Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.
Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.
Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.
୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Pernikahan
...୨ৎ──── C H E R R Y────જ⁀➴...
Dengan tanggal pernikahan yang sudah ditetapkan untuk Sabtu depan, kami benar-benar sibuk.
Bibi Keii sangat membantu. Sejujurnya, dia yang mengurus hampir semuanya.
Aku sempat menghabiskan waktu dengan Cavell, tapi malam ini para Bos Marunda dan pasangan mereka akan datang, dan aku sangat gugup.
Aku baru saja memakai jumpsuit transparan dan sepatu hak tinggi saat Cavell masuk ke kamar mandiku. Matanya langsung tertuju ke arahku dan dia berhenti mendadak.
"Gak," geramnya sambil perlahan menggeleng. Ekspresinya semakin gelap. "gak mungkin Kamu pakai itu di depan pria lain."
"Tunggu dulu," gumamku.
Aku mengambil jaket krem dari lemari dan memakainya. Saat aku mengikat sabuknya dan kainnya jatuh seperti rok pendek, aku berkata,
"Lihat. Semuanya tertutup."
Dia menatapku beberapa saat sebelum berkata,
"Baiklah. Tapi jaket itu tetap dipakai sepanjang waktu."
Aku mendekatinya, menyelipkan jari di belakang lehernya dan menariknya sedikit turun.
Di depan bibirnya aku berbisik, "Jaket ini cuma akan lepas kalau Kamu yang melepasnya."
Tangannya mendarat di pinggulku dan mata kami saling bertemu.
"Terus aja menggodaku dan aku bakal batalin permainan poker malam ini."
Wajahku menegang karena gugup. "Kamu pikir mereka akan nerima aku?"
Dia mengangkat tangan ke wajahku dan memegang pipiku. "Hanya persetujuanku yang penting, api kecil. Mereka gak punya pilihan selain menerima kamu."
Saat dia menjauh, aku berkata, "aku cuma mau merias wajah dulu. aku akan turun sebentar lagi."
"Pelan-pelan aja," gumamnya sebelum keluar dari kamar.
Aku melepas jaket supaya gak terkena bedak, lalu duduk di depan meja rias dan mulai berdandan.
Aku memberi perhatian ekstra pada eyeshadow dan menonjolkan tulang pipiku.
Setelah selesai, aku memakai kembali jaket itu lalu menambahkan choker hitam dengan satu berlian di leherku.
Melihat bayanganku di cermin, aku mengangkat dagu. Kamu bisa melakukan ini.
Aku keluar dari kamar dan menuruni tangga. Saat sampai di lantai dua, aku melihat Cavell sedang menyapa sekelompok pria. Istri mereka berdiri di dekat mereka, tanpa menyentuh priaku.
Salah satu pria melihat ke arah aku dan keterkejutan langsung terlihat di wajahnya.
"Sekarang masuk akal."
"Apa?" tanya pria lain sebelum dia juga melihatku. "Sial."
Mata Cavell langsung terpaku padaku dan dia berjalan ke ujung tangga.
Suaranya lembut saat dia memerintah, "Ke sini, api kecil ."
Jantungku berdetak lebih cepat saat aku berjalan menuruni tangga menuju dia.
Saat tanganku masuk ke tangannya, aku mengangkat dagu lebih tinggi dan melihat para pria itu.
"Perkenalkan, aku Cherry," kataku dengan nada yang sama seperti Cavell saat menuntut sesuatu.
Cavell memberi isyarat ke setiap pria.
"Remy Arnold dan istrinya, Rainn. Kim Tully dan istrinya, Lyorr. Braun Baek dan Quinn. Dan terakhir, tapi gak kalah penting, Farris Delaney dan Eva."
Aku gak mengulurkan tangan. Aku hanya mengangguk. "Senang bertemu kalian."
Masih terlihat terkejut, Remy mengangguk lalu menatap Cavell.
Cavell berkata, "Ini Cherry Anabell. Tunangan aku."
"Sial," gumam Braun lagi. "Kamu tunangan? Kapan?"
"Gak penting," jawab Cavell.
Farris berkata ke arahku dengan nada bercanda, "Cukup mengangguk kalau Kamu pingin kabur."
Cavell melepaskan tanganku lalu melingkarkan lengannya di punggungku. Suaranya menjadi gelap saat dia berkata, "Jangan mulai, Farris."
Aku menjauh sedikit darinya lalu menatap para perempuan.
Senyum muncul di wajahku. "Mau ikut aku ke ruang tamu?"
"Iya, tentu," kata Lyorr.
Saat kami berjalan ke ruang tamu tempat Tante Dalia dan bibi Keii menunggu, Rainn berbisik, "Aku suka pakaian kamu."
"Terima kasih." aku tersenyum padanya.
Saat kami masuk, aku berkata, "Tamu kita sudah datang, Tante Dalia."
Para perempuan menyapa tante Dalia dan bibi Keii. aku berhenti sejenak memperhatikan mereka.
Mereka semua cantik. Tapi aku sadar aku yang paling pendek. Aku mengangkat dagu lebih tinggi lalu duduk di kursi.
Begitu semua sudah duduk dengan nyaman, Lyorr menatap aku.
"Jadi... Kamu tunangan dengan Cavell? Kami bahkan gak tahu dia sedang berkencan."
"Kami gak berkencan," jawabku jujur.
"Ini pernikahan yang diatur?" tanya Rainn.
Saat aku mengangguk, dia berkata, "Sama seperti aku dan Remy." Mataku turun ke perutnya yang hamil, lalu dia menambahkan, "Kami sangat bahagia."
"Kapan Kamu melahirkan?"
"Segera." Dia tertawa kecil.
Aku menoleh ke Quinn dan Eva. aku melihat Eva terlihat sedikit gak nyaman.
"Eva, Kamu pasti merasa canggung karena baru aja bertemu semua orang juga, kan?"
"Kamu gak tahu rasanya," katanya sambil tertawa. "Agak menegangkan."
"Kita bakal terbiasa sama-sama," kataku meyakinkannya.
"Oh, ini teh dan kue," kata Bibi Keii saat Livinia mendorong troli masuk ke ruang tamu.
Ada juga anggur dengan keju dan biskuit untuk yang ingin sesuatu yang gurih.
Aku menoleh ke Tante Dalia. aku mengulurkan tangan dan menaruh tanganku di tangannya.
"Tante mau sedikit kue?"
Dia mengangguk. "Sedikit saja."
Semua orang menunggu sampai aku membawa teh dan kue untuk Tante Dalia sebelum mereka mulai mengambil sendiri.
Aku menaruh teh di meja kecil dan membimbing tangan Tante Dalia ke piringnya.
"Ini kue wortel. aku tahu Kamu gak suka toppingnya, jadi aku sudah menghilangkannya."
"Terima kasih, sayang," gumamnya.
Aku mengambil teh untuk diriku lalu duduk, sambil tetap memperhatikan calon ibu mertuaku kalau dia membutuhkan bantuan.
"Karena semua sudah di sini," kata Bibi Keii. "Pernikahannya tanggal 21."
"Bulan apa?" tanya Quinn.
"Bulan ini," jawabku. "Sabtu depan, dan kalian semua diundang. Undangan akan dikirim hari Senin."
"Wah, Cavell benar-benar gak buang-buang waktu," gumam Lyorr.
Aku tertawa kecil. "Gak, dia memang gitu."
"Kamu butuh bantuan dengan persiapannya?" tanya Rainn.
"Nyonya Persie sudah mengurus semuanya," jawabku. "Tapi terima kasih atas tawarannya."
"Panggil aku bibi Keii saja," katanya dengan sedikit cemberut. "aku bahkan gak sadar Kamu masih memanggilku Nyonya Persiie."
"Bibi Keii yang mengatur semuanya untuk pernikahan ini," aku mengulang sambil menatapnya dengan senyum jahil.
"Itu jauh lebih baik," gumamnya.
"Termasuk katering?" tanya Quinn.
Bibi Keii terlihat bangga saat berkata, "Terima kasih, tapi semuanya sudah diatur. Yang perlu kalian lakukan hanya datang dan menikmati perayaannya bersama kami."
Pembicaraan kemudian berputar di sekitar pernikahan yang akan datang. gak lama kemudian semua perempuan mulai santai dan kami mengobrol seperti sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...
"Kalian tunangan," gumam Farris untuk kesepuluh kalinya sejak permainan dimulai.
"Aku bakal bunuh Kamu kalau Kamu nyebut itu lagi," geramku sambil membuang kartu buruk yang aku dapat.
Vloo menaruh segelas wiski di sampingku sebelum duduk di salah satu kursi di ruang pribadiku.
"Kapan Kamu ketemu dia?" tanya Remy.
"Waktu Perjalanan ke Langkawi," jawabku.
"Untuk memberi restu ke Luke?" tanyanya, lalu matanya membesar. "Kamu merebut dia dari sepupumu?"
Aku mengangguk lalu berkata tegas, "Aku udah bosan bicara tentang Cherry."
"Bercanda aja," kata Farris. "Dia benar-benar mau menikah dengan kamu?"
"Apa maksudnya itu?" geramku ke arahnya.
Dia menatapku lurus. "Kamu bukan orang yang paling mudah diajak hidup bersama."
Aku bisa melihat dia benar-benar khawatir soal Cherry. aku menghela napas.
"Cherry jauh lebih kuat dari yang terlihat. Dia tahu cara menghadapiku, jadi sudahi."
Farris menggeleng kecil, tahu dia gak boleh menekanku lebih jauh.
"Kamu sudah tahu siapa yang membakar hotelmu?" tanya Remy, mengganti topik.
Aku menggeleng. "aku pikir Maliki. gak ada masalah lagi sejak aku membunuhnya."
"Itu kabar baik," gumamnya sambil meletakkan kartu di meja. Lalu dia menatap Braun. "Lebih baik Kamu kasih aku kartu bagus."
"Jangan tembak dealernya," Braun tertawa sambil membagikan kartu ke Remy.
"Aku butuh dua," kata Tully.
"Aku sudah cukup," Farris tersenyum.
"Bajingan," gumam Tully. Tanpa melihat dua kartu barunya, dia langsung keluar dari ronde.
"Biar aku lihat kartumu," tuntut Braun.
"Kamu duluan," goda Farris.
Semua orang membuka kartu mereka dan Farris tersenyum lebar dengan royal flush.
"Aku bayar."
"Sumpah, kalau aku tahu Kamu curang, mati kau," gerutu Tully sambil mendorong tumpukan uangnya ke arah Farris.
"Kalau Kamu jago, ya jago," Farris menyombong.
"Gimana bisnis?" tanyaku.
"Bagus," jawab Remy. "Aku akan buka klub lain."
"Aku baru aja menyelesaikan transaksi senjata besar," kata Braun.
"Di mana dan dengan siapa?" tanyaku.
"Vicenzo. Dia tinggal di Italia."
Karena aku gak mengenal nama itu, aku bertanya, "Dia kerja apa?"
"Cuma jual beli senjata," jawab Braun.
Aku menoleh ke Tully. "Kamu?"
"Bisnis berjalan seperti biasa."
"Gimana anak kembarmu?" tanya Farris ke Tully.
Pembicaraan langsung beralih ke anak-anak. Aku menghela napas lalu meneguk wiski aku. Aku mulai bertanya-tanya berapa lama sampai Cherry hamil.
Membayangkan dia mengandung anakku membuat sudut bibirku terangkat.
"Yah ... Dia tersenyum," desah Farris.
Aku langsung merapikan ekspresiku dan menatap bajingan itu.
"Kamu harus bilang apa yang barusan Kamu pikirin," kata Braun dengan senyum lebar.
"Gak ada," gumamku. "Bagiin kartu berikutnya."