NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Menjebak

Hujan gerimis mulai membasahi kaca-kaca jendela kantor pusat Ramiro Group, menciptakan pola aliran air yang abstrak dan melankolis, seolah langit Jakarta sedang ikut meratapi kerumitan yang terjadi di dalam gedung pencakar langit itu. Di dalam ruang kerja Zefan yang luas, suasana justru terasa hangat dan tenang. Aroma kopi Arabika yang baru diseduh memenuhi ruangan, memberikan rasa nyaman yang jarang ditemukan di tempat lain bagi Seraphina Aeru.

Seraphina duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua, tangannya melingkari cangkir porselen hangat. Di seberangnya, Zefan Ramiro baru saja meletakkan laporan keuangan yang sejak tadi menyita perhatiannya. Pria itu tampak letih, namun matanya memancarkan ketulusan saat menatap Seraphina.

Denzel sedang tidak ada. Pria itu baru saja mengirimkan pesan singkat lima belas menit yang lalu—pesan yang sudah menjadi rutinitas bagi Seraphina: "Sera, Leah ada jadwal mendadak dengan Jeff untuk memilih cincin. Aku harus mendampingi. Jangan menungguku untuk makan malam."

Lagi-lagi, Denzel menghilang ke dalam bayang-bayang kehidupan Leah. Dan lagi-lagi, Seraphina menemukan dirinya berada di ruang kerja Zefan, orang yang justru lebih sering hadir secara emosional belakangan ini.

"Kau melamun lagi, Seraphina," suara Zefan yang berat namun lembut membuyarkan lamunan gadis itu.

Seraphina tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung sedikit kepahitan. "Hanya memikirkan betapa sibuknya Denzel, Zefan. Terkadang aku lupa kalau dia asisten pribadimu, bukan asisten pribadi Leah."

Zefan menghela napas panjang, sebuah reaksi yang menunjukkan beban yang ia pikul. "Denzel melakukan apa yang harus ia lakukan untuk menjaga stabilitas di rumah ini. Tapi aku tahu, itu tidak adil bagimu. Jeff Chevalier... pria itu seperti badai yang tidak pernah berhenti menuntut. Dan Leah adalah pusat dari badai itu."

Seraphina menatap Zefan dalam-dalam. Ada sesuatu dalam nada bicara Zefan yang selalu terasa terbuka, sangat kontras dengan cara bicara Denzel yang selalu terukur, samar, dan penuh dengan lapis-lapis rahasia. Bersama Denzel, Seraphina merasa seperti sedang berjalan di dalam kabut. Bersama Zefan, kabut itu seolah tersibak.

"Zefan," Seraphina memulai, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Boleh aku bertanya sesuatu yang mungkin... sedikit menjebak?"

Zefan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, melonggarkan dasinya sedikit. "Tanyakanlah. Di ruangan ini, aku bukan CEO. Aku hanya teman bicaramu."

"Tentang Leah," Seraphina menarik napas panjang. "Bagaimana pendapatmu tentang hubungannya dengan Jeff? Maksudku, sebagai kakaknya, apakah kau benar-benar melihat adikmu bahagia? Atau ini hanya... bagian dari transaksi bisnis yang kau pimpin?"

Pertanyaan itu tajam. Itu adalah jenis pertanyaan yang jika diajukan kepada Denzel, akan dijawab dengan: "Itu bukan domain kita untuk menilai, Sera," atau "Nona Leah tahu apa yang terbaik untuk keluarga."

Namun, Zefan tidak menghindar. Pria dewasa itu menatap lurus ke arah jendela, matanya tampak menerawang jauh.

"Jujur?" Zefan bertanya balik dengan suara parau. "Setiap kali aku melihat Leah masuk ke mobil Jeff, aku merasa seperti baru saja menyerahkan sebagian dari jiwaku ke dalam pelelangan. Dia tidak bahagia, Seraphina. Aku adalah kakaknya, aku tahu kapan senyumnya itu tulus dan kapan senyum itu hanyalah topeng porselen yang siap pecah kapan saja."

Seraphina tertegun. Kejujuran Zefan menghantamnya dengan telak.

"Aku merasa gagal," lanjut Zefan, suaranya penuh dengan kerentanan yang tidak pernah ia tunjukkan pada dunia luar. "Ayah mempercayakan perusahaan dan Leah padaku. Tapi sekarang, aku menggunakan Leah untuk menyelamatkan perusahaan. Jeff memberikan modal yang kita butuhkan, tapi dia menuntut Leah sebagai jaminannya. Ini adalah dosa terbesarku sebagai seorang kakak. Aku mengkhawatirkannya setiap detik. Aku takut Leah akan benar-benar hancur sebelum proyek ini selesai."

Seraphina merasakan simpati yang mendalam menjalar di dadanya. Ia melihat seorang pria yang jujur dengan rasa takutnya. Ia melihat seorang pemimpin yang mengakui kegagalannya.

"Kenapa Denzel tidak pernah bicara seperti ini padaku?" bisik Seraphina, lebih kepada dirinya sendiri. "Setiap kali aku bertanya tentang Leah, Denzel selalu membuatnya terdengar seolah-olah semuanya terkendali. Dia bicara dengan kata-kata yang samar, seolah-olah dia sedang menjaga rahasia negara."

Zefan tersenyum kecut, sebuah senyum yang penuh pengertian. "Mungkin karena Denzel merasa dialah benteng terakhir. Jika dia mengakui betapa kacaunya situasi ini, dia merasa dia telah gagal melindungimu dari kenyataan pahit. Tapi pria seperti Denzel... dia terlalu banyak memikul beban sendirian. Dia pikir diam adalah perlindungan, padahal diam adalah racun dalam sebuah hubungan."

Seraphina membandingkan. Denzel bicara dengan logika "keamanan", sementara Zefan bicara dengan logika "perasaan". Denzel menutup pintu, sementara Zefan membukanya lebar-lebar.

"Zefan, apa kau merasa Denzel... punya ikatan yang lebih dari sekadar tugas terhadap Leah?" Seraphina bertanya, kali ini lebih berani. Ini adalah pertanyaan yang menjebak yang sesungguhnya.

Zefan terdiam sejenak. Ia memutar-mutar pulpen di jemarinya. "Denzel tumbuh besar bersama kami. Dia melihat Leah saat masih menjadi gadis kecil yang ceria hingga menjadi wanita yang tertekan seperti sekarang. Jika kau bertanya apakah dia peduli? Ya, dia sangat peduli. Bahkan mungkin, rasa pedulunya melampaui logika asisten mana pun di dunia ini. Dia siap mati untuk Leah, Seraphina. Dan terkadang, aku merasa itu adalah kutukan baginya."

Hati Seraphina mencelos. Siap mati untuk Leah.

"Tapi bersamaku," Seraphina melanjutkan, suaranya kini terdengar serak. "Dia selalu bicara seolah-olah Leah hanyalah 'objek kerja'. Dia tidak pernah menunjukkan kerentanan itu di depanku. Dia membuatku merasa seperti orang asing yang hanya boleh melihat bagian permukaan saja."

"Mungkin itu sebabnya kau merasa lebih nyaman mengobrol denganku, Sera," Zefan berkata dengan lembut. "Karena aku tidak punya alasan untuk berbohong padamu. Aku butuh seseorang untuk mendengar betapa takutnya aku sebagai seorang kakak. Dan kau... kau memiliki telinga yang sangat tulus untuk mendengar."

Seraphina merasakan kehangatan yang berbeda menyelimuti hatinya. Zefan memberinya rasa stabil. Zefan tidak memberikan teka-teki; ia memberikan jawaban. Zefan tidak membuatnya merasa seperti porselen yang rapuh, melainkan seperti rekan bicara yang dewasa.

Kontras itu semakin menyakitkan. Denzel, pria yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar, justru terasa seperti labirin yang semakin hari semakin sulit dipahami. Sedangkan Zefan, pria yang baru ia kenal secara mendalam beberapa minggu terakhir, justru menjadi pelabuhan di mana ia bisa bertanya tanpa rasa takut.

"Denzel adalah pria yang baik, Seraphina," ucap Zefan, seolah mencoba membela asistennya namun justru semakin mempertegas perbedaan itu. "Tapi dia hidup di dunia bayangan. Dia pikir dia bisa menyimpan semua rahasia itu di dalam sakunya tanpa membuat orang-orang di sekitarnya merasa kehilangan. Dia salah."

Seraphina menunduk, menatap pantulan wajahnya di permukaan kopi yang sudah mendingin. "Aku mulai lelah dengan bayangan, Zefan. Aku ingin cahaya yang jelas, meski cahaya itu menunjukkan luka yang buruk."

"Aku mengerti," sahut Zefan pendek.

Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerja terbuka dengan suara dentuman pelan. Denzel masuk, nafasnya sedikit memburu, jasnya terlihat sedikit kusut. Matanya langsung tertuju pada Seraphina dan Zefan yang sedang duduk berdekatan dalam suasana yang sangat intim secara emosional.

"Tuan Zefan," sapa Denzel, suaranya kembali ke nada kaku yang profesional. "Maaf saya terlambat menjemput Nona Seraphina. Urusan Nona Leah dengan Tuan Chevalier memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Ada komplikasi kecil di butik."

Seraphina berdiri, meletakkan cangkirnya dengan suara berdenting kecil. Ia menatap Denzel, mencoba mencari kejujuran di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah dinding tebal yang sama.

"Komplikasi apa, Denzel?" tanya Seraphina dingin.

Denzel tertegun sejenak, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan langsung seperti itu. "Hanya... masalah teknis dengan gaunnya, Sera. Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan."

Seraphina melirik ke arah Zefan, lalu kembali ke Denzel. "Zefan baru saja memberitahuku betapa Leah merasa tertekan dengan semua ini. Dia bicara tentang kekhawatiran seorang kakak. Kenapa kau hanya menyebutnya sebagai 'masalah teknis'?"

Denzel mengerutkan kening, menatap Zefan dengan kilatan ketidaksetujuan yang tertahan. "Saya hanya tidak ingin membebani pikiranmu dengan drama keluarga Ramiro, Sera. Itu tugas saya untuk menyelesaikannya, bukan tugasmu untuk memikirkannya."

"Tugasmu?" Seraphina tertawa pendek, tawa yang penuh dengan kekecewaan. "Selalu tentang tugas. Pernahkah kau berpikir kalau aku ingin tahu apa yang kau rasakan, bukan apa yang kau kerjakan?"

Denzel terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang bergeser dalam diri Seraphina. Ia merasakan otoritasnya sebagai kekasih sedang digugat oleh keterbukaan Zefan.

"Ayo, Sera. Hari sudah malam," ucap Denzel, mencoba mengambil kendali situasi.

Seraphina menghela napas panjang. Ia berpaling ke arah Zefan dan memberikan senyuman tulus—jenis senyuman yang sudah lama tidak ia berikan pada Denzel. "Terima kasih untuk kejujuranmu hari ini, Zefan. Itu sangat berarti bagiku."

"Sama-sama, Seraphina. Istirahatlah dengan baik," jawab Zefan dengan nada yang stabil.

Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, suasana membeku. Denzel mengemudi dengan cengkeraman tangan yang kuat pada kemudi. Ia merasa dikhianati oleh kejujuran Zefan, dan ia merasa terancam oleh rasa ingin tahu Seraphina.

"Tuan Zefan seharusnya tidak membicarakan hal-hal itu padamu," gumam Denzel akhirnya. "Dia sedang emosional karena tekanan perusahaan."

"Setidaknya dia bicara dengan jujur, Denzel," balas Seraphina tanpa menoleh. "Setidaknya bersamanya, aku tidak perlu menebak-nebak apakah hari ini adalah hari yang baik atau buruk. Bersamamu, aku merasa seperti sedang membaca buku yang setengah halamannya sengaja disobek."

Denzel tidak menjawab. Ia kembali ke dalam diamnya, diam yang ia anggap sebagai perlindungan, namun bagi Seraphina, itu adalah awal dari akhir. Pertanyaan menjebak sore itu telah membuktikan satu hal bagi Seraphina: Zefan Ramiro memberinya stabilitas yang dewasa, sementara Denzel Shaquille hanya memberinya labirin yang tak berujung.

Malam itu, di dalam kegelapan kamarnya, Seraphina tidak lagi memikirkan kapan Denzel akan menjemputnya besok. Ia memikirkan kata-kata Zefan tentang Leah yang layu, dan ia mulai bertanya-tanya: jika Leah adalah pusat dari segala kekhawatiran Denzel, lalu di manakah posisi Seraphina dalam hati pria itu?

Pertanyaan itu kini menjadi duri yang mulai merobek perlahan fondasi hubungan mereka. Dan ironisnya, cahaya yang menunjukkan duri itu berasal dari pria yang selama ini Denzel lindungi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!