Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pencipta Sayap
Alam Piningit tidak lagi terasa seperti medan perang yang membara. Di bawah berdirinya Garuda Paksi, lanskap merah jingga itu perlahan berubah warna menjadi keunguan yang tenang, seperti warna langit saat pergantian antara malam dan fajar yang abadi.
Subosito berdiri di atas karang terapung, merasa raga sukmanya menjadi jauh lebih ringan. Getaran kebencian dan dendam yang biasanya menyertai setiap pertemuannya dengan sang entitas sayap emas kini telah luruh, berganti dengan rasa ingin tahu yang amat dalam.
“Dengarlah, wahai pewaris api yang tersisa,” suara Garuda Paksi menggema bukan di telinga, melainkan meresap ke dalam sumsum batin Subosito. “Kekuatan yang kau panggul bukanlah kutukan dari pengkhianatan gurumu, Resi Bhaskara. Jauh sebelum Majapahit berdiri, jauh sebelum aksara mulai dipahat di atas prasasti, kekuatan ini adalah sebuah pengabdian!"
Tiba-tiba, pemandangan di sekitar Subosito berputar hebat. Ruang dan waktu seolah terlipat. Subosito tidak lagi berada di lanskap ungu, melainkan berdiri di puncak sebuah gunung merapi yang masih sangat muda, di mana lahar dingin mengalir seperti urat nadi bumi.
Di sana, di depan sebuah kawah yang menyemburkan uap belerang, Subosito melihat sesosok pria tua bertelanjang dada. Kulitnya berwarna tembaga, rambut putih panjang terurai hingga pinggang, dan matanya memancarkan cahaya biru yang lebih murni dari langit manapun.
Inilah nyanyian Empu Legendaris—Sang Pencipta Sayap.
Subosito melihat sang Empu tidak menempa logam di atas paron besi. Empu menempa "udara" dan "cahaya". Tangan orang tua yang kasar bergerak lincah di depan kawah maut, menangkap esensi dari empat penjuru mata angin.
Empu mengambil panas dari lahar yang membara, mengambil kekokohan dari akar gunung yang menghunjam bumi, mengambil ketajaman dari badai yang menderu di puncak, dan mengambil ketenangan dari embun yang menguap di dasar lembah.
“Empu Kamandaka,” bisik suara Garuda di dalam pikiran Subosito. "Dia tidak menciptakan senjata untuk membunuh. Dia menciptakan empat artefak hidup untuk menjaga keseimbangan nusantara agar tidak ditelan oleh kegelapan dari dimensi luar!"
Pandangan itu semakin jelas, Subosito melihat sang Empu meniupkan nyawa ke dalam empat bentuk energi. Satu menjadi Garuda Paksi (Elemen Api/Selatan), satu menjadi Naga Sisik Perak (Elemen Air/Barat), satu menjadi Macan Putih (Elemen Tanah/Timur), dan satu lagi menjadi Kura-Kura Besi (Elemen Angin/Utara).
Keempatnya awalnya bersujud di depan sang Empu sebagai pelindung kehidupan. Namun, lama kelamaan pemandangan tiba-tiba menjadi kelam.
Subosito melihat bayangan hitam besar—entitas yang sama dengan yang diperingatkan oleh Putri Ayuwangi—merayap masuk ke dalam hati salah satu murid sang Empu.
Pengkhianatan pertama terjadi, salah satu elemen pelindung digunakan untuk membuka gerbang bagi kegelapan, memicu perang besar yang hampir menenggelamkan pulau ini ribuan tahun silam.
Sang Empu, sebelum raganya moksa menjadi cahaya, menyegel keempat kekuatan itu ke dalam garis keturunan tertentu, berharap suatu hari nanti akan muncul "Pewaris Tunggal" yang bisa menyatukan kembali Papat Kiblat untuk menyegel kegelapan itu selamanya.
“Kau adalah keturunan yang terpilih untuk membawa Garuda,” lanjut sang entitas—Garuda Paksi. "Namun, musuhmu di istana Trowulan kini sedang berusaha mengumpulkan kembali artefak hidup ini melalui ritual Sakalat Purwa. Jika kau bertarung dengan amarah, kau hanya akan mempercepat ritual mereka. Api hanya bisa dipadamkan oleh keheningan, bukan oleh api yang lebih besar!"
Subosito bersimpuh di depan visual sang Empu yang perlahan memudar. "Lalu, bagaimana aku bisa menang tanpa membakar segalanya? Bagaimana aku bisa menghadapi Naga Perak dan kegelapan di balik mahkota?"
Garuda Paksi mendekat, sayapnya yang megah kini merangkul raga sukma Subosito. "Gunakan teknik yang diciptakan sang Empu saat ia menenangkan badai di puncak merapi. Sebuah teknik yang bukan untuk menyerang, tapi untuk melenyapkan niat buruk lawan!"
Tiba-tiba, aliran energi yang sangat dingin namun menenangkan meresap melalui ubun-ubun Subosito. Pemuda itu merasakan paru-paru batinnya mengembang dalam pola yang sangat aneh.
Garuda Paksi mengajarkan untuk menarik napas melalui pori-pori kulitnya, menahannya di dalam ruang hampa di tengah jantung, dan melepaskannya tanpa suara sedikit pun.
Inilah Napas Keheningan Abadi .
Teknik ini memungkinkan penggunanya untuk menyerap energi serangan lawan dan melenyapkannya ke dalam "kekosongan" batin, sekaligus menyembunyikan keberadaan pengguna hingga benar-benar tak terdeteksi oleh indra batin manapun—termasuk para pembaca pikiran kerajaan.
“Tariklah napasmu, dan biarkan dunia di sekitarmu membeku dalam kesunyian,” perintah Garuda.
Subosito mencoba menanamkannya di Alam Piningit. Saat Subosito menarik napas dengan pola baru itu, seluruh pemandangan ungu di sekitarnya tiba-tiba berhenti bergerak.
Angin berhenti berdesir, suara kepakan sayap Garuda hilang. Bahkan waktu seolah-olah berhenti sejenak. Subosito merasa dirinya menjadi satu dengan ketiadaan. Dia tidak lagi panas, tidak lagi berat. Dia adalah keheningan yang sesungguhnya.
"Sempurna," suara Garuda memudar. "Kembalilah ke ragamu. Fajar telah tiba. Gunakan napas ini sebagai perisaimu, karena besok, darah akan mengalir di atas pasir Trowulan!"
Subosito membuka matanya di kamar penginapan yang gelap. Napasnya kini mengalir dengan ritme yang sangat halus, nyaris tak terdengar.
Subosito merasa segar, namun pikirannya kini sarat dengan sejarah berat yang baru saja dia saksikan. Subosito bukan sekadar buronan atau peserta sayembara; dia adalah penjaga terakhir dari sebuah amanah yang berusia ribuan tahun.
Di luar jendela, langit Trowulan mulai berwarna abu-abu kebiruan. Suara terompet kerajaan terdengar tiba-tiba, memanggil para peserta empat besar menuju arena penentuan.
Subosito bangkit, mengenakan kembali pakaian kuli goninya. Pemuda itu melihat Jati masih terlelap di sudut ruangan. Dia meletakkan sekeping koin emas di dekat tangan bocah itu—sebuah perjanjian bagi persahabatan mereka, berjaga-jaga jika dia tak kembali setelah sayembara nanti.
Saat Subosito melangkah keluar dari penginapan, dia berpapasan dengan Larasati yang tampak sudah menunggunya di bawah pohon beringin tua. Gadis itu tidak bicara, hanya memegang tongkat cendananya dengan cara yang berbeda. Ada rasa hormat dan kegelisahan yang terpancar dari aura batinnya.
"Kau memiliki bau embun pagi ini, Sura," bisik Larasati. "Apakah kamu sudah bertemu dengan 'Sang Pencipta'?"
Subosito hanya mengangguk kecil, dia menarik napas dalam menggunakan teknik Napas Keheningan Abadi . Seketika itu juga, Larasati tampak terkejut.
"Luar biasa...," Larasati merenung, wajahnya yang buta menunjukkan ekspresi takjub. "Kau berdiri di depanku, namun batinmu..., kau seolah-olah tidak ada di dunia ini. Kau telah menghilang dalam keheningan!”
Subosito memegang bahu Larasati, lalu mereka berjalan bersama menuju Alun-Alun Utama. Rakyat Majapahit sudah memenuhi tribun. Suasananya jauh lebih mencekam dibandingkan kemarin. Di depan singgasana Maharaja, empat tempat duduk batu telah disiapkan untuk para peserta.
Kala Dirja sudah duduk di sana, zirah peraknya memancarkan aura dingin yang menantang langit. Di sana, dua pendekar misterius yang berhasil lolos kemarin duduk diam seperti patung.
Panglima Kerajaan berdiri di tengah arena sambil memegang dua gulungan bambu.
"Hari ini, nusantara akan menyaksikan lahirnya legenda baru!" teriakan sang Panglima. Babak empat besar akan segera dimulai! Pertandingan pertama: Kala Dirja, Sang Naga Sisik Perak , melawan Pendekar Ular Keranjang, Si Tua Bungkuk !"
Kala Dirja berdiri dengan angkuh, pedang peraknya berdenting. Di seberangnya, sang kakek bungkuk meletakkan keranjang rotannya. Desisan dari dalam keranjang itu terdengar semakin nyaring, mengirimkan hawa beracun yang mulai terakumulasi di atas pasir arena.
Subosito duduk di tempatnya, matanya tertuju pada pertandingan itu, namun pikirannya fokus pada lawannya sendiri. Pendekar wanita berpakaian hitam yang kini menatapnya dengan pandangan dingin dari balik cadarnya.
Siapakah wanita ini? Dan mengapa Garuda Paksi di dalam dirinya seolah memberikan peringatan bahwa wanita ini membawa elemen yang telah lama hilang—Elemen Tanah yang seharusnya menjadi penopang Papat Kiblat?
Pertandingan hari ini bukan lagi sekadar duel kekuatan, melainkan awal dari ritual pembongkaran Sakalat Purwa . Dan dengan Napas Keheningan Abadi, Subosito siap menjadi badai yang tak terdengar yang akan meruntuhkan kemegahan iblis di istana Trowulan.
Pertempuran empat besar telah dimulai dengan aura yang sangat berbeda. Kala Dirja harus dihadapkan dengan teknik ular beracun yang belum pernah dia temui, sementara Subosito harus bersiap menghadapi kesatria wanita yang misterius.
Mampukah Kala Dirja mempertahankan keangkuhan peraknya di depan sihir ular sang kakek? Dan rahasia apa yang disembunyikan oleh kesatria wanita berpakaian hitam yang tampaknya mengenal teknik batin Subosito lebih baik dari siapa pun?
Simak pertarungan hidup dan mati dalam kisah 'Subosito'.