NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: TATAPAN YANG SALAH

---

Pasar desa selalu bising pada hari pasaran. Suara dagang yang berlomba, suara motor dengan knalpot berisik, suara anak-anak yang berlari di antara kaki orang dewasa. Mahesa biasanya tidak ke pasar. Kakinya tidak kuat untuk berdiri lama.

Tapi hari ini kakek butuh bantuan. Kakek masih lemah setelah sakit, bahunya masih bergetar kalau membawa terlalu berat. Keranjang untuk garam dan minyak tidak bisa kosong lagi. Mereka sudah makan nasi tanpa lauk selama tiga hari.

"Sebentar saja," kata kakek. "Cepat."

Mahesa mengangguk. Dia berjalan di samping kakek, langkah pendek-pendek. Kaki kanan yang terbungkus stocking kompresi terasa seperti tongkat berat yang harus diseret. Setiap langkah adalah perhitungan: tekan, tahan, pindah beban, ulangi. Orang-orang di pasar memberi jalan—bukan karena sopan, tapi karena mereka melihat kakinya dan ingin menjaga jarak.

Mahesa sudah terbiasa. Terbiasa dengan ruang kosong yang tiba-tiba terbuka di sekelilingnya. Terbiasa dengan ibu-ibu yang menarik anaknya menjauh. Terbiasa dengan bisik-bisik yang tidak perlu didengar untuk tahu isinya.

Tapi hari ini, di tengah semua kebisingan dan kerumunan, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak, lalu berdetak lebih kencang.

Dia melihat Bima.

Dari ujung deretan kios sayur. Bima terpampang nyata, seperti lukisan yang tiba-tiba muncul di dinding kusam. Anak itu berdiri di samping seorang wanita berbaju batik biru yang masih baru—bukan ibu kandung mereka, tapi ibu angkatnya sekarang. Di sisi lain, Pak Darmo, pria berperut besar dengan jam tangan mengilap yang selalu terlihat di pergelangan tangannya, sedang menawar harga ikan.

Dan Bima.

Baju putih bersih. Tidak ada lubang di siku. Tidak ada noda di dada. Celana panjang rapi, bukan celana pendek yang menunjukkan lutut lecet bekas jatuh. Dan sepatu. Sepatu hitam mengilap dengan tali terikat rapi, bukan sandal jepit yang sudah tipis di telapak.

Bima yang berbeda. Bima yang sudah bukan adiknya lagi.

---

Mahesa berhenti. Tubuhnya membeku, seperti pohon yang tiba-tiba ingat akarnya terlalu dalam untuk berpindah. Kaki kanannya terasa lebih berat dari sebelumnya.

Dia melihat Bima melihat balik.

Mata mereka bertemu.

Bima yang dulu—Bima kecil yang berbagi tikar dengannya, yang menangis ketika disakiti, yang tidur dengan kepala di bahu Mahesa ketika petir menggelegar—akan berlari. Akan menyapa. Akan memanggil "Kak!" dengan suara nyaring dan bahagia.

Tapi Bima yang sekarang hanya menatap.

Tatapan itu datar. Kosong. Seperti menatap orang asing di jalan yang tidak dikenal dan tidak menarik. Tidak ada kilatan pengenalan. Tidak ada getaran di sudut bibir yang menahan senyum atau tangis. Hanya hampa.

Kemudian Bima berbalik.

Perlahan. Tidak tergesa-gesa. Seolah-olah Mahesa adalah pemandangan biasa, yang tidak perlu dihindari dengan cepat, yang cukup diabaikan dengan memalingkan muka. Bima berbicara pada ibu angkatnya, tangan kecilnya meraih tangan wanita itu, dan mereka berjalan menjauh—menuju bagian pasar yang lebih bersih, lebih wangi, lebih jauh dari deretan kios sayur tempat Mahesa berdiri.

Seolah tidak kenal.

Seolah tidak pernah tidur di kamar yang sama, di tikar yang sama, dengan bantal yang harus bergantian pakai. Seolah tidak pernah berbagi ibu—ibu yang pergi, ibu yang meninggalkan mereka berdua.

Mahesa tidak mengejar.

Kakinya tidak bisa. Stocking kompresi terasa seperti rantai. Kaki kanannya terlalu berat untuk berlari mengejar bayangan yang sudah bukan miliknya. Tapi lebih dari itu, hatinya tidak mau. Tidak mau melihat Bima berbalik lagi dengan tatapan yang sama. Tidak mau mendengar suara Bima yang mungkin sudah berubah, yang mungkin sudah diajar untuk berbicara sopan pada orang miskin yang tidak dikenal.

---

Kakek melihat. Kakek selalu melihat segalanya, meskipun matanya sudah kabur dengan katarak yang tidak pernah diobati. Kakek melihat tubuh Mahesa yang membeku, melihat arah pandangannya, melihat bahu yang menegang seperti tali yang akan putus.

Kakek tidak bertanya. Tidak perlu.

Hanya tangan kakek yang naik—tangan kurus, berbintik-bintik—menempel di bahu Mahesa. Tangan yang bergetar, tapi hangat. Tangan yang mengatakan aku tahu tanpa kata.

"Pulang," kata kakek. Bukan pertanyaan. Bukan perintah. Hanya penawaran. Jalan keluar.

Mahesa mengangguk.

Mereka membeli garam—kristal putih di kantong plastik tipis. Minyak—dalam botol kaca bekas yang kakek bawa dari rumah. Tidak ada yang mereka beli untuk diri sendiri. Tidak ada yang bisa dibeli untuk hati yang baru saja kehilangan sesuatu yang sudah lama hilang, tapi baru saja dikonfirmasi kehilangannya.

---

Di jalan pulang, Mahesa tidak menangis.

Bukan karena kuat. Bukan karena sudah terbiasa menyimpan air mata. Tapi karena tangis sudah tidak cukup. Sudah tidak bisa menggambarkan apa yang terasa di dada—rasa yang bukan sedih, bukan marah, bukan kecewa. Rasa yang lebih dalam, lebih tua, lebih dingin.

Rasa kehilangan yang sudah dikebumikan.

Bima bukan adiknya lagi. Bukan sejak ibu pergi, mungkin. Bukan sejak Bima diambil keluarga lain, dipakaikan baju bagus, diberi sepatu baru, diajar untuk melihat tapi tidak melihat. Bima adalah orang lain sekarang. Punya keluarga baru. Punya hidup baru. Punya kamar sendiri yang tidak perlu dibagi, punya bantal sendiri yang tidak perlu bergantian, punya ibu sendiri yang tidak meninggalkannya.

Hidup yang tidak muat untuk kaki gajah.

Hidup yang tidak muat untuk masa lalu yang berbau tikar bekas dan nasi tanpa lauk.

Hidup yang tidak muat—yang tidak mau muat—untuk Mahesa.

Kakek berjalan di sampingnya. Langkah kakek juga lambat, juga pendek, juga penuh perhitungan. Mereka berdua sama—dua orang yang tubuhnya sudah tidak mau bekerja dengan baik, yang hidupnya sudah tidak mau berjalan lurus.

"Tidak apa," kata Mahesa. Suaranya keluar tanpa izin, tanpa rencana. "Sudah biasa."

Kakek tidak menjawab. Hanya tangan di bahu Mahesa yang menekan sedikit lebih kuat. Bukan pelukan. Bukan penghiburan yang bisa mengubah apa pun. Hanya pengakuan. Aku di sini. Kita sama-sama tidak diinginkan oleh dunia yang sudah berubah.

---

Di kejauhan, rumah mereka terlihat—miring, retak, lebih kecil dari ingatan. Tapi itu rumah. Rumah yang tidak menolak. Rumah yang tidak berbalik. Rumah yang, meski reyot, masih mau menampung kaki gajah dan hati yang baru saja dikonfirmasi kehilangannya.

Mahesa melihat jaring laba-laba di jendela dari kejauhan. Masih ada. Masih bertahan. Tidak peduli siapa yang lewat di depannya, siapa yang melihat atau tidak melihat, siapa yang mengingat atau melupakan.

Dia akan tidur malam ini dengan stocking kompresi yang masih menyiksa. Dia akan bangun besok dengan kaki yang masih berat. Dia akan belajar membaca dengan kakek yang masih bergetar.

Dan Bima—

Bima akan tidur di kamar dengan lantai keramik. Bima akan bangun dengan sepatu baru di samping tempat tidur. Bima akan sekolah dengan teman-teman yang tidak tahu apa itu kaki gajah.

Mereka sudah hidup di dunia yang berbeda.

Dan hari ini, di pasar, hanya satu dari mereka yang diizinkan untuk melihat itu. Yang lain—yang berbaju bagus, bersepatu mengilap—sudah diajar untuk tidak melihat.

---

Sampai di rumah. Kakek menyalakan kompor minyak tanah yang berdesis. Garam dan minyak diletakkan di rak yang miring.

Mahesa duduk di tikar. Melepaskan stocking kompresi dengan napas lega yang pahit. Kakinya bebas dari penjara, tapi tidak bebas dari dirinya sendiri.

Kaki kanan itu terhampar di depannya. Besar. Bengkak. Kulit menebal dan pecah-pecah di beberapa tempat. Tapi bukan kaki itu yang paling sakit hari ini.

Yang paling sakit adalah tatapan Bima. Tatapan kosong itu. Tatapan yang mengatakan aku tidak kenal kamu.

"Kek," panggil Mahesa. Suara kecil.

Kakek berhenti. Menatapnya.

"Dulu, waktu kecil, aku gendong Bima," kata Mahesa. Suaranya bergetar. "Dia nangis terus kalau malam. Ibu capek. Ayah kerja. Aku yang gendong, jalan keliling rumah, sampai dia tidur."

Kakek diam. Duduk di sampingnya.

"Aku kira dia ingat," bisik Mahesa. "Aku kira... meskipun ibu bawa dia pergi, dia akan ingat. Tapi tadi... dia lihat aku seperti lihat orang asing."

Air mata jatuh. Akhirnya. Setelah ditahan sepanjang jalan pulang.

Kakek meraih tangannya. Tangan keriput itu menggenggam erat.

"Dia masih kecil," kata kakek. "Anak kecil gampang lupa. Gampang disuruh lupa."

"Tapi Kek, dia adikku."

"Dulu." Kakek menghela napas panjang. "Dulu dia adikmu. Sekarang... sekarang mungkin dia sudah bukan. Tapi kamu masih punya kakek. Masih punya diri sendiri."

Mahesa menangis di pundak kakek. Menangis untuk Bima yang hilang. Menangis untuk adik yang tidak lagi mengenalnya. Menangis untuk semua yang sudah pergi dan tidak akan kembali.

Kakek tidak bicara. Hanya membiarkan Mahesa menangis. Karena kadang, kata-kata tidak cukup. Kadang, yang dibutuhkan hanya kehadiran. Hanya seseorang yang duduk di sampingmu saat dunia terasa terlalu kejam.

---

Malam turun. Mereka makan malam dalam diam. Nasi dengan garam. Tidak ada sayur. Tidak ada lauk. Tapi mereka makan. Karena mereka masih hidup. Karena mereka masih punya satu sama lain.

Setelah makan, Mahesa duduk di beranda. Kaki kanan diangkat ke bangku. Memandangi langit malam yang penuh bintang.

Di suatu tempat, di rumah yang lebih besar, Bima mungkin sedang tidur. Dengan sepatu baru di samping tempat tidur. Dengan ibu angkat yang menyanyikan lagu sebelum tidur. Dengan masa depan yang cerah tanpa bayangan kakak yang sakit.

Dan Mahesa di sini. Dengan kakek. Dengan kaki gajah. Dengan stocking kompresi yang harus dipakai lagi besok. Dengan hidup yang tidak pernah mudah.

Tapi dia masih di sini. Masih bertahan. Masih punya kakek yang menjual tiga ekor ayam untuk stockingnya. Masih punya Siti yang mengirim surat. Masih punya dirinya sendiri.

Mungkin itu cukup. Mungkin tidak. Tapi untuk malam ini, setelah melihat Bima yang sudah menjadi orang asing, Mahesa memilih untuk percaya bahwa itu cukup.

Karena kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban. Bukan penjelasan. Bukan maaf.

Kadang, yang kita butuhkan hanya satu orang yang tetap di samping kita saat semua pergi.

Dan Mahesa punya itu. Kakek. Tua. Rapuh. Tapi ada. Tidak pergi. Tidak berpaling. Tidak menatapnya seperti orang asing.

Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk hati yang hancur. Untuk adik yang hilang.

Itu cukup.

Malam ini, itu cukup.

---

1
sandra
novel yg luar biasa kk😍 sangat menyentuh cerita nya
di tunggu up nya kk.. semangat
Ayaelsa: terima kasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!