"Papa tidak setuju!"
Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.
"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.
"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"
***
Ingat, jangan nabung bab!
Follow IG : ichageul9563
Facebook : Khairunnisa (Ichageul)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap
Dari dekat lemari, Anyelir terus memperhatikan suaminya. Menantikan perubahannya detik demi detik. Dia baru saja mencampurkan minuman Alvin dengan obat per*ngsang.
Karena Alvin tak pernah menyentuhnya.lagi, ini satu-satunya jalan agar dia bisa menyelamatkan pernikahannya.
Sejak pertengkaran hebat mereka beberapa waktu lalu, mereka memang sudah berpisah kamar. Selama ini, Anyelir sendirian saja.
Dan yang lebih menyebalkan, setelah Sisil kembali ke Bandung, suaminya langsung tidur di kamar yang ditempati gadis itu.
Bagaimanapun juga, Anyelir harus berusaha menyelamatkan rumah tangganya yang hampir karam.
Biasanya dia sering mendapat teguran dari Alvin jika pulang terlalu malam. Tapi sekarang suaminya itu terlihat acuh tak acuh. Dia memilih memberi sang istri silent treatment.
Bahkan rencana mereka bertemu dengan dokter kandungan, sampai sekarang masih belum terlaksana. Sejak kedatangan Sisil, Anyelir merasa dirinya tersisihkan. Untunglah dia berhasil membuat gadis itu pergi.
“Mas,” panggil Anyelir sambil mendekati suaminya. Wanita itu mendaratkan bokongnya tepat di samping Alvin. “Tiga hari yang lalu aku sudah ke dokter kandungan. Aku sudah menjalani promil seperti keinginan Mas.”
Alvin cukup terkejut. Di saat dirinya sudah mantap ingin bercerai, justru Anyelir memeriksakan dirinya ke dokter. Dan yang lebih aneh, dia melakukan atas kemauan sendiri. Padahal dulu susahnya minta ampun jika diajak menemui dokter kandungan.
“Kamu pergi sendiri?” tanya Alvin tak percaya.
“Iya, Mas. Dokter bilang hasil tesku baik semua. Aku simpan hasil tesnya, nanti Mas bisa lihat sendiri. Sekarang tinggal Mas yang menjalani pemeriksaan. Aku sudah buat janji dengan dokter kandungan. Besok Mas bisa datang?”
“Lihat besok,” jawab Alvin acuh tak acuh. Dia kembali tenggelam dengan pekerjaan.
Namun baru sebentar mengalihkan kembali pikirannya ke lembaran kertas di tangannya, Alvin mulai merasakan yang aneh dengan tubuhnya. Perlahan pria itu merasakan suhu tubuhnya naik. Dia mulai merasakan kegelisahan.
“Kenapa, Mas?” tanya Anyelir yang mulai menangkap gelagat lain dari suaminya.
“Ngga apa-apa.”
Anyelir berpura-pura menyentuh kening Alvin yang sudah ada titik-titik keringat. Ketika kulit mereka bersentuhan, dapat Alvin rasakan rasa dingin menerpa keningnya. Di sanalah pria itu paham kalau dirinya berada dalam pengaruh obat per*ngsang.
“Apa yang kamu masukkan dalam minumanku?” tanya Alvin. Konsentrasinya mulai pecah ketika Anyelir dengan sengaja menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya.
“Mas ….”
Dengan sengaja Anyelir memanggil Alvin dengan suara lirih. Mulutnya didekatkan ke telinga suaminya itu sambil memberinya sedikit tiupan.
Semua bulu di tubuh Alvin berdiri seketika. Dia adalah lelaki normal, tentu saja apa yang dilakukan Anyelir memancing hasratnya.
Anyelir merangkum wajah Alvin dengan kedua tangannya, kemudian mencium bibir suaminya penuh n*fsu.
Sebisa mungkin Alvin tidak membalas ciuman istrinya itu. Namun Anyelir tak mau menyerah. Wanita itu melum*at rakus bibir Alvin sambil terus menggerakkan tangannya di tubuh sang suami.
Pertahanan Alvin runtuh. Walau akal sehatnya mencoba terus bertahan, namun tubuhnya berkhianat. Dia merespon semua rangs*ngan yang diberikan Anyelir.
Pria itu mulai membalas ciuman istrinya. Pertautan bibir di antara keduanya semakin dalam dan panas saja.
Alvin menggendong tubuh Anyelir lalu membawanya masuk ke kamar. Cukup lama tidak melakukan hubungan badan, siapa juga yang tahan dengan godaan itu. Apalagi yang menggoda adalah istri sahnya sendiri.
Alvin menghempaskan tubuh Anyelir di kasur berukuran king size miliknya. Kemudian pria itu melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Sama seperti halnya Alvin, Anyelir pun melepaskan pakaiannya. Dia menunggu dengan pasrah serangan suaminya di atas ranjang.
Suhu di dalam kamar otomatis naik akibat aktivitas panas pasangan suami istri tersebut. Ada kepuasan di benak Anyelir, sang suami mau menyentuh dan membuatnya sampai ke langit ke tujuh lagi. Selama ini hanya Sandi saja yang memenuhi bir*hinya.
Meski demikan, Anyelir menikmati permainan kedua pria itu walau berbeda sensasi. Alvin lebih lembut dan terkesan monoton karena hanya menggunakan gaya yang sama saat bercinta. Berbeda dengan Sandi yang mampu mengeksplore n*fsu liarnya.
Jika bermain dengan Sandi, mereka bisa melakukan banyak gaya saat mendayung nirwana. Namun dua-duanya tetap memberikan kenikmatan yang sama untuknya.
Alvin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa percintaan setelah pergulatan panas mereka selesai. Selesai membersihkan diri, alih-alih tidur bersama Anyelir di ranjang mereka, pria itu keluar dan tidur di kamar yang dulu ditempati Sisil.
Anyelir harus menahan kekesalannya. Dia sudah seperti wanita bayaran yang ditinggal begitu saja setelah memuaskan hasrat kliennya. Dengan menahan kekesalan, wanita itu masuk ke kamar mandi.
***
Setelah kejadian malam itu, Alvin kembali menjaga jarak dengan Anyelir. Bahkan dia memilih membuat minuman sendiri. Takut kejadian sama terulang.
Berbeda dengan Alvin yang berusaha menjaga jarak, Anyelir justru terus menempel padanya. Sudah seminggu ini, dia pulang lebih awal. Menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Memasak untuk Alvin, menyiapkan pakaian walau tidak diminta.
Wanita itu berusaha mengubah pandangan Alvin akan dirinya. Tak dipedulikannya protesan dan rengekan Sandi yang selalu menginginkan kehadirannya di apartemen. Anyelir hanya mengatakan nanti dan nanti.
Perubahan itu bukan tanpa sebab. Beberapa waktu sebelumnya, Anyelir sempat mendengar percakapan antara Alvin dan pengacaranya melalui sambungan ponsel. Keduanya tengah membicarakan tentang perceraian.
Tak mau mendapat gelar janda dari Alvin, Anyelir tak ingin menyerah. Sekarang dia sedang berusaha mendapatkan keturunan dari Alvin. Wanita itu yakin, jika dirinya hamil, maka Alvin akan urung menceraikannya.
Anyelir baru saja menaruh mangkok terakhir di meja makan. Hari ini dia memasak banyak makanan. Ada ibu dan adiknya yang akan berkunjung. Sudah cukup lama juga keluarganya tidak menengoknya. Khusus hari ini dia mengundang ibu dan adiknya datang.
Baru saja mangkok diletakkan di atas meja, terdengar suara bel. Buru-buru Anyelir membukakan pintu yang dia sudah tahu siapa yang akan datang.
“Ibu,” Anyelir mencium punggung tangan ibunya.
“Alvin mana?” tanya wanita bernama Weni itu.
“Masih di mini market.”
“Telepon! Suruh pulang! Tahu mertua mau datang, bukannya diam di rumah,” cerocos Weni.
Anyelir langsung menghubungi Alvin, memintanya pulang karena sang ibu yang meminta.
Walau malas, akhirnya Alvin memilh pulang. Baru sampai di rumah, dia langsung mendapat semprotan mertuanya.
“Kamu tuh gimana sih? Tahu Ibu mau ke sini, malah sibuk ngurus mini market. Bukannya jemput Ibu,” sembur Weni tanpa basa-basi.
“Maaf, Bu. Habis kedatangan stok baru. Jadi aku bantuin pegawai dulu.”
“Kamu itu bos! Buat apa bantu kerjaan mereka? Mereka bekerja juga ngga gratis, digaji sama kamu. Kenapa jadi kamu yang repot?”
Alvin memilih diam. Dia terlalu malas untuk berdebat dengan ibu mertuanya itu. Ada saja ocehannya yang membuat telinganya merah dan kepalanya pening. Pria itu langsung ke dapur untuk mengambil minuman dingin.
“Mas Alvin, bulan depan aku mau wisuda. Mas Alvin ngga mau nyumbang buat beli baju untukku?” tiba-tiba Viona, adik Anyelir mendekati Alvin.
Tidak ada jawaban dari Alvin. Pria itu mendudukkan diri di kursi makan lalu meneguk minumannya.
“Mas Alvin … kok diam aja sih?” tanya Viona setengah merajuk dan suaranya terdengar oleh Weni. Wanita itu bergegas menuju meja makan.
“Ada apa, Vio?”
“Aku minta baju buat wisuda ke Mas Alvin, tapi ngga dijawab,” jelas Viona sambil memajukan bibirnya.
“Kamu ngga mau kasih baju baru buat Viona?Dia itu—“
“Nanti aku transfer,” sela Alvin cepat memotong ucapan Weni. Pria itu sudah tahu kalimat apa yang akan dilontarkan ibu mertuanya itu.
Wajah Viona langsung sumringah. Selain membiayai kuliahnya, Alvin juga sering memberinya uang saku.
Bukan itu saja, jika dia meminta sesuatu, pasti akan dikabulkan oleh Alvin. Baik dirinya maupun Weni merasa, itu dilakukan Alvin karena terlalu mencintai Anyelir.
Nyatanya—Alvin hanya malas berdebat saja. Kalau dengan uang bisa menutup mulut mereka, buat apa susah-susah berdebat dan membuat telinganya mampet.
“Ini semua Anye yang masak?” tanya Weni sambil melihat aneka makanan yang tersaji di atas meja. Bi Dian yang kebetulan berada di sana mengiyakan pertanyaan wanita itu.
“Kamu benar-benar beruntung mendapatkan Anye, Vin. Dia itu benar-benar istri idaman kan? Kamu harus lebih memperhatikan dan menyayanginya lagi.
Alvin hanya berdecih dalam hati. Lihat saja nanti kalau dirinya melayangkan gugatan cerai untuk Anyelir, entah apa yang akan dikatakan wanita itu.
“Ayo makan, Mama sudah lapar. Mana Anye? Anye!”
“Iya, Ma.”
Dengan terburu Anyelir menuju meja makan dengan wajah sumringah. Wanita itu langsung memeluk lengan suaminya.
“Mas … Ma … aku punya kabar gembira untuk kalian.”
“Apa?” tanya Weni penasaran.
“Aku hamil!” pekik Anyelir senang sambil memperlihatkan test pack di tangannya yang menunjukkan tanda positif.
***
Mohon maaf, berhubung kemarin Neneng entun error, aku memutuskan ngga up. In Syaa Allah hari ini aku up 2x. Satu lagi malam ya.
Seperti biasa, komen yang banyak🤗
hidup Alvin..emang genius dia ya...ibun the best 👍🏻😘🥰
gemes deh