini."
"Ha?"
Kaisar malah terlihat heran. Ia berpikir logis, tak mungkin tiba-tiba janji mereka dibatalkan mendadak hanya karena rasa malas atau urusan lain, padahal sudah janjian sebelumnya untuk pergi bersama.
"Udahlah, gak penting juga," ucap Raline sembari berlalu pergi ke dapur.
Kaisar buru-buru menyusul. dalam hatinya ada sedikit rasa lega dan senang karena Raline tak jadi pergi dengan sahabatnya.
Ia mendekati Raline yang berdiri dan depan kulkas hendak membuka pintunya.
"Kalo lo gak jadi pergi sama Faiz, artinya hari ini lo bisa pergi sama gue, kan?"
Raline berdiri mematung, tangannya yang sudah meraih pintu kulkas diturunkan perlahan.
"Emangnya lo gak pergi sama Nana?" Raline balik bertanya.
Kaisar menggeleng. "Nggak. Gue gak mood. Gue lagi pengen ganti cewek buat diajak jalan," jawabnya setengah bercanda.
Raline mengulum senyum tanpa Kaisar tahu. Ternyata pemuda itu serius mengajaknya pergi, bukan hanya keisengan semata.
"Tapi nanti traktir gue makan yang enak-enak," ucap Raline, terdengar menawar meski nada bicaranya tetap datar. "Gue lagi pengen makan yang enak, biar anak gue sehat."
Kaisar tersenyum dan mengangguk. "SIAP! Apapun yang mau lo makan hari ini, bakal gue turutin. Yang penting kalian sehat dan happy."
Sudut bibir Raline terangkat, membentuk senyum yang manis. Hatinya senang. Seakan-akan hari ini ia akan pergi berkencan dengan kekasihnya.
"Gimana kalo kita pergi sekarang aja? Sekalian, kita sarapan di luar," ujar Kaisar kemudian.
Raline tidak menjawab, ia hanya mengangguk tanda setuju.
Kaisar ingin bersorak gembira, tapi menahannya karena itu bisa membuatnya malu setengah mati jika Raline tahu.
Setelah tahu Raline bersedia pergi bersamanya, Kaisar cepat-cepat kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Begitu juga dengan Raline, ia juga ke kamarnya untuk bersiap.
Dua remaja yang disatukan oleh pernikahan paksa itu tiba-tiba jadi saling menginginkan dekat dengan suatu sama lain lebih dari biasanya.
Mungkinkah benih cinta sudah tumbuh di hati mereka?
*****
😌
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya