Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk ke Mulut Neraka
Waktu terasa berhenti. Di bawah tekanan maut itu, mata Zian menyipit tajam.
Nalurinya sebagai pewaris Asura mengambil alih. Jika dia menahan serangan itu dari bawah, tulang punggungnya pasti akan remuk menjadi debu. Dia harus merusak pijakan monster itu.
"Langkah Gempa," bisik Zian pelan.
BUM!
Zian menghentakkan kaki kanannya ke lantai batu dengan seluruh sisa tenaga fisiknya. Getaran sonik yang luar biasa dahsyat meledak dari telapak sepatunya, merambat lurus ke dalam tanah dan menghancurkan fondasi ruangan.
Lantai markas itu runtuh amblas seketika.
Titik berat gravitasi Beruang Zirah Purba itu langsung kacau balau. Tubuh raksasanya miring ke kanan saat mendarat karena lantai di bawahnya hancur. Cakarnya meleset setengah meter dari kepala Zian, hanya menghantam tanah kosong hingga meledak.
Zian tidak menyia-nyiakan celah kurang dari satu detik itu.
"Tidur yang nyenyak, Beruang Besar," ucap Zian dingin.
Dia memutar pinggangnya, mengabaikan rasa sakit dari rusuk kirinya yang patah. Lengan kanannya yang sekeras baja melesat lurus, menghantam tepat di pelipis monster yang sedang kehilangan keseimbangan tersebut.
KRAAAAK!
Bunyi tengkorak hancur bergema keras di seluruh markas. Pukulan murni Zian menembus zirah tulang alami monster itu layaknya menembus tahu lembek. Otak sang beruang hancur seketika.
Monster purba berbobot puluhan ton itu terlempar menabrak dinding batu dan mati tanpa sempat mengeluarkan suara raungan terakhir.
Ruangan itu kembali hening. Hanya terdengar suara napas Zian yang tersengal-sengal. Uap panas mengepul dari lengan kanannya.
"Luar biasa," gumam Jian dari sudut ruangan. Matanya menyala penuh kekaguman. "Kau benar-benar membunuh monster kebal sihir itu dengan tangan kosong."
Bai Chen berjalan mendekat sambil menutup kipasnya. Dia menggeleng pelan melihat lantai yang hancur berantakan.
"Langkah Gempa? Sejak kapan kau bisa membuat getaran penghancur dari kakimu?" tanya Bai Chen heran.
"Baru saja," jawab Zian santai sambil menahan dada kirinya. "Terdesak itu guru yang paling bagus."
Zian berjalan melewati bangkai beruang raksasa tersebut. Matanya tertuju pada sebuah lorong gelap di balik kandang besi tempat monster itu dikurung sebelumnya.
Di ujung lorong itu, tumpukan Koin Kristal Darah yang jumlahnya ratusan kali lipat lebih banyak dari di luar bersinar terang memantulkan cahaya obor.
"Ternyata Kaelen menyembunyikan harta aslinya di belakang monster peliharaannya," Zian tersenyum tipis.
Zian menoleh ke arah Bai Chen yang matanya sudah berbinar melihat gunungan koin tersebut.
"Ambil semua koin itu," perintah Zian singkat. "Beli obat penawar racun tingkat tinggi, perban, dan ransum daging kering. Kita tinggalkan kota ini secepatnya."
Bai Chen segera mengangguk. "Tujuan kita langsung ke Lembah Kematian Purba?"
"Ya. Peringatanmu tadi benar. Tulang rusuk dan kakiku masih terlalu lembek. Aku butuh gravitasi yang lebih gila untuk memaksa mereka setara dengan lengan kananku," tegas Zian.
Jian tertawa serak sambil tertatih-tatih berdiri. "Terdengar seperti rencana bunuh diri yang sangat menyenangkan, Bos."
---
Tiga hari kemudian.
Hamparan dataran pasir merah Benua Tengah membentang sejauh mata memandang. Angin kering meniupkan debu kasar ke wajah Zian yang sedang berjalan memimpin di depan.
Di kejauhan, sebuah area yang sangat luas tertutup oleh kabut abu-abu pekat. Tidak ada sinar matahari yang bisa menembus kabut tersebut. Pepohonan di sekitarnya tampak layu dan menghitam.
"Kita sudah sampai di perbatasan," suara Bai Chen terdengar berat. Utusan itu berhenti melangkah.
Jian mencengkeram gagang pedangnya erat-erat. Wajah pemuda gila itu terlihat jauh lebih serius dari biasanya.
"Bau tempat ini sangat busuk. Niat membunuhnya bahkan membuat darahku merinding dari sini," gumam Jian pelan.
"Ini adalah garis batas Lembah Kematian Purba," jelas Bai Chen sambil menunjuk garis tanah yang warnanya berubah menjadi abu-abu gelap.
Bai Chen menatap Zian lekat-lekat.
"Dengar, Zian. Begitu kau melangkah melewati garis tanah abu-abu itu, hukum alam akan berubah total. Gravitasinya lima puluh kali lipat lebih berat. Tidak ada energi sihir elemen yang bisa digunakan dengan lancar di dalam sana," peringat Bai Chen.
Zian menatap kabut tebal di depannya. Rusuk kirinya sudah dibalut perban ketat. Luka luarnya sudah mulai menutup, tapi tulang di dalamnya masih belum pulih sempurna.
Bukannya merasa takut, senyum iblis justru terukir jelas di wajah Zian. Tulang Asuranya berderit pelan, seolah mencium bau makanan lezat dari dalam kabut beracun itu.
"Sempurna," bisik Zian puas.
Tanpa membuang waktu lagi, Zian melangkah maju melewati garis tanah abu-abu tersebut.
BUM!
Seketika, beban yang luar biasa gila menghantam seluruh tubuhnya. Rasanya seperti ada gunung besi seberat ribuan ton yang tiba-tiba dijatuhkan tepat di atas kedua pundaknya.
Brak! Brak!
Di belakang Zian, Bai Chen dan Jian langsung jatuh berlutut menghantam tanah berdebu. Mereka berdua memuntahkan darah segar dari mulut mereka.
"Ugh! Organ dalamku... rasanya mau meledak!" rintih Jian. Pemuda itu menancapkan pedangnya ke tanah untuk menahan tubuhnya agar tidak tengkurap sepenuhnya.
Bai Chen berusaha merapal sihir angin untuk meringankan beban, tapi energi sihir di tangannya langsung padam ditekan oleh udara lembah yang sangat padat. Wajah utusan itu pucat pasi menahan sakit.
"Aku... tidak bisa berdiri," erang Bai Chen susah payah.
Zian tidak jatuh.
Pemuda berbaju hitam itu tetap berdiri tegak dengan kedua kakinya. Sepatunya amblas sedalam mata kaki ke dalam tanah keras. Tulang punggung dan lututnya berbunyi gemeretak sangat nyaring menahan tekanan alam tersebut.
Keringat dingin mengucur deras dari dahi Zian. Napasnya memburu. Tapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.
"Hahaha! Ini baru namanya beban!" tawa Zian pecah membelah kesunyian lembah.
Zian bisa merasakan setiap sel Tulang Asura di kaki, dada, dan punggungnya menjerit kesakitan, lalu mulai bereaksi. Sel-sel purba itu menyerap tekanan gravitasi tersebut untuk memaksa otot-ototnya menjadi lebih padat dan keras.
Tiba-tiba, tawa Zian terhenti. Matanya melirik tajam ke arah kabut abu-abu di sekeliling mereka.
Grrrrr...
Suara geraman rendah yang sangat serak terdengar bermunculan dari balik kabut. Suaranya tidak hanya satu, melainkan belasan.
Bayangan-bayangan besar perlahan melangkah keluar mengelilingi mereka bertiga. Itu adalah kawanan Serigala Tulang Karat. Monster lokal lembah yang tubuhnya sebesar kuda perang. Kulit mereka terkelupas, memperlihatkan tulang belulang yang berwarna cokelat seperti besi berkarat.
Mata serigala-serigala itu menyala merah, menatap lapar ke arah Zian, Bai Chen, dan Jian. Liur berbau busuk menetes dari taring mereka yang tajam.
"Gawat," desis Bai Chen panik. "Itu Serigala Tulang Karat. Gigitan mereka bisa menghancurkan pedang pusaka. Dan kita... kita bahkan tidak bisa bergerak dari tanah!"
Jian menggertakkan giginya. Dia mencoba mencabut pedangnya dari tanah, tapi lengannya terlalu berat untuk diangkat.
"Sialan! Masa aku mati dimakan anjing kurus di tempat seperti ini!" umpat Jian marah.
Zian menatap kawanan monster yang perlahan menyempitkan barisan itu. Ada sekitar dua puluh serigala kelaparan yang bersiap menerkam.
Zian menghela napas panjang. Dia mengendurkan otot lehernya dengan tenang.
Lalu, Zian melakukan hal yang sangat gila. Dia menarik seutas tali panjang dari sisa jubahnya yang robek. Dia melilitkan tali itu ke lengan kanannya, lalu mengikatkan lengan kanan yang tak terkalahkan itu erat-erat ke belakang punggungnya.
Mata Bai Chen membelalak hampir keluar. "Zian! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila?!" teriak utusan itu kaget bukan main.
Jian ikut melongo tidak percaya. "Bos... kau mau bunuh diri?!"
Zian menarik simpul tali di punggungnya menggunakan gigi hingga benar-benar kencang. Lengan kanannya kini terkunci mati dan tidak bisa digunakan.
"Kalau aku terus memakai lengan kananku untuk membereskan semua masalah, sisa tubuhku akan selamanya jadi sampah," ucap Zian dingin tanpa menoleh ke belakang.
Zian mengepalkan tangan kirinya ke depan, sementara rusuk kirinya masih berdenyut nyeri akibat patah.
"Ini tempat latihan kita," lanjut Zian santai. "Dan latihan tidak akan berguna kalau tidak mendekati kematian."
Pemimpin kawanan serigala itu melolong panjang memecah langit mendung. Mendengar aba-aba itu, belasan monster purba tersebut langsung melompat menerjang secara serentak ke arah Zian dari semua sudut.
Zian menyeringai iblis. Otot kaki dan tangan kirinya mengeras ekstrem menahan beban gravitasi lima puluh kali lipat.
"Ayo maju, Anjing Jelek!" tantang Zian membelah udara berat lembah kematian.
cuma tinju asal ajaaa