Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Berbeda
Langkah kali Alya menggema pelan di lorong mansion yang panjang dan sunyi.
Malam itu terasa aneh, bukan karena suara para penjaga yang biasanya sibuk, kini menghilang, tetapi karena suasana rumah itu terasa terlalu tenang.
Alya memeluk buku di dadanya, sambil berjalan menuju perpustakaan kecil di lantai dua. Ia tidak bisa tidur sejak sore tadi, kepalanya dipenuhi terlalu banyak pikiran tentang Arkan.
Tentang sikap pria itu yang mulai berubah, tentang tatapan dinginnya yang kini sesekali melembut, dan tentang sentuhan singkat yang entah kenapa selalu tertinggal di pikirannya.
Saat tangannya hendak membuka pintu perpustakaan, suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Apa kamu selalu berjalan sendirian malam-malam begini?"
Alya tersentak kecil, Arkan sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia mengenakan jas hitam dengan dua kancing atas terbuka, pria itu terlihat lelah. Namun tatapannya masih setajam biasanya.
"Aku hanya tidak bisa tidur," jawab Alya pelan.
Arkan mendekat, "Aku sudah bilang, bahwa mansion ini tidak aman."
"Aku tinggal serumah denganmu, seharusnya aku aman berada di rumah ini."
Jawaban itu membuat Arkan diam, sorot matanya berubah tipis, seolah ada sesuatu yang mengusiknya.
"Musuhku ada di mana-mana, Alya," ucap Arkan rendah. "Termasuk di dalam rumah ini."
Alya menatap pria itu lama, untuk pertama kalinya, ia melihat kelelahan di balik wajah dingin Arkan Virello.
"Apa kamu pernah istirahat?" tanya Alya.
Arkan mengangkat alisnya, "Memangnya kenapa?"
"Kamu selalu terlihat seperti sedang bersiap untuk menghadapi perang."
Beberapa detik berlalu sebelum Arkan tertawa kecil, dan itu membuat Alya membeku.
Karena pria itu hampir tidak pernah tertawa.
"Kamu aneh, Alya," gumam Arkan.
"Aku serius."
Tetapan mereka bertemu cukup lama, hingga Alya buru-buru mengalihkan wajahnya.
Jantungnya berdegup dengan kencang, Arkan berjalan melewatinya lalu membuka pintu perpustakaan.
"Masuk."
Alya mengikutinya dengan ragu, ruangan itu remang dengan aroma kayu dan kopi pahit yang samar.
Rak buku tinggi memenuhi dinding, sementara meja besar di tengah dipenuhi berkas dan peta.
Arkan mengambil sesuatu dari meja, lalu duduk di sofa panjang.
"Kemarilah."
Alya perlahan mendekat, "Itu apa?" tanyanya saat melihat kotak kecil hitam di tangan Arkan.
"Ini obat."
"Obat? Apa kamu sedang sakit?"
"Tidak," jawab Arkan dingin.
Arkan membuka kotak itu, lalu memperlihatkan luka kecil di tangannya. Ada darah kering di dekat buku-buku jarinya.
Alya langsung mengernyit, "Kamu bilang kamu tidak terluka, lalu itu apa?"
"Hanya goresan kecil."
Tanpa sadar Alya duduk lebih dekat, ia mengambil kapas dan obat antiseptik dari kotak itu.
"Diam," katanya pelan saat Arkan hendak menarik tangannya.
Pria itu menatapnya lama, namun akhirnya ia membiarkan Alya menggenggam tangannya.
Dan saat itulah Alya sadar, tangan Arkan terasa sangat dingin. Berbeda dengan genggamannya yang selalu kuat dan menekan.
Alya membersihkan luka itu dengan hati-hati, Arkan tidak mengatakan apa pun. Tatapannya hanya tertuju pada wajah Alya yang terlihat serius.
"Aku tidak menyangka, jika seorang mafia bisa ceroboh juga," gumam Alya.
"Aku juga tidak menyangka, jika istriku bisa cerewet."
Alya mendelik kecil, "Aku sedang membantu untuk mengobati lukamu."
"Dan aku juga tidak menyuruhmu untuk berhenti."
Alya menunduk cepat, sedangkan Arkan terus memperhatikannya tanpa berkedip.
"Alya."
"Hmm?"
"Kenapa kamu tidak takut padaku lagi?"
Pertanyaan itu membuat tangan Alya berhenti, ia sendiri tidak tahu jawabannya.
Dulu, bahkan mendengar langkah kaki Arkan saja sudah membuatnya gemetar, namun sekarang, pria itu masih menyeramkan, masih dingin, masih berbahaya. Tapi di balik semua itu, Alya mulai melihat sisi lain yang selama ini tersembunyi.
"Aku masih takut," jawab Alya jujur.
"Lalu?"
"Tapi aku mulai mengerti kalau tidak semua tentangmu itu buruk."
Tatapan Arkan berubah samar, ada sesuatu di sana. Sesuatu yang sulit dijelaskan.
Perlahan, pria itu menggenggam pergelangan tangan Alya, sebelum gadis itu sempat menarik diri.
Sentuhan itu membuat napas Alya tercekat, bukan karena kasar. Justru sebaliknya, genggaman Arkan malam itu terasa lebih lembut. Seolah takut melukainya, dan itu jauh lebih berbahaya bagi hati Alya.
"Alya," suara Arkan rendah. "Seharusnya kamu tidak mencoba untuk mengerti pria sepertiku."
"Kenapa?"
"Karena pada akhirnya kamu akan terluka."
Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti sebuah peringatan, sekaligus pengakuan.
Alya menatap mata Arkan, untuk pertama kalinya, tidak ada ancaman dimatanya. Hanya kelelahan dan sesuatu yang tampak rapuh.
Hal yang tidak pernah Arkan tunjukkan pada siapa pun.
"Aku sudah terluka sejak lama, Arkan," bisik Alya.
Dan itu langsung membuat Arkan membeku, ruangan mendadak sunyi.
Arkan mengangkat tangan perlahan, lalu menyentuh sisi wajah Alya dengan lembut.
Pria di depannya adalah Arkan Virello yang dikenal kejam. Tapi sentuhan itu berbeda, tidak memaksa, tidak menuntut, sentuhan itu hanya sebuah usapan pelan yang membuat hati Alya bergetar tanpa alasan.
"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Alya?" tanya Arkan lirih.
Alya menahan napas, rahasia itu lagi. Rahasia yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Ia ingin menjawab, tapi suara langkah kali tiba-tiba terdengar dari luar ruangan.
BRAK!
Pintu perpustakaan terbuka kasar, seorang pria berpakaian hitam masuk dengan napas terburu-buru.
"Tuan Arkan!"
Arkan langsung berdiri, tatapannya berubah dingin dalam sekejap. "Ada apa?"
"Gudang pelabuhan diserang."
Wajah Arkan langsung menegang, "Siapa yang sudah berani melakukan penyerangan?"
"Mereka orang-orang Damar, Tuan."
Alya melihat perubahan itu secara langsung, dalam hitungan detik, pria yang tadi menunjukkan sisi lembutnya, kembali menjadi monster dingin yang ditakuti semua orang.
Arkan mengambil pistol dari laci meja tanpa ragu, "Aku akan pergi."
"Apa kamu harus pergi sekarang?" tanya Alya.
Tatapan mereka bertemu, dan untuk sesaat, wajah dingin itu sedikit melemah.
"Kamu tidurlah, ini sudah malam," ucap Arkan pelan.
Sebelum keluar ruangan, langkah Arkan langsung terhenti. "Jangan lupa untuk mengunci pintu."
Setelah Arkan pergi, Alya masih berdiri mematung di tengah perpustakaan.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya sendiri, bekas sentuhan Arkan masih terasa hangat di sana.
Dan untuk pertama kalinya, Alya mulai takut pada perasaannya sendiri.