Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Bethany menatap Tobias dengan kesal. Tatapannya tajam, seolah-olah menantang pria itu.
“Kau tidak akan menyerah begitu saja, kan?” tanyanya dingin.
Tobias tidak mengalihkan pandangannya dari Amara yang hampir roboh dalam pelukan Bethany. Wajah wanita itu pucat, tubuhnya lemas karena terlalu banyak minum.
“Aku hanya ingin meminta maaf padanya atas apa yang telah Fiona lakukan. Tidak lebih,” jawab Tobias pelan.
Suara Bethany terdengar rendah, namun penuh tekanan.
“Apakah hanya kesalahan Fiona yang akan kau mintai maaf?”
Tobias langsung mengerti maksudnya.
Bethany tidak hanya menuntut permintaan maaf atas Fiona dan Giselle… tetapi juga atas dirinya.
Karena pengabaiannya.
Karena sikap dinginnya.
Karena selama ini dia menutup mata terhadap penderitaan Amara di rumahnya sendiri.
Bayangan itu kembali muncul di benaknya.
Amara berdiri di tengah hujan, pakaiannya basah kuyup, wajahnya pucat. Dengan suara gemetar dia memohon pada Fiona agar tidak membujuk Tobias menceraikannya.
Hanya dengan mengingatnya saja, dada Tobias terasa seperti diremas oleh sesuatu yang tidak terlihat.
“Biarkan aku membawanya masuk,” kata Tobias akhirnya. “Tolong.”
Dia melangkah mendekat, berniat mengangkat Amara.
Namun sebelum sempat melakukannya, Amara perlahan mengangkat kepalanya.
“Kau…”
Untuk sesaat matanya tampak mengenali Tobias.
Tetapi ekspresinya segera berubah. Wajahnya mengerut, lalu dia meninggalkan sisi Bethany dan berjalan terhuyung-huyung ke arah Tobias.
Langkahnya goyah.
Hampir saja dia jatuh.
Refleks Tobias bergerak cepat. Tangannya langsung menangkap tubuh Amara dan menariknya ke dalam pelukannya.
Tubuh wanita itu ringan dan hangat, bersandar tanpa perlawanan di dadanya.
Tobias menunduk menatap wajah Amara yang memerah karena alkohol. Dalam hati dia bertanya-tanya berapa banyak minuman yang telah dia habiskan malam ini.
Di belakang mereka, Bethany menghela napas panjang.
Jika ada orang yang mengatakan bahwa Tobias dan Amara berpisah tanpa perasaan… dia pasti akan menyebut orang itu pembohong.
Bahkan dalam keadaan mabuk seperti ini, Amara terus memanggil nama Tobias.
Dan meskipun Tobias berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, Bethany tidak melewatkan tatapan hangat yang sesekali muncul saat pria itu memandang Amara.
Itu sangat jelas.
Sayangnya, sepertinya hanya dia yang melihatnya.
Bethany kembali menghela napas.
Kedua orang keras kepala ini benar-benar perlu menyelesaikan semuanya.
“Aku akan menunggu di mobil selama lima menit,” katanya akhirnya sambil berbalik. “Katakan apa pun yang ingin kau katakan.”
Dia berjalan menuju mobilnya, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Dan kau sebaiknya menjaganya baik-baik selama itu, Tobias. Jika sesuatu terjadi padanya… kau mati.”
Tobias tidak menanggapi ancaman itu.
Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada wanita yang ada dalam pelukannya.
“Kau benar-benar mabuk, Amara. Parah.”
Jika Amara sadar, dia pasti akan membantahnya.
Namun sekarang, pikirannya tenggelam dalam ilusi yang diciptakan oleh ingatannya sendiri.
Ilusi bahwa dia masih menjadi istri Tobias.
Bahwa ini hanyalah salah satu malam di mana Fiona dan ibunya kembali bertingkah gila.
Tanpa ragu, Amara bersandar lebih dalam ke dadanya.
Tidak ada perlawanan. Tidak ada penolakan seperti biasanya.
“Kenapa kau pulang selarut ini, Tobias?” gumamnya pelan.
Matanya menatap pria itu dengan kesedihan yang dalam.
“Ibumu dan Fiona… mereka…”
Dia terdiam sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu.
Selama ini Amara selalu memilih untuk diam.
Menahan semuanya sendirian.
Tetapi malam ini… untuk pertama kalinya dia merasa ingin berbicara.
“Ibumu dan Fiona tidak memperlakukanku dengan baik, Toby,” katanya lirih.
Jari-jarinya mencengkeram kemeja Tobias.
“Mereka menyuruhku melakukan banyak hal. Aku membersihkan rumah padahal ada pelayan… memasak untuk semua orang… tapi yang kumakan hanya sisa makanan dari dapur.”
Suaranya semakin kecil.
“Mereka membuatku seperti pelayan di rumahmu, Toby.”
Tobias terdiam.
Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan.
Tetapi pada saat yang sama, dia sudah tahu jawabannya.
Tetap saja… dia tidak bisa menahan diri.
“Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa pun padaku?”
Hening.
Keheningan yang terasa sangat lama.
Lalu bibir Amara perlahan melengkung menjadi senyum kecil.
Senyum yang polos.
Senyum yang begitu tulus hingga membuat dada Tobias terasa semakin sesak.
“Aku ingin membuktikan bahwa aku pantas, Toby,” katanya lembut.
“Ibumu dan Fiona adalah keluargamu yang berharga. Mereka hanya menginginkan yang terbaik untukmu.”
Dia menatap Tobias dengan mata yang bersinar.
“Jadi aku berpikir… kalau aku bisa membuat mereka menyukaiku… suatu hari nanti kau juga akan mulai mencintaiku.”
Kata-kata itu menghantam Tobias tanpa ampun.
Rasa bersalah yang tiba-tiba muncul menenggelamkan semua keterkejutan yang dia rasakan.
Senyum Amara perlahan memudar.
Jarinya mencengkeram kemeja Tobias lebih erat.
Kepalanya menunduk.
“Ah… ini pasti salah satu mimpi indah itu.”
Dia terkekeh pelan.
Namun tawa itu terdengar lebih sedih daripada bahagia.
“Ya… pasti mimpi. Tobias tidak akan pernah mendengarkanku. Dia tidak punya kesabaran untuk itu.”
Tobias mengerutkan kening.
Tidak punya kesabaran?
Itu tidak benar.
Dia bisa mendengarkan keluhan Celestine selama berjam-jam.
Dia bisa menghibur wanita itu tanpa merasa lelah.
Setelah itu, dia menghabiskan waktunya untuk pekerjaan… dan terkadang untuk keluarganya.
Tetapi satu suara yang tidak pernah masuk dalam daftar itu adalah…
Suara Amara.
“Mara…” panggilnya pelan.
Matanya dipenuhi rasa bersalah.
“Aku—”
“Kau tidak mencintaiku.”
Amara memotongnya.
Tatapannya lurus menatap Tobias.
Jernih.
Bukan karena alkohol.
Jika bukan karena ucapannya berikutnya, Tobias mungkin akan mengira dia sudah sadar sepenuhnya.
Amara mendorong dadanya, mencoba menjauh.
“Aku tidak ingin melakukan ini lagi,” katanya dengan suara bergetar.
“Ini terlalu berat… penderitaannya… pengabaiannya… penghinaan itu…”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Semuanya terlalu berat, Tobias. Aku tidak bisa melakukannya lagi.”
“Amara—”
Tobias mengulurkan tangan.
Namun sebelum dia sempat menyentuhnya, Bethany sudah kembali dan menarik Amara ke belakangnya.
“Waktunya habis, Tobias.”
Suaranya tegas.
“Kau harus pergi.”
Dalam kegelapan malam, Bethany tidak melihat perubahan pada wajah Tobias.
Bagaimana rasa bersalah itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Sesuatu yang retak di dalam dirinya.
“Apakah kau sudah puas meminta maaf?” lanjut Bethany dingin. “Karena sekarang saatnya kau pergi.”
Dia menatap Tobias lurus-lurus.
Dan untuk pertama kalinya… Bethany melihat keraguan di mata pria itu.
“Kau tidak ingin meninggalkannya, kan?”
Dia tersenyum tipis.
“Sayangnya, kau harus melakukannya.”
Tatapannya berubah tajam.
“Aku tidak akan tinggal diam dan melihatmu menghancurkan seseorang yang begitu berharga untuk kedua kalinya, Tobias.”
Bethany menarik Amara sedikit lebih dekat ke sisinya.
“Jika kau tidak bisa berubah… jika kau tidak bisa berjanji bahwa kau tidak akan mematahkan hatinya lagi…”
Dia menatap Tobias tanpa berkedip.
“Lebih baik kau pergi sekarang.”
Bethany berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada dingin.
“Karena di luar sana ada ribuan pria yang bersedia memperjuangkan hatinya.”
Tatapannya menjadi semakin tajam.
“Dan kau… bukan salah satu dari mereka.”
tuk Amara mending kamu rehat menjauh dari hal" yg berhubungan dgn tobias dan keluarganya, klo mabuk"an malah jadi masalah baru lagi nanti klo ketemu tobias