Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 Mempermalukan Diri Sendiri
Ekspresi Dean Junxian sempat membeku sekejap, seolah ada sesuatu yang tersingkap tanpa sengaja. Namun, dalam hitungan detik, ketegangan itu lenyap, digantikan oleh senyum tipis yang terasa dipaksakan terlalu rapi untuk terlihat tulus.
“Posisimu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun,” ujarnya lembut, mencoba meredakan suasana. “Sudahlah, jangan marah lagi. Anak kita sedang sakit, jangan sampai dia ikut ketakutan. Kalau terjadi sesuatu padanya, nanti kamu sendiri yang akan menyesal, bukan?”
Ada benarnya juga kata-katanya. Meski hatiku masih bergolak, aku menahan diri. Tatapanku perlahan beralih pada wajah kecil Sonika yang basah oleh air mata. Dadaku terasa sesak melihatnya. Dengan hati yang perih, aku mengusap punggungnya perlahan, menepuk-nepuknya dengan lembut sambil berusaha menenangkan tangisnya yang tersisa.
Tiba-tiba, terdengar bunyi samar dari arah pintu seperti seseorang yang berusaha bergerak tanpa suara. Aku langsung tahu siapa itu. Zhiyi Pingkan pasti sedang menguping.
Dengan sengaja, aku meninggikan suaraku, “Sepertinya aku memang terlalu lama sakit, ya. Sampai-sampai kondisi tubuhku yang lemah ini selalu jadi bahan pembicaraan kalian.”
Dean Junxian tidak menanggapi ucapanku. Ia hanya mengambil gelas di sampingnya, lalu menyuapi Sonika beberapa teguk air, seolah itu cara paling aman untuk menyembunyikan kegelisahan dan rasa bersalahnya.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar menjauh perlahan, namun jelas.
Tak lama, Sonika akhirnya tertidur dalam pelukanku. Napasnya mulai teratur, wajah kecilnya terlihat jauh lebih tenang. Aku membaringkannya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya dengan rapi. Aku duduk di tepi ranjang, menatapnya cukup lama. Ada rasa nyeri yang tak terucapkan, menggerogoti hatiku tanpa henti.
Tiba-tiba, sebuah tangan merangkul bahuku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
“Capek, ya?” suara Dean Junxian terdengar pelan, disertai senyum tipis yang sulit ditebak maknanya. “Istirahatlah sebentar. Kalau mau menjaga dia, kamu sendiri juga harus kuat, bukan?”
Aku tidak menjawab. Bahkan tak sedikit pun aku menoleh. Tanpa sepatah kata, aku berdiri dan melangkah keluar menuju kamar. Tubuhku lelah, tapi yang lebih melelahkan adalah harus terus berpura-pura baik-baik saja di hadapannya. Rasa muak itu semakin menumpuk pria ini benar-benar membuatku jijik.
Aku tidak bisa terus seperti ini. Tidak bisa terus membiarkan mereka mengatur hidupku sesuka hati. Di mata mereka, aku mungkin hanyalah sosok lemah, tak berdaya, seperti kucing sakit yang menunggu nasib.
Pintu kamar terbuka, dan seperti yang kuduga, Dean Junxian mengikutiku masuk.
“Aku mengantuk. Mau tidur sebentar. Jangan berisik,” kataku dingin, tanpa memberinya ruang untuk membalas.
Setelah itu, aku langsung berbaring, memunggungi pintu, seolah ingin memutus semua interaksi.
“Baiklah, istirahat saja dulu. Nanti saat makan siang, aku bangunkan,” jawabnya pelan.
Tak lama, terdengar suara langkahnya menjauh, diikuti bunyi pintu yang ditutup rapat.
Kamar kembali sunyi.
Namun pikiranku tidak.
Selama benda itu belum ditemukan… posisiku akan terus berada di ujung jurang. Dan kali ini, aku tidak yakin masih bisa bertahan jika didorong sedikit saja.
Gawat… sepertinya kali ini Zhiyi Pingkan benar-benar sudah mencapai batas kesabarannya.
Dugaanku ternyata tidak meleset. Menjelang malam, saat aku berpura-pura terlelap di atas ranjang, samar-samar terdengar suara percakapan dari kejauhan. Awalnya lirih, namun semakin lama semakin jelas dan nada di dalamnya sama sekali tidak terdengar baik.
Aku menahan napas, memasang telinga sebaik mungkin.
Itu… suara Dean Junxian dan Zhiyi Pingkan.
Namun, bukan percakapan biasa. Nada mereka tajam, saling memotong, penuh emosi yang tak lagi bisa disembunyikan. Mereka jelas sedang bertengkar hebat.
Dengan hati-hati, aku menyingkirkan selimut dan turun dari tempat tidur. Kaki telanjangku menyentuh lantai dingin, tapi aku mengabaikannya. Perlahan, aku melangkah ke arah pintu dan menempelkan telinga di sana. Suaranya masih terdengar samar.
Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku memutar gagang pintu sedikit demi sedikit, membukanya hanya secelah. Dari sana, aku menyadari… suara itu berasal dari lantai bawah.
Suara Zhiyi Pingkan terdengar lebih jelas sekarang tajam, penuh amarah yang tak lagi ditahan.
“Atas dasar apa kamu bicara seperti itu padaku?” bentaknya. “Kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu menghentikan obatnya? Kenapa? Tiba-tiba merasa tidak tega sekarang?”
“Zhiyi Pingkan, sadar diri dengan siapa kamu bicara!” suara Dean Junxian meledak, keras dan penuh tekanan. “Kamu tidak punya hak untuk mengaturku!”
“Kalau tahu akhirnya akan seperti ini, kenapa dulu kamu melakukannya?” balas Zhiyi Pingkan tanpa gentar. “Sekarang kamu merasa kasihan padanya? Kalau memang punya hati, seharusnya sejak awal kamu tidak menyentuhnya! Sekarang semua ini untuk apa ”
Kalimatnya terputus tiba-tiba.
Sebuah teriakan kaget memecah udara, diikuti suara bentakan penuh amarah yang menggema di seluruh rumah.
“Siapa yang memberimu keberanian untuk bicara seperti itu padaku, hah?!” suara Dean Junxian terdengar mengerikan. “Kau sudah bosan hidup? Kau pikir aku tidak berani menyentuhmu?!”
Jantungku berdegup kencang. Dengan langkah pelan dan berjinjit, aku mendekat sedikit lagi, berusaha melihat apa yang terjadi di bawah sana.
Namun yang terdengar justru suara Zhiyi Pingkan yang berubah serak tercekik, nyaris tak bisa bersuara.
“A… aa…”
Suara itu bukan lagi kemarahan, melainkan jeritan yang tertahan.
“Zhiyi Pingkan, kau pikir aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan padanya?” suara Dean Junxian kini terdengar dingin, lebih menakutkan dari amarahnya tadi. “Kau pikir aku tidak tahu kau yang menusuknya dengan jarum, hah? Kenapa obatnya dihentikan? Dia sudah mulai menyadari luka di kepalanya! Kau sudah merusak seluruh rencanaku… dan sekarang masih berani mempertanyakanku?”
“A… lepaskan…”
Suara itu nyaris hilang, seperti terputus di tengah jalan.
Aku memberanikan diri mengintip dari celah pagar lantai atas. Sekilas saja cukup untuk membuat darahku seakan membeku.
Dean Junxian… sedang mencekik leher Zhiyi Pingkan dengan satu tangan, menekannya ke atas sofa. Tubuh wanita itu meronta lemah, kedua kakinya menendang tanpa arah. Wajahnya sudah mulai kebiruan, napasnya tersendat di ambang hilang.
Aku refleks menarik kembali kepalaku, menutup mulutku agar tidak berteriak.
Namun suara itu masih terus terdengar.
“Kau pikir kau bisa mengancamku hanya karena sedang mengandung anakku?” suara Dean Junxian rendah, tapi dipenuhi ancaman yang nyata. “Percaya atau tidak… aku bisa membuatmu menghilang dari dunia ini tanpa jejak. Mengerti?!”
Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau dingin yang menusuk tanpa ampun.
Dan di saat itu, satu hal menjadi sangat jelas bagiku
Pria ini… jauh lebih berbahaya dari yang selama ini kubayangkan.
Ia menggeram pelan, namun setiap katanya dipenuhi ancaman yang begitu nyata, “Dengarkan baik-baik. Hidup atau mati Luna Danni ada di tanganku. Jika kau berani melakukan satu kesalahan saja di hadapannya lagi… aku pastikan kau akan mati lebih dulu darinya.”
Tubuhku seketika menegang. Rasa dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tulang belakang. Jadi selama ini… dugaanku tidak salah. Dean Junxian memang berniat menyingkirkanku. Semua yang terjadi bukan kebetulan melainkan bagian dari rencana yang telah disusunnya dengan rapi. Dan Zhiyi Pingkan… hanyalah alat di tangannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara benturan berat diikuti bunyi “gluk” yang kasar, seolah seseorang baru saja dilepaskan dari cekikan. Sesaat setelahnya, batuk tersedak memecah keheningan. Suara Zhiyi Pingkan terdengar parau, seperti orang yang baru saja lolos dari ambang kematian.
Namun Dean Junxian tidak memberinya waktu untuk bernapas lega.
“Simpan barang itu baik-baik. Hentikan semua rencanamu yang bodoh itu,” bentaknya dingin. “Tanpa perintah dariku, kau hanya perlu menjalankan tugasmu dengan patuh… sebagai seorang pengasuh.”
Ia sengaja menekankan kata terakhir itu “pengasuh” dengan nada yang begitu merendahkan, seakan-akan ingin menghancurkan harga diri lawan bicaranya sampai ke dasar.
Di sela-sela batuknya yang masih tersisa, Zhiyi Pingkan berusaha membalas. Suaranya terputus-putus, lemah, namun sarat luka, “Dean Junxian… jadi selama ini, di matamu… aku hanya seorang pengasuh?”
Untuk sesaat, suasana menjadi hening.
Lalu tiba-tiba, tawa Dean Junxian pecah dari bawah sana kering, sinis, dan penuh ejekan.
“Menurutmu sendiri bagaimana?” balasnya ringan, seolah pertanyaan itu tidak layak dipertimbangkan. “Hahaha…”
Ia berhenti sejenak, seakan sedang menimbang sesuatu, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin meremehkan.
“Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa dibandingkan dengan Luna Danni?” ujarnya dingin. “Oh… tapi tunggu…”
Nada suaranya berubah, menjadi lebih rendah nakal, namun sarat penghinaan.
“…mulutmu itu memang jauh lebih ‘berbakat’ darinya. Untuk yang satu itu… aku cukup menikmatinya.”
Setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa menjijikkan, seperti racun yang menetes perlahan memuakkan, sekaligus mematikan.