Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Gembok yang Longgar
Aroma minyak kayu putih berbaur pekat dengan sisa asap tembakau di dalam kamar depan rumah bawah. Hino berbaring telentang di atas kasur dengan selembar kain kompres yang mulai mendingin di atas dahinya. Matanya terpejam, namun rongga dadanya terasa begitu sesak dan panas akibat suhu tubuhnya yang mendadak naik drastis sejak siang tadi. Rasa lemas yang melilit persendian kakinya membuat kepala toko itu benar-benar tidak sanggup untuk sekadar bangkit dari ranjangnya.
Erni berdiri di samping dipan, sedang merapikan tas kecilnya yang berisi kartu pemeriksaan kandungan untuk jadwal esok pagi. Di dalam saku dasternya, gundukan uang tebal dari Irmi memberikan rasa percaya diri yang luar biasa pada raut wajahnya. Ia melirik suaminya yang terkulai lemas dengan tatapan yang dingin, tanpa ada sisa empati sedikit pun di matanya.
"Aku bisa sendiri, Mas. Sudah, kamu istirahat saja di rumah," ucap Erni, suaranya terdengar begitu datar namun sarat akan kemandirian yang sengaja dibuat-buat agar ia bebas melangkah ke bidan kampung tanpa perlu diawasi oleh saku Hino yang kosong.
Hino membuka matanya sedikit, menatap daster baru istrinya dengan pandangan yang layu. "Baiklah... maaf tidak bisa antar belanja dan periksa besok, Erni."
Erni hanya mendengus pelan sebagai jawaban, lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintu kayu itu dengan bantingan halus. Begitu kesunyian kembali mengunci ruangan, gawai di samping bantal Hino kembali bergetar hebat. Layar menampilkan panggilan video dari Bu Hina yang menuntut pemenuhan janji ranjang sewaan untuk nanti malam.
Hino menyambar ponsel itu dengan jemarinya yang gemetar karena menggigil. Rasa sakit fisik dan kepengapan batin yang menumpuk selama dua minggu ini mendadak meledakkan sisa-sisa rasa takutnya pada ancaman parang Baskoro. Pria itu menempelkan speaker gawai ke telinganya, lalu mendesis dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan keberanian gelap dari seorang pria yang sudah berada di ambang batas kematian batin.
"Dengar ya, Hina... silakan ancam aku sesukamu," dengus Hino, napasnya memburu panas menahan debaran mual di kerongkongannya. "Toh, kamu saja yang terlalu kepedean kalau janin di dalam perutmu itu bakal jadi anakku! Robek! Robek sekalian rahasia ini ke suamimu biar kita mati bersama! Aku benar-benar sakit sore ini dan aku tidak akan datang ke rumahmu!"
Tanpa menunggu balasan atau jeritan histeris dari seberang jalan, Hino langsung mematikan daya ponselnya hingga layar berubah hitam pekat. Ia melempar benda digital itu ke sudut lantai keramik, lalu menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh kepala, menenggelamkan dirinya ke dalam tidur demam yang menyiksa, mengabaikan seluruh teror rahim yang mengintai di luar dinding kamar.
***
Di ruang tengah, Irmi duduk di kursi rotan dengan gelisah yang teramat sangat. Pikirannya sama sekali tidak berada pada teh hangat yang mulai mendingin di atas meja. Informasi tentang uang gaji harian toko yang ikut terambil oleh Erni di dalam kamar depan tadi pagi telah membuat batinnya bergejolak hebat penuh kemuakan. Ia ingin sekali menggedor pintu kamar depan, menjambak daster Erni, dan memaksa wanita lulusan SMA itu mengembalikan seluruh lembaran rupiah milik tokomu hingga ke kotoran-kotorannya jika perlu.
Namun, kehadiran Pak Juned dan Ibu Meliska di rumah bawah memaksanya untuk tetap diam membisu. Irmi harus menelan bulat-bulat seluruh kekesalannya demi menjaga agar rahasia pernikahan siri dan kehamilan dua setengah bulannya tidak pecah di hari pertama orang tuanya menginap.
"Irmi, Hoy! Sini... masuk ke ruang tamu sebentar," panggilan keras Pak Juned dari arah pintu kamar depan mengejutkan Irmi hingga janda kaya itu tersentak berdiri.
Pak Juned berjalan keluar dengan langkahnya yang tegap, disusul oleh Ibu Meliska yang membawa selembar kertas besar berisi rincian berkas keluarga. Wajah judes Pak Juned tampak begitu serius, mengunci seluruh pergerakan Irmi di dekat meja makan tengah.
"Ada apa, Pak, Bu?" tanya Irmi, suaranya bergetar tipis saat ia melangkah mendekat, mencoba menyembunyikan bagian perutnya di balik lipatan blus longgarnya.
Pak Juned duduk di sofa kayu, lalu mengetukkan jarinya di atas meja dengan intonasi yang sangat ketat. "Duduk, Irmi. Kita harus bicarakan soal kelanjutan seluruh aset kontrakan dan tokomu ini. Ibu dan Bapak sudah mengambil keputusan bulat. Kami tidak mau melihatmu terus-menerus hidup sendirian mengurus bangunan dua lantai ini sendirian tanpa ada pria terhormat yang menjaga hidupmu."
Ibu Meliska mengangguk setuju, menyodorkan kertas rincian tersebut tepat di depan wajah anaknya. "Ibu sudah menghubungi kembali rekan bisnis lama mendiang suamimu di kota sebelah, Irmi. Mereka punya anak laki-laki yang mapan, seorang pengusaha muda yang bersedia menerimamu beserta seluruh tokomu ini."
Jantung Irmi serasa berhenti berdetak menatap rincian nama asing di atas kertas tersebut. Di saat yang sama, di koridor kampus seberang kota, Linda juga sedang menggenggam ponselnya dengan wajah yang memucat padam setelah mendengar keputusan serupa dari ibunya lewat jaringan telepon seluler. Suara desisan lirih dari bibir dosen sosiologi itu seolah bergaung menembus dinding dua lantai rumah kontrakan, menciptakan kesunyian baru yang sangat mengerikan bagi masa depan benih Hino di dalam rahim mereka.
"Perjodohan...?" bisik Irmi dengan bibir yang mendadak kelu, menatap mata judes Pak Juned dengan ketakutan mutlak seorang wanita yang tahu rahimnya sudah terisi oleh anak pelayan toko yang sedang menggigil sakit di kamar belakang.