🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jejak luka lama (Part 2)
Malam itu, udara jalanan Jakarta terasa dingin bercampur asap rokok dan suara knalpot motor yang saling bersahutan.
Aku duduk di atas motor sambil memainkan kunci motor di tangan. Sementara beberapa temanku masih tertawa keras membahas balapan minggu sebelumnya.
Lampu-lampu jalan memantul samar di aspal yang sedikit basah sehabis hujan ringan. Musik dari warung kopi pinggir jalan terdengar samar, bercampur suara obrolan dan candaan yang tidak pernah berhenti.
"Bro, nanti jadi ikut, gak?" Tanya salah satu temanku sembari bersandar di motor.
Aku hanya mengangkat sebelah alis, lalu tersenyum tipis tanpa langsung menjawab. Saat itu, hidupku memang lebih banyak dihabiskan di tempat seperti ini dibanding rumah. Pulang malam, ikut balapan liar, mencari ribut kalau emosi sedang tidak stabil.
Dan malam itu, pikiranku juga sedang kacau. Sejak pertengkaran Papa dan Om Sandy, rumah terasa berbeda. Lebih sunyi, tapi justru membuat kepalaku semakin penuh. Makanya aku lebih memilih di luar.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundakku dari belakang. Aku refleks menoleh cepat. Dan di sana, Rendra berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya.
Wajahnya terlihat santai, tapi sorot matanya selalu punya kesan menantang yang sulit dijelaskan. Kami seumuran, aku sering membuat masalah di sekolah, Rendra juga tidak jauh berbeda.
"Ternyata lo di sini," ujar Rendra sambil menyunggingkan senyum tipis.
Aku sedikit mengernyit, "Ngapain lo nyari gue?"
Rendra terkekeh pelan, lalu ikut bersandar di samping motorku. "Santai aja kali," ujarnya ringan. "Masa sepupu sendiri gak boleh nyamperin."
Aku tidak langsung menjawab. Jujur saja, hubungan kami memang sudah mulai aneh sejak masalah keluarga itu muncul. Tidak benar-benar musuhan waktu itu, tapi juga jauh dari kata dekat.
Malam itu, entah mengapa firasatku langsung terasa tidak enak begitu melihat Rendra datang menghampiri.
Rendra menoleh sekilas ke arah teman-temanku yang masih sibuk mengobrol, tak jauh dari sana. Setelahnya, ia kembali menatapku.
"Gue mau ngomong," ujar Rendra setengah berbisik. "Berdua."
Aku sedikit mengernyit, lalu melirik teman-temanku sekilas sebelum kembali menatap Rendra. "Soal apa?" Tanyaku datar.
"Soal keluarga kita," jawab Rendra.
Aku langsung berdiri dari motor, lalu menarik lengan Rendra menjauh dari tongkrongan sebelum mereka mulai penasaran dengan perbincangan kami.
"Jangan bahas masalah keluarga di depan mereka," ujarku dingin sambil melepas tangannya.
Rendra tersenyum miring, seolah reaksiku terasa lucu baginya. "Masih sensitif soal itu?"
Aku menghela nafas kasar, "Mau lo apa sih?"
Rendra terkekeh kecil, "Gue cuma heran aja," ujarnya pelan. "Dari dulu hidup lo enak banget."
"Maksud lo?"
Rendra memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Lo selalu jadi cucu kesayangan Opa," ujarnya dengan nada yang mulai berubah. "Apa-apa selalu lo."
Rahangku langsung mengeras mendengar itu. "Rendra-"
"Bahkan, rumah itu juga jatuhnya buat keluarga lo," potong Rendra cepat dengan tawa pendek, "Kadang gue mikir, enak ya jadi lo."
Aku tertawa pendek, penuh rasa tidak percaya. "Enak lo bilang?" Ujarku dingin. "Lo sama egoisnya kayak bokap lo."
Senyum di wajah Rendra perlahan memudar. Tatapannya langsung berubah tajam menatapku balik.
"Apa kata lo?" Tanya Rendra pelan, tapi jelas menahan emosi.
Aku melangkah lebih dekat tanpa gentar sedikitpun, "Bokap lo yang serakah, Ren. Jangan nyalahin keluarga gue terus."
Rendra tiba-tiba menepuk pundakku cukup keras. Bukan sentuhan biasa, lebih seperti dorongan penuh tantangan.
"Gue dari dulu gak pernah suka cara ngomong lo," ujarnya dingin.
Aku menepis tangannya kasar. "Terus kenapa? Mau ribut?"
"Boleh juga," ujar Rendra dengan senyum miring. "Sekalian aja kita selesaikan sekarang."
Nafasku mulai memburu menahan emosi. Tanganku bahkan sudah mengepal sejak tadi, tapi aku masih mencoba menahan diri.
"Gue gak mau berantem," ujarku tegas, menatap Rendra lurus.
Rendra mengangkat sebelah alis, seolah menunggu kelanjutan. Aku mengusap wajah kasar sebelum kembali bersuara. "Kalau lo emang mau semuanya kelar, kita gak usah adu jotos." Ujarku. "Kita balapan. Karena bagaimanapun juga, lo tetap sepupu gue."
Rendra menatapku lama, lalu mengulurkan tangannya. "Deal," ujarnya mantap.
Aku menatap tangannya sebentar, sebelum akhirnya menyambut uluran itu singkat.
"Kalau gue menang," ucap Rendra mental lurus ke mataku. "Jam peninggalan Opa yang selalu lo simpan itu jadi milik gue. Gimana, berani gak?"
Aku menatap Rendra tanpa berkedip, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Fine," jawabku tegas. "Kalau gue kalah jam itu buat lo. Tapi kalau gue yang menang, lo jangan pernah ganggu keluarga gue lagi."
Senyum di wajah Rendra perlahan memudar. Aku tetap menatapnya lurus. "Termasuk bokap lo," lanjutku dingin. "Jangan ada lagi urusan soal rumah, warisan, atau apapun itu."
Rendra terdiam sesaat, sebelum akhirnya tertawa kecil. "Berani juga lo."
Aku hanya menatap Rendra tanpa menjawab perkataannya lagi. Aku sudah terlalu lelah untuk memperpanjang adu mulut malam itu. Aku menghela nafas kasar, lalu berbalik pergi meninggalkannya begitu saja.
Malam berikutnya, jalanan yang biasanya sepi mulai dipenuhi suara motor dan kerumunan para remaja yang datang untuk menonton.
Lampu jalan menjadi satu-satunya penerangan di sepanjang jalan lurus itu. Beberapa motor berjejer di pinggir, sementara suara canda dan sorakan terdengar saling bersahutan.
Aku berdiri di samping motor sambil memasang helm perlahan. Jaket hitam yang kupakai bergerak pelan tertiup angin malam.
Rendra juga sudah datang. Ia berdiri bersandar di motornya dengan ekspresi tenang, seolah balapan ini bukan hal besar baginya.
Tapi aku tahu, malam ini bukan sekedar menang atau kalah. Ini tentang gengsi, tentang keluarga, dan tentang luka yang belum sama-sama selesai.
Satu anak tongkrongan mulai maju ke tengah jalan, bersiap menjadi aba-aba start. Sementara yang lain mulai bersorak, membuat suasana semakin panas.
Aku menarik nafas panjang di balik helm. Jujur saja, pikiranku malam itu kacau. Tapi gengsiku terlalu tinggi untuk mundur sekarang.
Suara hitungan mulai terdengar di tengah keramaian. Aku menggenggam stang motor lebih erat. Suara mesin mulai meraung memenuhi jalanan malam.
"Go!"
Motor kami langsung melesat bersamaan begitu aba-aba diberikan. Angin malam menghantam tubuhku keras saat kecepatan motor terus naik tanpa ampun.
Sorakan teman-teman di belakang perlahan menghilang, tergantikan suara mesin dan detak jantungku sendiri.
Rendra melaju tepat di sampingku. Aku bisa melihat motornya dari sudut mata, sama cepatnya, sama gilanya.
Aku memutar gas lebih dalam, motor melesat semakin kencang. Rendra tidak tinggal diam. Ia ikut menambah kecepatan, bahkan sempat menyalip tipis di depanku seolah sengaja memprovokasi.
Malam itu bukan hanya emosi yang bermain, harga diriku juga ikut dipertaruhkan di sana.
Motor kami melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak ada yang benar-benar mau mengalah.
Tanganku semakin erat mencengkeram stang saat garis finis mulai terlihat samar di kejauhan. Aku melaju lebih cepat dari beberapa detik sebelumnya.
Dan dalam hitungan detik, aku berhasil melewati garis finis lebih dulu. Suara teriakan langsung pecah di pinggir jalan. Beberapa temanku bersorak heboh saat motorku berhenti sedikit jauh di depan.
Nafasku memburu di balik helm. Dadaku naik turun menahan adrenalin yang masih belum hilang.
Tak lama kemudian, suara motor Rendra berhenti tak jauh dariku. Untuk sesaat, semua terasa hening di antara kami berdua.
Aku turun dari motor sambil melepas helm dengan gerakan kasar. Nafasku masih belum beraturan setelah balapan tadi.
Di depanku, Rendra juga turun dari motornya. Tatapan kami langsung bertemu, sama tajamnya.
Aku berjalan menghampirinya perlahan, sampai akhirnya kami berdiri saling berhadapan di tengah keramaian yang mulai memperhatikan.
"Gue yang menang," ujarku tegas tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. "Jadi lo harus pegang omongan lo. Jangan ganggu keluarga gue lagi."
Beberapa detik Rendra hanya diam. Tapi sorot matanya berubah semakin dingin. Lalu, tiba-tiba ia tertawa pendek penuh emosi.
"Cuma menang balapan doang, jangan sok paling hebat," ujarnya sinis.
Aku langsung mengernyit, "Lo sendiri yang ngajak taruhan."
"Karena gue gak nyangka lo bakal seberuntung ini," jawab Rendra cepat.
Aku mulai kehilangan kesabaran. "Apa sih masalah lo sebenarnya?"
"Masalah gue?" Rendra melangkah mendekat. "Keluarga lo selalu merebut semuanya dari keluarga gue!"
"Jangan nyalahin gue atas kesalahan bokap lo!" Bentakku tanpa sadar.
Kalimat itu langsung membuat Rendra meledak. Tanganku di dorong keras, sampai tubuhku mundur setengah langkah.
"Jangan bawa-bawa bokap gue!" Bentak Rendra.
Bugh!
Satu pukulan melayang ke arahku. Aku merasa emosiku ikut naik. Tanpa sadar, aku membalas perlakuan Rendra.
"Keterlaluan lo, Ren!" Balasku.
Dan malam itu, pertengkaran yang sejak awal kami tahan akhirnya benar-benar pecah.
Sejak itu, semuanya benar-benar berubah. Aku dan Rendra tidak pernah kembali seperti dulu lagi. Dan yang paling parah, hubungan Papa dan Om Sandy ikut hancur setelahnya.
Om Sandy perlahan menjauh dari keluarga kami. Bahkan lama-kelamaan, beliau tidak pernah lagi menganggap Papa sebagai kakaknya sendiri.
Rumah yang dulu damai perlahan berubah asing. Tanpa sadar, pertengkaran orang dewasa waktu itu ikut menyeret kami berdua sampai sejauh ini.
***
Anindia langsung menutup mulutnya dengan tangan setelah mendengar semua cerita itu. Matanya menatap Keanu dengan penuh keterkejutan. Ia benar-benar tidak menyangka konflik keluarga suaminya ternyata sedalam itu.
Suasana kamar mendadak hening beberapa saat. Keanu hanya duduk diam di samping Anindia, sementara sorot matanya terlihat jauh lebih tenang setelah menceritakan semuanya pada istrinya.
Sementara Anindia masih mencoba mencerna semuanya. "Pantesan..." Gumamnya lirih tanpa sadar.
Kini ia mengerti mengapa tatapan Keanu berubah begitu dingin saat bertemu dengan Rendra, ternyata ada konflik lama yang pernah terjadi antara keduanya.
Keanu terkekeh kecil, tapi terdengar hambar. Pandangannya menunduk sesaat sebelum akhirnya kembali menatap Anindia.
"Kadang aku mikir," ujar Keanu pelan. "Aku gak pantas bersanding sama kamu."
Anindia langsung mengernyit sedikit. Keanu menghela nafas pelan, lalu tersenyum tipis penuh kelelahan. "Kamu tumbuh dengan hati yang baik, sementara hidup aku dulu isinya cuma kekacauan."
Suaranya rendah, tanpa nada bercanda sedikitpun. "Aku keras kepala, sering bikin masalah, bahkan nyeret diri sendiri ke hal-hal yang enggak seharusnya." Lanjutnya lirih. "Dan sampai sekarang, masa lalu itu kadang masih kebawa."
Belum selesai Keanu bicara, Anindia langsung menggeleng pelan. Senyum lembut muncul di wajahnya, senyum yang menenangkan.
"Mas," panggil Anindia lembut sembari menggenggam tangan Keanu lebih erat. "Kalau aku cuma melihat masa lalu kamu, mungkin aku gak akan pernah benar-benar mengenal siapa kamu sekarang."
Tatapannya hangat menatap suaminya itu. "Semua orang punya luka dan kesalahan masing-masing," lanjut Anindia lembut. "Tapi yang aku lihat sekarang, kamu udah berubah. Dan aku lebih suka kamu yang sekarang."
Keanu tersenyum kecil mendengar itu. Tatapannya perlahan melembut, ada rasa hangat yang perlahan memenuhi dadanya. Tangannya menggenggam balik tangan Anindia perlahan.
"Untung ada kamu," ujar Keanu lirih penuh haru. "Kalau aku enggak kenal kamu, mungkin aku gak akan ada di posisi ini."
Anindia tersenyum kecil mendengar ucapan itu. Tatapannya melembut, lalu perlahan ia menggeleng pelan.
"Jangan ngomong gitu, Mas," ujar Anindia lirih. "Kamu mungkin punya masa lalu yang berantakan, tapi itu bukan berarti kamu gak pantas bahagia."
Tangan Anindia mengusap pelan punggung tangan Keanu, mencoba menenangkan sisa-sisa luka yang masih tertinggal.
"Aku justru bersyukur bisa kenal kamu," lanjut Anindia.
Keanu tersenyum mendengar itu. Dadanya terasa hangat oleh kalimat sederhana yang keluar dari mulut istrinya.
"Kamu alasan aku untuk bahagia, sayang," ujar Keanu pada akhirnya sembari mengecup kening Anindia.
Anindia kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Keanu. Tidak banyak kata setelahnya hanya keheningan nyaman yang memenuhi kamar mereka.
Cahaya matahari siang itu masuk melalui celah tirai. Keanu menatap lurus ke depan dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Keanu merasa tidak sendirian menghadapi masa lalunya. Karena sekarang, ada seseorang yang tetap memilih tinggal di sisinya. Bahkan, setelah mengetahui semua luka dan kekacauan yang pernah ia miliki.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁