NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Waktu Tidak Banyak

Bab 35 — Waktu Tidak Banyak

Suasana rumah keluarga Mahendra berubah tegang sejak kabar itu datang. Tidak ada yang benar-benar tenang. Beberapa staf berjalan cepat, sebagian lagi berbisik pelan seolah takut memperburuk keadaan. Di ruang tengah, Helena tidak bisa diam. Ia berjalan bolak-balik sambil menggenggam ponselnya erat.

Wajahnya pucat. Pikirannya kacau.

Ia baru saja merasa sedikit lega karena Alisha ada di rumah itu, dalam pengawasan mereka. Tapi sekarang, semuanya kembali seperti mimpi buruk.

“Hari ini dia keluar sebentar saja…” gumamnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Tidak ada yang menjawab.

Langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Helena langsung menoleh.

Alvaro masuk dengan wajah dingin. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras. Ia tidak terlihat panik, tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih berat.

“Bagaimana?” tanya Helena cepat.

Alvaro tidak langsung menjawab. Ia berjalan masuk lebih jauh, lalu berhenti di tengah ruangan.

“Kita sedang cari,” katanya singkat.

Jawaban itu tidak cukup.

Helena mendekat. “Dia hilang lagi, Alvaro.”

Nada suaranya bergetar. Ia tidak berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

Alvaro menatapnya beberapa detik. “Aku tahu.”

Hening sejenak.

“Orang kita sudah menyebar,” lanjut Alvaro. “Semua akses keluar kota dipantau. Mereka tidak akan jauh.”

Nada suaranya tegas, seolah ia sedang meyakinkan semua orang di ruangan itu, termasuk dirinya sendiri.

Damar masuk beberapa detik kemudian, membawa tablet di tangannya.

“Kita kehilangan jejak setelah mobil itu keluar dari jalan utama,” lapornya langsung.

Alvaro menoleh cepat. “Plat nomor?”

“Palsu.”

“CCTV?”

“Sudah dicek, tapi mereka ganti jalur terlalu cepat.”

Alvaro menghela napas pendek. Jelas ini bukan penculikan biasa. Mereka tahu apa yang mereka lakukan.

“Mereka sudah menyiapkan semuanya,” ujar Damar.

Alvaro mengangguk pelan. Ia sudah memikirkan hal yang sama.

Helena duduk perlahan di sofa. Tangannya masih gemetar. Ia menatap kosong ke depan.

“Kita sudah menemukannya…” suaranya pelan. “Kenapa harus hilang lagi…”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Alvaro melirik ke arahnya. Wajah wanita itu tidak lagi menunjukkan ketenangan seperti biasanya. Ia terlihat rapuh.

“Kita akan menemukannya lagi,” kata Alvaro.

Helena menatapnya. “Kalau terlambat?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Alvaro tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Helena dengan serius.

“Kita tidak akan terlambat,” ucapnya akhirnya.

Damar kembali membuka tablet di tangannya. “Ada satu hal lagi.”

Alvaro menoleh.

“Kasus Alisha Mahendra sudah menyebar luas. Media mulai mengangkatnya.”

Helena mengangkat kepala.

“Beberapa portal berita sudah membahas soal penangkapan dan dugaan penculikan,” lanjut Damar. “Nama keluarga Mahendra ikut disebut.”

Helena menutup mata sejenak.

Masalah itu belum selesai, tapi dampaknya sudah terasa.

“Ini akan memperumit keadaan,” gumamnya.

Alvaro tetap diam. Ia sudah memperkirakan hal itu akan terjadi. Nama besar keluarga mereka tidak mungkin terlepas dari perhatian publik.

“Tutup akses media untuk sementara,” perintah Alvaro.

Damar mengangguk. “Sedang diusahakan.”

Helena menarik napas dalam. Ia mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal.

“Alvaro…” panggilnya pelan.

Pria itu menoleh.

“Kita tidak bisa terus seperti ini.”

Alvaro mengernyit sedikit.

“Kita belum punya kepastian apa pun,” lanjut Helena. “Tentang dia.”

Alvaro langsung mengerti maksudnya.

Tes DNA.

“Kita tidak punya waktu untuk menunda lagi,” kata Helena.

Nada suaranya lebih tegas sekarang.

“Kalau sesuatu terjadi sebelum kita tahu siapa dia sebenarnya…” ia berhenti, menelan kalimatnya sendiri.

Alvaro menatapnya dalam diam.

“Kita harus lakukan tes itu secepatnya,” lanjut Helena.

Beberapa detik ruangan itu sunyi.

Alvaro akhirnya mengangguk pelan. “Aku akan urus.”

Helena menunduk. Tangannya saling menggenggam.

“Meski belum ada hasil…” ucapnya lirih, “aku tidak ingin dia berada di luar sendirian lagi.”

Kalimat itu menggantung, penuh makna.

Alvaro tidak menyangkal.

Sejak awal, mereka memang belum punya bukti pasti. Tapi semua yang terjadi membuat mereka tidak bisa lagi mengabaikan kemungkinan itu.

Dan sekarang, keselamatan Alisha jauh lebih penting dari segalanya.

Alvaro berjalan menjauh sedikit, lalu berhenti.

Pikirannya kembali pada satu hal yang mengganjal.

“Alisha Mahendra masih ditahan, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Damar mengangguk. “Masih.”

“Berarti ini bukan dia.”

Damar tidak langsung menjawab.

“Kemungkinan besar bukan,” katanya akhirnya.

Alvaro menatap ke depan dengan tajam.

“Berarti ada orang lain.”

Kalimat itu terdengar pelan, tapi cukup untuk membuat suasana berubah.

Helena mengangkat kepala.

“Maksudmu…?”

Alvaro tidak langsung menjawab. Ia sedang menyusun potongan-potongan yang ada di kepalanya.

Penculikan ini terlalu rapi.

Terlalu terencana.

Bukan tindakan spontan.

“Ini bukan kerja satu orang,” ucapnya pelan.

Di tempat lain, seorang pria duduk santai di kursinya. Tangannya memutar gelas di meja, matanya menatap layar ponsel.

Beberapa pesan masuk.

Ia membacanya satu per satu, lalu tersenyum tipis.

“Keluarga Mahendra mulai panik,” gumamnya pelan.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Bagus.”

Nada suaranya tenang, hampir seperti menikmati situasi.

Semua berjalan sesuai rencana.

Ia tidak perlu bergerak langsung. Cukup mengatur dari jauh.

Tekanan itu akan bekerja dengan sendirinya.

“Semakin mereka panik…” ucapnya pelan, “semakin mudah dikendalikan.”

Ia meletakkan ponselnya, lalu menatap kosong ke depan.

Permainan ini baru dimulai.

Di sebuah ruangan gelap, Alisha duduk dengan tangan terikat. Kepalanya masih terasa berat, tapi kesadarannya sudah kembali lebih utuh.

Ia mengangkat kepala perlahan.

Matanya menyesuaikan dengan cahaya yang minim.

Tempat ini sunyi.

Tidak ada jendela yang jelas.

Hanya suara langkah sesekali dari luar.

Alisha mencoba menggerakkan tangannya. Ikatannya kuat, tapi ia tidak berhenti mencoba.

Ia menarik pelan, mencari celah.

Sakit, tapi ia menahannya.

Ia tidak ingin hanya menunggu.

Pikirannya terus bekerja.

Kata-kata di dalam mobil tadi kembali terngiang.

“Bos…”

Ia menggigit bibirnya pelan.

Itu bukan Alisha Mahendra.

Berarti ada orang lain.

Seseorang yang lebih besar.

Lebih berbahaya.

Alisha mengangkat wajahnya. Tatapannya mulai berubah.

Ia tidak akan diam.

Ia sudah terlalu jauh untuk menyerah sekarang.

Di rumah Mahendra, Alvaro berdiri di depan jendela. Tangannya terkepal pelan.

Semua potongan mulai terlihat.

Penculikan.

Waktu yang tepat.

Tekanan media.

Semuanya seperti disusun.

Ia menarik napas dalam.

“Ini bukan kebetulan,” ucapnya pelan.

Damar berdiri di belakangnya. “Apa yang kamu pikirkan?”

Alvaro tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap lurus ke depan.

“Ini permainan.”

Hening sejenak.

“Dan kita baru saja masuk ke dalamnya.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.

Beberapa detik berlalu sebelum Alvaro akhirnya berkata lagi,

“Kalau bukan dia…”

Ia berhenti.

Rahaknya mengeras.

“Lalu siapa yang berani bermain sejauh ini dengan keluarga Mahendra?”

#bersambung

1
Dessy Lisberita
cerita nya jln ditempat
Dessy Lisberita
kadang ya da tau di ikuti masih aja plng sendiri
zanita nuraini
Noted kak
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~
Dessy Lisberita
kirain alisa menghilang udah bisa belajar bela diri nyatanya sama aja dari yg awal
Dessy Lisberita
belajar karate seh alisa
Dessy Lisberita
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!