Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35. BCS
Albi dan Bisma berjalan keliling markas, tidak ada jejak yang ditinggalkan Prasasti. Albi merasa putus asa karena tidak menemukan istrinya di tempat itu. Sementara di tempat Dasa dan Abas sedang berkelahi dengan Gael dan Dorman. Mereka berdua tertangkap oleh musuh ketika sedang membereskan sisa perkelahian dengan para bodyguard.
Aksi adu tenaga itu berlangsung lama dan belum ada yang kalah, Musuh mereka sangat kuat dan memakai senjata tajam sedangkan Dasa dan Abas menggunakan tangan kosong. Luka di tubuh mereka tidak terasa alhasil mereka tetap melanjutkan perlawanan.
"Cukup," teriak Rosmaya menghentikan mereka.
Keempat orang itu menghentikan perkelahian menoleh Rosmaya yang berdiri tak jauh dari mereka memegang sebuah rantai besar dan panjang. Gael dan Dorman menjauh dari Dasa dan Abas sambil tersenyum smirk.
Rosmaya memainkan rantai dengan sangat lihai, kemudian melemparkan hentakan ke arah Dasa dan Abas dengan sangat keras dan nyaring di lantai. Rosmaya semakin kencang mengayunkan rantai agar sampai mengenai tubuh mereka berdua. Dasa dan Abas berhasil menghindar dari Rosmaya, mereka berdua berlari dengan sekuat tenaga sambil mengayunkan langkah dan tangannya mengibas ke arah Rosmaya dengan sekali pukul membuat Rosmaya terjatuh.
Gael dan Dorman membantu Rosmaya berdiri dan kembali mengayunkan rantai ke arah Dasa dan Abas, lagi-lagi mereka selamat dari amukan Rosmaya. Rosmaya dengan tenaganya menghampiri mereka berdua adu kekuatan. Perkelahian pun terjadi antar mereka bertiga.
Sedangkan Gael dan Dorman hanya melihat saja tanpa membantu. Rosmaya merasa tersudut oleh pukulan kedua orang pria dan akhirnya terjatuh ke lantai dengan mulut keluar darah segar. Gael dan Dorman maju melawan mereka berdua dengan membabi buta.
Pertarungan kembali sengit antara keempat orang pria, mereka bertarung sampai titik darah penghabisan. Tak ada yang kalah dan mengalah sedikitpun, terdengar suara tembakan dari arah berlawanan membuat mereka terkejut dan menghentikan perkelahian.
Rosmaya tewas karena tertembak oleh Albi di saat akan menembak Dasa dan Abas. Gael dan Dorman saling pandang memberi kode, namun apa boleh di kata keduanya tidak bisa lari begitu saja.
Albi dan Bisma menghadang menggunakan pistol hanya tinggal membidik semua beres tapi tidak mereka lakukan. Justru mereka akan memberi pertanyaan kepada Gael dan Dorman.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi alat uji coba dan alat medis Albi dan ketiga temannya mengikat Gael dan Dorman dengan kuat agar tidak bisa melarikan diri. Albi melihat beberapa sample darah dan berbagai macam zat racun dan penawar.
"Dimana istriku, kalian sembunyikan?" Albi bertanya sambil menampar wajah Gael dan Dorman.
Dua pria tidak berdaya itu menggeleng tanpa menjawab. Albi kembali memukul dengan keras sampai keduanya mengeluarkan darah segar dari mulut. “Aku tidak tahu," jawab mereka bersamaan.
"Istrimu berhasil melarikan diri," kata Dorman.
Albi menatap tajam Dorman sambil menengadahkan wajahnya agar bisa melihatnya. "Kamu tahu kemana perginya... Katakan,"
Bentakan Albi membuat Gael dan Dorman terperanjat. “Aku tidak tahu istrimu kabur lewat mana," jawab Dorman.
Albi tidak percaya dengan perkataan Dorman memukul Dorman berkali-kali. Dasa dan Abas menghentikan Albi, menahannya agar tidak sampai membunuh Dorman. “Jangan membunuhnya sekarang, kita masih butuh informasinya mengenai korban penculikan yang mereka lakukan,"
Dasa menjauhkan Albi dari Dorman dan menyuruhnya istirahat. Gael dan Dorman di kurung di balik jeruji besi tempat mereka menyekap para korban penculikan yang mereka lakukan selama ini.
____________
Hari itu Melati melahirkan anak pertama laki-laki yang di beri nama Kausar Sayidan, nama belakangnya adalah nama ayahnya. Dalam gendongan ibunya Kausar menyusu dengan lahap, Prasasti melihat ibu dan anak merasa haru.
Prasasti teringat Albi suaminya ingin pulang tapi tidak tahu arah jalan. Ia berpikir tersesat di kampung orang dan tidak tahu namanya. Yang ia ketahui letak kampung jauh dari kota karena terlihat dari cara berpakaian dan gaya bicaranya meskipun menggunakan bahasa nasional tapi ada nada logat khas daerah tersebut.
"Prasasti, kamu pasti capek membantu kami lebih baik istirahat dulu," perintah Jihan ibu Melati.
"Terimakasih, Bu. Aku senang melihat Kausar lahir selamat dan sehat, rasanya ingin menggendong," kata Prasasti.
Jihan paham dengan perasaan Prasasti, ia mendekati Melati yang sedang menyusui Kausar. "Sudah menyusunya?"
"Sudah, bu," jawab Melati melepaskan Kausar dari tubuhnya.
Jihan mengambil Kausar dari gendongan Melati dan menidurkan di tempat tidur. Melati melihat Prasasti memperhatikannya beranjak dari tempat duduk.
"Suatu saat nanti kamu akan mempunyai anak yang lucu dan menggemaskan," kata Melati menepuk bahu Prasasti berjalan ke dapur mengambil makan.
Melati merasa lapar setelah menyusui anaknya, ia mengambil nasi dan lauk juga sayur kemudian makan di ruang makan dengan lahap. Prasasti memperhatikannya lekat, ada sesuatu yang menggelitik ruang hatinya. Prasasti mendekati Melati setelah selesai makan.
”Maaf, aku sudah lancang masuk ke kamarmu hati lalu... Aku ingin bertanya... Kamu punya hubungan apa dengan pria bernama Albi?" tanya Prasasti dengan hati-hati.
Melati terkejut mendengar pertanyaan Prasasti, sudah sangat lama ia tidak mendengar kabar Albi. Ada rasa rindu muncul mengingat kenangan bersama Albi, pria yang sudah menolongnya beberapa tahun lamanya.
"Kamu kenal pria bernama Albi?" tanya Melati balik dengan rasa penasaran didadanya.
Melati merasa ada sesuatu di balik pertanyaan Prasasti. Ia tidak mempunyai foto tapi dia mempunyai surat dari Albi pertama dan terakhir kali saat pertama kali bertemu.
"Maaf, aku tidak sengaja melihat sebuah tulisan yang mirip dengan Albi suamiku," jawab Prasasti dengan jujur.
Melati sangat syok mendengar pengakuan kalau Albi adalah suami Prasasti. Ia tidak percaya tapi melihat sorot mata Prasasti tidak ada kebohongan, tapi hatinya menampik kabar tersebut.
Melati memang menaruh hati pada Albi tapi ia tidak bisa berharap lebih karena Albi bukanlah jodohnya. Mencarinya saja tidak bisa dan kemana, pertemuannya dengan Albi terlalu singkat dan tidak sempat bertukar alamat.
Melati berjalan masuk ke kamarnya mengambil surat dan membawanya keluar kemudian menyerahkan kepada Prasasti. Bibirnya tersenyum tidak dengan hatinya yang menyimpan segala kerinduan sosok Albi.
Prasasti mengambil surat tersebut dan membacanya sampai selesai. Ternyata Albi dan Melati hanya teman biasa tidak ada hubungan istimewa, lalu melipat kembali.
"Aku harap kamu tidak mempunyai perasaan terhadap Albi suamiku," kata Prasasti dengan suara tercekat merasa sesak dalam dadanya.
Melati tersenyum mendengarnya kemudikan berkata. "Maaf kalau boleh jujur, aku memang menaruh hati sama Albi tapi, bukan seperti cinta tapi lebih ke saudara dan Aku senang bisa kenal sama kamu, aku doakan semoga kalian selalu bahagia,"
”Terimakasih, kamu juga bahagia, semoga kelak mendapat jodoh yang baik," sahut Prasasti.