Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Si cewek Teddy mengajak Ruby tidur di kamarnya malam ini. Kali ini selimutnya bukan pink unicorn, tapi hijau dengan gambar kodok bermahkota-evolusi yang cukup meragukan, tapi ya sudahlah.
Ruby akhirnya terpaksa cerita semuanya ke Kimi. Ya semuanya, kecuali bagian Anela yang mencurigainya. Ia tidak mau pacarnya tiba-tiba bakar asrama hanya karena 'penasaran'. Tapi dari sekian banyak info penting itu, Kimi cuma fokus pada satu hal.
"Jadi dia bukannya suka sama kamu? Waktu itu cuma mancing aku doang biar ngaku soal hubungan kita?" tanya Kimi, sok polos padahal matanya penuh sirine merah.
Ruby mengangguk. "Intinya dia gak berbahaya. Ini pelatihan resmi, Kim. Charley gak mungkin sembarang masukin orang aneh. Makanya kamu harus rahasiain ini dari peserta lain, biar serunya gak rusak."
Kimi mengangguk begitu mantap seolah baru selesai ikut seminar motivasi. "Oke, sayangku. Siap. Aku udah tenang sekarang."
Ia berhenti sejenak. Lalu.. "Nah, tinggal janji kamu,By. Katanya mau ngasih."
Ruby berkedip. Mungkin malam ini ia belajar satu pelajaran penting: ucapan asal di dunia normal akan tetap asal-asalan. Tapi kalau di depan Kimi Ariana? Langsung naik pangkat jadi kontrak kerja.
" Sayang... kamu serius? Aku takut ngerusak kamu. Maksudku, takut kelepasan."
Itu justru langsung meledakkan radar kepo Kimi sampai level maksimum. Ia sudah tahu rasanya disukai, digenggam, dicium, dipeluk... tapi soal satu hal yang 'terlarang tapi bikin penasaran', ia masih blank. Dan dalam otak Kimi yang polos-chaotic itu, sesama perempuan tidak mungkin melakukan sesuatu yang terlalu ekstrem.
Rasa kepo Kimi sudah benar-benar salah jalan. Salah arah. Salah kaprah. Dan harusnya ia sudah putar balik sekarang. Tapi tentu saja, Kimi tak pernah tahu caranya berhenti.
"Yaudah kalau kamu gak mau. Cuma.. aku cukup tau aja kamu ternyata gak bisa pegang omongan," ujar Kimi dramatis, memeluk Teddy, lalu berguling membelakangi Ruby.
Ruby yang masih duduk di pinggir kasur cuma bisa menghembuskan napas pasrah. Di dunia ini, mungkin cuma dia yang punya pacar cantik, sudah dikasih lampu hijau, tapi malah dia sendiri yang nge-rem setengah mati. Goblok, tapi nyata.
Setelah berpikir keras (dan doa pendek), Ruby akhirnya menguatkan diri. Gw gak bakal bablas, mantranya dalam hati.
Ia menyentuh bahu Kimi perlahan, memutar tubuhnya kembali. Bibir manyun itu bikin Ruby nyengir tanpa sadar. Ia mencondongkan tubuh, mengecup cepat, tapi Kimi tetap diam, Ruby menunduk lagi, kali îni lebih dalam, lebih sungguh-sungguh. Kimi mulai membalas, dan tahu-tahu Ruby sudah menindih setengah tubuh pacarnya.
Kimi benar-benar mengira ini bakal sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Ruby cium - selesai - tidur.
Ternyata ia salah.
Perlahan tangan Ruby masuk ke dalam dress, mengusap pelan pahanya, dan saat itulah Kimi mulai menegang. Caranya membalas ciuman mulai tersendat. Terlebih saat tangan Ruby sudah sampai di dadanya, ciuman Kimi total patah-patah. Remasan itu lembut, seolah sedikit tenaga saja akan menyakiti Kimi.
"Buka?" tanya Ruby, meminta izin.
Kimi yang kepalang kepo hanya mengangguk, membiarkan dress tidurnya terlempar ke bawah kasur. Ruby sempat menahan napas, meski bukan pertama kali melihat Kimi hanya memakai dalaman. Pernah sekali cewek Teddy ini ganti baju dengan santai di depannya. Memancing. Menggoda. Dengan cara paling alami, polos, tapi bikin merinding.
Ruby menunduk, kembali mencium bibir Kimi. Ciumannya perlahan bergeser ke pipi, singgah sebentar di telinga, membuat suara Kimi keluar sedikit. Ia turun ke leher, mengecup, menggigit kecil, dan sesekali memakai lidahnya, menahan diri agar tidak meninggalkan bekas. Nafasnya makin berat, tubuhnya makin panas. Tangannya tanpa sadar meluncur ke belakang, membuka pengait seperti seorang pro.
Kimi tersentak saat benda itu terlepas, kulitnya tersapu udara dingin dari Ac. Tidak lama, karena tangan Ruby sudah menutupnya lagi. Dari tadi ia merasa aneh. Bukan aneh yang jijik, tapi geli dalam artian yang menyenangkan. Ia tidak malu, malah terkejut ketika sadar sentuhan Ruby mampu membuatnya mengeluarkan suara-Suara aneh.
Ia menunduk, melihat tangan Ruby meremas tanpa halangan. Cewek itu masih sibuk di lehernya, sampai Kimi harus menggigit bibir menahan desahan. Ia memejamkan mata, yang terdengar hanya suara nafas mereka dan degup jantung yang menggila.
Saat ciuman Ruby semakin turun, Kimi makin gelisah. Ia terus mengulang hal yang sama di kepalanya: Ruby cewek. Dia cewek. Harusnya gak begini rasanya.
"Ahh.. By.."
Kimi menggeliat saat Ruby menutup puncak dadanya dengan mulut. Ini aneh. Setiap hisapan itu membuatnya tak bisa berpikir, dan seluruh logikanya runtuh.
Ini bukan soal gender, ini soal Uby yang jadi bayi, batin Kimi heboh sendiri.
"U-uby.."
Akhirnya Kimi memanggil dengan suara tertahan. Tapi bukan suara itu yang membuat Ruby tersadar, melainkan remasan kuat di bahunya. Ia melepaskan puncak yang mengeras itu dari mulutnya, lalu mendongak menatap pacarnya.
"Sayang, maaf," bisik Ruby pelan.
"Maaf kenapa? Aku cuma... geli," balas Kimi dengan napas tidak karuan.
Ia sendiri bingung, antara ingin menyudahi atau membiarkan Ruby lanjut. Tapi rasa penasarannya belum terjawab. Dan ini jelas belum tuntas.
"Udah ya." Ruby menarik selimut menutupi tubuh Kimi. "Aku gak mau bablas."
Kimi langsung gelagapan, "Bablasnya sampai mana, By?"
Ruby hanya menggeleng, lalu rebahan sambil menarik Kimi ke dalam pelukannya. Napasnya masih berat, hasratnya jelas belum turun, tapi menuruti itu bukan pilihan. Ia lebih takut membuat Kimi menyesal setelahnya.
Kimi sedikit kesal. Jelas. Tapi ia tahu tak bisa memaksa. Yang menyebalkan adalah: rasa, penasarannya malah jadi tambah liar.
Dan setelah lima detik terdiam, otaknya sudah mulai heboh.
Kenapa Ruby berhenti?
Kenapa wajah Ruby kayak lagi nahan sakit?
Apa yang ditahan?
Kenapa harus ditahan?
Sampai kapan nahan?
"Uby," panggil Kimi tiba-tiba.
"Hmm?"
"Apa kamu gak suka badanku? Perasaan dadaku lumayan seksi. Aku juga wangi. Atau kamu suka yang lebih montok?"
Ruby menahan tawa, tapi tetap tak bisa menahannya. Ia terkekeh kecil.
"Justru karena suka makanya aku berhenti. Kalau aku lanjut, kamu yang bakal nyesel nantinya."
Kimi mengernyit, menatap Ruby dari bawah, Wajah Ruby sudah kembali kalem, meski matanya jelas-jelas menolak melirik ke dada pacarnya.
"Aku kan pengen tau mentoknya sampai mana, By."
Ruby tersenyum lembut. Senyum sabar, senyum berbahaya, senyum yang membuat Kimi makin penasaran.
"Nanti, sayang. Bukan sekarang."
"Nantinya kapan?"
"Kalau udah waktunya."
Kimi mendecak dan memunggungi Ruby. Apa dia harus menahan penasaran sampai bertahun-tahun? Kimi mungkin mengira Ruby masih menganggapnya bocah, bahkan setelah apa yang terjadi malam ini.
Yang tidak ia sadari adalah satu hal: penasarannya sendiri sedang menarik jalannya semakin jauh. Pelan, halus, dan manis, dengan cara yang hanya Ruby yang bisa buat.
.
Ayo lanjut agi thor jngn lama upnya🙏
Lanjut ya thor
Aku padamu