"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Pintu lift berdenting menutup, memutuskan pandangan terakhir Arlan pada Maya yang hancur di dalam sana. Arlan memukul pintu besi lift itu dengan kepalan tangannya, meluapkan kemarahan dan ketakutan yang membakar dadanya.
"Sial! Sial!" umpatnya berulang kali.
Tanpa membuang waktu, Arlan berbalik dan berlari menuju tangga darurat. Ia menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, mengabaikan rasa perih di kakinya demi mengejar lift yang membawa istrinya turun ke lobi. Pikirannya buntu. Satu-satunya hal yang ada di otaknya saat ini adalah ia tidak boleh membiarkan Maya pergi dalam keadaan seperti ini.
Sementara itu, pintu lift lobi terbuka. Maya melangkah keluar dengan terburu-buru. Air matanya sudah tidak terbendung lagi, mengaburkan pandangannya saat ia berjalan melewati resepsionis apartemen yang menatapnya dengan heran. Maya mendekap tas kerjanya erat-erat di dada, seolah benda itu bisa menahan hatinya yang retak seribu.
Begitu keluar dari lobi gedung, ia langsung menyetop taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpang di lobi utama.
"Pak, jalan. Sekarang!" perintah Maya dengan suara bergetar begitu ia menutup pintu taksi.
"Ke mana tujuannya, Mbak?" tanya sopir taksi, agak terkejut melihat kondisi penumpangnya yang menangis sesenggukan.
"Ke mana saja... tolong jalan dulu, Pak. Jauh dari sini," isak Maya, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Supir taksi yang iba itu segera menginjak gas, membawa taksi kuning tersebut membelah jalanan Jakarta yang mulai padat sore itu.
Hanya selisih beberapa puluh detik setelah taksi itu bergerak, Arlan keluar dari pintu kaca lobi dengan napas terengah-engah dan kemeja yang berantakan. Mata tajamnya menyapu area drop-off, namun ia terlambat. Ia hanya sempat melihat bagian belakang taksi yang membawa Maya menjauh dari area apartemen.
"Maya!" teriak Arlan frustrasi.
Tepat di saat itu, pintu unit Dafa di lantai atas ternyata bukan satu-satunya yang terlibat. Dafa, yang baru saja kembali dari minimarket bawah setelah membeli beberapa keperluan atas perintah Arlan, tertegun melihat bosnya berdiri di lobi luar seperti orang kesetanan. Di sela-sela itu, ponsel Arlan di kantongnya bergetar. Sebuah telepon dari Widya, ibunya.
Arlan mengabaikan telepon ibunya. Ia berbalik dan mencengkeram kerah kemeja Dafa yang baru saja mendekat dengan wajah bingung.
"Tuan? Ada apa ini..."
"Lacak taksi yang baru saja pergi dari sini! Cari tahu ke mana Maya pergi!" bentak Arlan dengan mata merah yang menyala karena panik dan amarah. "Kalau kamu tidak bisa menemukannya sebelum malam ini, kamu dan seluruh tim keamananmu habis, Dafa!"
Dafa yang terkejut setengah mati hanya bisa mengangguk cepat. Kantong belanjaan di tangannya hampir saja terlepas akibat cengkeraman kuat Arlan. "B-baik, Tuan! Saya akan langsung cek CCTV lobi dan berkoordinasi dengan pihak manajemen gedung untuk melacak pelat nomor taksi itu sekarang juga!"
Setelah melepaskan cengkeramannya dari kerah Dafa, Arlan mundur beberapa langkah. Napasnya masih memburu tak teratur, tangannya gemetar hebat saat ia merogoh kantong untuk mengambil ponselnya yang masih bergetar. Layarnya menampilkan nama sang ibu, Widya.
Dengan kemarahan yang membuncah, Arlan menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Puas, Ma?!" desis Arlan, suaranya bergetar menahan amarah yang teramat sangat. "Bom waktu yang Mama bawa dari Tokyo baru saja meledak! Maya datang ke sini, dia melihat semuanya! Dia mendengar semuanya!"
Di seberang telepon, keheningan sempat tercipta selama beberapa detik sebelum suara Widya terdengar tercekat."Apa? Maya... Maya melihat Farah?"
"Ya! Dan sekarang Maya pergi entah ke mana setelah mendengar kalau Farah mengandung anakku!" bentak Arlan, tidak peduli lagi pada sopan santun kepada wanita yang telah melahirkannya. "Jika terjadi sesuatu pada Maya atau jika pernikahan kami hancur, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri... dan aku tidak akan pernah memaafkan keputusan Mama!"
Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Arlan langsung memutuskan panggilan sepihak. Ia melempar ponselnya ke dalam mobil SUV-nya yang terparkir tak jauh dari lobi, lalu memukul setir mobil dengan frustrasi.
Sementara itu, di dalam taksi yang melaju membelah jalanan Jakarta, Maya masih terisak. Sopir taksi beberapa kali melirik melalui kaca spion tengah dengan tatapan cemas.
"Mbak... maaf, kita sudah hampir sampai di area jalan protokol. Mau saya antarkan ke mana? Ke rumah orang tua, atau mungkin ada alamat spesifik?" tanya sopir itu dengan nada selembut mungkin, takut menyinggung perasaan penumpangnya yang tampak sangat rapuh.
Maya perlahan mengangkat wajahnya yang sembap. Pertanyaan sopir taksi itu menyadarkannya pada satu kenyataan pahit ia tidak punya tempat untuk pulang.
Ke rumah utama Dirgantara? Di sana ada Widya, ibu mertuanya yang ternyata turut andil dalam menyembunyikan skandal ini dari dirinya. Ke rumah orang tuanya sendiri? Tidak, Maya tidak ingin membuat ibunya yang sudah sepuh terkena serangan jantung jika mendengar bahwa pernikahan putrinya hancur di hari jadi yang kelima.
Maya merogoh tasnya dengan tangan gemetar, mencari ponselnya. Saat layarnya menyala, beberapa panggilan tak terjawab dari Arlan bermunculan, disusul oleh puluhan pesan teks yang memohon agar dirinya kembali. Maya mengabaikan semua itu. Dengan pandangan yang mengabur karena air mata, ia mencari satu nama di kontak daruratnya.
Bukan Arlan. Melainkan satu-satunya orang yang saat ini ia tahu berada di luar lingkaran kebohongan keluarga Dirgantara, dan orang yang beberapa jam lalu memintanya untuk beristirahat.
Maya menekan tombol panggil pada nomor Clara.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara bariton Devan yang tenang terdengar di ujung telepon."Halo, Maya? Ada apa? Kamu sudah sampai di rumah?"
Mendengar suara yang begitu familier dan ceria itu, pertahanan Maya kembali runtuh. Isak tangisnya yang sempat tertahan kini pecah kembali.
"Cla....Clara." bisik Maya parau di sela tangisnya. " Kamu dimana...?"
" Saya di club kak May..ada apa.?"
Suara musik dentuman bas yang keras lamat-lamat terdengar dari seberang telepon, memotong suara ceria Clara yang kini berubah menjadi penuh riak kepanikan. Clara yang tadinya sedang berkumpul bersama teman-teman kuliahnya langsung menjauh dari keramaian begitu mendengar suara isakan Maya yang begitu menyayat hati.
"Kak Maya?! Kak Maya menangis? Kakak di mana sekarang?" tanya Clara setengah berteriak, mencoba mengalahkan sisa suara bising dari dalam klub. "Aku di tempat live music dekat daerah Senopati, Kak. Kakak kenapa? Apa Kakak bertengkar dengan suami kakak?"
Mendengar kata suami disebut, dada Maya kembali dihantam rasa sesak yang luar biasa. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi blus kerjanya. "Cla... aku... aku ke sana sekarang, ya? Tolong jangan ke mana-mana..."
"Iya, Kak! Iya! Aku tunggu di depan lobi klub. Kakak naik apa ke sini? Jangan nyetir sendiri kalau lagi nangis begitu, Kak!" seru Clara panik, hatinya mendadak tidak tenang mendengar asisten kakaknya sekaligus wanita yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri terdengar begitu hancur.
Terdengar begitu hancur.
Setelah panggilan terputus, Maya menyeka air matanya dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap ke arah sopir taksi melalui kaca spion. "Pak... ke daerah Senopati, ya. Nanti alamat lengkapnya saya tunjukkan."
"Baik, Mbak," sahut sopir taksi itu sigap, langsung membelokkan kemudi membelah jalur alternatif demi menghindari kemacetan Jakarta yang kian menggila sore itu.
Sementara itu, di lobi apartemen Dafa, suasana berubah menjadi sangat tegang. Dafa berlari terengah-engah menghampiri mobil Arlan yang mesinnya masih menderu kencang. Ia mengetuk kaca mobil dengan panik.
Begitu kaca mobil diturunkan, Dafa langsung menyodorkan ponselnya yang menampilkan rekaman CCTV lobi luar. "Tuan! Saya sudah dapat pelat nomor taksinya. Armada taksi kuning dengan nomor lambung B 1928 TQH. Saya sudah menghubungi pihak pusat perusahaan taksi tersebut menggunakan otoritas Dirgantara Group. Mereka sedang melacak posisi GPS taksi itu sekarang!"
Arlan mencengkeram erat setir mobilnya hingga urat-urat di tangannya menonjol. "Berapa lama lagi mereka bisa memberikan lokasi akuratnya?!"
"Dua menit, Tuan! Petugas mereka sedang menghubungkan sistem," jawab Dafa cepat, dahinya dipenuhi keringat dingin.
Belum sempat Arlan membalas, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Bukan dari ibunya, melainkan sebuah notifikasi pelacak lokasi dari aplikasi keluarga yang terhubung dengan ponsel Maya. Arlan tertegun. Detik berikutnya, ia menyadari sesuatu. Maya tidak mematikan ponselnya, dan titik GPS istrinya kini bergerak menjauh dari area Sudirman, menuju ke arah Senopati.
"Dia ke arah Senopati..." bisik Arlan parau. Matanya berkilat tajam saat ia langsung menginjak pedal gas, membuat ban mobil SUV-nya mencicit keras di atas aspal lobi apartemen. "Dafa! Tetap pantau taksi itu dan kirimkan pembaruan rute ke ponselku sekarang!"
Mobil Arlan melesat cepat keluar dari gerbang apartemen, mengejar waktu yang kian menipis sebelum ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kehancuran ini.
bukan wanita kuat, kl wanita kuat pasti gk gampang luluh ttp pd pendirian Dan bisa di manfaat kan buat Nm baik arlan 🤣.
pemain wanita nya kurang Jos. 👍