"Aku sudah lelah." desis Ribka menatap lambaian daun jambu di teras samping rumahnya. Sepasang mata milik Raymond melirik ajam.
"Aku lelah, selama ini telah mengalah!" ulang Ribka lagi. "Lelah menjadi lilin yang menerangi duniamu. Sudah saatnya aku pergi, mencari kebahagiaanku sendiri."
Ribka menarik kopernya. Diiringi tatapan sinis dari keluarga suaminya. yang selama ini tidak pernah menghargainya.
Cinta di ujung senja. Perjalanan Ribka mencari kebahagiaannya setelah bercerai dengan suaminya. Berhasilkah Ribka menemukan kebahagiaannya?
"Aku pergi bukan untuk kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. mengubah penampilan.
Pak Mario lantas membuka lemari pakaiannya. Melihat isi lemarinya. Tiba-tiba Pak Mario muak melihat semua pakaian kebesarannya itu. Nyaris tidak ada pakaian yang pantas untuk dikenakan sebagai seorang Bos. Bisa-bisanya dia nyaman selama ini. Dan hari ini mendadak berubah tak suka.
Atau merasa jengah.
Pak Mario mengaduk-aduk isi lemarinya. Mencari pakaian yang lebih pantas. Ada sebuah kemeja warna navy. Pak Mario lantas menukar pakaiannya. Mencari celana yang lebih pas sebagai padanan kemejanya.
Ternyata tidak ada. Semua koleksi celananya hanya jins. Akhirnya Pak Mario mengenakannya juga. Cukup lumayan. Pak Mario terlihat lebih rapi. Beberapa cincin batu akiknya juga dilepas. Hanya tersisa satu di jari manisnya.
Ucapan Ribka yang meneriakinya maling dan mirip preman pasar. Membuat ego Pak Mario tersentil.
Lalu dengan langkah percaya diri keluar dari kamar. Berpapasan dengan Ribka saat Ribka hendak keluar sebentar menemui Mira.
Ribka kaget melihat Pak Mario yang menukar pakaiannya. Senyum Ribka terlepas.
"Sejujurnya Pak Mario ganteng kalau tampil seperti ini. Saya suka melihat Bapak seperti ini." puji Ribka tulus.
Wajah Pak Mario memerah mendengar pujian itu. Senang! Dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalari hatinya.
"Terima kasih pujiannya." ucap Pak.Mario datar. Tapi sebenarnya beliau salting. Lalu buru-buru ke meja kerjanya yang hanya disekat dinding kaca.
"Saya permisi sebentar Pak, mau bertemu Mira." pamit Ribka.
"Ya, silahkan." ucap Pak Mario kaku.
Ribka membuka pintu dan keluar. Menutupnya kembali. Dan berdiri sejenak di balik pintu.
Aneh, apa karena ucapan ku tadi, Pak Mario langsung menukar pakaiannya? Aduh, mulut ku ini kok jujur sekali, bilang Pak Mario seperti preman. Ribka membatin.
"Hai Mbak Mira." sapa Ribka setelah tiba di meja Mira. Mira kaget dan menatap Ribka dari ujung rambut hingga ujung kaki.Memastikan kalau Ribka baik-baik saja. Ditatap seperti itu Ribka menjadi jengah dan keheranan.
"Bu Ribka baik-baik saja kan? Dak diapa-apain Pak Mario?"
"Diapa-apain gimana maksudnya Mbak?" sahut Ribka bingung.
"Itu soal kejadian taďi. Kami semua cemas lo mikirin Ibu Ribka."
"Iya, Bu. Kami cemas semua. Setelah keluar dari ruangan Pak Bos." sela Mely rekan Mira.
"Kalian lihat sendiri kan, Ibu baik-baik saja."
"Ibu gak dipecat?" Roby juga ikutan menyela. Heran dan bingung. Biasanya Pak Mario akan menindak tegas karyawan yang menurutnya tidak becus. Apalagi yang telah menyinggung egonya.
"Gak, kok. Semua baik-baik saja. Kalian diusir mungkin karena Pak Mario kelaparan. Soalnya setelah kalian pergi. Pak Mario minta disuguhi sarapan."
"Oh ...." serempak semua berkoor O panjang. Seraya garuk kepala kebingungan. Gantian Ribka yang jadi bingung. Melihat mereka yang kompak tanpa komando.
"Trus anehnya lagi," Ribka menjeda ucapannya. Dia menatap dulu ke arah ruangan Pak Mario. Takut kalau-kalau Pak Mario muncul mendadak.
"Aneh kenapa Bu," tanpa dikomando mereka kompak lagi bertanya bersamaan.
"Pak Mario berubah! Sudah lebih rapi karena pakaiannya dah diganti."
"Masak sih? Hanya karena ucapan Bu Ribka, Bos Tua berubah?" sela Mely lagi.
"Hufh! Jangan keras-keras. Ntar Bos dengar gantian kita yang kena semprot." Roby mengingatkan. Karena mereka ngegosipin Bos sendiri.
Terdengar suara pintu terbuka. Disusul langkah kaki menuju ruangan mereka. Mira cs kaget saat melihat siapa yang datang. Ternyata Bos mereka.
Penampilan Bos Tua mereka berubah drastis. Mengenakan kemeja dipadu jins. Membuat beliau tampil beda. Mita cs menatap Bos mereka tanpa kedip.
"Kalian pada ngapain. Barusan liat hantu ya!" gebrak Pak Mario pada meja. Membuat karyawannya blingsatan.
"Eh, Maaf Bos. Bos nampak gagah dan lebih tampan. Membuat kita semua pangling." puji Mira mencoba meredam amarah bosnya.
"Ya, sudah. Lanjut kerja. Jangan ngerumpi."
"Oh, ya Bu Ribka. Temani saya sebentar ke Mall. Pakaian saya sudah banyak yang kesempitan. Bantu pilihkan pakaian yang cocok." ucap Pak Mario lembut.
Ribka kaget dimintai menemani bosnya belanja. Mulutnya terkatup. Matanya memandang Mira penuh pertanyaan.
"Eh, iya Bu Ribka. Cepat sana temani Bos belanja." Mira mendorong tubuh Ribka supaya bergegas keluar dari ruangan mereka.
Mely dan yang lainnya memberi kode dukungan. Meski masih bingung, Ribka akhirnya menyusul langkah Pak Mario.
Setelah Pak Mario dan Ribka pergi. Mira cs menutup mulut mereka menahan tawa. Bukan tawa mengejek. Tapi tawa yang dibarengi rasa heran dan takjub karena Bos mereka tidak ada angin tidak ada hujan, berubah tiba-tiba.
"Wah, gas-wat ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bos kita. Kedatangan Bu Ribka mengubah beliau. Apa ini kebetulan. Atau ada udang di dalam bakwan?" kelakar Roby.
"Hush, jangan ngomong sembarangan. Yang jelas kehadiran Bu Ribka telah mengubah Bos Tua untuk peduli dengan penampilannya." celetuk Mira.
"Masalahnya kok secepat kilat begitu perubahan beliau. Selama ini kan gak satupun yang bisa mengubah beliau. Bahkan Bos Muda sendiri." sambung Mely.
"Jangan-jangan, Bos Tua sedang Fall in love, " lanjut Roby.
"Hush! Apapun itu kehadiran Bu Ribka telah membawa pengaruh positif sama Bos Tua. Kita bisanya cuma mendukung saja. Ingat, kita pura-pura gak peduli saja. Bersikap seolah tidak ada yang terjadi." Mira mengingatkan. Diangguki rekan-rekannya.
Dipusat perbelanjaan. Pak Mario dan Ribka memasuki butik yang cukup terkenal. Menyediakan barang-barang branded.
"Selamat datang Pak Mario. Kami siap melayani Anda belanja di toko kami." sambut seorang pelayan toko. Sepertinya sudah kenal Pak Mario. Karena sambutannya.yang hangat dan menyebut namanya.
"Bapak, mau belanja keperluan Ibu ya?"
"Eh, bukan. Saya asisten Pak Mario." sangkal Ribka spontan. Pak Mario melirik Ribka sekilas. Tatapannya sedikit tajam atas jawaban Ribka.
"Oh, jadi untuk keperluan Pak Mario ya. Mari Pak." Sang pelayan mengarahkan Pak Mario ke stan yang biasa dikunjungi.
"Ada barang baru dengan model terkini, Pak. Silahkan brosurnya dilhat dulu." Pelayan toko menyerahkan buku katalog.
Pak Mario melihat-lihat beberapa gambar model. Ribka tetap berdiri di depan Pak Mario.
"Duduklah dan bantu saya memilih foto dalam katalog ini."
Ribka terkejut. Lalu dia duduk di sisi Pak Mario. Masih dengan jarak batas wajar. Tapi agak sulit untuk melihat foto-foto itu.
Pak Mario menggeser duduknya mendekat. Supaya Ribka lebih leluasa.
"Diantara kedua foto ini, mana yang lebih pantas?" Lirik Pak Mario. Tapi Ribka tidak menyadarinya. Karena fokus melihat foto di tangan Pak Mario.
"Keduanya bagus. Tapi yang ini lebih berkarakter." Ribka menunjuk foto yang sebelah kanan. Lebih cocok model dan warna untuk seusia Pak Mario.
"Oke, saya pilih yang ini." ucap Mario ke pelayan toko.
"Kalau yang ini bagaimana?" sebut Pak Mario lagi." Ribka memilih yang cocok menurut pendapatnya. Dan hampir semua pilihan jatuh ke tangan Ribka.
Ribka baru tersadar setelah melihat hasil pilihannya yang semua disetujui, Pak Mario. Dan tidak satu helai pun pakaian itu seperti yang biasa Pak Mario kenakan.
"Pak, sepertinya ada yang salah."
"Salah apanya?" Kening Pak Mario mengernyit.
"Maksud saya, semua pakaian itu atas pilihan saya. Tidak ada yang sesuai selera Bapak." ***
Dan aku rasa Mirza itu anaknya Raymond dengan Kathy.